Renungan Akhir Tahun

Komik RenunganSaya hanya terpaku sekian detik, berpuluh menit, hingga sejam hanya untuk memulai menulis. Tertulis sebuah kalimat, lalu saya hapus lagi. Sudah hampir satu paragraf, lalu saya delete lagi. Berulang-ulang seperti itu. Dan akhirnya beralih ke window lainnya untuk membaca-baca artikel-artikel, blogwalking melihat renungan-renungan di blog teman-teman dan ngobrol sana-sini di YM.

Entah kenapa terasa sangat sulit memberi ucapan di hari terakhir 2007 ini, menghadirkan tulisan refleksi yang bisa memperkaya diri dan sebagainya. Hanya sekedar untuk 3 kata menyambut tahun yang baru! Padahal tidak ada ukuran yang berbeda sama sekali dari skala waktu. Hari akhir 2007 ini juga tetap berlangsung 24 jam. Matahari tetap terbit tanpa memberikan rasa panas berbeda, langit malam juga masih berawan seperti mendung-mendung di malam-malam lainnya. Lalu kenapa saya harus bingung untuk sekedar menuliskan segalanya?

Ingin sekali memberikan tulisan sebagai sebuah bentuk perenungan. Menyentuh akal sehat kita semua, memperkaya hati nurani kita dan mungkin berharap memberikan inspirasi untuk saya dan semua pembaca.

Tetapi saya hanya stuck, terhenti berpikir, otak kram dan hati seperti mati rasa. Kosmos seputar saya serasa stagnan, waktu terasa berhenti.

Ataukah jangan-jangan selama 2007 ini memang stagnan bagi saya? Terlalu banyak waktu terbuang yang bahkan mungkin saya hentikan? Apakah tidak ada warna sama sekali di 2007 ini bagi saya? Tidakkah satu pun dapat menjadi refleksi dan renungan?

Ah sudahlah. Sambut saja tahun depan dengan gembira dan rasa optimis. Penuhi dengan mimpi-mimpi indah. Matikan segala stagnansi, bunuh semua duka, warnai semua yang masih kelabu. Dengan demikian, semoga setahun kedepan saya bisa menulis sebuah refleksi dan renungan yang indah menyambut 2009.

 

2008 akan sangat banyak kejutan bagi kita semua. Selamat Tahun Baru.

 

Ikut-ikutan Ndoro bikin komik.. :) ) Komik lengkapnya di sini

Requiem Benazir Bhutto

Setelah beberapa waktu lalu Om saya yang jauh di utara Eropa itu meninggal dunia, kini Tante saya dari negeri selatan Asia yang menyusul beliau.

Kondisi negerinya yang sudah mulai panas, maka akan semakin panas. Di balik masalah politik lokal yang pelik, kemudian masalah militerisme vs demokrasi yang mengundang perdebatan, dan ditambah permasalahan terorisme klasik dengan membawa jargon mujahid, tentunya ada banyak tangan kepentingan politik barat yang terus membayangi perkembangan negara ini. Terlebih lagi tragedi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi politik global di masa mendatang.

Bagi saya sendiri, tanpa adanya pion-pion politik barat yang bermain, kondisi politik lokal yang sangat menjurang antara 3 unsur negeri ini sudah cukup membuat kegentingan tersendiri. Demokrasi – Militerisme – Islam garis keras. Sebuah ramuan yang sangat manjur untuk menciptakan sakit perut. Mengingatkan saya dengan Indonesia Raya sendiri.

Terlepas dari berbagai intrik politik di dalam negeri tersebut – dan mungkin sejarah kelam si Tante dengan cap koruptor kelas kakap-nya, yang pasti ini merupakan sebuah kehilangan besar buat Negeri Mahenjo-Daro. Dan sepatutnya kehilangan besar pula bagi seluruh dunia, atas kepergian seorang pemikir dan pemimpin yang berani.

Selamat jalan Tante Benazir Bhutto.

 

Bhutto Picture from Kompas

Sebuah artikel menarik dari Arya tentang kisah hidup singkat hingga “usai” sang Tante.

Gambar diambil dari Kompas.

Waktu dan Mimpi

Star WishCantik dan cerdas. Hampir tidak percaya sosok itu hadir di depan saya setelah lebih 7 tahun hanya sekali kami sempat bertatap muka. Dan cerita-cerita pun mengalir sambil menghabiskan hitungan jam malam di pinggiran Malioboro. Dari sekedar kisah-kisah usang masa SMU, perjalanan hidup, mimpi-mimpi, hingga urusan melankolis seputar hati.

Terkadang bertemu dengan teman-teman lama memberikan warna-warna berlainan dalam kepala saya. Seolah melihat hal yang berbeda atau kadang ada yang tetap sama. Ada saatnya saya menilai “ah, loe ga berubah-berubah juga”, tetapi bisa juga keluar komentar “gilak! angin apa yang merubah loe, Bos?” .

Namun itulah perjalanan hidup. Setiap detik yang kita lalui bisa saja berbeda dan bermakna kalau kita mau merenungi sebuah pertemuan seperti ini. Melihat ke belakang langkah-langkah yang keliru, atau merangkai langkah-langkai baru untuk mengejar mimpi dan berusaha lebih baik. Entah kenapa, justru dengan menemui teman lama, renungan seperti ini kerap menghampiri saya. Dan akhirnya saya berdebat dengan umur, “Ya Allah, cepat sekali waktu berlalu”.

