Hari Ke-5,.. Ndak gitu Penting Sih

Hari ke-5 …

Ngga gitu banyak hal penting yang gue kejar di kampus hari ini. Karena surat lulus seleksi udah di tangan dan gue lebih berminat jalan2 ngiderin kawasan sekitar kampus. Dan karena ini hari terakhir buat pendaftaran ulang bagi mahasiswa lama, maka gue memang memilih waktu yang sangat tepat buat jalan2.

Kenapa? Disekitar sini ada 3-4 kampus swasta lainnya. Sebagian sudah melewati minggu pertama kuliah. Dan untuk calon kampus gue sendiri, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran ulang mahasiswa lama, yang artinya kampus ini kembali “menyala”. Emang dimana-mana yang namanya mahasiswa itu sama yah. Sukanya ngedaftar ulang di akhir-akhir…hehehe..

4 hari ke belakang, gue ga gitu melihat ada keramaian di kampus ini. Tapi, hari ini rame euy. Mulai lah terlihat “mutiara-mutiara” kampus berseliweran.. hueuehue…Yaa, walo di ITB juga saat ini “mutiara-mutiara” nya udah pinter berpenampilan. Tetapi kesan nya terasa beda aja di sini. Atau jangan2 karena gue terlalu lama menjadi kepompong yang ga menikmati kehidupan kampus kali ya? hahahaha.. What eva laahh…

Terus setelah jumaatan gue rencananya nyari kost2an di sekitar sini. Hmm… susah juga ternyata nyari kost2 disini. Walaupun info yang gue dapet dari seorang teman anak yogya bahwa “nyari kost di Yogya tuh kayak nyari telor di pasar”, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Dari seorang bapak kost yang gue temui, malah curhat dia udah nambah bangunan 2 petak lagi tahun ini, tetapi tetep para pencari kost masih saja banyak yang dateng. Kabarnya, 4-5 kampus sekitar sini pada menambah kuota kursi mahasiswanya. Malah ada yang memperbesar hingga 2.5 kali lipat!! Buhsett…

Gue mencari kost hari ini tanpa terencana sih. Tetapi berkat bantuan Wisnu temen gw di STT Telkom, dia mengontak adik dari calon bininya. Calon adik iparnya itu alumnus baru yang masih menjadi “Pengacara” di kawasan sini.. heuheu… Jadilah gue janjian ketemu dengan orangnya. Dan ternyata ia adalah seorang WANITA… Terus berniat ngebantuin gue ngider nyari kost-an sekitar sini make motornya die…Wew…

Untuk urusan kayak gini, gue percayakan aja pada penguasa daerah setempat lah. Daripada gue sotoy sana sini, lebih baek bawa preman daerah bersangkutan kan??.

Kita ngider2 ampe maghrib dan berlanjut makan malam, dan terus gue malah diantar sampai ke kost temen gue (kebalik ya,.. harusnya gue yg nganter di… :p ).

Hasilnya?? Tidak ada kost yang cucok untuk gue (itupun nemu 2 doang yang kosong dari lebih 20-an yg gue samperin..).

Tetapi tetep hari ini bermanfaat… Berkenalan dengan cah ayu pertama di Yogya… huahahahaha…

Hari ke-4,… Gue Nyogok Supaya Bisa Diterima??

Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut.

Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah bolak balik diantara 2 otoritas berbeda di kampus ini untuk membicarakan perihal proses transfer ini.

Dan seperti di post sebelumnya, nihil. Gue diminta test dengan kualifikasi seperti anak baru, bukan mahasiswa mengulang atau transfer yang direkomendasikan. Kenapa? Karena kursi udah full untuk jurusan tambang.

Dan tadi pagi gue test denganpersiapan minimal baca2 rumus malam sebelumnya. Bayar di loket, terus input data, terus validasi ke ruang test, dan langsung duduk depan komputer yang menyediakan 30 soal dalam 45 menit. Jreng..!!

Gue ingin nyelesein semuanya dengan benar, tetapi jujur aja, ga ngerti gue ama kimia SMU, dah lama banget gitu loch…

Dan karena kebetulan udah kenal ama mas2 ditempat test, saya minta diintipin hasilnya. Point gue kurang 7 sodara2..Sedikit lagi dari ambang batas passing grade terbaru yang terus naik, karena makin banyak nya peminat ini.

Dan.. dengan hati luka gue tercenung aja. Apakah selesai sampai disini? Terus mau gimana? Nunggu setahun? Atau ada opsi2 lain…??

