Badan sedang ga enak beberapa hari. Refreshing tidak selalu membawa kesegaran. Sampai sekarang masih terkapar limbung dan badan tertusuk-tusuk rasa pegal. Mana ini akhir bulan. Entah harus berapa butir lagi masuk ke perut ini Panadol.
Monthly Archives: November 2007
Romantika Kota-Kota
Adakah di antara rekan-rekan yang merindukan sebuah kota tertentu? Saya yakin sekali pasti ada. Apalagi bagi seseorang yang doyan jalan-jalan atau memang kerjaannya membutuhkan jalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya.
Dulu, ketika saya masih tinggal di Banda Aceh, saya sangat merindukan romantika kota Lhokseumawe, tepatnya di kampung halaman kakek saya di “Desa Kandang”. Di sana ketika masih kecil, saya sempat beberapa kali mengikuti acara keluarga. Kami, para anak-anak, menikmati kenakalan dengan naik bukit, jalan-jalan ke hutan, mandi di sungai, memasang perangkap burung puyuh dan bakar-bakar ikan serta burung puyuh. Ada juga pengalaman lainnya tidak terlupakan ketika dikejar anak babi hutan. Sebuah kejadian yang sampai sekarang tidak pernah kami ceritakan kepada orang tua-orang tua kami.
Kota-kota lain di Sumatra juga menjadi kunjungan resmi dan tidak resmi saya di masa-masa itu. Dari Padang hingga Tebing, Sumatra Utara. Semua kota tersebut memliki nuansa yang masih terngiang-ngiang di kepala, seperti tidak rela jika terlupakan sedikit saja momen-momen indah ketika berada disana.
Lalu ketika SMU di Magelang, saya merindukan kota Banda Aceh dengan segala kenangannya di masa-masa SMP. Padahal dari awal menginjak Pulau Jawa, saya sudah berniat untuk menjelajah Jawa lebih jauh lagi. Dan jadinya Pekalongan, Semarang, Yogya, Pati, Bandung menjadi persinggahan di saat-saat liburan sekolah.
Ketika kuliah di Bandung, walaupun kota ini awalnya dirindukan ketika liburan masa SMU, kesan tersebut menjadi hilang ketika kota ini mejadi tempat saya berteduh selama bertahun-tahun. Dan seperti biasa saya tidak menyia-nyiakan untuk mengarungi kota-kota Jawa Barat lainnya selama saya hidup di Bandung. Terkadang juga sesempatnya kembali ke kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sumatra. Kesan yang muncul dalam setiap perjalanan memang luar biasa. Mengunjungi Yogyakarta dengan rasa romantis, atau kembali ke Sumatra dengan kangen yang bergelut di hati.
Setiap kota punya cerita pendek tersendiri buat saya. Ada kisah-kisahnya yang khusus dengan teman yang berbeda-beda. Bukan hanya urusan dengan wanita yang lantas berkenalan atau sejenisnya, walau itu juga kadang menghias memori, tetapi lebih pada menikmati udara, suasana, asesoris dan tata laku masyarakat nya. Sepertinya itu lebih ter”cap” di kepala saya.
Mungkin sudah jadi kodrat manusia untuk mencari kesan di dalam memori. Bagi saya sendiri menikmati perjalanan antar kota tersebut juga memiliki nuansa tersendiri. Entah itu dengan berganti-ganti bus, kereta malam, kapal laut ataupun pesawat. Momen-momen menunggu di stasiun, pelabuhan, bandara dan bahkan terminal sekalipun, apalagi di kala malam hari hingga subuh tiba adalah puncak kenikmatan tersendiri. Geliat hidup yang berbeda dari normalnya perjalanan waktu di dalam kota-kota besar dan desa-desa.
Namun uniknya sebuah kota yang menjadi tujuan romantis berlibur tersebut, justru menjadi biasa dan mengalir saja ketika saya sudah berteduh di dalamnya. Saya kangen dengan segala nuansa adem Yogya dan Magelang ketika saya berada di Bandung dulu. Tetapi saat ini ketika telah berada di Yogya, kota ini menjadi ruh tersendiri buat saya, dan saya malah merindukan nuansa Bandung yang dulu membuat saya sumpek.
Romantika antar kota, memang menjadi luar biasa buat saya. Tetapi saya malah berpikir kemudian, tidak satu kota pun akhirnya yang menjadi lebih berkesan. Terlalu subjektif, dipengaruhi waktu dan momen, bercampur gelisah di hati. Rasa yang sangat manusiawi memang. Sebuah paradoks saja dimana ketika saya kangen akan kesan sebuah kota, maka kesan itu menjadi hilang ketika saya menetap disana. Dan akhirnya malah menjadi pertanyaan buat saya, lalu apakah pantas kita meributkan kota mana yang lebih berkesan antara satu dengan yang lainnya?