Kita cuma bisa mengatur rencana, mencoba mewujudkan mimpi-mimpi. Beruntunglah orang-orang yang selalu mendapatkan mimpinya. Karena “permainan Tuhan” tidak pernah bisa ditebak. Belum ada kisah manusia yang merancang mimpi-mimpinya dengan memasukkan unsur “Playing with The God”. Kita hanya terbatas mengakusisi rencana-rencana yang termaktub dalam koordinat X-Y-Z dunia. Bahkan untuk sekedar menebak hari ini kita bakal makan siang dengan apa, kita pun belum tentu bisa. Apalagi sampai menentukan kapan gempa tsunami terjadi? Mungkin saja luasan koordinat X-Y-Z dunia itu diperluas dengan teknologi dan akal manusia. Namun sekali lagi, kita bermain dengan waktu. Waktu yang merupakan ciptaan Tuhan juga yang mengatur semuanya.

Setelah pertemuan yang menyenangkan semalam, kemudian mengetahui ternyata ramalan gempa di Bengkulu 23 Desember ini tidak atau belum terjadi, membuat saya semakin tersenyum lega. Wajar sebagai orang yang beruntung mendapatkan sedikit ilmu dalam hal kebumian saya memikirkan ramalan tersebut. Dan pelajaran malam ini seolah menjawab sedikit lagi pertanyaan, bahwa saya sekedar manusia biasa. Kapan pun hidup saya bisa berakhir tanpa terduga – dan mimpi-mimpi saya harus berkejaran dengan waktu milik Penguasa Semesta.

 

Selamat berjuang, Rina. Semoga X-Y-Z Australia membuat loe semakin hebat mengejar mimpi.

Hidup Fotokopi

Photonya seksiehh...Posting pendek saja ini. Terinspirasi dari beberapa teman yang baru bekerja di kantoran.

Tahu kerja mesin fotokopi? Tahulah ya pastinya. Lalu bagaimana kalau yang di-fotokopi adalah hidup anda sendiri setiap hari?

 

Pagi

- Berangkat Kantor

- Sarapan

- Ngantor

- Makan Siang

- Ngantor lagi

Sore

- Pulang Kantor

- Menuju tempat Pacar

- Jemput pacar

Malam

- Jalan-jalan

- Makan malam

- Bercinta

- Capek

- Terus Pulang

- Tidur

 

Sebagian yang lain tidak melewati sore dan malam bersama pacar, tetapi dengan me-lembur ngejar setoran.

Bagaimana dengan anda?

Setahun Sudah…

Ngeteh Sambil Tos..Setahun sudah saya menulis di Warung Kapucino ini. Dengan berbagai suka dan duka dalam kehidupan yang tidak mudah bagi saya. Kapucino dimulai dengan menulis Hari Ibu sebagai bentuk apresiasi saya kepada Ibu saya nun jauh di sana karena menerima setengah himpitan kegelisahan saya di waktu itu dengan hati teramat sangat terbuka.

Saya masih ingat momen itu, hanya lewat HP tua saya ini, suara beliau terasa seperti ribuan energi semesta walau hanya sekedar membuka lembar pertama dari lembar demi lembar hidup saya selanjutnya, hingga hari ini. Lembar yang membuka ruang antara anak yang keras kepala dengan seorang Ibu yang cerewet, seorang anak yang hilang dengan Ibu yang merindu, seorang lelaki muda yang sombong dengan Ibu Tua yang tetap cantik ramah menyapa kabar. Ah,.. tidak ada kata – selain saya kangen beliau di sana.

Tulisan-tulisan dalam blog ini cuma rupa muka dari otak saya yang sok merasa jumawa. Menulis reportase atau artikel berita ternyata jauh lebih mudah dibandingkan mengeluarkan apa yang menjadi persepsi di dalam kepala sendiri. Paling tidak itu yang saya rasakan setahun ini, jika dibandingkan waktu dulu menulis di sebuah kantor berita. Jadi sangat wajar jika banyak pembaca berkomentar “Bahasa mu itu susah amat sih, Jal..Mana tulisanmu bikin puyeng“. Doohh.. ya maaf, saya akui itu. Dan saya akan terus mencoba bisa menampilkan cerita dari kepala ini dengan lebih mengalir, cerdas dan lugas kedepannya.

Peringatan ultah Blog “secara pribadi ini”, kemudian dilengkapi pula dengan pertemuan dengan seorang penulis blog keren, seorang petualang imaginatif dengan pengalaman bukan imaginer, seorang belakang layar dengan karya-karyanya yang justru lalu lalang di depan layar. Diramaikan pula oleh para blogger guanteng-guanteng dan manis asal Djogja. Plus Mbak Buanadara yang ternyata benar kabar angin itu saudara-saudara.., saya buktikan sendiri beliau memang memiliki mata yang indah.

 

Photo2 editan Anto lainnya di antobilang.wordpress.com

Thanks untuk pertemuan singkat dan cerita-ceritanya Mas Iman. Makasih juga buat Sarah atas undangannya (bukan kamu yang undang aku lho, Nto.. weee.. :p ). Dan tentunya seluruh balakurawa Djogja yang hadir, membuat acara ngeteh semalam jadi semakin nikmat.

 

 

*Maaf saya klaim kopdar semalam sebagai acara ultah Kapucino..huakakakak…

 

Ket :

Kapucino mulai posting 22 Desember 2006, walaupun domain ini sendiri aktif Oktober 2006. Postingan Desember 2006 – Februari 2007 sudah hilang bersama sebuah hosting tolol. Untung-nya, Blog saya ter-archive di blog-indonesia.com sejak pertama kali posting, walaupun cuman alinea pertama saja yang tercatat di sana. Pengalaman ini memberikan saya pelajaran, untuk selalu meng-arsip sendiri tulisan yang saya suka dalam Hardisk.

