Siapa Yang Salah?

Dulu, ada seorang temen cewe pernah bilang “Hati terkadang bisa mengkhianati logika”. Dan bener juga, umur manusia juga ga menjamin bisa berpikir lebih dewasa. Tadi pagi, ternyata ungkapan itu benar sekali lagi adanya.

Kenapa wanita dengan mudah bisa bilang begini “Kalo kamu sekarang nanya, would you marry me? aku akan bilang I do..!!. Jedang..!!

Ga mikir apa kalo si cowo nya masih pengangguran. Tergila-gila oleh buaian asmara?Lalu membunuh logika??

Ntar kalo mesem-mesem pas di rumahtangga karena suami ga bisa bikin dapur ngebul, baru deh menyek-menyek. Yang jadi korban si laki-laki lagi dah (halah serasa pejuang maskulinisme gue,..hahaha..)

*Sekedar posting buat ngingetin tetangga sebelah. WOI sadar WOi. Buruan cari kerja. Dasar bebek. Udah ga tahan artinya itu… huakakaka….

Ramai dan Damai

Free“..tp skrg lo berubah..!!!”

 

Jleb..!! Seperti guntur di hening tengah malam, sunyi tapi menggelegar seketika sampai ke sisi paling sensitif diri gue. Sebaris kalimat dari sekian baris di layar monitor, dan cuma ini yang bikin gue terhenyak sekian detik.

Apa benar gue berubah? Yaa, gue emang percaya semua manusia pasti bisa berubah. Dan bahkan proses menjadi dewasa saja terkadang berimplikasi perubahan sikap seseorang yang mengalami proses itu. Tapi jujur, gue termasuk orang yang tidak ingin dibenci karena gue merubah diri, atau terubah. Gue selalu berharap yang berubah adalah proses gue untuk menjadi yang lebih baik. Bukan malah akhirnya menjadikan orang-orang terdekat gue, teman-teman lama gue membenci gue. Gue manusia normal, hadir dengan segala kekurangan dan ego tetapi tetap ingin merasa diterima.
“..lo ngaca!”
“..itu aja jwbn gue”

Semburan baris ini gue coba jawab dengan nada bercanda, “gue ngaca kok, setiap abis mandi..”. Tetapi sepertinya yang dibalik monitor ini terlalu kesal untuk mengerti candaan gue. Memang obrolan seperti ini terlalu sensitif untuk tengah malam. Bukan karena malam yang makin larut ditambah lagu-lagu oldies di PC ini yang melow mengalun. Memang ada suasana dan aura berbeda beberapa hari ini yang menyesakkan dan menganggu pikiran gue. Dan benar adanya, satu orang disana juga merasakannya. Sebuah suasana yang justru bagi gue adalah alam baru yang berbeda dari sebelumnya. Suasana ngeblog yang berbeda.

Dahulu,..sepertinya semua damai adanya. Walaupun gue tahu ga damai-damai amat. Karena gue suka berkeliling di antara satu blog ke blog lain. Sekedar membaca isi-isi pikiran orang yang tertuang di dalam blog. Sekedar mengetahui apa yang menarik dari kehidupan mereka. Tidak hanya berselancar ke blog-blog lokal di barat atau timur Indonesia Raya. Bahkan melanglang buana hingga ke blog-blog luar negara karena tuntutan kerjaan. Sedangkan untuk menikmati socialite blogger itu sendiri, gue punya komunitas dan teman-teman sendiri dalam ngeblog. Tidak jauh-jauh dari teman kampus dan temennya temen kampus. Mereka ada di Globroll gue sampai sekarang.