Mumet, Ruwet dan Kangen
Overload lagi. Yaa, resiko jadi pekerja lepas ya begini, pas lagi kosong ceting dan blogwalking seharian. Pas lagi rame kerjaan langsung modyaar. Yang jadi bos pun begitu, pas butuh saja pada ngomong dengan bahasa baik-baik dan menyenangkan. Begitu udah waktunya duit harus turun mulai ada “eng..eng..”, atau keluar kata “sebenarnya..” (piss lah yaa buat bos-bos saya yang baca ini).
Ini bukan keluhan. Sekedar gambaran bahwa begitulah posisi orang-orang yang menjadi pekerja sebagai lepasan. Bermimpi punya bendera sendiri? Nabung dulu lah, sama bangun banyak link terus, itu kalimat yang berulang-ulang di seminar-seminar Entepreneurship. Tidak harus ke bank mengirim proposal kredit yang sebenarnya tingkat keyakinan “bisa ngembaliin apa ngga” saja masih dikhawatirkan. Nantilah itu, ada waktunya. Wong sekarang buat minta kredit saja susahnya minta ampyuunn dengan syarat-syarat beragam. “Saya ini belum ada NPWP wahai mbak-mbak Bank yang cantik”. Eh, lalu malah ditawari jalan belakang dengan bentuk jaminan credit dari saldo Bank saya atau memakai NPWP ibu atau keluarga lainnya? “Walah-walah, kalo pas sepi job, ga ada uang masuk, tapi situ motong-motong, terus saya makan apa ? lagian bisa diamuk massa satu keluarga saya nanti” . Jadinya, ya saya memilih sabar saja sampai waktunya tiba. “Karena saya sadar aturan dan syarat-syarat itu juga demi kebaikan kita bersama lho, Mbak..”, sambil kedip-kedip ke si Mbak yang manis.
Terus kemarin saya sempat bergundah gulana, sepi kerjaan, ditambah ada UTS di kuliahan. Dan nambah ruwet karena bentrok antara otak dan hati saya. Maaf buat postingan puisi Solitude kemarin, ngga saya jawab komentar-komentar yang bermunculan. Kan ceritanya sedang mau bergundah gulana, berlagak introvert, dan menjadi solitude wanna be (penyepi dan penyendiri). Lagian kalau kata Mbak Venus dalam komentar kemarin, “Blog aing kumaha Aing” Hahaha.. (dikutip dari blog http://joerig.wordpress.com/).
Membuat sebuah postingan bermutu itu bukan sebuah pilihan bagi saya. Dalam kondisi tertentu, manusia juga bisa merasakan ritme hidup yang kondisinya seperti putaran roda. Terkadang suatu saat intelegensia menjadi powerfull melebihi komponen lain dalam diri kita. Dan saat itu lahirlah postingan bermutu. Namun di saat lain pula, bisa jadi emosi ini yang bergejolak, dan lahirlah lagak sastrawan yang ingin diterima.
Mungkin ke depan nya saya coba untuk partisi postingan dalam bentuk blok-blok tertentu, ada serius wanna be, ada iseng wanna be, ada pula curhat wanna be. Sebenarnya dulu sudah saya coba dalam template kapucino yang lalu-lalu. Mempartisi postingan dalam kelompok-kelompok tertentu. Posisinya juga tertentu. Ya, seperti magazine style gitu, mumpung bisa oprek-oprek WP sesuka perut gini.
Tetapi terus saya malah mikir, “ngeblog aja gaya amat, kayak mau jadiin situs CNN aja..”, makanya lalu saya kembalikan ke bentuk beginian, like other blog style-laahh. Lalu sekarang malah ingin kembali ke bentuk majalah lagi. “Dasar ga konsisten kamu, Jal. Wajar pindah-pindah kuliah!”. Lha.. kan prinsipnya ini punya saya dan suka-suka saya. Saya memang banyak maunya dan suka eksperimen macem-macem, jadi ya wajarlah. Tetapi perlu dipahami intinya, bahwa mendesain dan memilih denah rumah yang bagus adalah sebuah bentuk inspirasi sekaligus bentuk penghargaan terhadap tamu yang berkunjung. Tolong dipahami ini dalam kacamata berbeda, karena berbeda itu indah saudara-saudara.
Lho,.. postingan apa toh ini? Ya pokoknya ya itu saja, saya lagi pengen nulis. Lagian kasian feed reader dan google tidak menerima postingan saya beberapa hari, bisa ngambek dan pundung mereka. Walau bahannya campur aduk, semoga postingan ini tetap menginspirasi teman-teman semua. Karena mungkin beberapa hari saya akan di Bandung, dan pasti lupa ngeblog, ada yang lain musti diurus, plus ada yang lain musti dikangenin. Halah..halah…
NB : Cari Lapen yang bisa tahan buat oleh-oleh dimana toh? heuhuee… *Ngelirik Zam..
