
Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 - 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.
Karena keterbatasan saya hanya sebagai blogger kelas rendahan, maka saya tidak membuat klarifikasi atas hal tersebut. Tetapi melihat fenomena yang terjadi saat ini dimana terlihat adanya kekhawatiran pembelokan sejarah oleh Om Roy, terlihat dari berdiam dirinya para media cetak yang kemarin-kemarin berkoar-koar akan “Nobelis Telematika” kita ini, maka saya melacak kembali apa yang terjadi sebenarnya terjadi di antara komunitas Blogger dan media massa. Kenapa? Apakah saya sirik dengan om Roy? Karena tidak bisa sehebat beliau mengumpulkan popularitas? Jelas bukan! Alasan saya simple seperti yang pernah Aan (teman di PSIK ITB) sampaikan kepada saya 2 hari lalu, “Bagaimana jika terjadi pembelokan sejarah? Karena si om Roy ini yang memang sangat menguasai media pers konvensional (cetak, TV, dan Radio)!”
Dan beruntung, Mas Rio Saeba, salah seorang senior Blogger Indonesia melengkapi epilog 3 stanza Indonesia Raya tersebut dengan rapi, mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya. Saya ambil beberapa quote dari tulisan beliau : (lengkapnya silahkan lihat langsung ke situs yang bersangkutan)
VANDALISME DI ENTRI INDONESIA RAYA
sejak saya menyarankan untuk melihat entri indonesia raya di wikipedia indonesia, saya sudah mengkhawatirkan akan terjadi vandalisme terhadap entri tersebut, membuat seolah-olah pihak yang tadinya salah menjadi benar. dan ternyata kekhawatiran saya menjadi kenyataan, ada yang menghapus dua stanza terakhir dari lagu indonesia raya. tindakan vandalisme dengan mengacak-acak lagu kebangsaan ini benar-benar sangat tidak patriotis, dan sangat berlawanan dengan pernyataan “ingin ikut memperkaya sejarah indonesia.†ingin memperkaya atau ingin memelintir? saya pribadi menganggap yang melakukan hal ini bisa dkategorikan sebagai pengkhianat negara.
Apakah ini yang kita harapkan? Merusak sejarah? Jelas bukan! Sejarah memang perspektif yang turunan pembuktiannya sangat kompleks dalam berbagai sudut pandang pelaku-nya. Tetapi sebagai bangsa yang mengaku menghargai sejarah dan pembuktiannya, sepatutnya kita selalu berkaca dan mengkilas balik atas segala sesuatu yang terjadi dan berlaku saat ini. Dan tindakan Roy Suryo yang terburu-buru men-klaim dalam konferensi pers sebagai penemu Indonesia Raya 3 Stanza (atau lebih tepatnya hamba akan popularitas), membuatnya lupa me-crosscheck dengan aturan main pembuktian sejarah. Dan inilah prilaku tidak menghargai perspektif pembuktian sejarah yang baku. Atau ungkapan lebih kerasnya, tidak mengerti sejarah.
APA YANG SEBENARNYA TERJADI?
di sini saya akan berusaha menuliskan apa sebenarnya yang terjadi berdasarkan pengamatan saya. semua ini tampaknya diawali dari tindakan roy suryo menyalin hasil pengumpulan salinan-salinan digital yang berhubungan dengan sejarah indonesia dari arsip tim airputih melalui sobat kentalnya, heru nugroho, yang sampai kemarin masih disangka oleh roy suryo sebagai ketua tim airputih.dari salinan yang didapat, dia menemukan rekaman film propaganda jepang yang isinya antara lain dinyanyikannya lagu indonesia raya versi 3 stanza dan dengan tempo con bravura, berani/bersemangat, berbeda dengan lagu kebangsaan yang sesuai dengan PP no 44/1958 dengan tempo maestoso con bravura.
berdasarkan wawancara dengan ndoro kakung, ternyata roy suryo memang tidak tahu kalau sebenarnya lagu indonesia raya itu benar-benar terdiri dari 3 stanza:
Dia mengaku baru waktu itu tahu bahwa versi asli Indonesia Raya terdiri dari 3 stanza, dan bukan cuma satu seperti yang selama ini dinyanyikan dalam pelbagai kesempatan resmi.
karena memang roy suryo tidak tahu mengenai hal ini, beliau menganggap ini merupakan sebuah penemuan besar (tentunya bagi beliau sendiri), dan lalu bersepakat dengan pihak airputih bahwa mereka akan mengumumkan hal ini di hari senin tanggal 6 agustus 2007.
tapi rupanya roy suryo melanggar kesepakatan tersebut, dan mendahului membuat sendiri ad hoc konferensi pers di jogja, mengumumkan penemuannya tersebut. dalam konferensi pers tersebut beliau tampaknya “menuntun†para wartawan sehingga terjadi kesimpulan bahwa beliau menemukan pita seluloid asli dari rekaman tersebut di leiden (entah museum, perpustakaan atau universitas) belanda. tampaknya kata “pita seluloid†ini berasal dari hasil pengamatan rekaman video tersebut yang memang terlihat vintage, ditambah adanya tulisan menuju kemerdekaan di bulan 9 tahun 2064 (tahun jepang, yang berarti tahun julian 1944), namun saya masih belum berhasil menemukan dari mana kata “leiden†berasal.