Pas dalam kondisi bingung begitu, gue bertemu seorang ibu. Ibu tersebut adalah istri pensiunan tentara, yang mana putranya pengen banget masuk kampus ini. Namun beliau sendiri kesusahan dari segi dana. Dan beliau sekarang sedang mengusahakan bertemu dengan otoritas biro akademik yang juga mau gue temui lagi. Curhat lah si ibu panjang lebar dengan gue, cerita macem2 tentang susahnya mencari sekolah yang bagus bagi anaknya, selama kurang lebih 1 jam kita ngobrol menunggu si bapak selesai rapat. Gue melihat, begitu besar pengorbanan seorang ibu yang demi anaknya mau jauh2 datang dari jakarta untuk mengurus sekolah yang terbaik buat anaknya. Si ibu sempat cerita, jika di jakarta, dia tidak dapat lagi mensupport anaknya bersekolah, teramat sangat mahal untuk keluarganya. Ahh…jadi teringat ibunda gue nun jauh disana, walao dia ga pernah ngedampingin gue mengurus sekolah-sekolah gue sejak SMU, tetapi gue percaya seorang ibu sama di mana2, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Setelah si Ibu menghadap, kemudian gue masuk keruang si bapak untuk kesekian kalinya, meminta beliau untuk bisa memberikan pertimbangan dari hasil test yang point-nya mepet begitu. Ohya, pas mau masuk gue ketemu si ibu dengan wajah yang ceria, gue harap dia dapat solusi terbaik buat putranya.

Obrolan gue dengan si bapak tetep seperti biasa, namun si bapak menawarkan option lain lagi yang baru gue tahu bisa dicoba. Gue kembali ke ruang PMB, ngobrol2 ama mas2 yang kerja disana hasil pembicaraan dari si bapak di Biro Akademik. Salah seorangnya itu ngasih petunjuk ke gue, kalo gue bisa diluluskan dengan saran tersebut. Jadi antara bobot test, besarnya sumbangan dan pilihan jurusan itu memiliki point2 berbeda. Dengan kata lain kalo gue test dengan sumbangan diatas minimal seharusnya, perhitungan dan pertimbangan untuk itu juga akan berbeda di dalam sistem. Karena sistemnya emang dirancang seperti itu – Input – test – result, begitu prosedurnya. Gue kira gue harus daftar lagi untuk test ulang. Tapi si Mas di PMB bilang ngga usah. Gw bisa dibantu (karena kasian liat gue bolak-balik heheh..) dengan langsung merubah validasi input. Kalo gw udah sepakat untuk bayar diatas minimal sumbangan, diitung2in ama beliau berapa minimal sumbangan tambahan yang harus gue capai agar ambang batas lulus seleksi tercapai. Dan alakazam keluarlah jumlah sumbangan yang baru… Dan kalo gue setuju maka akan segera dikeluarkan surat keterangan lulus seleksi. Dan selanjutnya menandatangani blanko perjanjian untuk kesediaan membayar.

Gue kontak dulu keluarga dirumah, .. pertimbangannya gue bisa aja nunggu setahun kerja lagi seperti biasa, sambil ngumpulin duit. Dan kemudian daftar di gelombang pertama untuk tahun ajaran depan. Tetapi si emak ku tercinta ga mau ditunda2 lagi, lagian dengan pertimbangan jurusan ini makin banyak peminatnya dari tahun ke tahun, bisa jadi tahun depan sumbangan minimalnya akan deket-deket juga ama jumlah sumbangan yang sekarang harus gue bayar.

Ya sudah, izin didapat, dan gue juga bulat ini bisa gue lunaskan. Gue kembali ke ruang Panitia PMB dan menyetujui untuk dikenakan sumbangan minimal sekian tersebut.

Yaaa… Begitulah sodara2…

Jadi bukan gue nyumbang lebih karena gue nyogok si panitia atau biro akademiknya. Gue cuman mengikuti sistem yang mereka miliki. Karena sebuah Institusi Swasta yang mandiri seperti ini kan harus membayar sendiri kegiatannya, dan subsidi silang adalah jalan keluar bagi mereka disini.

Layaknya seperti USM ITB lah, yang bayar 45 juta (atau lebih..) itu. Kalo mereka diperlakukan sama, ya buat apa bayar 45 juta. Mending test SPMB aja. Tetapi justru mereka diuntungkan dengan test tersendiri, yang pada intinya berkurangnya persaingan, membesarnya peluang untuk diterima. Plus mendapat antrian kursi terdepan untuk menentukan pilihan jurusan nantinya dibanding yang SPMB.