 

Bebas

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/icHDhsAz610" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

 

“..On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.


Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“


Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly..”

 

Bebas, dalam interprestasi kondisi sosial masyarakat yang selalu ribut-ribut dengan kekuasaan dan posisi, sering diidentikkan dengan tidak bisa diatur, sok melawan arus, tukang nyolot dan perusuh dalam kehidupan absolut materil yang mapan.

Padahal tidak selalu demikian. Gie sendiri memilih untuk bebas menjauhkan dirinya dari bagi-bagi kue dimasa revolusi karena tidak menyukai sebuah gaya lama dalam proses kekuasaan. Siapa yang menyangkal jika Gie sendiri berperan dalam menciptakan revolusi 60-an – mengkritisi Soekarno, dan bisa jadi turut andil menciptakan opini publik tentang kegagalan Soekarno sehingga beliau turun dari kursi kekuasaan. Tetapi dibalik itu, Soekarno sendiri adalah idola favoritnya.

Gie meninggalkan segala gemerlap tawaran politik dan lebih memilih untuk menjadi sosok dengan side opinion. Berada dalam jarak dekat dengan pokok masalah bangsa, tetapi tidak di dalam sebuah sistem yang memaku cara pikir dan berkontribusi. Gie menurutkan kata hati untuk menjadi pejuang intelektual yang bebas dengan prinsipnya : “Patriotisme tidak mungkin ditumbuhkan melalui hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang baru dapat mencintai sesuatu secara sehat apabila dia mengenal dengan baik akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia hanya bisa ditumbuhkan dengan melihat Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.

Mungkin memang terlalu naif jika kita bicara bebas, kebebasan layaknya seorang Gie, apalagi bagi kita yang hidup di zaman sekarang yang serba dekat dengan materi. Kekuasaan dan politik juga terkadang menjauhkan diri untuk berpikir bebas, harus selalu setia pada TOR, aturan main dalam berpolitik, dan mungkin menjilat pantat penguasa untuk bertahan. Ukuran materi dan kemakmuran pribadi pun dengan mudah diraih jika berada dalam tataran hidup berslogan kekuasaan. Tidak perlu memikirkan akhir bulan duit dikantong sisa berapa, hidup dengan tenang dalam kursi keseharian dan tidak perlu berkeluh kesah dengan masa tua.

Semua dari kita pernah, sedang atau akan melalui masa muda yang penuh gairah kebebasan. Dulu, saya juga pernah dicekoki dipaksa disarankan oleh senior kampus, untuk masuk ke dalam himpunan mahasiswa. Sebagai makhluk polos yang baru lepas dari putih abu-abu, pandangan saya waktu itu si Himpunan Mahasiswa sendiri jauh dari sistem yang “benar”. Mereka berdialektika bahwa jika saya ingin merubah sistem yang saya lihat salah, maka masuklah ke dalamnya dan ubahlah menjadi lebih baik. Sebuah ungkapan yang mungkin saja benar. Dan apa daya seorang anak baru dalam kondisi dipaksa menurut, dengan setingan kekerasan mengharuskan menjadi pribadi tegar, akhirnya harus menurut juga.

Lalu bagaimana dengan yang tidak menjadi bagian dari slogan himpunan? Bisa ditebak, yaitu menjadi bagian dari orang-orang yang malah tidak bebas dan terhimpit oleh opini sosial sekitar. Dari itu saja, ditahun 2001, bisa saya rasakan betapa kebebasan telah menjadi barang yang absurd. Dan saya pun menikmati berada dalam sistem yang hipokrit dan semu seperti itu. Sebuah model dari organisasi pemuda zaman sekarang mungkin.

Padahal dalam membangun sebuah sistem yang mapan, tidak pernah lepas dari proses dialektis. Selalu dibutuhkan orang-orang yang justru memiliki pandangan berbeda. Kalau istilah seorang teman, “bermain peran”. Tan Malaka sendiri menghabiskan 539 halaman di Madilog hanya untuk menjelaskan pentingnya tesis dan anti-tesis dalam proses membangun sintesa peradaban yang sehat.

Saya juga percaya masih ada orang-orang yang tidak sekedar mencari aman di kursi-kursi empuk berslogan kekuasaan. Masih ada yang dengan gigih berusaha berkata benar, bebas berpendapat, walaupun kursi nya tidak akan pernah bergeser ke lantai lebih atas karena teriakannya. Seperti juga sepeda motornya tidak akan pernah diganti layaknya lagu Oemar Bakrie.

Zaman terus berubah. Fashion terus berganti, bahkan ada yang berulang. Mungkin saja idealisme layaknya Gie dan eksponen 66 lalu kembali muncul dalam tataran negeri ini. Atau mungkin model baru dalam beridealisme akan muncul menggeser pola-pola pikir lama mengenai kebebasan.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di depan. Bahkan Gie sendiri mungkin tidak bisa menebak apa yang terjadi terhadap Indonesia Raya ini setelah 38 tahun ditinggalkannya. Bisa jadi jika ia masih hidup di masa sekarang, menjadi seorang profesor sosial seperti abangnya, Arief Budiman. Mungkin juga ia menangis dalam tulisan-tulisan artikelnya di Kompas melihat anak-anak bangsa sekarang? Atau memilih salah satu kursi berslogan sebagai pemanis hari tua dengan kebanggaan sejarah aktivitas sosial kebangsaannya? Atau mungkin memilih menjadi blogger seperti saya? Ah, tidak ada yang tahu. Yang pasti seperti kutipan dalam bukunya sendiri dia menulis “

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Tapi saya lebih percaya dengan sebuah quote yang pernah saya dengar entah dari mana, “Pemberani itu adalah orang yang berani menjalani hidupnya walau serumit apa pun”.

