Michael Moore, Pendongeng Dari Negeri Paman Sam (Vers. 1.0)

Bush and MooreGue udah lama ga nulis di blog ini. Karena ada beberapa kerjaan dan kesibukan yang musti gue urus. Sebagai gantinya, gue coba ngebahas sedikit tentang sosok aneh gendut dari Paman Sam. Hmm.. ”sedikit” dalam versi gue berarti bisa jadi panjang. So, yang ga suka tentang polemik kebangsaan, critism, dan perang idealisme, lebih baik tidak usah melanjutkan membaca. Tetapi jika anda cukup pintar untuk membaca, beropini dan mengeluarkan suara, tulisan berikut bisa jadi inspirasi baru bagi Indonesia yang cerah ke depannya…(Halah,halah…)

Michael MoreSiapa di dunia saat ini yang tidak kenal Michael Francis Moore? ooh.. banyak kok. Hahaha… si gendut Amerika tersebut tidak se-terkenal Mandy Moore, Julian Moore ataupun Roger Moore. Tetapi di negaranya, dia bisa dikatakan tukang kritik paling kaya saat ini dari film-film dokumenter buatannya. Walaupun filmnya tidak sebanyak film dokumenter yang diproduseri perusahaan media besar seperti CNN atau BBC atau National Geographic, dengan report data-data yang akurat dan ilmiah, namun Moore membawa gerakan baru dalam penyajian dokumenter secara ekspresif, animatif dan bersemangat.

”..He uses both an expository type documentary and an interactive perspective to demonstrate his opinion in this film ..”

(Wikipedia – “Roger and Me”)

Movie CartoonFokus film dokumenter Moore adalah Amerika. Alur dan cara penyajian film-film dokumenternya bercerita tentang kehidupan sosial di Amerika. Negara yang membesarkan dirinya dengan atribut capitalism, digambarkan sebagai monster yang mempunyai koalisi birokrat dan money policy sebagai taring tajam yang membunuh warga Amerika sendiri. Kita tidak akan menemukan sebuah cerita ala ”American Pie” dengan remaja Amerika yang berpesta, atau romance thriller ala ”Walk to Remember” yang dijadiin ”Movie Favorit” di Friendster cewe-cewe Indonesia. Apalagi action hero Hollywood ala Bruce Willis,si Rambo, dan Si Gubernur berotot… hallaahhh… (gue yakin si Bruce berangan-angan mati dalam serangan Teroris..Gila bok, sekuel teroris Die Hard-nya mau nyaingin Star Wars..)

Ketika gue menonton film-film Moore, bayangan gue adalah seseorang yang ”ingin” menjadi ”The Truth Patriot of America”, yang kritis dengan distorsi patriot Amerika ala Om Bush yang diciptakan raja-raja media USA dan di semua propaganda mereka lainnya belahan dunia. Rasa penasaran akan motif-motif patriotik Si Gendut Moore ini membawa gue melacak keberadaan dia di Internet (pertama kali tahun 2004, setelah ”Fahrenheit 9/11”. Dan hasilnya,… unbelievable,.. Moore juga ternyata seorang Onliner, Journalism, blogger dan pendukung Freedom of Speech a.k.a. Citizen Journalism. Ohya, kemarin dia baru menulis surat terbuka kepada CNN berjudul “I’m about to become your worst nightmare.”
karena media terbesar dunia tersebut salah kritik terhadap data-data faktual dalam film terbarunya , SiCKO. Dan sepertinya ancamannya ga main-main. Dia sempat menyinggung sedikit di surat tersebut tentang bagaimana CNN telah menjadi agen propaganda USA dalam beberapa kasus perang Amerika, dan juga keterlibatan CNN dalam koorperasi Health Care di USA.

”SiCKO”, release 19 Mei 2007 di Canes Festival dan 29 Juni 2007 di USA. Sebuah dokumenter progresif yang mengupas kebijakan kesehatan di negeri Paman Sam. Saat ini menduduki rating 8.2 dengan voter mencapai +2000 di IMDB . Film ini terus menuai perdebatan di kalangan masyarakat USA sampai sekarang. Hebatnya lagi, Moore sengaja menyediakan websitenya menampilkan seluruh data yang dia gunakan dalam film SiCKO (dan film-film lainnya) untuk di konsumsi massal, menunjukkan dia bukanlah seorang ekstrim kiri penyebar propaganda anti-amerika seperti yang dituduhkan oleh Pro-Konservatif.

