Nyalakan kembali apinya

Quote

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.

- SGA, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Masih Mau Nonton Sinetron?

Standard

putriyangditukar-353x500

Kalau saya sudah tidak mau menonton sinetron lagi, sejak dahulu kala. Alasannya? Silahkan simak tulisan teman-teman berikut:

Absurditas di Putri yang Ditukar

Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar

Yang Putri Yang Ditukar

Belajar Dari Nodame

Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan

Itu baru satu sinetron. Padahal sinetron murahan tersebar banyak di televisi kita. Belum ditambah reality show yang cuma menipu dan membodohi. Kasihan kita ya.


*PS: Yang nulis di note FB atau di blognya atau dimanapun soal sinetron jelek, trackback dan comment aja. Ntar dimasukin link diatas hihihi..

Indonesia vs Filipina (19/12/2010): Malam Terang di GBK

Standard

Kopi paste adalah pekerjaan memalukan. Tetapi untuk menyebarkan cerita ini, saya tidak merasa malu sama sekali. Karena memang layak dibaca oleh semua pecinta sepakbola Tanah Air. Dengan ini sekaligus saya izin kepada http://indonesianfootballdiary.wordpress.com dan http://pejalanjauh.com.

Pengantar: Indonesian Football Diary dengan bangga mengumumkan bahwa entri artikel kali ini akan diisi oleh penulis tamu, Zen Rahmat Sugito, yang akan menceritakan kisahnya menyusun dan mengedarkan zine PLAK! hingga ia akhirnya gagal masuk ke dalam stadion saat semifinal leg 2 kemarin

Propagandis PLAK!

Setelah pontang panting menyebarkan zine PLAK!, disusul usaha sekuatnya untuk mendapatkan tiket tambahan, saya pun gagal masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan langsung semifinal kedua Indonesia vs Filipina. Saya berdiri di depan gerbang besi berjeruji  berwarna biru. Di depan saya, seorang bocah  yang sedang dipanggul di pundak ayahnya terlihat mengenakan jersey timnas bernomor punggung 10. Ia, anak kecil itu, berteriak-teriak penuh semangat, sementara saya berdiri dengan pasrah. Badan terasa lemas, terasa letih.

Lalu gemuruh suara dahsyat itu pun terdengar dari dalam GBK:

“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku….”

Sungguh, mendengar gemuruh suara nyanyian itu perasaan saya campur aduk. Sudah banyak yang bilang bahwa menyanyikan Indonesia Raya di dalam stadion bersama puluhan ribu orang akan selalu terasa menggetarkan. Saya sering mengalaminya, sangat sering, berkali-kali. Menggetarkan, memang. Tapi, sungguh, kecamuk perasaan yang menjalar saat mendengar gemuruh nyanyian itu sangat berbeda dalam posisi saya saat itu. Tak sekadar merasa tergetar, tapi juga sedih dan kecewa, juga marah.

Indonesia Raya di luar GBK

Saya diam beberapa detik. Orang-orang masih hilir mudik mencoba mencari sisa tiket. Petugas keamanan berjejer di pintu masuk. Iqbal Prakara, kawan saya yang paling keras kepala, sama-sama terlihat muram wajahnya. Lalu, dengan spontan, saya angkat syal merah putih ke atas kepala dan lalu dengan lantang bergabung bersama gemuruh nyanyian dari dalam itu, bedanya saya dari luar stadion, di depan sebuah gerbang berjeruji yang membuat sejumput kecil pemandangan di dalam GBK terlihat lamat-lamat.

“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya….”

Iqbal mengepalkan tangannya dan mengangkatanya tinggi-tinggi ke udara dan bergabung dengan saya menyanyikan Indonesia Raya. Orang-orang di sekeliling yang tadinya diam mulai ikut angkat suara.

Saya tak ingin mengalami momen dan suasana macam itu. Saya ingin ada di dalam stadion, sangat ingin. Tapi nasib memang kesunyian masing-masing. Dan saya, bersama Iqbal juga beberapa yang lain, menyanyikan Indonesia Raya dalam kesunyiannya yang justru terasa lebih mengharukan, sejenis keharuan yang tak biasa, terasa lebih khas ketimbang yang pernah saya rasakan saat menyanyikan Indonesia Raya dari tribun selatan GBK.

“Asu, aku mbrebes mili (anjing, aku berkaca-kaca),” kata Iqbal kemudian.