Beberapa yang gue inget banget maen ke blog ini, dan gue juga rutin maen ke blog nya :

 

  • Beni, manusia konyol dengan segala kebodohan hidup-nya antara kampus dan kost. Sekaligus partner curhat gue urusan wanita-wanita sekitar kita. Blognya udah lama ga update, mungkin karena “pekerjaan sosial”-nya yang terlalu sibuk ditambah pacar baru. Tapi tulisan-tulisannya menyisakan sedikit kenangan bego buat gue. Gue berharap ada kisah-kisah tolol lainnya yang lahir di dunianya yang baru.
  • Rime, cewe ini gue kenal di blognya, bukan kenal di kampus. Walau akhirnya dengan malu-malu gue berkenalan di kampus..halah..halah.. Berkeliling jawa? Indonesia? Atau sekedar melihat keganasan mahasiswi-mahasiswi biologi dalam membedah tikus? Blog Rime tempatnya. Walau beberapa saat ini dia terlalu sibuk dengan “bedah-membedah” TA, tapi masih sempat posting sebuah joke tentang anonimitas rektor Kampus GT™.
  • Ikram, seorang tukang kritik koran yang sekarang malah bekerja di koran. Junior yang lebih senior dari gue. Sempat merasakan masa-masa sulit yang sama dengan gue, dan jalannya berlabuh di JP – lebih baik dibanding gue.
  • Bodhi, mengaku rookie web designer yang terjebak dalam romantika kampus. Yang menurut gue sebenarnya malah lebih dari sekedar “Rookie” untuk design web-nya. Bahkan mungkin juga “Super Rookie” untuk urusan romantika. Quote Romantis terakhirnya buat gue, “Love Actually is all around, bos. Go find one”
  • Nieke, gabungan nenek sihir dan cinderella. Hmm.. yah, itu gambaran paling cocok menurut gue. Blog nya berisi dari Infotainment hingga kisah harian yang nyempil dengan kritik, udah terbayang begitu ceting dengan orangnya. Sekarang sedang berkontemplasi dengan skripsi dan ditambah perenungan mendalam mengenai dunia maya.
  • Ria, nah ini bocah juga punya kesan. Blognya nya yang Ijo tidak menggambarkan orangnya yang cinta alam. Lebih kepada cinta duit menurut gue. Kenapa? Karena dia lebih suka mencari “ikan” dengan “Pukat Harimau” ketimbang “mancing” di kali yang tenang. Berstatus Mahasiswi baru pindah di kampus BHMN.
  • Puti, kalo ini udah panjang lebar biografi hidupnya gue ceritakan di posting lalu.
  • Imoth, satu hal aneh dari sekian hal aneh lainnya yang dimiliki cewe ini. Kalo naruh komentar, ga pernah ada link ke blognya. Dan jangan kaget kalo ngeliat banner blog-nya itu-terutama untuk penggemar pantat. Design blog terbarunya masuk dalam list gue yang tertunda. Ohya, ini cewe adalah partner kerja gue di sebuah tempat yang “mengakunya” kantor berita resmi.
  • Dimsum, cowo ndut berkacamata. Berkutat antara kelulusan yang tertunda dan DOTA. Di cap Jagoan oleh banyak wanita dikampusnya. Tetapi menurut gue ini anak cukup sederhana dengan cita2nya, “Gue sih yang penting cewe kacamata..”, haha.. sama kitah, Bro..
  • Masih ada yang laen2, di globroll gue dan pengunjung2 setia lainnya yang tidak suka meninggalkan jejak.

Mereka adalah orang-orang yang nempel di kepala gue ketika tulisan ini turun. Dan dengan asumsi yang hampir sama, seseorang di balik monitor itu mulai menjelaskan alasan gue berubah. Dari temen-temen di atas yang telah jarang singgah di blog ini, hingga ada nya temen2 baru yang mulai rajin naruh komentar di blog ini.