RRRrrrtTT…Zzeertttrrllllttt…

Ups sorry,..lanjutan cerita ini gue forward 3 menit kedepan…

Lumpur LapindoSebelumnya.., sebelum gue lanjutkan, kita kembali ke negeri ”MUD”. Mud dalam kamus adalah Lumpur, yang merupakan campuran tanah dan air. Yeah,. Kita kembali ke Tanah Air dulu.

Ketika kesehatan semakin mahal di Indonesia (begitu juga pendidikan), dan para dokter-dokter muda kita semakin berkiblat ke USA (bahkan bermimpi jadi dokter-dokter ala ”ER” haha…) ditambah perusahaan Asuransi di Indonesia yang semakin hebat dalam promo ”Asuransi Kesehatan” mereka, ketika asosiasi dokter kita sibuk berkoar karena pasien-pasiennya pada lari ke luar negeri dan dijadikan alasan membangun (ketika) rumah sakit-rumah sakit eksklusif di Indonesia dimana seorang pemulung ditolak untuk sekedar memeriksa anaknya yang sakit,.. DAN ketika SAAT INI gue berdebat di YM dengan seorang teman calon dokter (of course cewe, hehe..) dimana mengimpikan menjadi istri kuli Perusahaan Minyak Asing di negeri sendiri ketimbang mengabdi sebagai dokter di pedalaman Sumatra,….

dan gue tercengang, tersadar, BEGITU HEBATNYA MEDIA-MEDIA CAPITALISM membodohi orang-orang pinter Indonesia. Mungkin lebih tepatnya tidak dibodohi. Tapi terpaksa memindahkan otak pintarnya sementara ke dalam peti kemas dan dikirim ke Amerika untuk diasuransikan juga.

Untuk saat ini, gue memilih lebih baik menjadi orang bodoh.

 

SICKO – 19 Mei 2007

Kembali ke Moore dan filmnya. ”SICKO” adalah sebuah dilm dokumenter yang ditulis, disutradarai, dan diproduseri oleh Michael Francis Moore. Ohya, film ini juga ada aktornya. Yaitu : Michael Francis Moore. Terlihat narsis bukan? Tetapi kita disini tidak membahas narsisnya si warga asli Flint – Michigan, USA ini. Dalam film berdurasi 2 jam 3 menit 58 detik ini, Moore mencoba memaparkan bagaimana 47 juta penduduk amerika yang tidak berada dalam Asuransi Kesehatan harus bertahan dan berdoa setiap harinya agar mereka tidak sakit keesokan harinya karena mereka harus membayar $16.000 hanya untuk operasi sebatang jari. ”Ya wajarlah, kan ga ada asuransi kesehatan..”. Yup, emang wajar. Tapi bagaimana dengan 250 juta lainnya yang memiliki asuransi? Tidak jauh berbeda, mereka juga selalu berdoa agar perusahaan asuransi tidak menolak klaim asuransi mereka. Karena pada akhirnya Asuransi hanyalah sebuah industri. Sebuah industri layaknya perusahaan modal asing di negara ketiga yang mengejar keuntungan sebesar-besarnya.

Lalu dimanakah hak asasi manusia untuk mendapatkan kesehatan di negeri Paman Sam tersebut? Yang katanya media-media dunia bahwa Amerika adalah negara yang paling menghormati hak asasi APAPUN. Yang katanya Amerika kelebihan dokter-dokter hebat dengan segala fasilitas teknologi canggih. Yang katanya memiliki lebih dari 49% hak paten obat-obatan dunia.

Jangan tanyakan gue. Gue warga Indonesia, bukan Amerika.

Yang menarik dari film ini adalah sebuah perang idealisme capitalism dan socialism. Idealisme Kapital Amerika telah mendorong semua bentuk industri hingga layanan jasa harus berada dalam sebuah coorperation. Yang artinya adalah lobi-lobi si pemilik modal dan birokrat – senat untuk dapat menguasai pasar obat-obatan dan industri kesehatan. Ide sosialisme dengan konsep Medicine Socialism, menjadi hantu bagi para penguasa pasar tersebut, karena berarti mereka akan kehilangan banyak pemasukan.