Orang harus mengalami apa yang kami rasakan untuk sepenuhnya paham umpatan Iqbal.

*** Continue reading

Menjadi Indonesia

Standard

“Menjadi orang Indonesia itu lebih pantas diukur dari seberapa banyak manfaat yang telah diberikan oleh seseorang itu kepada bangsa ini. Bukan karena numpang lahir, atau pun karena takdir menitipkan dia lahir atas ibu/bapak seorang Indonesia”

Baiklah. Katakan saja saya seorang “sok filosofis” karena ungkapan saya demikian. Tetapi buat saya pribadi, itulah jawaban paling akurat untuk polemik naturalisasi TimNas sepakbola kita. Bentuk nasionalisme akut? Bisa jadi. Tetapi itu ungkapan paling jujur dari saya. Bisa jadi sebuah pandangan tidak berdasar, tidak ada konteks ilmiah di dalamnya, apalagi konteks hukum dan tetek bengeknya.

Ungkapan itu lahir karena sejatinya saya mengolah pandangan dan pola pikir saya dari apa yang saya dapat selama ini, baik itu bacaan maupun pengalaman. Dari banyak orang yang saya temui, seberapa banyak cerita dan diskusi warung kopi saya nikmati, model-model karakter orang yang sepintas lewat dalam hidup saya. Ya, teman-teman, rekan kerja, atau anda mungkin yang sempat sekelebat lewat di depan mata. Itu lah bentuk pengalaman saya.

Sebagai orang Aceh, bisa dikatakan “kebanyakan” teman saya dari Aceh, atau bahkan keluarga saya sendiri dari Aceh, punya pandangan berbeda. Pertanyaan pertama mereka selalu ketika saya pulang kampung “Kapan kau bangun Aceh ini? Apa yang sudah kau kasih buat Aceh ini? Kau kan orang Aceh!” Oh, okay. Pertanyaan itu tidak menjadi penting lagi untuk saya saat ini, atau bahasa halusnya “udah biasa”. Saya bisa paham, mereka -saudara dan teman-teman saya dari Aceh- melihat dalam ikatan sosial yang lebih sederhana, geografis yang lebih kecil. Aceh. Jadi wajar pertanyaan seperti itu terlempar buat perantau seperti saya. Dan saya yakin, situasi yang sama juga dirasakan teman-teman dari suku atau daerah lain, ketika ditanya atau disinggung dengan ungkapan serupa. Yang berbeda cuma ikatan sosial dan nama letak geografisnya saja.

Menjadi Indonesia itu bukan persoalan darah. Menjadi Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Flores, atau Papua itu bukan perkara numpang lahir. Bahkan “Menjadi Indonesia”, tidak sama dengan “menjadi warga Indonesia”. Menjadi warga Indonesia adalah sebuah entitas biasa saja. Ketika ego kita butuh untuk dilabeli sebagai komunal besar, anggota dari sebuah negara, secara hukum dan sosial. Terbayang kalau misal nanti Bumi ternyata bukan lagi satu-satunya planet di alam semesta? Ada ego komunal baru lagi yang kita butuhkan, warga bumi. Mungkin nanti ada yang namanya KTPB. Kartu Tanda Penduduk Bumi.

Persoalan “menjadi” itu memang filosofis menurut saya. Juga ada unsur bentuk tanggung jawab di dalamnya. Ketika ada yang bilang, “Gw sekarang udah jadi web designer, Bro” atau “Saya sekarang udah jadi PNS, Mas”, maka disana ada makna bukan sekedar punya NIP atau NPWP. Ada tanggung jawab bukan? Bekerja dengan profesional sebagai seorang web designer. Bekerja dengan tanggung jawab sebagai PNS. Dan disanalah bentuk “menjadi” itu memiliki arti yang lebih tepat.

Kalau kita menerapkan standar yang sama untuk hal-hal sederhana demikian, maka persoalan “menjadi Indonesia” malah justru tidak sesederhana memiliki KTP Indonesia. Ada tanggung jawab disana, ada nilai-nilai manfaat yang harus dipersembahkan buat negeri ini.

Jika seorang setengah darah Indonesia, atau tidak berdarah Indonesia sama sekali, mau mencium burung garuda di dada kirinya setelah mencetak gol, dan mengangkat kebanggaan bangsanya, saya rasa dia pantas untuk diberikan label “menjadi Indonesia”. Sebaliknya, jika seorang pejabat sekental apa pun darah Indonesianya tetapi justru, membuat sengkarut, korup, dan bikin ribut, maka lebih tepat kalau saya katakan pejabat itu cuma numpang berak di Indonesia.