Berani menghadapi hidup yang rumit, dengan paradigma bebas untuk memilih. Saya percaya itu sulit. Seperti pagi-pagi ini diantara takbir, saya kembali tercenung setelah Mamak saya nun jauh disana memberi kabar walau tanpa pesan tersurat, “Om xxx, teman almarhum ayah mu, menanyakan kabar kuliah mu, .. Sekarang beliau sudah menjadi yyy di Departemen zzz di sini..” Mak..Mamak…sebuah ciri khas yang selalu saya banggakan, pendek, tidak mengiba apalagi memaksa.

 

Mungkin lagu yang sedang berputar di PC ini patut saya kirimkan ke beliau, sebelum saya berangkat Sholat Ied,

“..sampaikanlah pada ibuku – aku pulang terlambat waktu – ku akan menaklukkan malam – dengan jalan pikiranku..”.

 

Tambahan :

Joan Baez adalah penyanyi favorit Gie, terutama lagunya yang di atas, “Donna Donna”. Maaf saya streaming diatas via Youtube. Jadi kasian deh loe yang Youtube nya di blok kampus huakakakak… Versi MP3 nya boleh saya share. Atau dengerin aja versi Sita RSD dalam OST. Gie. Lagu tersebut (dan lagu-lagu Joan Baez lainnya) sangat lekat dengan kondisi masa 60-an, dimana kondisi seluruh dunia, termasuk Indonesia sendiri saat itu terpolarisasi dalam politik perang dingin global. Sehingga piring hitam Joan Baez milik Gie sempat ditahan imigrasi Australia ketika dia berada disana. Joan masih terus bernyanyi hingga sekarang, dengan khas folksong-bergitar Amerika-nya, membawakan lagu-lagu bertema Human Rights. Single lainnya yang dikenal adalah “We Shall Overcome” (yang di kampus GT™ pasti tahu lagu ini).

 

Postingan ini dipersembahkan buat semua pembaca untuk mengenang kembali semangat seorang Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969). Yang dimasanya memiliki interprestasi berbeda terhadap revolusi Indonesia. Bahkan merelakan suatu kebutuhan kodrati dari manusia untuk perjuangannya, yaitu “hidup sendiri” :

“Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. (Surat Seorang Teman dari Amerika – Dalam Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran oleh Arif Budiman, 1993)

Klarifikasi Dari Adeline Djelita (Nama Yang Indah)

Saya merasa perlu memposting ulang komentar dari indo.Com di kolom komentar saya tentang ini. Biar adil, ga enak kalau isi-nya misuh-misuh terus.

——

Nenek bilang jangan ditelan mentah-mentah tulisan di media yang salah melulu. (Dan seperti biasanya di Indonesia, nothing is the way it seems – orang Medan bilang, ada udang dibalik kuetiaw.)

First, anggaran yang bener itu Rp 5.5 milyar untuk 2007, bukan 17 milyar. 17M itu kalo dijumlahkan dari tahun 2006 dan 2007 yang sudah direalisasi, dan 2008 yang paling banyak, 10 milyar, yang masih rencana. (Kenapa gak sekalian dijumlahin dari tahun 1945, inflation adjusted, sampai tahun 2050?)

Second, anggaran yang tahun 2007, dari 5.5 milyar, potong pajak jadi efektif 4.65 milyar, itu porsi terbesarnya dipakai untuk promosi online, di Google, Yahoo, portal wisata internasional seperti Travelocity, dan juga portal domestic seperti Kompas, Bisnis, Media dsb (hint: apa yang tidak disebut?) Porsi kedua dialokasikan untuk memberdayakan hotel-hotel kecil, biar bisa ikut belajar promosi dan bertransaksi online. Kita bikin workshop di 3 kota – Jogja, Lombok, Manado – dihadiri 400-an orang/hotel, iklankan, talk show, masukkan 100-an lebih hotel ke my-indonesia.info dan system reservasi indo.com, dan ketika terjadi transaksi, membimbing mereka.

Intinya, kegiatan e-marketing ini tentang promosi online, bukan tentang bikin web site. Hasil apa yang didapat? Iklan pariwisata Indonesia ditayangkan sekitar 90 juta kali, kepada pengguna Internet yang senang berwisata atau bahkan sudah mencari informasi tentang berwisata ke Indonesia melalui situs pencari. Berarti efektif biaya menjangkau satu orang ini hanya Rp 50an. Pengunjung yang sudah dilayani tahun ini 230 ribu orang. Berarti biaya melayani satu orang calon wisatawan ke Indonesia, kalau dilakukan secara virtual via Internet, biayanya hanya Rp 20 ribuan. Sangat cost efektif.

Belum lagi waktu sebelum promosi, kalau coba cari “indonesia info” di Google, situs paling atas adalah punyanya CIA. Jadi perspektif yang didapat orang adalah perspektif CIA. (Coba search “president indonesia” sekarang di Google, situs siapa yang paling atas?) Punya Pemerintah dulu tidak kelihatan. Sekarang, untuk kata-kata kunci seperti itu, “tourism indonesia” dan hampir 2000 kata lainnya, situs Pemerintah sudah muncul, bahkan pada posisi-posisi terdepan.