Solitude
![]()
Dunia “rasa” meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa.
Dentuman “gundah” di hati Sang Maha Raja berubah “gulana” murka seketika
karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara
Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila
Dalam Zarasutra ia romantis bercerita..
dimanakah “rasa” yang bertarung dengan logika?
kemanakah intelektual menggiring cinta?
Hei manusia logika yang sombong oleh intelek..!!
Tidak cukup sekedar “OK”, okey?
Mari Coblos
Sudah 2 hari ini riuh ramai tentang Pemilu Ketua Ikatan Alumni Kampus GT™. Ramai sampai masuk Detik segala. Konsolidasi menggila dari para tim sukses kandidiat digelar di kawasan Jakarta-Bandung. Paling tidak itu kabar yang saya terima dari teman-teman di Bandung. Belum lagi iseng-iseng candaan YM, forum, milist, dan blog seputar “Jadi loe megang sapa nih?”. Megang apa toh? Kepala mereka?
Hari ini malah 3 sms masuk dari 3 tim sukses berbeda dalam HP saya berisi “asupan semangat” untuk memilih calon-calon ketua tersebut. Ada yang memakai SMS massal, ada pula yang dengan ramahnya menggunakan nama panggilan saya, “Rekan Ijal, untuk IA-ITB yang lebih baik mari bla..bla..bla..”
Sebenarnya saya sendiri tidak layak angkat bicara masalah IA2an ini. Saya kuliah disana juga tidak selesai. Walaupun kabarnya menurut AD/ART-nya status saya dianggap alumni. Saya belum baca AD/ART yang menerangkan bagian itu. Tetapi dari proses pemilu saat ini, memang mendukung untuk alumni tanpa ijazah mendapatkan hak suara. 3 cara pendaftaran pemilih yaitu,
- Memilki kartu anggota (keren lah, Credit Card Mandiri-Visa),
- Mendaftar lewat formulir calon pemilih dengan menyertakan Ijazah Kelulusan (saya adanya surat pengunduran diri..),
- Mendaftar lewat formulir calon pemilih dengan rekomendasi 2 alumni anggota IA sebagai penjamin (nah, yang ini peluang saya mendapat hak suara, begitu kabarnya..)
Karena adanya cara ke-3 ini, maka 5 petarung tersebut bersama tim suksesnya berlomba-lomba untuk mengejar alumni-alumni yang males mendaftar sebagai anggota, atau alumni yang males buka-buka tumpukan ijazah, atau alumni yang ijazahnya dijadiin jaminan utang. Oh ya termasuk juga model alumni seperti saya yang tidak ada ijazah, mungkin.
Hatta Rajasa sang Menteri contohnya, tim sukses nya menyediakan layanan daftar via email. Tinggal scan KTP, kirim via email. Terus nanti akan direview oleh tim sukses mereka, dan mereka akan daftarkan dengan 2 penjamin/rekomendasi dari mereka. Praktis dan benar-benar memanfaatkan IT dengan baik.
Ada juga si calon muda Zaid (angkatan ’96.. hebat semangatnya), teman saya yang juga alumni muda tak terdaftar, ditawarkan oleh tim suksesnya untuk menyerahkan fotokopi KTP. Dan nanti diurus proses pendaftaran sebagai pemilih. Cara keren menggaet kaum alumni muda.
Dan saya rasa sama saja dengan calon-calon lainnya. Disana ada Hengky a.k.a Triharyo Indrawan (Kepala BUMN REKIN), ada Ibu Betty Alisjahbana (CEO IBM Indonesia). Ada Boyke Minarno (setahu saya bapak ini Founder RPE Group Jakarta).
Tidak tahu apakah nantinya ketua terpilih akan membuat si GT™ kembali akan menjadi “Gajah Duduk”. Atau bisa menjadi “Gajah Terbang” sekalian. Tentunya semua orang punya harapan lebih baik di masa depan. Karena sudah jadi rahasia umum, si Ketua sebelumnya cuma bikin makan hati, IA -ITB hanya sebagai ajang lompatan ke kursi lebih tinggi di pemerintahan Indonesia Raya. Ujung-ujungnya malah tersangkut kasus korupsi tanker Pertamina.
“Mungkin ente Laks, bisa berkelit dengan ilmu hukum dan otak pintar ente. Tetapi rahasia umum tetap menjadi rahasia umum, Laks. Orang-orang yang terlibat dengan ente selama ini bisa menilai ente, dan jika Tuhan ada, maka dia juga Maha Tahu sekecil apapun kolusi korupsi yang ente buat…” (serasa ustadz gini gw..hahaha).
