Sakit

Badan sedang ga enak beberapa hari. Refreshing tidak selalu membawa kesegaran. Sampai sekarang masih terkapar limbung dan badan tertusuk-tusuk rasa pegal. Mana ini akhir bulan. Entah harus berapa butir lagi masuk ke perut ini Panadol.

Romantika Kota-Kota

City memoryAdakah di antara rekan-rekan yang merindukan sebuah kota tertentu? Saya yakin sekali pasti ada. Apalagi bagi seseorang yang doyan jalan-jalan atau memang kerjaannya membutuhkan jalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya.

Dulu, ketika saya masih tinggal di Banda Aceh, saya sangat merindukan romantika kota Lhokseumawe, tepatnya di kampung halaman kakek saya di “Desa Kandang”. Di sana ketika masih kecil, saya sempat beberapa kali mengikuti acara keluarga. Kami, para anak-anak, menikmati kenakalan dengan naik bukit, jalan-jalan ke hutan, mandi di sungai, memasang perangkap burung puyuh dan bakar-bakar ikan serta burung puyuh. Ada juga pengalaman lainnya tidak terlupakan ketika dikejar anak babi hutan. Sebuah kejadian yang sampai sekarang tidak pernah kami ceritakan kepada orang tua-orang tua kami.

Kota-kota lain di Sumatra juga menjadi kunjungan resmi dan tidak resmi saya di masa-masa itu. Dari Padang hingga Tebing, Sumatra Utara. Semua kota tersebut memliki nuansa yang masih terngiang-ngiang di kepala, seperti tidak rela jika terlupakan sedikit saja momen-momen indah ketika berada disana.

Lalu ketika SMU di Magelang, saya merindukan kota Banda Aceh dengan segala kenangannya di masa-masa SMP. Padahal dari awal menginjak Pulau Jawa, saya sudah berniat untuk menjelajah Jawa lebih jauh lagi. Dan jadinya Pekalongan, Semarang, Yogya, Pati, Bandung menjadi persinggahan di saat-saat liburan sekolah.

Ketika kuliah di Bandung, walaupun kota ini awalnya dirindukan ketika liburan masa SMU, kesan tersebut menjadi hilang ketika kota ini mejadi tempat saya berteduh selama bertahun-tahun. Dan seperti biasa saya tidak menyia-nyiakan untuk mengarungi kota-kota Jawa Barat lainnya selama saya hidup di Bandung. Terkadang juga sesempatnya kembali ke kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sumatra. Kesan yang muncul dalam setiap perjalanan memang luar biasa. Mengunjungi Yogyakarta dengan rasa romantis, atau kembali ke Sumatra dengan kangen yang bergelut di hati.

Setiap kota punya cerita pendek tersendiri buat saya. Ada kisah-kisahnya yang khusus dengan teman yang berbeda-beda. Bukan hanya urusan dengan wanita yang lantas berkenalan atau sejenisnya, walau itu juga kadang menghias memori, tetapi lebih pada menikmati udara, suasana, asesoris dan tata laku masyarakat nya. Sepertinya itu lebih ter”cap” di kepala saya.

Mungkin sudah jadi kodrat manusia untuk mencari kesan di dalam memori. Bagi saya sendiri menikmati perjalanan antar kota tersebut juga memiliki nuansa tersendiri. Entah itu dengan berganti-ganti bus, kereta malam, kapal laut ataupun pesawat. Momen-momen menunggu di stasiun, pelabuhan, bandara dan bahkan terminal sekalipun, apalagi di kala malam hari hingga subuh tiba adalah puncak kenikmatan tersendiri. Geliat hidup yang berbeda dari normalnya perjalanan waktu di dalam kota-kota besar dan desa-desa.

Namun uniknya sebuah kota yang menjadi tujuan romantis berlibur tersebut, justru menjadi biasa dan mengalir saja ketika saya sudah berteduh di dalamnya. Saya kangen dengan segala nuansa adem Yogya dan Magelang ketika saya berada di Bandung dulu. Tetapi saat ini ketika telah berada di Yogya, kota ini menjadi ruh tersendiri buat saya, dan saya malah merindukan nuansa Bandung yang dulu membuat saya sumpek.