Aha.. akhirnya gue mengerti maksudnya apa. Ya, gue akui ada komunitas baru, socialite baru, atau kehidupan sosial baru yang gue jalani saat-saat ini. Tetapi seperti yang gue sampaikan kepada seseorang di balik monitor tersebut, gue ga pernah berharap untuk berubah menjadi yang lebih buruk. Gue mengalami transisi yang luar biasa di masa-masa 4-5 bulan kebelakang. Dari sekedar transisi lokasi, kehidupan sosial, hingga mungkin perenungan-perenungan. Namun sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berharap berubah untuk menjadi manusia yang lebih buruk bukan?

Gue berubah karena postingan-postingan gue yang ikut ngeramein hiruk pikuk Blogosphere? Ya, memang 5-6 post kebelakang berlangsung demikian. Tetapi tidak serutin itu. Tidak pula terus-terusan. Walau memang gue masih berkutat pada masalah yang sama. Dan jika atas dasar asumsi postingan itu gue dianggap berubah, yaaa gue bisa mengerti. Blog gue tidak pernah gue set harus menjadi bersahaja, atau menjadi centil, atau menjadi playboy atau bahkan sok idealis. Blog ini benar-benar menjadi gudang uneg-uneg, kegelisahan, ide-ide dan semua lainnya yang gue pengen tulis dan tulis lagi. Mungkin saja kegelisahan yang gue dapat karena memasuki aura baru blogosphere ala Yogya, membawa gue pada hiruk pikuk yang entah apa. Walau pun dari dulu gue mengerti adanya model blogosphere yang hiruk pikuk seperti ini, tapi memang memilih cenderung diam.

“Tolong ingatkan gw, jika memang terlihat gue mengejar per-kasus dan berusaha popular layaknya ingin menjadi seleb dunia maya. Gw hanya berkomentar pada cerita dan kisah yang gue suka dari teman-teman baru. Walau sekedar nyampah atau bercanda, itu bukti gue suka dengan postingan tersebut”, sebuah penutup dari panjangnya baris-baris YM.

Dan ternyata memang blog semakin rumit bagi semua orang. Kegelisahan gue terjawab dari obrolan dengan teman lama tersebut. Entah mungkin dia merasa gue benar-benar berubah, entah mungkin dia lagi sumpek akan semakin rumitnya menjadi seorang blogger. Entahlah….

Sebuah fenomena indah pasca Pesta Blogger yang gemerlap. Dimana makin banyak orang yang belum kenal blog, bahkan yang sudah lama kenal blog malah terjebak pada sebuah problematika sosial baru.

Ya,.. mungkin untuk kedepannya gue akan keluar dari postingan-postingan bertopik Blogosphere, biar para “ahli-ahli” yang mengurusnya. Gue menulis uneg-uneg yang lain saja. Masih banyak problematika lainnya di Indonesia yang bisa gue angkat untuk dibaca, dan semoga bisa dibenahi karena tulisan-tulisan sumbang gue,.. gue tetap percaya disanalah kekuatan blog sesungguhnya.

Dan lagipula, ada baiknya buat gue untuk diam dari hiruk pikuk ini. Supaya tidak kaget-kaget lagi dengan sebuah BUZZ YM tengah malam dari teman-teman wanita lama lainnya, yang berteriak dengan huruf kapital besar-besar “IJAALLL, LOE UDAH BERUBAH..!!”

Manusia Juga

Blogger is Human2 postingan saya sebelumnya ( iyahh.. gw lebih bangga ngelink tulisan gw sendiri ketimbang ngelink tulisan orang… huahaha), saya mengatakan kalau kita-kita yang di online ini, termasuk para blogger yang mungkin termasuk anda, adalah beberapa masyarakat Indonesia yang beruntung mendapat sedikit kelebihan. Kelebihan yang dimaksud adalah menjadi bagian 9% dari penduduk Indonesia yang menikmati fasilitas Internet. Dan saya yakin 9% ini pun adalah orang-orang berpendidikan, terdidik diantara jutaan masyarakat kita yang sama sekali tidak memperoleh pendidikan. Dan biasanya orang berpendidikan itu banyak membaca, mampu berdebat dan memiliki pandangan atau pendapat dari pemikiran-pemikirannya. Bandingkan dengan tetangga-tetangga kita lainnya yang tidak mendapat pendidikan. Belum lagi jika ditanya mengenai internet, sekedar mencari sumber inspirasi opini saja tidak semudah saya yang hanya tinggal klik Google. Ah,.. terkadang saya merasa masih kurang bersyukur kalau menyadari ini.