Alumni dari kampus yang dikata arogan. Ya, ini saya buat post ini, bukti kalau saya masih tersisa bibit arogan nya.. hahaha.. Kalau ngga percaya cek aja logo situs alumninya. Terbayang gambaran apa di benak anda?

Yah.. Inilah Lambang Situs IA Kampus GT™. Mungkin Menteri KDRI perlu mereview ulang logo yang lebih baik.
Lalu bicara harapan untuk calon-calon ketua IA yang akan datang. Sebenarnya apa dan bagaimana baiknya? Saya yakin semua calon memiliki ide-ide yang cemerlang. Ngga mungkin maen-maen, wong mereka ini lulusan Kampus GT™. Dan malah sekarang punya posisi-posisi penting dan kredibel di Indonesia Raya. Tetapi bukan itu hal yang terpenting. Bukan sekedar status mereka itu yang membuat mereka layak tentunya. Ada sebuah tanggung jawab sosial dalam membangun sebuah akselerasi alumni Kampus GT™ yang konon hebat-hebat itu untuk membangun bangsa ini. Karena miris jika mengingat kalau negara ini sudah cukup banyak dibodohi oleh orang-orang pinter. So, bagaimana calon-calon terhormat tersebut menyikapi ini?
“Bang Hatta mungkin? Kalau situ cukup konsisten dengan ide situ tentang Inovasi Radikal, saya yakin ITB bisa kasih gratis sekolah buat anak-anak pinter se-Indonesia suatu saat. Keren itu, bagi saya itu juga sebuah ide briliant. Tapi menurut saya, buat situ sih cukup dengan ngga maen catut IA untuk posisi 2009 saja sudah sebuah pencapaian besar.”
“Bang Zaid, ahh.. kau semangat kali pun Bang. Cem anak baru selesai Ospek aja ku liat. Tapi awak ni sepakat lah sama kau Bang. Memang kita-kita yang muda ni cuman jadi telor aja dari yang tua-tua selama ni, bang. Pokoknya semangat aja lah Bang yak..”
“Jeng Betty, aduhh jeengg.. Jeng Betty sangat keibuan sekali. Kok sampai malah bikin statement akan meninggalkan jabatan CEO IBM kalo terpilih ntar. Walah..walah.., jadi pengen saya punya mertua kayak situ. Eh, tapi jabatan CEO nya emang mau ganti yah..??
“Bang Hengky, Abang ini kuat juga support dari kaum alumni mudanya yak. Sampai bikin acara di cafe Bandung segala. Alumni muda gaol-gaol cerita-nya neeh, Bang??”
“Mas Boyke, wah kalo situ saya ndak kenal Mas. Cuman liat web situ ada dukungan dari BR. Sepertinya situ menjanjikan dengan ide entepreneurship-nya. Semoga lah yaah Mas,.. semoga bukan janji-janji lewat kayak si Om Laks dulu..”
Dan hari ini para alumni Kampus GT™ sedang mencoblos di beberapa lokasi Indonesia dan luar Indonesia. Lha, kok saya ndak ikutan? Saya beresin kuliah dulu, Dooeelzz..!! Berisik ah!!
Selamat mencoblos bagi rekan-rekan untuk IA ITB yang lebih baik bagi Tuhan, Bangsa dan Almameter, MERDEKA!
Update : Ya, selamat buat Bang Hatta yang menang dengan suara terbanyak.. Semoga Abang bisa membawa IA ke arah yang lebih baik…(dengan rasa khawatir dan ragu :-s )
Besi Karatan
Kenapa rambut yang hitam legam nan indah menawan harus di cat warna besi karatan?
Siapa Yang Salah?
Dulu, ada seorang temen cewe pernah bilang “Hati terkadang bisa mengkhianati logika”. Dan bener juga, umur manusia juga ga menjamin bisa berpikir lebih dewasa. Tadi pagi, ternyata ungkapan itu benar sekali lagi adanya.
Kenapa wanita dengan mudah bisa bilang begini “Kalo kamu sekarang nanya, would you marry me? aku akan bilang I do..!!“. Jedang..!!
Ga mikir apa kalo si cowo nya masih pengangguran. Tergila-gila oleh buaian asmara?Lalu membunuh logika??
Ntar kalo mesem-mesem pas di rumahtangga karena suami ga bisa bikin dapur ngebul, baru deh menyek-menyek. Yang jadi korban si laki-laki lagi dah (halah serasa pejuang maskulinisme gue,..hahaha..)