Romantika antar kota, memang menjadi luar biasa buat saya. Tetapi saya malah berpikir kemudian, tidak satu kota pun akhirnya yang menjadi lebih berkesan. Terlalu subjektif, dipengaruhi waktu dan momen, bercampur gelisah di hati. Rasa yang sangat manusiawi memang. Sebuah paradoks saja dimana ketika saya kangen akan kesan sebuah kota, maka kesan itu menjadi hilang ketika saya menetap disana. Dan akhirnya malah menjadi pertanyaan buat saya, lalu apakah pantas kita meributkan kota mana yang lebih berkesan antara satu dengan yang lainnya?

Mumet, Ruwet dan Kangen

Last KissOverload lagi. Yaa, resiko jadi pekerja lepas ya begini, pas lagi kosong ceting dan blogwalking seharian. Pas lagi rame kerjaan langsung modyaar. Yang jadi bos pun begitu, pas butuh saja pada ngomong dengan bahasa baik-baik dan menyenangkan. Begitu udah waktunya duit harus turun mulai ada “eng..eng..”, atau keluar kata “sebenarnya..” (piss lah yaa buat bos-bos saya yang baca ini).

 

Ini bukan keluhan. Sekedar gambaran bahwa begitulah posisi orang-orang yang menjadi pekerja sebagai lepasan. Bermimpi punya bendera sendiri? Nabung dulu lah, sama bangun banyak link terus, itu kalimat yang berulang-ulang di seminar-seminar Entepreneurship. Tidak harus ke bank mengirim proposal kredit yang sebenarnya tingkat keyakinan “bisa ngembaliin apa ngga” saja masih dikhawatirkan. Nantilah itu, ada waktunya. Wong sekarang buat minta kredit saja susahnya minta ampyuunn dengan syarat-syarat beragam. “Saya ini belum ada NPWP wahai mbak-mbak Bank yang cantik”. Eh, lalu malah ditawari jalan belakang dengan bentuk jaminan credit dari saldo Bank saya atau memakai NPWP ibu atau keluarga lainnya? “Walah-walah, kalo pas sepi job, ga ada uang masuk, tapi situ motong-motong, terus saya makan apa ? lagian bisa diamuk massa satu keluarga saya nanti” . Jadinya, ya saya memilih sabar saja sampai waktunya tiba. “Karena saya sadar aturan dan syarat-syarat itu juga demi kebaikan kita bersama lho, Mbak..”, sambil kedip-kedip ke si Mbak yang manis.

Terus kemarin saya sempat bergundah gulana, sepi kerjaan, ditambah ada UTS di kuliahan. Dan nambah ruwet karena bentrok antara otak dan hati saya. Maaf buat postingan puisi Solitude kemarin, ngga saya jawab komentar-komentar yang bermunculan. Kan ceritanya sedang mau bergundah gulana, berlagak introvert, dan menjadi solitude wanna be (penyepi dan penyendiri). Lagian kalau kata Mbak Venus dalam komentar kemarin, “Blog aing kumaha Aing” Hahaha.. (dikutip dari blog http://joerig.wordpress.com/). 

Membuat sebuah postingan bermutu itu bukan sebuah pilihan bagi saya. Dalam kondisi tertentu, manusia juga bisa merasakan ritme hidup yang kondisinya seperti putaran roda. Terkadang suatu saat intelegensia menjadi powerfull melebihi komponen lain dalam diri kita. Dan saat itu lahirlah postingan bermutu. Namun di saat lain pula, bisa jadi emosi ini yang bergejolak, dan lahirlah lagak sastrawan yang ingin diterima.

Mungkin ke depan nya saya coba untuk partisi postingan dalam bentuk blok-blok tertentu, ada serius wanna be, ada iseng wanna be, ada pula curhat wanna be. Sebenarnya dulu sudah saya coba dalam template kapucino yang lalu-lalu. Mempartisi postingan dalam kelompok-kelompok tertentu. Posisinya juga tertentu. Ya, seperti magazine style gitu, mumpung bisa oprek-oprek WP sesuka perut gini.

Tetapi terus saya malah mikir, “ngeblog aja gaya amat, kayak mau jadiin situs CNN aja..”, makanya lalu saya kembalikan ke bentuk beginian, like other blog style-laahh. Lalu sekarang malah ingin kembali ke bentuk majalah lagi. “Dasar ga konsisten kamu, Jal. Wajar pindah-pindah kuliah!”. Lha.. kan prinsipnya ini punya saya dan suka-suka saya. Saya memang banyak maunya dan suka eksperimen macem-macem, jadi ya wajarlah. Tetapi perlu dipahami intinya, bahwa mendesain dan memilih denah rumah yang bagus adalah sebuah bentuk inspirasi sekaligus bentuk penghargaan terhadap tamu yang berkunjung. Tolong dipahami ini dalam kacamata berbeda, karena berbeda itu indah saudara-saudara.