Saya memang belum bisa “menjadi orang Aceh”, apalagi “menjadi seorang Indonesia”. Tetapi saya percaya, bahwa “menjadi” itu bukan seperti meninggalkan jejak lalu tersapu angin. “Menjadi” itu ibarat membangun rumah. Dan selalu ada pilihan untuk menghancurkan rumah tersebut.

Semoga saya dan anda tidak demikian.

Nurdin Yang Terkutuk

Standard

“Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.” – Tan Malaka (1925)

Menonton Indonesia dari televisi. Menonton ke sekian kali Tim Merah Putih bertanding dengan negara-negara tetangga.

Awalnya saya tidak berharap banyak, 2 atau 3 tahun saya cukup kecewa dengan penampilan Timnas. Saya memang bukan seorang yg jago menganalisis pertandingan. Tetapi melihat pertandingan-pertandingan yang pernah ada, seperti melihat sebuah motor yang rusak di busi-nya. Distarter ngadat. Didorong pun harus dipaksa sambil masukkan gigi satu.

Saya pernah bahas soal ini di tulisan-tulisan sebelumnya. Prestasi tim nasional mandek, mau tidak mau karena buah kompetisi yang baunya tidak enak. Ujung-ujungnya, buah ini semakin tercium busuk setelah ditarik ke level manajemen Sepakbola negeri ini. Yaitu PSSI sendiri. Dan dengan “setan-[setan]” di dalamnya bernama Nurdin Halid [dan cs-nya].

Bukti? Cukup lelah koran-koran dan media lainnya bersuara. Dan saya tidak perlu membuat diri capek lagi hanya untuk menyentil orang satu itu. Sentilan itu tidak mempan, bisa jadi karena memang “setan-[setan]“ itu sudah bermuka tebal. Padahal saya sendiri percaya, setan saja masih punya malu dan harga diri.

Tetapi asa kembali muncul ketika sebuah photo profil ditag ke halaman Facebook saya. Photo seseorang yang cukup nekat, mengenakan kaos putih bertuliskan “Aku berlindung dari godaan Nurdin yang terkutuk”, dengan latar dirinya sedang memandang jauh Stadion Senayan “GBK”. Saat itu, suporter nekat itu sedang menonton Tim Garuda melawan Tim Nasional Uruguay dalam rangka uji tanding sebelum menjajal kejuaran Piala AFF Suzuki Cup Desember ini. Entah bagaimana, saya merasa photo itu cukup mewakili kekecewaan, tetapi juga sekaligus harapan. Bahwa saya, si suporter gila itu, dan berjuta-juta fans sepakbola tanah air masih punya harapan untuk hadir di Senayan dan menyaksikan tim kebanggaannya menang.

Suatu masa yang lain, dari radio streaming yang penuh dagelan, bernama Radioteflon, saya mendengar analisa menarik untuk peluang Indonesia di AFF. Wawancara dagelan itu pun tidak lupa menyinggung prestasi timnas dan pengaruh dari bobroknya PSSI bersama “setan-[setan]“-nya. Satu kali lagi saya mencatat, si narasumber yg gemar menulis blog soal bola itu, juga yakin bahwa kita masih bisa berprestasi. Prestasi itu tidak dijemput, tetapi harus dikejar. Dan PR kita masih banyak, termasuk membenahi PSSI dan sistem kompetisi lokal yang acak kadut.

Dan semalam, juga 2 malam sebelumnya, menjadi bukti bahwa kita mampu. Nurdin cs yang pesimis, dan sempat menentang cara pelatih Alfred Riedl mengatur tim, justru dibalas tegas kemenangan telak. Lima satu dengan Malaysia, setengah lusin bersama Laos.

Kita bisa menang. Bahkan bisa lebih baik dari sekarang. Dan kemenangan itu semua bukan hak Nurdin sama sekali. Dia lebih pantas turun sekarang juga dari PSSI. “Lindungi Indonesia dari godaan Nurdin yang terkutuk”

*thanks to @zenrs @hedi @colonelseven @di_larashati @escoret @epat @kelakuan dan semua yg menginspirasi. Kalau kata Tan, “Dalam tiap-tiap macam perjuangan, inisiatif mempunyai nilai besar” – Tan Malaka.

Saya akan turut ke Final. Siapkan satu kaos untuk ku ya!