setelah konferensi pers di atas, dimulailah segala kontroversi. hal pertama yang dipertanyakan adalah mengapa roy suryo baru tahu kalau ternyata lagu indonesia raya itu memang terdiri dari tiga stanza. hal kedua yang menguatkan kesan bahwa versi 3 stanza ini merupakan “penemuan baru†adalah pada saat upacara atau acara kenegaraan, lagu kebangsaan yang dinyanyikan memang cuma satu stanza. ini bisa dijelaskan bahwa memang menyanyikan cuma satu stanza sudah sesuai dengan PP no 44/1958 bab I pasal 2 ayat 2, dan di dalam peraturan pemerintah itu pun versi 3 stanza juga dikenali. masalahnya adalah PP no 44/1958 ini memang jarang diketahui oleh orang banyak.
hal ketiga yang makin menimbulkan pertanyaan adalah orang-orang pemerintahan sendiri (dan juga beberapa wakil rakyat) ternyata sama awamnya, tidak tahu bahwa memang seharusnya lagu indonesia raya itu terdiri dari tiga stanza. ini makin memperburuk keadaan karena masyarakat awam tidak tahu mana yang bisa dipercaya, pihak yang tidak tahu soal 3 stanza (dan diperkuat oleh beberapa orang pemerintahan dan wakil rakyat) atau pihak yang tahu tentang 3 stanza.
ketika orang-orang yang mengetahui bahwa lagu indonesia raya memang terdiri dari 3 stanza mulai menyuarakan pendapatnya, roy suryo berusaha meredam hal ini dengan menyatakan bahwa mereka adalah pahlawan kesiangan. lalu kemudian ketika tokoh pengamat sejarah des alwi angkat bicara, lagi-lagi roy suryo berusaha meredamnya dengan menyatakan bahwa des alwi menyembunyikan dokumen negara dan punya kepentingan ekonomi. dan akhirnya ketika pihak airputih angkat bicara, roy suryo menganggap yang angkat bicara dari airputih adalah tingkatnya sederajat tukang kebun, dan tidak layak dikutip.
kontroversi ini ditutup dengan dua pernyataan dari pihak airputih, bahwa ternyata pengumuman soal penemuan itu seharusnya dilakukan secara bersama antara roy suryo dan airputih, dan catatan tentang kepingan sejarah indonesia dalam bentuk digital, yang sayangnya oleh pihak tertentu hanya dipergunakan sebagai alat untuk mencari popularitas.
Bukan hanya perspektif pembuktian sejarah yang dilanggar oleh Om Roy, tetapi juga dalam hal menelusur perundang-undangan Indonesia. Apakah pantas orang seperti ini masih diakui sebagai ahlinya Telematika Indonesia? Atau lebih kerennya penasihat Presiden untuk urusan Telematika? Seharusnya beliau sadar, dengan posisi-nya yang demikian penting dalam kacamata publik (asumsi saya karena beliau rutin koar-koar di Metro TV dan berbagai media cetak/elektronik lainnya), 91% rakyat Indonesia berarti telah tertipu, karena sampai saat ini pengguna Internet di Indonesia yang masih 9% dari seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Memang susah jika kita berkoar-koar dalam media blog, atau kasarnya mau mengalahkan paradigma Jurnalisme Konvensional. Media sudah menjadi sebuah sistem kapitalisme tersendiri, baik dari segi konten, kebutuhan politik hingga atribut penguasa. Mengekang kebebasan berbicara akan kebenaran dan mengakomodir informasi yang “menyamankan” aliran dana dalam kantong-kantong borjuis dan penguasa adalah indikasi kapitalisme yang tidak sehat. Tidak ada bedanya dengan menyorongkan sebuah konsep satu suara untuk menyuarakan satu kepentingan. Dan bahkan ini pun berlaku dalam kampus yang notabene lulusannya banyak mengkritik Roy Suryo.
Ya, aneh bukan?.. Saya menyorot hal ini dan melihat keterkaitannya ketika mendengar konsep membangun Campus Channel. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam Media Pers Kampus, usulan ini memang bukan hal baru. Sudah beberapa kali didengung-dengungkan sejak 2-3 tahun lalu. Saya membaca 2-3 proposal yang sama untuk ide ini. Namum untuk konsep Campus Channel ini saya memang melewatkannya karena berbagai kesibukan. Dan setelah melacak dari teman-teman di kampus, ide dan visi misi nya ternyata tidak jauh berbeda. Saya akui bahwa visi dan misi yang dibangun adalah bagus. Tetapi penerapannya dalam sebuah komunitas media pers mahasiswa yang bebas menyuarakan kebenaran tidak dipersiapkan dengan baik, atau malah belum dipertimbangkan.