Jadi lihatlah kegiatan e-marketing ini dalam konteks strategi pemasaran pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Kalau tahun 2008 dianggarkan Rp 10 milyar, dari total anggaran promosi pariwisata, yang kalau saya tidak salah sekitar Rp 280 milyar, optimalkah kalau hanya 3-4% yang dialokasikan untuk pemasaran via Internet? Survey BudPar sendiri menunjukkan sudah 56% wisatawan ke Indonesia yang mencari informasi tentang wisata ke Indonesia via Internet. Kalau kita mau book Yahoo Singapore untuk 1 HARI saja – supaya setiap orang yang buka pasti lihat iklan kita, seperti blocking time di TV – biayanya bisa sekitar SGD 1 juta – atau Rp 6 Milyar sendiri!

Negara tetangga kita juga mengetahui ini dan berpromosi via Internet dengan agresif. Kita dapat info bahwa mereka di Google dan Yahoo saja bisa belanja iklannya sekitar USD 1-2 juta (Rp 9-18 Milyar)per tahun di masing-masing portal. Belum portal-portal lainnya dan kegiatan online promotion lainnya (Singapore Tourism Board pernah beriklan via newsletter broadcast menggunakan indo.com.) Untuk mengajak industri pariwisata berteknologi saja (seperti yang kita lakukan dengan hotel-hotel kecil ini), Singapore alokasikan dana SGD 10 juta (bisa lihat di situs Singapore Tourism Board).

Yang jelas, promosi pariwisata sekarang ini, oleh pemerintah maupun swasta, mau tak mau sudah harus melibatkan Internet – karena wisatawan adanya di situ.

 

Komentar lebih lanjut, silahkan email ke saran@indo.com

 

Salam

 

Adeline Djelita
www.indo.com

—–

Tapi standar, saya tetap ingin berkomentar, karena memang saya banyak bacot-nya. Tentang e-marketing, apakah yang dimaksud e-marketing ini adalah sebuah iklan tanpa website? Cuman numpang mejeng banner di Yahoo, Google, dll. Terus ya model iklan seperti apa yang dipajang sampai ngabisin dana segitu besar?

Seorang yang browsing internet, melihat banner dimanapun berada, akan menuju ke website yang dilink olah si Banner tentunya. Dan kemana larinya si link? Apakah dalam hal ini situs my-indonesia.info? Kalau benar, walah, jadi tetep lho mbak Adeline, ujung tombak informasi Indonesia ada di situs my-indonesia.info . Dan sayangnya, sampai November akhir tahun ini, situs my-indonesia itu acak kadut. Konten berantakan, dan kritik-kritik lainnya yang sudah beredar di Internet (termasuk blog saya ini). Situs itu SERASA ga worth it untuk didukung oleh jorjoran dana promo ke mana-mana selama 2 tahun (kondisi tersebut sebelum ramai-ramai terjadi).

Bagaimana seorang turis merasa nyaman melihat situs yang konten-nya ngaco, tidak lengkap?, memakai wordpress yang isi nya kosong, malah di tambah dengan ber-adsense di dalamnya?

Satu lagi yang penting diketahui, situs tersebut sekarang, saat ini, tampilan jadi lumayan bagus, kontent sudah rapi dan semantic code-nya terus mengalami peningkatkan. Mungkin para developer web tersebut merasa presure yang diberikan ke mereka dengan banyak nya mata membuat mereka kerja lembur siang malam untuk hasil terbaik, setelah dikritik sana sini. Justru saya salut dengan semangat Bung Ardi dan rekan-nya, karena saat pertama kali kasus ini saya tulis di blog saya, justru saat itu masih dalam kondisi memprihatinkan. Dan perlu diingat bahwa masih banyak pertanyaan belum terjawab seputar keamanan situs, server dan hal teknis lainnya, tapi saya yakin akan diperbaiki.

Sedang masalah e-marketing sendiri si situs saat ini menempati jawara google karena mengalami google dancing signifikan setelah ramai-ramai dibahas, dibantu teman-teman blogger dan berbagai media online yang membahasnya. Coba lihat sebulan 2 bulan yang lalu?

Lalu catatan ke-3, masalah etika-nya. Saya tidak tahu bagaiman Indo.com membuat perjanjian dengan Budpar. Tetapi apakah salah jika muncul pertanyaan menggelitik, kok kenapa semua booking hotel harus via Indo.com? Sambil menyelam minum air-kah? Duuuh, kok saya merasa tidak nyaman seperti ada monopoli agen travel wisata disini.

Jadi perlu diingat, jika dana tersebut dipermainkan dengan ukuran waktu, informasi yang blunder, maka selamanya menjadi pertanyaan buat semua orang. Ah sudahlah, situ dan Indo.com atur-atur saja bagaimana mempertanggungjawabkan dana itu bersama DPR terhormat. Kami cuma rakyat biasa yang njago ngritik dan banyak bacot, tidak level untuk mengerti cara kerja orang-orang atas.

 

 

PS :

Mbak Adeline Djelita, namanya beneran bagus :x , suka saya. Makanya dipilih jadi Judul postingan.. Met lebaran kurban yah, Mbak, met Idul Adha, maaf lahir bathin.

