Saya Nge-fans Situ Sebab Situ Kenapa Yaaa??

AsmiSapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si Rendy membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana. Semua lelaki mendiskusikan dia. Padahal dia kan cuman wanita biasa. Bukan presiden, bukan dewi dari surga apalagi Tuhan Sang Pencipta. Cuma seorang gadis muda yang dapat kesempatan untuk tampil di televisi.

Continue reading →

Antara Vodka, Nasionalisme dan Cinta

Apa yang unik malam ini?

Tidak ada! Gue cuman berteman sekelompok “tua-tua”, kaum tua yang akan berangkat menuju medan pertempuran masing-masing nantinya. Ada yang akan studi lanjutan keluar negeri, ada yang mau bekerja di perusahaan asing, dan bahkan ada yang mau DO melanjutkan Tugas Akhirnya di kampus lain.

Unik memang… Tapi itulah hidup. Semua ada umur dan batasnya. Kuliah dengan ospek bersama diawal-awal juga akan dipisahkan oleh pekerjaan atau profesi di masa depan. Bahkan sepasang saling mencinta pun akan terpisah jika waktunya Sang Maha Kuasa menarik nyawa dari badan yang lemah ini. Yah,. itulah hidup teman.

Dan malam ini, setelah Vodka bersanding dengan oplosan Pepsi, atau VSOP dengan Coca Cola, hidup terasa ringan, sedih bercampur nostalgia. Dan anak-anak muda hanya tertawa menyaksikan kebodohan sang tua yang ego dan sentris akan dunia silam yang gemerlap. Memang tidak terlalu gemerlap. Nostalgia gue dan teman2 gue di masa silam tidak jauh-jauh dari banting tulang, menghidupi hari2 bertahan di Kampus megah ini. Ada yang tertawa mengingat kebodohannya menyeruak dengan gahar di kerumunan mahasiswa baru ketika ospek, atau sekedar jualan Pop Ice di kaki lima, ada juga yang menjadi bandar dari kupu-kupu indah malam hari, dan ada juga yang tertawa mengingat nostalgianya mengurusi “grasroot” yang peta saja tidak tahu utara-selatan.

Hidup adalah hidup. Semua ada umurnya. Ketika nostalgia disandingkan dengan kebanggan atas hidup lama yang indah dan “katanya” ala pahlawan, ternyata diakhir kata penghujung jalan, kita hanya menyadari bahwa kita hanya makhluk lemah.. Sangat lemah malah.. Tidak ada itu baju kebanggan bersanding dalam mimpi2 kita. Tidak ada itu rasa puas dalam setiap darah keringat untuk bangsa ini. Terlalu kecil, teman. Sangat kecil. Yang ada hanya pertanyaan dan pertanyaan kembali terlontar. Apa dan mau apa setelah ini? Perjuanganku selesaikah? atau aku harus lari kehutan lalu ke pantai? dan bertapa menunggu moksa? ..Ahh…. hidup cuman sebentar kawan. Segelas vodka juga tidak cukup membawa semua baju kebanggan akan menjadi dinasti kepuasan.

Dan malam ini, ditengah kepala yang limbung, dan diskusi berat seputar wacana-wacana kebangsaan, aku berkilas balik, membuka untaian kata2 lama yang kukumpulkan. Dan menemukan seberkas buku tua yang aku beli dari kota lama. Sebuah “tembang” Jawa, sebuah Langgem dari negeri Sunan, tapi bukan doktrin tua untuk menyembah Tuhan Pencipta. Hanya sebuah lembar tua tentang kesederhanaan layaknya lembar-lembar tua ini. Sangat sederhana….

Aku kembali ke meja diskusi, membawa lembar ini tapi tidak untuk dipamerkan isinya. Namun, limbungnya kepala ini membuat aku berkoar sendiri dan berucap ditengah gelak tawa romantisme tua. “Wahai kawan, sesederhana apa kita melihat hidup kita, diri kita dan pribadi kita? Tidaklah hebat secuil pun dari kita untuk bercinta dengan sang roman. Tidaklah pantas berkoar dengan bangga akan semua bakti keringat dan darah untuk rakyat selama kita darah kita masih basah..

Perjuangan belum selesai, tidak ada waktu berpuas diri,.. tidak ada waktu menghela napas yang masih berbau alkohol ini…

Kita hanya manusia, kita berdaging, berdarah dan berkeringat, dan hanya Pemilik Alam yang berhak menentukan, siapa sang juara…

Tetapi tidak ada yang tahu apakah itu saya, kamu atau mereka…

*Dalam kelimbungan pikiran dan air mata, serta rasa jatuh cinta yang lama telah hilang, namun muncul lagi. Semoga rasa cinta ini segera pergi dan aku meraih hidup dalam bahagia umpama kumbang tanpa bunga.. Dan kata teman-ku,..” tidak semua kumbang membutuhkan bunga, kau harus sadar itu”..

Dan aku harus bisa tanpa sesosok bunga… Waktunya berikrar…

“Selamat tinggal cinta dan segala atributnya…..”

Choosing a Good Merchant Accounts for Your Ecommerce

Illustration of Merchant AccountIn the ecommerce world was known the name “Merchant Account” or often also called Merchant Services. A perpetrator online business must know the requirement of this service so their online business would service the customer well. Because the customer’s belief depended in their process order satisfaction, from the order step until the product or service being delivered for them.
And the most payment implement is Credit Card, so as the existence credit card in business online and offline became a important fitur obligatory.
The key for this is strategy that was competent in choosing the service provider credit card processing.
Continue reading →

Kesaksian Sederhana

Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana

Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja

Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit

Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit

Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa

Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana

Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa

Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia

Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja

Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya

Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa

Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa

Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia

Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat dari badanku yang kurelakan untuknya

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak

Kusihir ia jadi katak

Dari kumpulan puisi Runtuh – Kiai Kanjeng