Jika hanya mengejar sebuah penerapan teknologi New Broadcaster yang terintegrasi, maka ini bukan lagi sebuah teknologi baru. Sudah banyak dikembangkan teknologi News Broadcaster oleh berbagai media online di dunia maya. Dengan memanfaatkan teknologi feed, streaming dan podcaster yang berkembang pesat saat ini, membangun sebuah integrasi media dalam satu kesatuan bukanlah hal yang baru. Dan Campus Channel mengusahakan juga hal tersebut. Namun perlu disadari ITB sendiri bukan sekedar menerapkan teknologi dari sisi “pertunjukan”. Dalam uji coba pertamanya beberapa waktu lalu, integrasi tersebut berlangsung sejak peliputan dengan manajemen lapangan yang solid dan peralatan yang high tech, hingga hasil akhirnya juga terintegrasi dengan baik dan dapat dinikmati pemirsa kampus. Sesungguhnya saya memberi salut dengan teknologi ini.
Sayangnya, dari sang koordinator penanggung jawab Uji Coba Campus Channel ini, menjelaskan kemungkinan komersialisasi terhadap Campus Channel tersebut. Apa yang dimaksud komersialisasi disini? Di dalam lingkungan kampus sendiri? Kekhawatiran saya langsung muncul akan bibit kapitalisme baru setelah cengkraman Kapitalisme Pendidikan berjalan di ITB sejak aturan BHMN 4 tahun lalu.
Pernyataan tersebut membuat saya khawatir. Siapa yang punya investasi, maka informasi nya lah yang berhak tampil dan diterima massa. Lalu kemanakah kebebasan Media-media Pers Kampus? Kebenaran pun akan menjadi absurd nantinya.
Padahal ide, visi dan misi Campus Channel ini sendiri adalah dengan mengundang berbagai pihak media dalam Kampus ITB yang berkontribusi bersama membangun jaringan tersebut menjadi solid dan kontinyu. Mereka mau berkontribusi karena demi kemajuan Media-Media Pers Kampus ITB, mengembangkan kreatifitas dan yang terpenting belajar menyuarakan kebenaran. Bukan hanya sebagai (maaf) kacung yang mensuplai berita terhadap kemegahan Campus Channel, tetapi dapat disensor sewaktu-waktu layaknya Tuhan men-cap halal dan haram. Kembali pertanyaan yang sama, jadi siapakah yang memanfaatkan kondisi ini? Apakah ini sekedar ajang Self Appraising sang koordinator yang notabene Kepala Kapntor Berita? Atau sebuah menara gading baru dari ITB untuk unjuk gigi?
Jika saya dikatakan membunuh karakter sang Koordinator Kantor Berita dalam tulisan ini, mungkin Ikram punya bukti yang lebih “nyaman” terhadap ini. Karena Personal Attitude sang Koordinator juga-lah yang membuat saya menarik kesimpulan ini. Apakah me-wawancara diri sendiri adalah bagian dari Self Appraising diri-nya?
Bagi Armein Campus Channel adalah “panggung” baru dalam komunitas ITB. “Kita mau membangun suatu “panggung” di mana orang –siapapun itu– bisa tampil dan mengekspresikan kemampuannya,” katanya, “Dengan panggung ini terbentuk budaya suka berkontribusi yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas komunitas ITB.” Dalam waktu dekat, Campus Channel bersama dengan PPTIK akan memasang instalasi unit TV dan speaker di beberapa titik pusat massa kampus ITB. Siaran percobaan direncanakan dilakukan pada 27 Agustus 2007. Ditanya apakah akan bersifat komersial, Krisna, Kepala Kantor Berita ITB menjawab, “Bisa jadi. Tapi yang jelas, itu kami pikirkan nanti. Sekarang kami semua sedang fokus pada sosialisasi ke organisasi–organisasi yang ada di ITB serta penyediaan konten yang kontinu.”
Self Appraising, Roy Suryo atau Pendukung Kapitalisme Media? Sepertinya saya harus mencoba untuk menulis ulang definisi Kapitalisme Global dan memasukkan unsur Self Appraising di dalamnya, kemudian me-numpahkannya kembali dalam Basbang sebagai Self-Kapitalisme.
ah ngomongin Roy Suryo.. bosen gua.
ttg Campus Channel.. what? komersialisasi? arrgghh.. gua bingung, apa sih yang ada di otak mereka?
Comment by rime
—
Internet Explorer 6.0 on
Windows 2000
August 14, 2007 @ 4:56 pm
Using
Bukti bukan dari saya, tapi dari itb.ac.id sendiri kok… Hehe.
Seperti yang lo bilang Jal, divergensi media itu perlu.
Comment by ikram
—
Mozilla Firefox 2.0.0.6 on
Windows XP
August 15, 2007 @ 7:34 am
Using
Rime : Tapi jangan bosen2 maen ke blog gue yaaahh hehehe..
Ikram : sorry kalo gue paste dari blog lu.. soalnya dikau jua yang berani komen tentang ini.. gue aja cupu, untuk bicara langsung…
Gue sih sesungguhnya sepakat dengan keberadaan campus channel selama aplikasinya sesuai dalam kerangka kebebasan pers di dalam kampus sendiri Kram…
Comment by leksa
—
Mozilla Firefox 2.0.0.4 on
Windows XP
August 17, 2007 @ 5:36 am
Using