Detail Dagelan disingkat DD

Saya pernah diminta seorang client untuk Dumping (menumpahkan) data ke dalam sebuah account hosting. Accountnya sendiri cuman shared hosting (akun bagi-bagi dalam satu server). Dan begitu tahu task nya harus men-dumping 7GB data dalam bentuk CSV (data dalam bentuk text berasal dari excel), mata saya pun muter2 seperti ikon smiley YM. Bayangkan, satu file notepad 100 baris itu cuma berapa KB? Lha ini, Tujuh Giga bok! Mana server abal-abal pula. Saya jelaskan kalau dia butuh resources yang lebih untuk kebutuhan ini. Malah keras kepala, dan dia minta saya tidak usah ikut campur dalam aplikasi web atau apapun yang direncanakan. Akhirnya saya tegaskan kerjaan saya cuma dumping saja – ngga lebih. Dan dia sepakat, masalah aplikasi gampang bisa dia buat sendiri, katanya.

Untungnya si admin server memberikan koneksi SSH, akses khusus server yang memberi hak akses lebih ke dalam server. Mulailah kerjaan saya membuat file eksekusi untuk men-dumping data tersebut. Eksekusi file dijalankan di malam hari, sambil berharap si server di US itu ngga matek karena kerjaan aneh ini.

Kalau bicara masalah detail sebuah kontrak pekerjaan, sepertinya memang sering berada dalam ranah diam-diam. Kalau menerima pekerjaan yang saya sendiri sebagai Bos di dalamnya, saya tidak lupa selalu meminta detail dari client hingga sekecil-kecilnya. Sampai termasuk bagian-bagian yang butuh improvisasi dari saya sendiri. Karena tidak mau dibelakang hari malah menerima komplain karena kurang ini itu.

Itu baru posisi subcon atau outsource. Belum lagi kalau sebuah detail project yang ditangani secara kasak kusuk oleh tangan pertama dan pemerintah. Sering tidak jelas detailnya apa, tidak jarang salah asuhan terjadi disini. Si pembeli mintanya apa, si broker persepsi nya entah gimana. Walhasil, jika ada masalah, sering yang menjadi korban adalah si eksekutor project sendiri. Mungkin karena itu muncul namanya jasa konsultan, supaya ada pihak yang selalu memonitoring dan memberi masukan terhadap kelangsungan pekerjaan.

Kasus serupa tapi tak sama mungkin terjadi dalam sepekan ini. Sebagai developer yang dikontrak, mereka itu cuma mengerjakan sesuai dengan pesanan. Mengenai diskusi-diskusi si broker dan pembeli a.k.a pemerintah, itu bukan urusan mereka. Tetapi kondisinya jadi berbeda ketika muncul sorotan publik, si developer-lah yang menjadi kambing hitam pertama karena mereka langsung yang terlibat dengan product yang dipermasalahkan.

Tidak ada yang tahu sebenarnya dana gemuk itu benar-benar sebuah kegemukan yang sehat, atau malah kegemukan dengan cacing dan angin. Hanya si pembuat anggaran yang tahu, dan tentunya Yang Maha Kuasa. Rakyat sendiri akhirnya hanya menjadi penonton yang menikmati dagelan (lagi dan lagi) dari pemerintah.

Akhirnya saya mengucapkan selamat bekerja buat Mas Ardi dan rekan-rekan. Semoga semangat anda-anda tetap ada untuk hasil terbaik bagi kemajuan pariwisata Indonesia.

 

Oh ya lanjutan kisah saya diatas. Setelah data selesai didumping semua, gantian yang mumet adalah si empunya web geblek itu. Karena kelihatannya dia mau membuat semacam business directory list kalau melihat data-datanya. Istilah awamnya menuliskan sekian ribu juta data dalam kategori-kategori dalam selembar halaman web. Ya ngga masalah sih – mungkin saja dibuat. Tetapi ini dalam kelas shared hosting abal-abal dengan memori limited edition.

Pokoknya tugas saya selesai, tak tinggal tidur nyenyak ngebayangin si empunya maki-maki sendiri…

Bertaruh

Illustration for GamblingTeman-teman tentu tahu arti bertaruh. Istilah kasarnya berjudi.

Kalau di film-film, berjudi diinterprestasikan dengan permainan kartu. Bertaruh dengan sekian banyak kartu-kartu untuk mendapatkan kemenangan. Kartu dikeluarkan satu persatu, mengikuti strategi dan irama permainan.

Ada tipikal penjudi/petaruh yang selalu tahu kapan harus entry – masuk, kapan harus berhenti. Walaupun kartu pamungkas belum sempat dikeluarkan, tetapi jika irama permainan tidak memberi peluang signifikan untuk menang, maka sudah sepantasnya ia berhenti.

Tetapi ada juga tipe penjudi/petaruh yang “what ‘D Hell”. Pokoknya keluarkan sampai sehabis-habisnya hingga kartu pamungkas dan seluruh dana dipertaruhkan. Dengan asumsi “siapa tahu kartu lawan sebenarnya tidak sehebat irama permainannya”.

Dan kalau saya? Lebih memilih menjadi penjudi tipe pertama. Jika memang kartu-kartu yang sudah saya buka tidak juga membuka peluang, maka “kartu AS hati” tidak perlu keluar. Permainan selesai. Kita akhiri saja dan memulai putaran taruhan baru.

Oh My-Indonesia … Oh My-God

 

My-Indonesia Website
Ngga habis pikir. Masih aja ada yang kejam dengan kondisi Bangsa yang semakin sulit.

Pantaskah situs ini berbudget 17.5 Miliar ?