*Sekedar posting buat ngingetin tetangga sebelah. WOI sadar WOi. Buruan cari kerja. Dasar bebek. Udah ga tahan artinya itu… huakakaka….
Ramai dan Damai
“..tp skrg lo berubah..!!!”
Jleb..!! Seperti guntur di hening tengah malam, sunyi tapi menggelegar seketika sampai ke sisi paling sensitif diri gue. Sebaris kalimat dari sekian baris di layar monitor, dan cuma ini yang bikin gue terhenyak sekian detik.
Apa benar gue berubah? Yaa, gue emang percaya semua manusia pasti bisa berubah. Dan bahkan proses menjadi dewasa saja terkadang berimplikasi perubahan sikap seseorang yang mengalami proses itu. Tapi jujur, gue termasuk orang yang tidak ingin dibenci karena gue merubah diri, atau terubah. Gue selalu berharap yang berubah adalah proses gue untuk menjadi yang lebih baik. Bukan malah akhirnya menjadikan orang-orang terdekat gue, teman-teman lama gue membenci gue. Gue manusia normal, hadir dengan segala kekurangan dan ego tetapi tetap ingin merasa diterima.
“..lo ngaca!”
“..itu aja jwbn gue”
Semburan baris ini gue coba jawab dengan nada bercanda, “gue ngaca kok, setiap abis mandi..”. Tetapi sepertinya yang dibalik monitor ini terlalu kesal untuk mengerti candaan gue. Memang obrolan seperti ini terlalu sensitif untuk tengah malam. Bukan karena malam yang makin larut ditambah lagu-lagu oldies di PC ini yang melow mengalun. Memang ada suasana dan aura berbeda beberapa hari ini yang menyesakkan dan menganggu pikiran gue. Dan benar adanya, satu orang disana juga merasakannya. Sebuah suasana yang justru bagi gue adalah alam baru yang berbeda dari sebelumnya. Suasana ngeblog yang berbeda.
Dahulu,..sepertinya semua damai adanya. Walaupun gue tahu ga damai-damai amat. Karena gue suka berkeliling di antara satu blog ke blog lain. Sekedar membaca isi-isi pikiran orang yang tertuang di dalam blog. Sekedar mengetahui apa yang menarik dari kehidupan mereka. Tidak hanya berselancar ke blog-blog lokal di barat atau timur Indonesia Raya. Bahkan melanglang buana hingga ke blog-blog luar negara karena tuntutan kerjaan. Sedangkan untuk menikmati socialite blogger itu sendiri, gue punya komunitas dan teman-teman sendiri dalam ngeblog. Tidak jauh-jauh dari teman kampus dan temennya temen kampus. Mereka ada di Globroll gue sampai sekarang.
Beberapa yang gue inget banget maen ke blog ini, dan gue juga rutin maen ke blog nya :
- Beni, manusia konyol dengan segala kebodohan hidup-nya antara kampus dan kost. Sekaligus partner curhat gue urusan wanita-wanita sekitar kita. Blognya udah lama ga update, mungkin karena “pekerjaan sosial”-nya yang terlalu sibuk ditambah pacar baru. Tapi tulisan-tulisannya menyisakan sedikit kenangan bego buat gue. Gue berharap ada kisah-kisah tolol lainnya yang lahir di dunianya yang baru.
- Rime, cewe ini gue kenal di blognya, bukan kenal di kampus. Walau akhirnya dengan malu-malu gue berkenalan di kampus..halah..halah.. Berkeliling jawa? Indonesia? Atau sekedar melihat keganasan mahasiswi-mahasiswi biologi dalam membedah tikus? Blog Rime tempatnya. Walau beberapa saat ini dia terlalu sibuk dengan “bedah-membedah” TA, tapi masih sempat posting sebuah joke tentang anonimitas rektor Kampus GT™.
- Ikram, seorang tukang kritik koran yang sekarang malah bekerja di koran. Junior yang lebih senior dari gue. Sempat merasakan masa-masa sulit yang sama dengan gue, dan jalannya berlabuh di JP – lebih baik dibanding gue.
- Bodhi, mengaku rookie web designer yang terjebak dalam romantika kampus. Yang menurut gue sebenarnya malah lebih dari sekedar “Rookie” untuk design web-nya. Bahkan mungkin juga “Super Rookie” untuk urusan romantika. Quote Romantis terakhirnya buat gue, “Love Actually is all around, bos. Go find one”
- Nieke, gabungan nenek sihir dan cinderella. Hmm.. yah, itu gambaran paling cocok menurut gue. Blog nya berisi dari Infotainment hingga kisah harian yang nyempil dengan kritik, udah terbayang begitu ceting dengan orangnya. Sekarang sedang berkontemplasi dengan skripsi dan ditambah perenungan mendalam mengenai dunia maya.
