How’s Green Are You?

EnviroSaya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. Jujur saja lebih menarik dari Prenster™ dan MySpace memang. Karena membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi interest buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!

Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi thirdparty yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi “Seberapa hijau saya” yang dalam bahasa Inggris dibaca “How’s Green Are You?

Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan resource Hosting, Space dan Bandwith. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya yang hemat dan ga berputar-putar bikin komputer dan user lelet puyeng-puyeng! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.

Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-charge laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang “tidak jelas kebutuhannya”.

Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. Saya nyadar kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya ngerti musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.

Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara bos-bos NGO di Bali sono pada ngobrolin pokok-pokok bahasan Global Warming yang masih “melangit”. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.

Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus disupport demi lakunya pasar kendaraan bermotor.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah sudzon-nya saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.

Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat Feed Reader atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat Google Gears ??

Tags: , , ,

20 Responses to “How’s Green Are You?”

  1. didut from INDONESIA Says:

    1 capucino-nya please :D

  2. aprikotg from INDONESIA Says:

    wedew bahasan berat, saya cuman mau bilang sya bingung pake pacebook :P

  3. annots from INDONESIA Says:

    How green are YOU bukannya Seberapa hijaunya KAMU??? :”>

  4. Leksa from INDONESIA Says:

    @didut : katanya ke bali :-/
    @aprikot : hoho.. besok ganti yg ringan2 ah..
    @annots : bermaksud ganda Mas, sekaligus nanya situ udah tuek blom? :p

  5. sarah from INDONESIA Says:

    Baca postingnya sambil menikmati secangkir Kapucino.. :)>- :d

  6. adit from INDONESIA Says:

    oooh ada hubungannya juga blog walking sama emisi gas buang ….

    jd kesimpulannya, jangan ngeblog kalo nggak ada gunanya…. kecuali saya boleh2 aja (halah) :D

    btw bro postingannya bagus, anggota greanpeace eh ?:d

  7. kuncigerbang from INDONESIA Says:

    sama kayak komen ke 2, bingung pake facebook 8-|

  8. Leksa from INDONESIA Says:

    @sarah : kapucino sekarang muahal :((
    @adit : wew jagoan Ruby kitah ini :x .. saya bukan anggota GP, saya Peacenya ajah :D
    @kuncigerbang : sama sih,.. saya juga 8-|

  9. fitri mohan from UNITED STATES Says:

    saya sama sekali nggak ijo kalo gitu. mengingat betapa tergantungnya saya sama internet dan antek-anteknya. :-?

  10. funkshit from INDONESIA Says:

    saya sudah lupa.. pernah daptar fesbuk belom ya ?:-?

    btw, fescbuk ke global warming.. wah bener2 nekat nich nyambungin nya :-\

  11. venus from INDONESIA Says:

    facebook-ku juga nganggur. multiply, facebook, twiter, jaiku, wp.com, blogspot, tumblr….

    beuh, gak abis2 kalo semua kita urusin :D

  12. nisa from INDONESIA Says:

    add sayah donk

  13. Leksa from INDONESIA Says:

    @fitri : hhfff…. ini saya juga.. :-<
    @funkshit : hahaha.. dari ngeblog ke Global wamning gimana? bisa lebih nekat kek nya >:)
    @mbok venus : walah si mbok,.. mau yg laen? cek kumpulan web 2.0 di http://www.feedmyapp.com/
    @nisa : nah ini godaan lagi :-<

  14. ekowanz from INDONESIA Says:

    mas kok kapucino saya belum datang yah?

  15. rozenesia from INDONESIA Says:

    QUOTE: malah ada yang mungkin download sesuatu yang “tidak jelas kebutuhannya”.

    *tertohok* :o

  16. tukangkopi from INDONESIA Says:

    Ah! Berat kali bahasan situ, bro. Udah macam expert aja. Udah pantaslah situ jadi menteri lingkungan bro :d

  17. Leksa from INDONESIA Says:

    @ekowanz : warung tutup mas, weekend buka khusus cewe :">
    @rozonesia : haha kethuan download aneh2 :D (bagi2 nopo..) :-$
    @tukangkopi : hee… dari pada tak bahas hubungannya ama tambang minyak/batubara,..kehilangan lahan kita Bro… :))

  18. tukangkopi from INDONESIA Says:

    perasaan gw tadi pagi dah komen disini deh. kok ilang ya? :((

  19. iman brotoseno from INDONESIA Says:

    rethinking ? serat wulanreh ……..

  20. yanworks from INDONESIA Says:

    Lets go Green. mari ikut membantu untuk menghijaukan bumi kita, paling tidak dari hal paling mudah tapi susah - Please, Jangan Buang Sampah Sembarangan.

Leave a Reply