Sangat kapitalis memang sistem pendidikan seperti ini. Tetapi gue percaya ada ruang-ruang khusus yang disediakan untuk berlaku adil dan membuka kesempatan berpendidikan bagi semua kok. Karena mereka masih harus memberikan keringanan untuk beberapa pihak tertentu. Seperti misalnya bagi anak Pensiunan TNI atau aktif di kedinasan, kampus ini ngasih keringanan. Dan terlebih lagi bagi gue, jumlah biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa disini masih jauh dibawah dari kampus2 swasta lainnya. Dan juga banyak beasiswa yang bisa diurus untuk meringankan beban bagi golongan2 tertentu yang tidak mampu (gue berencana mengurus ini juga ke depan).

Namun kampus swasta tetap swasta. Biaya mandiri dan subsidi silang menjadi kebutuhan pokok untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sebesar ini.

Pengalaman baru tentang semua yang gue jalanin selama beberapa hari ini. Dari ngobrol-ngobrol dengan berbagai orang disini. Sedikit pemahaman baru tentang pendidikan yang adil dan merata. Membongkar cara pandang gue tentang apa itu membiayai pendidikan yang memang mahal. Muncul pertanyaan, jadi kapan nih kita bisa gratis bersekolah di negeri ini? Dikampus swasta aja masih mungkin hal itu terjadi, apalagi di kampus negeri gue rasa. Tul ngga?

Hari Ke-2,.. Dan Gue Cukup Senang Hari Ini…

Walau gue sempat agak frustasi kemarin, tetapi hari ini ada sedikit angin segar.

Pagi-pagi, seperti biasa gue bareng temen alumni SMU yang kebetulan di kampus ini kuliahnya, nongkrong2 bentar. Sambil coba mendiskusikan cara2 alternatif dalam urusan transfer kuliah gue. Selain itu kita juga ngobrol2 ringan tentang SMU dan alumni2 lainnya.

Dan rencana hari ini untuk force ke TU jurusan agar dapat bertemu otoritas selain Pak Kajur yang keluar kota (ternyata ada janjian di Pongkor..Hello ITB,..), gue berencana mau ke SekJur. Tetapi rencana batal, dan feeling gue bilang, gue harus ketemu seseorang yang gue kenal di kampus ini terlebih dahulu. Dia seorang yang biasa, lulusan kampus ini yang kebetulan lulus sebagai mahasiswa abadi, dan bekerja sebagai pegawai di kampus ini. Si Mas ini bukan panitia PMB, tetapi paling ngga beliau kenal dengan keluarga besar kampus ini – dan semoga bisa dibawa ke otoritas lainnya di kampus ini dalam rangka urusan gue. Kenapa gue berpikir demikian? Gue melihat kampus ini punya style kekeluargaan yang akrab, kampus kecil tapi dengan totokromo Yogya-nya ini sepertinya sampai pegawai warnet kampus pun bisa bercanda bersama seorang dosen senior atau bos-nya.

Ya sudah, gue maen ke si Mas. Obrolan ringan, dan memang beliau tahu urusan gue di sini adalah untuk apa, karena kita udah kontak2 sebelumnya. Seharusnya ketemu senin, tetapi karena kebetulan beliau sedang terkena musibah hari Minggu lalu, sang istri tercinta keguguran kandungannya. Pasangan muda yang resmi Maret 2007 lalu ini masih kondisi berduka, dan gue sendiri sebenarnya jadi ga enak untuk merepotkan beliau. Tetapi beliau sendiri yang sangat bersemangat membantu, jadinya gue ikut aja.

Dia berusaha menghubungkan gue dengan pejabat rektorat bagian akademik. Sepanjang perjalanan sampai ke ruang-ruang kantor rektor, tegur sapa dan prolog2 ringan keluar dari si Mas dan pegawai2 disini, begitu juga dengan mahasiswa yang berseliweran. Sepertinya kok jadi budaya tersendiri untuk saling bertegur sapa walo sekedar bertanya apa kabar hari ini.

Sayangnya kita ga bertemu dengan orang yang dimaksud, karena berhubung sedang rapat. Ya sudah, kita kembali ke tempat si Mas, bersebelahan dengan ruang PMB. Dan dari hasil obrolan2 kita berencana untuk malamnya tembak langsung ke salah seorang dosen senior di sini, mantan Kajur dan juga lulusan pertama Pertambangan kampus ini. Kebetulan si Mas kenal dengan anak beliau dan juga kenal dengan si Bapak Dosen.