Memang sepanjang film kita akan dibawa pada alur tentang masalah sistem asuransi kesehatan dan efek buruknya, kemudian pada kontradiksi program-program kapitalisme kesehatan Amerika yang dimanfaatkan untuk meraup keuntungan oleh para billioner birokrat mereka. Lalu pertanyaan kenapa ini bisa terjadi di USA? Kapan Health Maintenance Organization (HMO) disahkan? Hmm.. jika mengupas ini kita akan kembali ke masa silam birokrat USA di zaman Nixon. Bermula dari usaha Edgar Kaiser, putra billioner USA era 70-an Henry J. Kaiser (pendiri organisasi private yang bergerak di bidang kesehatan, Kaiser Permanente). Ia mendekati John Ehrlichman, tangan kanan Presiden Nixon, untuk melobi agar dibuat policy negara mengatasi problem layanan kesehatan Amerika saat itu, dimana sedang dalam kondisi bangkrut akibat dana perang dingin yang terus melonjak. Moore memperdengarkan sebuah Black Tape di scene ini.

Ehrlichman: “We have now narrowed down the vice-president’s problems on this thing to one issue, and that is whether we should include these Health Maintenance Organizations like Edgar Kaiser’s Permanente thing.”

President Nixon: “Now let me ask you… You know I’m not too keen on any of these damn medical programs.”

Ehrlichman: “This is a private enterprise one.”

President Nixon: “Well, that appeals to me.”

Ehrlishman: “Edgar Kaiser is running his Permanente deal for profit. And the reason that he can … the reason he can do it … I had Edgar Kaiser come in … talk to me about this and I went into it in some depth. All the incentives are toward less medical care, because … the less care they give them, the more money they make.”

President Nixon: “Fine.”

Ehrlichman: [Unclear] “… and the incentives run the right way.”

President Nixon: “Not bad.”

Yah, begitulah lobi-lobi politik. Gue rasa di Indonesia juga ga jauh beda kejadiannya (ups…).

Dan keesokan harinya, Presiden Nixon mengumumkan kebijakan tersebut. ”…I want America to have the finest health care in the world. And I want every American to have that care when he needs it”.

Dan 2 tahun kemudian (April 1973), tidak jelas berhubungan atau tidak dengan Black Tape di atas, John Ehrlichman didakwa sebagai otak kasus Watergate yang popular itu.Yeah,.. sekali otak korup, ya tetep aja korup.

Film ini mengupas habis grassroot permasalahan kesehatan Amerika. Lalu apa solusi yang dikejar oleh masyarakat golongan bawah? Moore menjajaki solusi tersebut hingga ke negara-negara tetangga Amerika dan Eropa. Dimulai dari Kanada, dimana dulu Reagan, Bush Tua dan Bush Muda pernah men-klaim bahwa Kanada adalah contoh negara gagal dalam urusan layanan kesehatan. Dan ternyata apa yang ditemukan Moore disana? Moore ditertawakan oleh perawat administrasi Rumah Sakit Pemerintah Kanada karena menanyakan seorang pasien operasi berapa biaya yang harus dibayar olehnya. Dan si pasien hanya tersenyum dan bingung harus menjawab bagaimana. Karena itu adalah pertanyaan yang tidak pernah dipertanyakan selama ini di Rumah Sakit Pemerintah Kanada. Hal yang sama ditemukan Moore di Paris, Inggris dan terakhir di Kuba.

Yang unik adalah Kuba. Kabarnya Moore sempat mendapat masalah ketika membuat film ini karena kunjungannya ke Kuba.