- Ria, nah ini bocah juga punya kesan. Blognya nya yang Ijo tidak menggambarkan orangnya yang cinta alam. Lebih kepada cinta duit menurut gue. Kenapa? Karena dia lebih suka mencari “ikan” dengan “Pukat Harimau” ketimbang “mancing” di kali yang tenang. Berstatus Mahasiswi baru
pindahdi kampus BHMN. - Puti, kalo ini udah panjang lebar biografi hidupnya gue ceritakan di posting lalu.
- Imoth, satu hal aneh dari sekian hal aneh lainnya yang dimiliki cewe ini. Kalo naruh komentar, ga pernah ada link ke blognya. Dan jangan kaget kalo ngeliat banner blog-nya itu-terutama untuk penggemar pantat. Design blog terbarunya masuk dalam list gue yang tertunda. Ohya, ini cewe adalah partner kerja gue di sebuah tempat yang “mengakunya” kantor berita resmi.
- Dimsum, cowo ndut berkacamata. Berkutat antara kelulusan yang tertunda dan DOTA. Di cap Jagoan oleh banyak wanita dikampusnya. Tetapi menurut gue ini anak cukup sederhana dengan cita2nya, “Gue sih yang penting cewe kacamata..”, haha.. sama kitah, Bro..
- Masih ada yang laen2, di globroll gue dan pengunjung2 setia lainnya yang tidak suka meninggalkan jejak.
Mereka adalah orang-orang yang nempel di kepala gue ketika tulisan ini turun. Dan dengan asumsi yang hampir sama, seseorang di balik monitor itu mulai menjelaskan alasan gue berubah. Dari temen-temen di atas yang telah jarang singgah di blog ini, hingga ada nya temen2 baru yang mulai rajin naruh komentar di blog ini.
Aha.. akhirnya gue mengerti maksudnya apa. Ya, gue akui ada komunitas baru, socialite baru, atau kehidupan sosial baru yang gue jalani saat-saat ini. Tetapi seperti yang gue sampaikan kepada seseorang di balik monitor tersebut, gue ga pernah berharap untuk berubah menjadi yang lebih buruk. Gue mengalami transisi yang luar biasa di masa-masa 4-5 bulan kebelakang. Dari sekedar transisi lokasi, kehidupan sosial, hingga mungkin perenungan-perenungan. Namun sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berharap berubah untuk menjadi manusia yang lebih buruk bukan?
Gue berubah karena postingan-postingan gue yang ikut ngeramein hiruk pikuk Blogosphere? Ya, memang 5-6 post kebelakang berlangsung demikian. Tetapi tidak serutin itu. Tidak pula terus-terusan. Walau memang gue masih berkutat pada masalah yang sama. Dan jika atas dasar asumsi postingan itu gue dianggap berubah, yaaa gue bisa mengerti. Blog gue tidak pernah gue set harus menjadi bersahaja, atau menjadi centil, atau menjadi playboy atau bahkan sok idealis. Blog ini benar-benar menjadi gudang uneg-uneg, kegelisahan, ide-ide dan semua lainnya yang gue pengen tulis dan tulis lagi. Mungkin saja kegelisahan yang gue dapat karena memasuki aura baru blogosphere ala Yogya, membawa gue pada hiruk pikuk yang entah apa. Walau pun dari dulu gue mengerti adanya model blogosphere yang hiruk pikuk seperti ini, tapi memang memilih cenderung diam.
“Tolong ingatkan gw, jika memang terlihat gue mengejar per-kasus dan berusaha popular layaknya ingin menjadi seleb dunia maya. Gw hanya berkomentar pada cerita dan kisah yang gue suka dari teman-teman baru. Walau sekedar nyampah atau bercanda, itu bukti gue suka dengan postingan tersebut”, sebuah penutup dari panjangnya baris-baris YM.
Dan ternyata memang blog semakin rumit bagi semua orang. Kegelisahan gue terjawab dari obrolan dengan teman lama tersebut. Entah mungkin dia merasa gue benar-benar berubah, entah mungkin dia lagi sumpek akan semakin rumitnya menjadi seorang blogger. Entahlah….
Sebuah fenomena indah pasca Pesta Blogger yang gemerlap. Dimana makin banyak orang yang belum kenal blog, bahkan yang sudah lama kenal blog malah terjebak pada sebuah problematika sosial baru.
Ya,.. mungkin untuk kedepannya gue akan keluar dari postingan-postingan bertopik Blogosphere, biar para “ahli-ahli” yang mengurusnya. Gue menulis uneg-uneg yang lain saja. Masih banyak problematika lainnya di Indonesia yang bisa gue angkat untuk dibaca, dan semoga bisa dibenahi karena tulisan-tulisan sumbang gue,.. gue tetap percaya disanalah kekuatan blog sesungguhnya.