Lho,.. postingan apa toh ini? Ya pokoknya ya itu saja, saya lagi pengen nulis. Lagian kasian feed reader dan google tidak menerima postingan saya beberapa hari, bisa ngambek dan pundung mereka. Walau bahannya campur aduk, semoga postingan ini tetap menginspirasi teman-teman semua. Karena mungkin beberapa hari saya akan di Bandung, dan pasti lupa ngeblog, ada yang lain musti diurus, plus ada yang lain musti dikangenin. Halah..halah…

 

 

NB : Cari Lapen yang bisa tahan buat oleh-oleh dimana toh? heuhuee… *Ngelirik Zam..

Solitude

Solitude

Dunia “rasa” meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa.

Dentuman “gundah” di hati Sang Maha Raja berubah “gulana” murka seketika

karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara

 

Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila

Dalam Zarasutra ia romantis bercerita..

dimanakah “rasa” yang bertarung dengan logika?

kemanakah intelektual menggiring cinta?

 

 

Hei manusia logika yang sombong oleh intelek..!!

Tidak cukup sekedar “OK”, okey?

Mari Coblos

Gajah ImutSudah 2 hari ini riuh ramai tentang Pemilu Ketua Ikatan Alumni Kampus GT™. Ramai sampai masuk Detik segala. Konsolidasi menggila dari para tim sukses kandidiat digelar di kawasan Jakarta-Bandung. Paling tidak itu kabar yang saya terima dari teman-teman di Bandung. Belum lagi iseng-iseng candaan YM, forum, milist, dan blog seputar “Jadi loe megang sapa nih?”. Megang apa toh? Kepala mereka?

Hari ini malah 3 sms masuk dari 3 tim sukses berbeda dalam HP saya berisi “asupan semangat” untuk memilih calon-calon ketua tersebut. Ada yang memakai SMS massal, ada pula yang dengan ramahnya menggunakan nama panggilan saya, “Rekan Ijal, untuk IA-ITB yang lebih baik mari bla..bla..bla..”

Sebenarnya saya sendiri tidak layak angkat bicara masalah IA2an ini. Saya kuliah disana juga tidak selesai. Walaupun kabarnya menurut AD/ART-nya status saya dianggap alumni. Saya belum baca AD/ART yang menerangkan bagian itu. Tetapi dari proses pemilu saat ini, memang mendukung untuk alumni tanpa ijazah mendapatkan hak suara. 3 cara pendaftaran pemilih yaitu,

 

  1. Memilki kartu anggota (keren lah, Credit Card Mandiri-Visa),
  2. Mendaftar lewat formulir calon pemilih dengan menyertakan Ijazah Kelulusan (saya adanya surat pengunduran diri..),
  3. Mendaftar lewat formulir calon pemilih dengan rekomendasi 2 alumni anggota IA sebagai penjamin (nah, yang ini peluang saya mendapat hak suara, begitu kabarnya..)

Karena adanya cara ke-3 ini, maka 5 petarung tersebut bersama tim suksesnya berlomba-lomba untuk mengejar alumni-alumni yang males mendaftar sebagai anggota, atau alumni yang males buka-buka tumpukan ijazah, atau alumni yang ijazahnya dijadiin jaminan utang. Oh ya termasuk juga model alumni seperti saya yang tidak ada ijazah, mungkin.

Hatta Rajasa sang Menteri contohnya, tim sukses nya menyediakan layanan daftar via email. Tinggal scan KTP, kirim via email. Terus nanti akan direview oleh tim sukses mereka, dan mereka akan daftarkan dengan 2 penjamin/rekomendasi dari mereka. Praktis dan benar-benar memanfaatkan IT dengan baik.

Ada juga si calon muda Zaid (angkatan ’96.. hebat semangatnya), teman saya yang juga alumni muda tak terdaftar, ditawarkan oleh tim suksesnya untuk menyerahkan fotokopi KTP. Dan nanti diurus proses pendaftaran sebagai pemilih. Cara keren menggaet kaum alumni muda.

Dan saya rasa sama saja dengan calon-calon lainnya. Disana ada Hengky a.k.a Triharyo Indrawan (Kepala BUMN REKIN), ada Ibu Betty Alisjahbana (CEO IBM Indonesia). Ada Boyke Minarno (setahu saya bapak ini Founder RPE Group Jakarta).