 

Ratna Suranti, Kasubdit Promosi Elektronik Direktorat Sarana Promosi Depbudpar mengatakan dana untuk pengembangan situs ini pada 2006 mencapai Rp 2 miliar. Sedangkan pada 2007, dana yang disiapkan mencapai Rp 5,5 miliar.

“Untuk 2008 disiapkan investasi Rp 10 miliar. Itu dana untuk pengembangan situs dan promosi. Dana itu didapatkan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-red),” ujar Ratna.

Mahal dimananya? Design? Server? Aplikasi? atau Promosinya?

 

“Konten yang dijagokan dalam situs ini, ujar Ratna, mencakup beragam tempat tujuan wisata. “Kekuatannya adalah database tujuan yang beragam,” Ratna menambahkan.”

Databasenya belum lengkap lengkap lengkap lengkap sampai sekarang (katanya sampai 2007 udah berbudget 7.5M??). Mungkin untuk server, aplikasi dan design sahaja butuh waktu 2 tahun kali yak?

 

“Situs ini didukung oleh empat server yang berlokasi di empat benua, yaitu di Amerika Serikat (Benua Amerika), Singapura (Asia), Eropa, dan Australia. Lokasi server di empat benua itu dimaksudkan agar pengguna internet mancanegara yang mengakses situs ini secara otomatis dilayani oleh server terdekat.”

Emang harga Dedicated Server termahal saat ini dunia berapa sih?

 

“Selain itu, My-Indonesia.info menurut Ratna telah dioptimalkan sehingga pencarian kata kunci ‘indonesia info’ atau ‘indonesia tourism’ di mesin cari Google akan menempatkan situs itu pada posisi atas. Ratna mengatakan, pada 2006, 56 persen wisatawan yang datang ke Indonesia mencari informasi tujuan wisata dari internet. “

Yakin telah optimal? untuk KW “Indonesia Info” masih kalah ama situs Profil artis. Untuk KW “Indonesia Tourism” masih kalah ama situs pariwisata Jogja.com.

 

Dari sisi design sendiri, jujur gue berani bilang Katrok. Kenapa ga ngikutin trend style Web yang Glossy ala web2.0 yang lagi berkembang sekarang? (coba deh si Mbak Ratna jalan-jalan ke sini atau sini).

Untuk Aplikasi, seharusnya bisa pakai fitur-fitur dynamic dari layanan Google Maps kek (ini malah make peta dari flash yang cuman bisa lihat titik-titik merah doang..), atau aplikasi-aplikasi dengan genre web 2.0 dan social networking site. Nah ini,… RSS Feed aja gue ngga nemuin! Selain logo-logo Bookmark ini itu yang entah ada feednya atau tidak.

Untuk google map sendiri, sebenarnya gue rada geuleuh, kapan kita bisa bikin layer dan marker peta yang komplit kayak US ituh :( ? Seharusnya ada yang memulai dari sekian banyak developer di Indonesia rayah ini. Mumpung ada budget segitu, kenapa ga coba dimulai, menjadi perintis. Pasti juga akan mendapat sambutan meriah di kalangan developer website lainnya.

Sebagai tandingan situs sejenis dari negara tetangga, gue suka ama situs pariwisata Thailand nih. Cocok ama selera gue. :x

Review lainnya yang sangat menarik dari sisi design dan content bisa dilihat di blog ini . Thanks Om Ray buat reviewnya.

UPDATE :

Opini dari sisi server dan mesin belakang website ini ada di blog Mas Andri.

Opini dari sisi Internet Marketing, SEOKita, Brokencode dan Dexno.

Komentar menarik dari yang pengalaman mbikin situs pemerintah Mas Edo.

Supaya adil, ini tanggapan dari pemilik-pengelola situs tersebut. Namun tetap belum rinci menurut gue. :-w

Jawaban menarik dari salah seorang developer situs tsb, patut dinikmati dengan secangkir kapucino dari Mas Ardi (selamat bekerja Mas.. :beer: ).

KESIMPULAN sementara :

Tentu ini harus diusut,.. terutama angka 7.5M tersebut. Karena duit tersebut untuk 2 tahun mengembangkan web dengan hasil seperti ini. Harus dikritisi dimana efisiensinya. Karena duit segitu besar.. apalagi buat saya ..

Dan tentunya untuk kedepan, dengan semakin banyaknya pakar, praktisi yang melirik dan membicarakan ini di blog, forum, milist, dan media-media lain, harapan saya sih pemerintah jadi mawas diri. Dan developer web ini sendiri makin serius memberikan hasil terbaik. Semogaaaaa……. (padahal developer web-nya ndiri cuma kuli, yang bandit noh Broker-nya.. [-( ).

Dan semoga juga, broker-broker proyek IT serupa tapi tak sama, diwaktu akan datang makin pinter untuk membuat proposal yang make a sense. Pemerintah mungkin GuoBlookk, tetapi yaa kita-kita ini toh yang harusnya mencerdaskan pemerintah. Jangan malah memanfaatkan kebodohan pemerintah tersebut, akhirnya sama-sama masa bodoh.

Perkembangan selanjutnya, ntar di post-post yang lain.

Saya sendiri mau kerja dulu, beresin proyek orang yang ga beres-beres, sambil bermimpi kapan ketiban proyek pemerintah...

 

 

PS : Ini bukan karena gue sirik ga kebagian Job Lhoo.. Suerr..huekekee..!! Dan Opini-opini diatas adalah tanggung jawab pemiliknya masing-masing.