Dan lagipula, ada baiknya buat gue untuk diam dari hiruk pikuk ini. Supaya tidak kaget-kaget lagi dengan sebuah BUZZ YM tengah malam dari teman-teman wanita lama lainnya, yang berteriak dengan huruf kapital besar-besar “IJAALLL, LOE UDAH BERUBAH..!!”
Manusia Juga
2 postingan saya sebelumnya ( iyahh.. gw lebih bangga ngelink tulisan gw sendiri ketimbang ngelink tulisan orang… huahaha), saya mengatakan kalau kita-kita yang di online ini, termasuk para blogger yang mungkin termasuk anda, adalah beberapa masyarakat Indonesia yang beruntung mendapat sedikit kelebihan. Kelebihan yang dimaksud adalah menjadi bagian 9% dari penduduk Indonesia yang menikmati fasilitas Internet. Dan saya yakin 9% ini pun adalah orang-orang berpendidikan, terdidik diantara jutaan masyarakat kita yang sama sekali tidak memperoleh pendidikan. Dan biasanya orang berpendidikan itu banyak membaca, mampu berdebat dan memiliki pandangan atau pendapat dari pemikiran-pemikirannya. Bandingkan dengan tetangga-tetangga kita lainnya yang tidak mendapat pendidikan. Belum lagi jika ditanya mengenai internet, sekedar mencari sumber inspirasi opini saja tidak semudah saya yang hanya tinggal klik Google. Ah,.. terkadang saya merasa masih kurang bersyukur kalau menyadari ini.
Kakak saya nun jauh di kampung sana, tidak mengerti bagaimana membuat email, dan baru saja ribut-ribut kepanikan karena buat ngedaftar CPNS belakangan ini kebanyakan informasinya terpusat di Ibu Kota Negara dan pengumumannya kebanyakan di internet. Adik saya yang baru saja masuk sekolah komputer, kemarin menanyakan kepada saya bagaimana caranya konek internet dari telepon rumah. Dan jangan tanyakan bagaimana Ibu saya, sekedar sms saja masih meminta bantuan adik saya. Hehehe,.. sekali lagi serasa saya jadi orang paling beruntung jika mengingat itu.
Sementara itu buat saya, internet sudah menjadi “rumah persinggahan ke-2″. (Lha iya,.. karena kalo “rumah ke-2″, gw mending milih rumah pacar gw lahh..). Yah, blog mungkin salah satu rumah persinggahan itu. Friendster? ya ini juga bisa dibilang begitu (sorry guys, buat yang ga suka ama nih Situs,..tapi gw masih dapet manfaat berkali2 make nih situs). Dan masih banyak yang lainnya. Dan bahkan untuk ngisi perut, saya harus menggunakan Internet. Ketimpangan yang jauh sekali dengan kondisi keluarga saya di kampung sana.
Memang internet itu luar biasa. Jika dulu jamannya diskusi tentang realita sosial berlangsung biasa di pojok-pojok kampus, komunitas-komunitas sudut kota, sekarang sudah beralih di dalam blog dan mungkin forum-forum, serta milist-milist. Tapi bukan berarti ruang interaksi di luar internet tersebut mati, masih banyak ruang-ruang diskusi terhampar di setiap penjuru Indonesia Raya. Saya masih percaya itu.
Diskusi-diskusi pun mengalir di dalam seliweran bandwith. Dan saya sekali lagi seperti postingan saya sebelumnya (hahahaha….lagi!) tetap berpendapat sama, bahwa apapun hadirnya saya dalam media Internet, entah berupa blog, member forum, milist atau bahkan akun Friendster sekalipun adalah bentuk pengwajantahan (bener ga tulisannya, Kram?..) saya dari dunia nyata. “What i think thats i said , what I see thats i share, what I feel thats i wrote”.
Menunjukkan jati diri dalam dunia maya tidak harus selalu dengan menunjukkan siapa nama saya, ibu saya, sekolah saya, maupun pacar saya. Sekedar ide kecil njelimet saya pun bisa saja menjadi identitas saya yang kemudian lahir sebagai asumsi di kepala-kepala yang mengenal saya di dunia maya. Saya bisa menjadi apapun, mencitrakan diri saya apapun kepada khalayak online. Ketika saya berada di IGO Kaskus, maka identitas saya adalah seorang penggemar sensualitas wanita-wanita lokal negeri ini. Ketika saya berada di forum manga, maka identitas saya adalah seorang maniak komik-manga Jepang. Ketika saya berkomentar di situs programming, maka saya menjadi seorang programmer. Ketika saya menulis postingan kritik pedas terhadap Presiden, bisa jadi seketika saya dituding sebagai seorang Residivis.