Tidak tahu apakah nantinya ketua terpilih akan membuat si GT™ kembali akan menjadi “Gajah Duduk”. Atau bisa menjadi “Gajah Terbang” sekalian. Tentunya semua orang punya harapan lebih baik di masa depan. Karena sudah jadi rahasia umum, si Ketua sebelumnya cuma bikin makan hati, IA -ITB hanya sebagai ajang lompatan ke kursi lebih tinggi di pemerintahan Indonesia Raya. Ujung-ujungnya malah tersangkut kasus korupsi tanker Pertamina.

Laksamana Sukardi“Mungkin ente Laks, bisa berkelit dengan ilmu hukum dan otak pintar ente. Tetapi rahasia umum tetap menjadi rahasia umum, Laks. Orang-orang yang terlibat dengan ente selama ini bisa menilai ente, dan jika Tuhan ada, maka dia juga Maha Tahu sekecil apapun kolusi korupsi yang ente buat…” (serasa ustadz gini gw..hahaha).

 

 

Alumni dari kampus yang dikata arogan. Ya, ini saya buat post ini, bukti kalau saya masih tersisa bibit arogan nya.. hahaha.. Kalau ngga percaya cek aja logo situs alumninya. Terbayang gambaran apa di benak anda?

Gajah Congkak Logo IA-ITB

Yah.. Inilah Lambang Situs IA Kampus GT™. Mungkin Menteri KDRI perlu mereview ulang logo yang lebih baik.

Lalu bicara harapan untuk calon-calon ketua IA yang akan datang. Sebenarnya apa dan bagaimana baiknya? Saya yakin semua calon memiliki ide-ide yang cemerlang. Ngga mungkin maen-maen, wong mereka ini lulusan Kampus GT™. Dan malah sekarang punya posisi-posisi penting dan kredibel di Indonesia Raya. Tetapi bukan itu hal yang terpenting. Bukan sekedar status mereka itu yang membuat mereka layak tentunya. Ada sebuah tanggung jawab sosial dalam membangun sebuah akselerasi alumni Kampus GT™ yang konon hebat-hebat itu untuk membangun bangsa ini. Karena miris jika mengingat kalau negara ini sudah cukup banyak dibodohi oleh orang-orang pinter. So, bagaimana calon-calon terhormat tersebut menyikapi ini?

“Bang Hatta mungkin? Kalau situ cukup konsisten dengan ide situ tentang Inovasi Radikal, saya yakin ITB bisa kasih gratis sekolah buat anak-anak pinter se-Indonesia suatu saat. Keren itu, bagi saya itu juga sebuah ide briliant. Tapi menurut saya, buat situ sih cukup dengan ngga maen catut IA untuk posisi 2009 saja sudah sebuah pencapaian besar.”

“Bang Zaid, ahh.. kau semangat kali pun Bang. Cem anak baru selesai Ospek aja ku liat. Tapi awak ni sepakat lah sama kau Bang. Memang kita-kita yang muda ni cuman jadi telor aja dari yang tua-tua selama ni, bang. Pokoknya semangat aja lah Bang yak..”

“Jeng Betty, aduhh jeengg.. Jeng Betty sangat keibuan sekali. Kok sampai malah bikin statement akan meninggalkan jabatan CEO IBM kalo terpilih ntar. Walah..walah.., jadi pengen saya punya mertua kayak situ. Eh, tapi jabatan CEO nya emang mau ganti yah..??

“Bang Hengky, Abang ini kuat juga support dari kaum alumni mudanya yak. Sampai bikin acara di cafe Bandung segala. Alumni muda gaol-gaol cerita-nya neeh, Bang??”

“Mas Boyke, wah kalo situ saya ndak kenal Mas. Cuman liat web situ ada dukungan dari BR. Sepertinya situ menjanjikan dengan ide entepreneurship-nya. Semoga lah yaah Mas,.. semoga bukan janji-janji lewat kayak si Om Laks dulu..”

Dan hari ini para alumni Kampus GT™ sedang mencoblos di beberapa lokasi Indonesia dan luar Indonesia. Lha, kok saya ndak ikutan? Saya beresin kuliah dulu, Dooeelzz..!! Berisik ah!!

 

 

 

Selamat mencoblos bagi rekan-rekan untuk IA ITB yang lebih baik bagi Tuhan, Bangsa dan Almameter, MERDEKA!

Update : Ya, selamat buat Bang Hatta yang menang dengan suara terbanyak.. Semoga Abang bisa membawa IA ke arah yang lebih baik…(dengan rasa khawatir dan ragu :-s )