Kakak saya nun jauh di kampung sana, tidak mengerti bagaimana membuat email, dan baru saja ribut-ribut kepanikan karena buat ngedaftar CPNS belakangan ini kebanyakan informasinya terpusat di Ibu Kota Negara dan pengumumannya kebanyakan di internet. Adik saya yang baru saja masuk sekolah komputer, kemarin menanyakan kepada saya bagaimana caranya konek internet dari telepon rumah. Dan jangan tanyakan bagaimana Ibu saya, sekedar sms saja masih meminta bantuan adik saya. Hehehe,.. sekali lagi serasa saya jadi orang paling beruntung jika mengingat itu.

Sementara itu buat saya, internet sudah menjadi “rumah persinggahan ke-2″. (Lha iya,.. karena kalo “rumah ke-2″, gw mending milih rumah pacar gw lahh..). Yah, blog mungkin salah satu rumah persinggahan itu. Friendster? ya ini juga bisa dibilang begitu (sorry guys, buat yang ga suka ama nih Situs,..tapi gw masih dapet manfaat berkali2 make nih situs). Dan masih banyak yang lainnya. Dan bahkan untuk ngisi perut, saya harus menggunakan Internet. Ketimpangan yang jauh sekali dengan kondisi keluarga saya di kampung sana.

Memang internet itu luar biasa. Jika dulu jamannya diskusi tentang realita sosial berlangsung biasa di pojok-pojok kampus, komunitas-komunitas sudut kota, sekarang sudah beralih di dalam blog dan mungkin forum-forum, serta milist-milist. Tapi bukan berarti ruang interaksi di luar internet tersebut mati, masih banyak ruang-ruang diskusi terhampar di setiap penjuru Indonesia Raya. Saya masih percaya itu.

Diskusi-diskusi pun mengalir di dalam seliweran bandwith. Dan saya sekali lagi seperti postingan saya sebelumnya (hahahaha….lagi!) tetap berpendapat sama, bahwa apapun hadirnya saya dalam media Internet, entah berupa blog, member forum, milist atau bahkan akun Friendster sekalipun adalah bentuk pengwajantahan (bener ga tulisannya, Kram?..) saya dari dunia nyata. “What i think thats i said , what I see thats i share, what I feel thats i wrote”.

Menunjukkan jati diri dalam dunia maya tidak harus selalu dengan menunjukkan siapa nama saya, ibu saya, sekolah saya, maupun pacar saya. Sekedar ide kecil njelimet saya pun bisa saja menjadi identitas saya yang kemudian lahir sebagai asumsi di kepala-kepala yang mengenal saya di dunia maya. Saya bisa menjadi apapun, mencitrakan diri saya apapun kepada khalayak online. Ketika saya berada di IGO Kaskus, maka identitas saya adalah seorang penggemar sensualitas wanita-wanita lokal negeri ini. Ketika saya berada di forum manga, maka identitas saya adalah seorang maniak komik-manga Jepang. Ketika saya berkomentar di situs programming, maka saya menjadi seorang programmer. Ketika saya menulis postingan kritik pedas terhadap Presiden, bisa jadi seketika saya dituding sebagai seorang Residivis.