Begitupun jati diri di dunia nyata. Tidak ada bedanya dengan ketika saya memilih komunitas di dalam dunia maya. Dimana saya sering nongkrong, maka itulah asumsi yang muncul di kepala orang-orang yang baru mengenal saya. Saya bisa bersembunyi dengan label apapun dalam komunitas saya. Menciptakan citra diri yang saya inginkan di pemahaman mereka. Kalau memang saya merasa nyaman untuk membohongi diri saya dan mereka, berperan sebagai orang lain bisa saja saya lakukan. Siapa yang menjamin teman-teman Cahandong yang baru bertemu saya sekali dalam kopdar kemarin benar-benar telah mengenal saya?
Saya pernah menjadi ABG. Anda mungkin juga mengalami masa ABG. Mungkin juga yang membaca ini ada anak-anak ABG. Sepertinya berat menjadi ABG di zaman komersial dan bertajuk B’Gaol seperti saat-saat ini. Tuntutannya harus gaol begini begitu. Tidak gaol sedikit, maka ditinggali temen-temen. Memilih tidak gaol, jadi makhluk cupu yang direndahkan komunitas ABG-nya. Ya, mungkin terlalu berlebihan. Tapi itu ada dan menjadi realita sosial di lingkungan kita. Bukan kapasitas saya mengatakan itu salah atau benar, tetapi perlu dipahami, lahirnya kondisi ini tidak terlepas dari kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan pengakuan dinyatakan ada. Dan ketika di dunia maya pun, kebutuhan dasar manusia yang satu ini masih berlaku bagi setiap onliner, apalagi seorang blogger. B’gaol itu ternyata penting jika tidak ingin dianggap sekedar ada.
Bagi blogger kurang gaol seperti saya (bukan tidak gaol, cuma kurang..hahaha..), bergaul online cukup berperilaku layaknya hidup sehari-hari menginjak bumi. Berperilaku sesosial mungkin, atau se-Gaol mungkin. Saya bisa menjadi alim, menjadi marah, menjadi cemburu, berlaku kasar, suka bersedekah, berdebat, tidak mau kalah dan lain-lain sebagainya yang saya sering lakukan di dunia nyata.
Lalu apalah pentingnya bagi saya menjadi seorang Blogger kalau begitu?
Tidak berarti apa-apa bagi saya. Karena pada akhirnya ketika saya dicap menjadi blogger, maka saya paham.. saya juga menjadi manusia.
Post credited to :
Nilla, yang mengaku tidak B’gaol sampai subuh tiba
Mbak Hanum, yang mau adu keras kepala dengan saya.
BUNGKAM!!!
Gue bingung ama orang2,… ada orang nulis aneh2 dibenci. Dari tulisan agamalah, tulisan anti agama lah, agnostik, atheis, kapitalis, apatis, sosialis, komunis, seksis,bugils, nudis, kudis, kismis, gebleg, mbledug, doar..doar… !! What The F**K… you ‘re doing!
Suka2 orang lah. Wong kalo dia nulis itu sesuai dengan isi kepalanya. Kalo manfaat sukur,.. kalo ngga ya komplain ajah langsung…
Ga sepakat ?? Ya itu dikasih ruang koment buat apa.. ?? Ngejunk?? nyampah.. numpang buang eek?? Mending situ balik kanan, nungging siap gue tendang tu pantat… ga usah ngeblog pusingin isi blog!!
Ngga usah make acara bungkam sana sini kek udah hebat ajah… Yang udah hebat ajah ga ngaku seleblog. Kalo mau jadi seleb, mending ikut audisi, maen sinetron dan baru buat blog. Cepet bekennya. Kalo jadi seleblog juga jangan muna. Ntar malah bikin pernyataan yang nelan ludah sendiri dan geblek nya diamini semua orang.. (ga usah gw bilang sapa seleblog nya..)
Tulisan ini cuman bete-nya gue karena pada ributin Blog si ADE . Ahh.. gue mah mending jadi detektif buat blog INI . Worth it untuk gw,.. dan semoga dapet manfaat dari nyelidikin ntuh blog.. hahaha… ..
*Plakkk!! “kepret siah..” , digampar Anto -
Kafirun
MUI memberikan 10 kriteria ajaran sesat. Kriteria ke-10 adalah “Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti MENGKAFIRKAN MUSLIM KARENA HANYA KARENA BUKAN DARI KELOMPOKNYA“. Semoga Umat Muslim Indonesia konsisten dengan kriteria ke-10 ini.
ShOrTOY
Ini adalah SOTOY posting. Bisa diangggap serius atau rethinking atau sekedar nyepet doang..