Integritas Akademik?? WTF..

Karena menonton sesuatu hal yg “janggal’ di pikiran saya, jadi pengen curhat.

Bagi kawan-kawan yang beruntung menjadi peneliti dan bergelar intelektual bangsa, mengenyam sekolah dan penelitian ke luar negeri, semoga bisa paham.

Ada golongan atau kelas sosial tertentu di negeri ini yang bawaannya “kasar & frontal”, lebih sering pedas terhadap kaum priyayi intelektual. Sudah sejak dulu jaman Tjokroaminoto ya begitu itu.

Namun sekarang, kelas sosial seperti ini semakin besar jumlahnya. Mereka dengan gampang bisa belajar dan mengelola keilmuwan mereka langsung di lapangan, dekat dengan subjek dan objek yang ada di masyarakat. Kelompok ini tidak melihat lagi adanya gap-gap keilmuan seperti jaman Boedi Oetomo masih hidup.
Teknologi informasi yg kita pakai ini yang membuat mereka seperti ini. Tidak hanya mengenyam ilmu dan informasi, bahkan dengan gampang seseorang bisa mendebat profesor ilmu politik di US sana. Lain waktu dengan ‘selo’ mereka bisa membantah status seorang PhD ilmu komunikasi. Di saat lain, karena sebuah forum atau open online course, ada seseorang yang bisa berdiskusi tentang microfinance system bersama 3 professor dari 3 benua.

Lalu apa yang kemudian dituntut dari mereka-mereka yang memiliki kesempatan lebih menuntut ilmu dan penelitian di luar negeri sana?
Adalah sedekat mungkin membagikan ilmu mereka ke publik, mendekatkan keilmuan mereka dengan persoalan riil di masyarakat, mau membuka ruang untuk dikritisi dan belajar lebih banyak lagi.
Dan justru tidak ribut berdebat soal integritas akademik dalam konteks jargon dan pembahasan elitis. Sudah usang dan basi.

Ini satu hal lagi pembelajaran setelah Pemilu Presiden yang saya dapat.
Dan benar, jaman sedang berubah, kawan.

Saya semakin percaya kata bapak saya, seseorang hidup bermartabat bukan karena rumah atau mobil atau gelar pendidikannya. Tetapi seberapa banyak manfaaat yang dia berikan kepada orang lain.

Keberagaman dan Sains dalam sebuah kutipan teori

Dalam teori Merton Thesis yang kontroversial itu, disebutkan bahwa tumbuhnya toleransi Katolik terhadap berkembangnya Protestan dan etika protestan pada abad 17 di Inggris, turut mendorong semakin berkembangnya sains di masa itu.

Teori serupa dari Max Weber jg ada, tetapi lbh menyoroti teori awal kapitalisme dan hubungannya dengan antusiasme intelektual puritan Inggris (penganut protestant-ethics) terhadap ilmu ekonomi.

Kalau ditarik korelasi teori ini ke masa sekarang di Indonesia, maka semakin tidak tolerannya kelompok agamis garis keras terhadap berkembangnya agama lain, maka sains akan semakin redup.