Begitupun jati diri di dunia nyata. Tidak ada bedanya dengan ketika saya memilih komunitas di dalam dunia maya. Dimana saya sering nongkrong, maka itulah asumsi yang muncul di kepala orang-orang yang baru mengenal saya. Saya bisa bersembunyi dengan label apapun dalam komunitas saya. Menciptakan citra diri yang saya inginkan di pemahaman mereka. Kalau memang saya merasa nyaman untuk membohongi diri saya dan mereka, berperan sebagai orang lain bisa saja saya lakukan. Siapa yang menjamin teman-teman Cahandong yang baru bertemu saya sekali dalam kopdar kemarin benar-benar telah mengenal saya?

Saya pernah menjadi ABG. Anda mungkin juga mengalami masa ABG. Mungkin juga yang membaca ini ada anak-anak ABG. Sepertinya berat menjadi ABG di zaman komersial dan bertajuk B’Gaol seperti saat-saat ini. Tuntutannya harus gaol begini begitu. Tidak gaol sedikit, maka ditinggali temen-temen. Memilih tidak gaol, jadi makhluk cupu yang direndahkan komunitas ABG-nya. Ya, mungkin terlalu berlebihan. Tapi itu ada dan menjadi realita sosial di lingkungan kita. Bukan kapasitas saya mengatakan itu salah atau benar, tetapi perlu dipahami, lahirnya kondisi ini tidak terlepas dari kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan pengakuan dinyatakan ada. Dan ketika di dunia maya pun, kebutuhan dasar manusia yang satu ini masih berlaku bagi setiap onliner, apalagi seorang blogger. B’gaol itu ternyata penting jika tidak ingin dianggap sekedar ada.

Bagi blogger kurang gaol seperti saya (bukan tidak gaol, cuma kurang..hahaha..), bergaul online cukup berperilaku layaknya hidup sehari-hari menginjak bumi. Berperilaku sesosial mungkin, atau se-Gaol mungkin. Saya bisa menjadi alim, menjadi marah, menjadi cemburu, berlaku kasar, suka bersedekah, berdebat, tidak mau kalah dan lain-lain sebagainya yang saya sering lakukan di dunia nyata.

Lalu apalah pentingnya bagi saya menjadi seorang Blogger kalau begitu?

Tidak berarti apa-apa bagi saya. Karena pada akhirnya ketika saya dicap menjadi blogger, maka saya paham.. saya juga menjadi manusia.

 

 

Post credited to :

Nilla, yang mengaku tidak B’gaol sampai subuh tiba

Mbak Hanum, yang mau adu keras kepala dengan saya.

BUNGKAM!!!

Istock IllustrationGue bingung ama orang2,… ada orang nulis aneh2 dibenci. Dari tulisan agamalah, tulisan anti agama lah, agnostik, atheis, kapitalis, apatis, sosialis, komunis, seksis,bugils, nudis, kudis, kismis, gebleg, mbledug, doar..doar… !! What The F**K… you ‘re doing!

Suka2 orang lah. Wong kalo dia nulis itu sesuai dengan isi kepalanya. Kalo manfaat sukur,.. kalo ngga ya komplain ajah langsung…
Ga sepakat ?? Ya itu dikasih ruang koment buat apa.. ?? Ngejunk?? nyampah.. numpang buang eek?? Mending situ balik kanan, nungging siap gue tendang tu pantat… ga usah ngeblog pusingin isi blog!!

Ngga usah make acara bungkam sana sini kek udah hebat ajah… Yang udah hebat ajah ga ngaku seleblog. Kalo mau jadi seleb, mending ikut audisi, maen sinetron dan baru buat blog. Cepet bekennya. Kalo jadi seleblog juga jangan muna. Ntar malah bikin pernyataan yang nelan ludah sendiri dan geblek nya diamini semua orang.. (ga usah gw bilang sapa seleblog nya..)

Tulisan ini cuman bete-nya gue karena pada ributin Blog si ADE . Ahh.. gue mah mending jadi detektif buat blog INI . Worth it untuk gw,.. dan semoga dapet manfaat dari nyelidikin ntuh blog.. hahaha… ..

*Plakkk!! “kepret siah..” , digampar Anto -