Malamnya..Lebih tepat setelah Maghrib…

Sambil menikmati bulan purnama yang indah di Jogja, gue nugguin si Mas yang janji jemput. Walau berada di kota, di jalan Kaliurang, tetep aja Bulan Purnama di sini terlihat bulat jelas dan terang benderang. Proyeksi ke mata gue hingga berukuran 2 cm. Sehingga pas gerhana INDAAAH BANGEETT… Orang2 yang jalan kaki dan dipinggir jalan juga banyak yang terkesima, takbir begema di seluruh pelosok mesjid. Momen yang paling bagus adalah ketika Bulan tertutup penuh dengan hanya sedikit cahaya di bagian bawah, seperti sebuah cincin permata (Gue bakal post gambarnya disini nanti..) . Entah kenapa kok ada perasaan beda yang muncul saat itu, seperti merasa ada momen baik yang datang, sekaligus tiba2 teringat seseorang yang cocok dideskripsikan dengan visual gerhana bulan cincin ini. Haha.. melow deehh… Biar lah ga papa… Ga selamanya yang indah itu harus di miliki, terkadang memang sesuatu yang sangat indah itu hanya sekedar untuk dinikmati keindahannya.

Dan gue dijemput juga. Dengan motor kita menuju rumah dosen yang dituju. Agak jauh kalo dalam perkiraan gue. Ohya, gue sampai harus nyari pinjeman helm dulu ke tetangga kost temen gue.. hehehe.. bener2 gue adalah orang yang merepotkan orang lain..huks..

Sesampai di rumah dosen tersebut, si Bapak Dosen ternyata sedang bareng 3 mahasiswa pertambangannya. Awalnya gue pikir mereka adalah mahasiswa yang sedang bimbingan TA. Rupanya bukan. Mereka sedang mendiskusikan kerjaan mereka dengan si Bapak Dosen, proyekan-lah istilah umumnya. Heuhheu…

Ternyata si Bapak Dosen cukup ramah. Dan diluar dugaan, si Mas rupanya kenal dekat dengan beliau.. Ya mungkin karena anaknya temen main dan kerja si Mas. Saat itu gue dapat membayangkan hubungan pertemanan yang bagaimana antara si Mas dan anaknya si bapak. First impression sih,.. tapi ya gue ga pernah menjatuhkan penilaian pada pandangan pertama terhadap seseorang yang gue kenal. Umur beliau cukup tua, malah mungkin seumuran dengan seorang mantan guru besar pertambangan ITB yang gue kenal.

Karena situasi yang sedang tidak nyaman karena mereka sedang bekerja, terpaksa Si Mas dan saya tidak bisa lama2 berbasa-basi. Dengan ijin, “Pak, karena sepertinya bapak sedang sibuk, langsung aja pada tujuan kami kesini ya, Pak” obrolan rencana transfer kita paparkan. Di luar perkiraan, si Bapak seperti sudah tahu gue bakal dateng, dengan sigap dan senyum ramah menjawab apa2 saja langkah yang harus gue tempuh. Lalu beliau mengambil HP dan langsung mengambil keputusan untuk meng-sms SekJur, dan meminta-kan izin agar gue bisa bertemu besok pagi. What’s the healing story today for me…!! Alhamdulillaahh…

Y ahh… setelah obrolan basa basi tentang yang sedang beliau kerjakan saat ini, akhirnya kita pamit. Malam di jogja masih ramai, walau kita melewati Ring Road Utara. Udaranya terasa nyaman seperti hati gue saat ini.

Dan tantangan selanjutnya adalah bagaimana esok? Apakah sama lancarnya dengan hari ini?

Time is countdown…

..

Semoga pertolongan bebagai energi positif sang Gerhana masih tersisa esok pagi…

Hari Pertama di Yogya

Ga ada yang penting. Malah rencana mengurus / menghadap ke KaJur calon kampus yang baru  jadi tertunda, berhubung si Bapak keluar kota. Ah.. makin kritis aja semuanya. Besok mau coba dengan cara lain. Tapi paling tidak bersyukur, karena sekarang surat2 di bandung beres diurus ama Mas Wira bahkan Plus2 dengan rekomendasi (gilaa… salut buat si Mas..)

Hmmff.. alternatif lain dengan cara normal, mengikuti test Penerimaan Mahasiswa Baru. Dan memproses konversi SKS dari kampus lama ke kampus baru di hari2 berikutnya…

Tetapi semua bisa jadi blunder, karena KRS disini di verified tanggal 3 September!! Dan bisa jadi masalah lanjutan, karena urusan “duit” bisa membengkak diluar perkiraan akibat waktu mepet ini. Hmmfff…. memang waktu yang mepet tidak menyenangkan…

..

….

Atau gue harus menunggu setahun dulu???