Ketika mengunjungi Kuba, dia mengajak beberapa volunter 9/11 yang mendapat masalah kesehatan. Volunter pemadam kebakaran dan medik yang dengan kemanusiaan mereka yang tinggi telah didengungkan oleh pemerintah sebagai ”Our Heroes – The USA Heroes” 5 tahun lalu (sampai-sampai ada filmnya sebagai propaganda, yang main si Nicola Cage). Tapi kenyataannya saat ini, akibat dari debu, asap dan mayat di Ground Zero yang diurus oleh mereka, sekelompok volunter tersebut kini memiliki masalah kesehatan. Dan bagaimana dengan layanan kesehatan bagi mereka? ”Our Heroes” ? Harus kembali pada kenyataan bahwa mereka berada di Amerika. Proses klaim terhadap pengobatan volunter-volunter tersebut lebih banyak ditolak oleh perusahaan asuransi.

Sementara itu, para petinggi militer USA sedang sibuk dengan perbaikan citra Penjara Super Guantanamo, penjara yang diakui sebagai tempat ditahannya para elite Al-Qaeda, bombmaker, teroris, dan termasuk 11 pelaku 9/11. Lewat Ceney, sang jendral, USA menginformasikan ke media bagaimana humanis-nya USA termasuk salah satunya layanan kesehatan bagi para tahanan. Dan secepat kilat umpan busuk tersebut dilahap cacing-cacing media. Bush sendiri membanggakan sebuah sistem kesehatan high class setara dengan rumah sakit kelas VIP di USA dengan perbandingan 1 dokter = 4 tahanan, plus-plus alat medik mutakhir seperti Cancer Scanner, maupun check-up rutin mingguan. Sangat luar biasa! Dan gratis pula!

Moore merespon propaganda tersebut dengan sangat polos. Ia membawa 6 volunter 9/11 menyeberangi Florida menuju Pulau Guantanamo. Sesampai di gerbang batas pintu air Penjara Guantanamo, Moore berteriak lewat Toa (pengeras suara) :

“Permission to enter. I have three 9/11 rescue workers. They need some medical attention. These are 9/11 rescue workers, they just want some medical attention. The same kind that Al-Qaeda is getting.They don’t want any more than you’re giving the evil-doers. Just the same…”

Tidak ada tanggapan. Malah mereka diusir oleh suara sirene tanda bahaya.

Bodoh dan polos seperti respon anak-anak. Tetapi sebenarnya scene bagian “Penyelamatan Our Heroes” ini paling keren menurut gue. Paling tidak ada 3 pesan disampaikan disini :

  1. Adakah harapan bagi semua warga USA untuk mendapatkan layanan kesehatan setara Paris Hilton?
  2. Seberapa besar harga para “9/11 Heroes” dibanding ”9/11 terorists”?
  3. Atau jangan-jangan Bush Cs hanya menyebar berita bohong tentang kamar VIP di Guantanamo?

Scene yang murah meriah. Satu paket memberi pesan segudang.

Yah, begitulah Amerika. ”Untung” bukan Indonesia yah… (iya gitu??)

NB:

Bakal gue lanjutin ntar yee.. gue harus ngulik .NET untuk Integrity Pipeline Management. Heheh..

VB and NET, Excel Programming

 

Ada yang mau bantu?? =p

5 Comments

  1. orang2 idealis.. ini yang kita perlukan di Indonesia..

    Reply

  2. hai bung,salam kenal.namanya sama nih,hhehe.. ulasan anda menarik sekali,kebeulan topiknya sama dgn analisis utk TA saya ttg film John Q yg bercerita tentang kacaunya health insurance system di amerika. trima kasih jg atas ulasannya yg sgt membantu. bersulang segelas cappuccino :)

    Reply

  3. masitho purnama sari November 20, 2007 at 3:43 pm

    :)semuanya menarik dan saya sukaaaaaaaaaaaa sekaleee!!!!!lain waktu buat yang lebih menarik lagi yaaaaa

    Reply

  4. ada yang tahu cara dapat film-nya.aku pernah lihat di HBO/star movies tapi repot klo mo discuss ma org lain.ada yg tahu?hub-i aku ya

    Reply

  5. hehehehehehe….. aneh bin ajaib di negara super kapitalis kayak amerika, masih aja ada orang yang mikir kayak si gendut ini. berani dan tegas banget dalam menyampaikan opini nya, ga ada distorsi sama sekali, and after watching his movies, i must say that i fully agree with his opinion. nice work dude.

    Reply

Leave a Reply