Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com

Illustration about Blog“Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog”.

Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel “I’m a Bloggerrr..” atau “Long life Citizen Journalism…”.

 

Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online – yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra abal-abal/puisi sampah – sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung – 2002-2003 . (Apakabar Teh Sireum Hideung ? :) ).

 

Kemudian sempat juga membuat blog di Blogspot. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini – nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa account di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).

 

Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di Blog-Indonesia.

 

Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang senior bloggerdalam beberapa “kamus” blogger. Tetapi saya pernah mengikuti rame-rame pembahasan mengenai blog dan citizen journalism – saya mengikuti kisah-kisah dari “jangan sembarang kopi paste”, penahanan polisi terhadap seorang blogger hingga cekcok antara blogger dan Roy Suryo. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger “Karena Kami Blogger“. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau “mari-mari dukung teman kita sesama blogger“.

 

Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari patronase dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi ngikut trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas – lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-abal-abal malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.

 

Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa – dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan riil juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? So, tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan human being. Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.

 

Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal – pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas citizen journalism. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan event yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, “Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini”.

 

Memang bebas kok, ngga ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.

 

 

PestabloggerOke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini – terdorong oleh mas ikram yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang PESTABLOGGER“. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog ya yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..Negation in your Bloody Header, bro.. ). Ikram secara pendek mengungkapkan “cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com – karena bukannya blog itu new media? – yg berlawanan sm old media?”

 

Yeah,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. Seorang senior blogger dahulu pernah mem-boosting tentang ini. Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai “junior blogger” yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe…

 

Yap, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika Old dan New media tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 Old Media?

 

Dalam opini saya sendiri (kembali – apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus Kompas dan Basuki Suhardiman (salam dari Yogya, Pak Bas.. :) ) yang awalnya diboost oleh Priyadi dalam post Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media – “butuh uang untuk tinta”, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.

 

Bagi saya sendiri, kasus yang di-blow-up tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul blow-up tersebut.

 

Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog “hanya” terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya – dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.

 

Kalau pembagian media “Old vs New Media yang tidak saling butuh” masih berlaku, ntar blunder deh kayak sekarang, malah kerjasama sekarang kan? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.

 

Akhir kalimat dari saya sebagai seorang “Blogger Junior”, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. (Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah…hehehe)

13 Comments

  1. hmmm, gimana yah mas… bagi mitra sendiri mungkin perbedaan blog kita bisa memilki komunitas pembaca. Bukan hanya antar penulis, tp juga antar pembaca.

    Kenapa blog?? kenapa bukan old media, heheh… simple, pertama blog tuh Gratis (meski ada juga yg pake bayar, kyk mas gini…) trus juga di blog pribadi bahkan kita ga perlu mikir EYD, tata bahasa dan kaidah-kaidah lainnya. Trus, please deh mas… blog menampung lebih banyak penulis ketimbang media2 yang ada.

    Toh banyak juga penulis2 blogger yang dibukukan akhirnya…
    mungkin bagi banyak orang itu spt euforia, tp menurut mitra… ini baru langkah awal bagi kita untuk berkarya…

    Lg pula, di blog, bagaimanapun ndeso n katroknya tulisan kita, pasti ada pembacanya, hehe asalkan kita rajin blogwalking dll… sama seperti manusia, asal mau lebih Gaul aja…

    Intinya Blog, baru langkah awal bro… menurut mitra, bahkan gimana kalo ada majalah ttg blogger di indonesia… supaya bisa nyampe juga ke pembaca2 yang ga suka/ga punya waktu buka internet…

    Reply

  2. makasi komen nya Mitra.. u have a nice blog, i like it..heheh

    penegasan saya ada pada dikhotomi old dan new media tersebut..

    bahkan saya sendiri juga sama kok, blog ini isi nya campur aduk, dari opini sarkasm sampai kisah cinta :)

    Reply

  3. Saya belajar banyak dari tulisan yang ini :)

    Reply

  4. setuju sama bung annots, saya serasa diospek ulang sama mas leksa.. makasih mas pencerahannya.

    Reply

  5. ah 2 mas Anto ini bisa aja,..:)

    saya bukan tukang ospek ko Mas,..
    cuma jadi senior “sotoy” kadang2 …halah2..

    Reply

  6. seperti yang dikatakan Wimar Witoelar, Blog Indonesia lebih berisi tentang AKSI , REAKTIF dan WACANA berbeda dengan gaya blog Malaysia dan Singapore yang bersifat FAKTA dan INFORMASI. Ini mungkin jangan dianggap suatu pertentangan media, saya tidak pernah mengganggap suatu old media sebagai lawan. Justru kita adalah bagian alternative media juga. Bagaimanapun jumlah melek internet yang hanya 9 % dari popoulasi penduduk ( yang punya blog malah hanya 100 ribuan orang ) masih memerlukan media old sebagai salah satu sumber informasi dan gagasan

    Reply

  7. […] tentang Pesta Blogger 2007 di Jakarta, no comment deh. Cukup obrolan saya di posting sebelumnya menjawab apa dan bagaimana pendapat saya tentang acara itu. Walaupun setelah mendengar report dari […]

    Reply

  8. Terimakasih sudah mampir Mas Iman..
    Justru karena “kebingungan” pernyataan dikhotomi oleh senior blogger itulah, maka saya menumpahkannya dalam tulisan ini.

    Reply

  9. hmmmm…mencerahkan
    *menyimak sambil nyruput kopi & ngemil opor ayam*

    Reply

  10. apa kabar juga dirimu?
    lama kita tak bersua ya….

    Reply

  11. […] pun mengalir di dalam seliweran bandwith. Dan saya sekali lagi seperti postingan saya sebelumnya (hahahaha….lagi!) tetap berpendapat sama, bahwa apapun hadirnya saya dalam media Internet, […]

    Reply

  12. […] heroik dibandingkan dengan semangat sekolah anak-anak kota lainnya. Event ini cukup menjadi ‘pemanis‘ kegiatan akbar Pesta Bloger yang banyak dikritik pada awalnya sebagai acara pepesan kosong. […]

    Reply

  13. Bukannya me tapi cara perayaanya itu, bagaimana?

    Reply

Leave a Reply