Rethinking Part 2

Kalau Ndoro bilang blog ini cuma trend sesaat, mungkin untuk sekedar blog numpang nyeleb benar adanya. Tetapi justru di ruang-ruang publik internet lain adalah sebaliknya. Sejumlah diskusi panas di beberapa forum-forum internasional dan situs social network sudah melebar kemana-mana. Gesekan-gesekan di level masyarakat dan grassroot kedua negara sudah bukan lagi diskusi sehat tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sudah pada saling memaki, merendahkan harkat martabat masing-masing negara, resolusi dengan berperang, hingga mengancam untuk saling menyabotase tahun kunjungan wisata 2008 kedua negara, entah secara opini atau dalam bentuk fisik. Apakah kelakuan seperti ini sudah termasuk bentuk kejahatan intercontinental/international?

Coba kita lihat kondisi Malaysia sendiri, yang kini diliputi kecemasan akan Ethnic Cleansing setelah demo yang dilakukan sebagian komunitas India di Malaysia (HINDRAF) beberapa waktu lalu. Dan sampai sekarang isu-nya terus berkembang mengarah ke berbagai sentimen lainnya. Memang situasi ini sangat kental oleh unsur politik. Membuat saya teringat juga kalau kondisi politik internal yang sama tidak jauh berbeda terjadi di Indonesia dalam kilasan-kilasan suram sejarah bangsa ini. Sebut saja setiap masa-masa peralihan kekuasaan yang punya daftar hitam. Dan sampai sekarang pun masih ada sedikit intrik berupa sentimen agama, dibasuh oleh berita-berita ajaran sesat dan Islam Garis Keras. Tidak lupa pula memasukan konflik vertikal disintegrasi yang tak kunjung selesai.

Memang ada usaha kedua negara untuk me-rekonsiliasi dan membentuk tim kerja mengurusi masalah ribut-ribut budaya ini. Tetapi yang terbayang di kepala saya adalah para petinggi-petinggi cuma duduk-duduk saja di tiap rapat pertemuan berganti-ganti di kedua hotel megah kedua negara. Menghabiskan biaya setiap rapat untuk menentukan jadwal rapat lainnya.

Semoga negative thinking saya di atas salah. Tolong buktikan bahwa saya salah.

Saya tidak bicara Malaysia sebagai “Malingsia. Apalagi mengatai orang-orang Indonesia sebagai Mat-Minah Indon. Karena jika berpikir dalam posisi saya dengan KTP Indonesia, malah saya lebih cenderung berpihak pada Indonesia. Tetapi coba kita meletakkan permasalahan secara tepat dalam ruang hubungan 2 negara yang seharusnya. Kalau perlu dalam kerangka sebagai sesama manusia. Serupa dengan seharusnya Indonesia bisa meletakkan masalah-masalah disintegrasi bangsa dan konflik horizontal dalam kerangka kemanusiaan secara utuh.

Sekedar mengingatkan kembali kepada kita sebagai warga Indonesia Raya. Bahwa jangan pernah berpikir bahwa negara lain adalah salah adanya sebelum kita berpikir apa yang salah pada diri kita. Mengutip sebuah pemikiran dari Senopati Wirang, “Self Awarness negara kita ini yang kurang”. Bullshit kalau kepala kita men-dogma-kan hidup dalam berhubungan antar negara adalah aman-aman saja. Harus disadari bahwa sudah kodratnya manusia untuk saling memiliki kepentingan satu sama lain. Begitu pun dalam ukuran negara-negara. Sudah kodratnya dalam hubungan antar negara, suatu negara memiliki kepentingan terhadap negara lainnya. Jika negara lain mengatur segala cara untuk bisa memaksakan kepentingannya itu kepada negara kita, itu adalah memang tugas mereka, kepentingan mereka, politik mereka. Pertanyaannya, seberapa besar kita waspada? Dan seberapa besar kita bisa mengedepankan kepentingan kita dalam berhubungan antar negara-negara dunia? Dan itulah tugas kita, saya dan siapapun yang mengaku merah putih di dadanya.

Kembali kepada ribut-ribut kusir maling budaya yang terjadi. Saya jadi berpikir yang ribut-ribut diberbagai media forum, social network dan portal online tersebut bukan lagi cendikia-cendikia kedua negara, bukan lagi orang-orang pintar, apalagi pejabat-pejabat negaranya. Mungkin kelompok-kelompok sosial menengah keatas ini sudah tidak peduli lagi dengan masalah ecek-ecek seperti ini, dan lebih baik memikirkan prestige dan gaya sosial hidup masing-masing di keseharian. Mungkin saja seperti anda? Dan mungkin juga saya…

How's Green Are You?

EnviroSaya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. Jujur saja lebih menarik dari Prenster™ dan MySpace memang. Karena membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi interest buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!

Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi thirdparty yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi “Seberapa hijau saya” yang dalam bahasa Inggris dibaca “How’s Green Are You?

Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan resource Hosting, Space dan Bandwith. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya yang hemat dan ga berputar-putar bikin komputer dan user lelet puyeng-puyeng! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.

Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-charge laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang “tidak jelas kebutuhannya”.

Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. Saya nyadar kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya ngerti musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.

Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara bos-bos NGO di Bali sono pada ngobrolin pokok-pokok bahasan Global Warming yang masih “melangit”. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.

Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus disupport demi lakunya pasar kendaraan bermotor.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah sudzon-nya saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.

Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat Feed Reader atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat Google Gears ??