Bebas

Standard

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/icHDhsAz610" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

 

“..On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.


Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“


Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly..”

 

Bebas, dalam interprestasi kondisi sosial masyarakat yang selalu ribut-ribut dengan kekuasaan dan posisi, sering diidentikkan dengan tidak bisa diatur, sok melawan arus, tukang nyolot dan perusuh dalam kehidupan absolut materil yang mapan.

Padahal tidak selalu demikian. Gie sendiri memilih untuk bebas menjauhkan dirinya dari bagi-bagi kue dimasa revolusi karena tidak menyukai sebuah gaya lama dalam proses kekuasaan. Siapa yang menyangkal jika Gie sendiri berperan dalam menciptakan revolusi 60-an – mengkritisi Soekarno, dan bisa jadi turut andil menciptakan opini publik tentang kegagalan Soekarno sehingga beliau turun dari kursi kekuasaan. Tetapi dibalik itu, Soekarno sendiri adalah idola favoritnya.

Gie meninggalkan segala gemerlap tawaran politik dan lebih memilih untuk menjadi sosok dengan side opinion. Berada dalam jarak dekat dengan pokok masalah bangsa, tetapi tidak di dalam sebuah sistem yang memaku cara pikir dan berkontribusi. Gie menurutkan kata hati untuk menjadi pejuang intelektual yang bebas dengan prinsipnya : “Patriotisme tidak mungkin ditumbuhkan melalui hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang baru dapat mencintai sesuatu secara sehat apabila dia mengenal dengan baik akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia hanya bisa ditumbuhkan dengan melihat Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.

Mungkin memang terlalu naif jika kita bicara bebas, kebebasan layaknya seorang Gie, apalagi bagi kita yang hidup di zaman sekarang yang serba dekat dengan materi. Kekuasaan dan politik juga terkadang menjauhkan diri untuk berpikir bebas, harus selalu setia pada TOR, aturan main dalam berpolitik, dan mungkin menjilat pantat penguasa untuk bertahan. Ukuran materi dan kemakmuran pribadi pun dengan mudah diraih jika berada dalam tataran hidup berslogan kekuasaan. Tidak perlu memikirkan akhir bulan duit dikantong sisa berapa, hidup dengan tenang dalam kursi keseharian dan tidak perlu berkeluh kesah dengan masa tua.

Semua dari kita pernah, sedang atau akan melalui masa muda yang penuh gairah kebebasan. Dulu, saya juga pernah dicekoki dipaksa disarankan oleh senior kampus, untuk masuk ke dalam himpunan mahasiswa. Sebagai makhluk polos yang baru lepas dari putih abu-abu, pandangan saya waktu itu si Himpunan Mahasiswa sendiri jauh dari sistem yang “benar”. Mereka berdialektika bahwa jika saya ingin merubah sistem yang saya lihat salah, maka masuklah ke dalamnya dan ubahlah menjadi lebih baik. Sebuah ungkapan yang mungkin saja benar. Dan apa daya seorang anak baru dalam kondisi dipaksa menurut, dengan setingan kekerasan mengharuskan menjadi pribadi tegar, akhirnya harus menurut juga.

Lalu bagaimana dengan yang tidak menjadi bagian dari slogan himpunan? Bisa ditebak, yaitu menjadi bagian dari orang-orang yang malah tidak bebas dan terhimpit oleh opini sosial sekitar. Dari itu saja, ditahun 2001, bisa saya rasakan betapa kebebasan telah menjadi barang yang absurd. Dan saya pun menikmati berada dalam sistem yang hipokrit dan semu seperti itu. Sebuah model dari organisasi pemuda zaman sekarang mungkin.

Padahal dalam membangun sebuah sistem yang mapan, tidak pernah lepas dari proses dialektis. Selalu dibutuhkan orang-orang yang justru memiliki pandangan berbeda. Kalau istilah seorang teman, “bermain peran”. Tan Malaka sendiri menghabiskan 539 halaman di Madilog hanya untuk menjelaskan pentingnya tesis dan anti-tesis dalam proses membangun sintesa peradaban yang sehat.

Saya juga percaya masih ada orang-orang yang tidak sekedar mencari aman di kursi-kursi empuk berslogan kekuasaan. Masih ada yang dengan gigih berusaha berkata benar, bebas berpendapat, walaupun kursi nya tidak akan pernah bergeser ke lantai lebih atas karena teriakannya. Seperti juga sepeda motornya tidak akan pernah diganti layaknya lagu Oemar Bakrie.

Zaman terus berubah. Fashion terus berganti, bahkan ada yang berulang. Mungkin saja idealisme layaknya Gie dan eksponen 66 lalu kembali muncul dalam tataran negeri ini. Atau mungkin model baru dalam beridealisme akan muncul menggeser pola-pola pikir lama mengenai kebebasan.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di depan. Bahkan Gie sendiri mungkin tidak bisa menebak apa yang terjadi terhadap Indonesia Raya ini setelah 38 tahun ditinggalkannya. Bisa jadi jika ia masih hidup di masa sekarang, menjadi seorang profesor sosial seperti abangnya, Arief Budiman. Mungkin juga ia menangis dalam tulisan-tulisan artikelnya di Kompas melihat anak-anak bangsa sekarang? Atau memilih salah satu kursi berslogan sebagai pemanis hari tua dengan kebanggaan sejarah aktivitas sosial kebangsaannya? Atau mungkin memilih menjadi blogger seperti saya? Ah, tidak ada yang tahu. Yang pasti seperti kutipan dalam bukunya sendiri dia menulis “

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Tapi saya lebih percaya dengan sebuah quote yang pernah saya dengar entah dari mana, “Pemberani itu adalah orang yang berani menjalani hidupnya walau serumit apa pun”.

Berani menghadapi hidup yang rumit, dengan paradigma bebas untuk memilih. Saya percaya itu sulit. Seperti pagi-pagi ini diantara takbir, saya kembali tercenung setelah Mamak saya nun jauh disana memberi kabar walau tanpa pesan tersurat, “Om xxx, teman almarhum ayah mu, menanyakan kabar kuliah mu, .. Sekarang beliau sudah menjadi yyy di Departemen zzz di sini..” Mak..Mamak…sebuah ciri khas yang selalu saya banggakan, pendek, tidak mengiba apalagi memaksa.

 

Mungkin lagu yang sedang berputar di PC ini patut saya kirimkan ke beliau, sebelum saya berangkat Sholat Ied,

“..sampaikanlah pada ibuku – aku pulang terlambat waktu – ku akan menaklukkan malam – dengan jalan pikiranku..”.

 

Tambahan :

Joan Baez adalah penyanyi favorit Gie, terutama lagunya yang di atas, “Donna Donna”. Maaf saya streaming diatas via Youtube. Jadi kasian deh loe yang Youtube nya di blok kampus huakakakak… Versi MP3 nya boleh saya share. Atau dengerin aja versi Sita RSD dalam OST. Gie. Lagu tersebut (dan lagu-lagu Joan Baez lainnya) sangat lekat dengan kondisi masa 60-an, dimana kondisi seluruh dunia, termasuk Indonesia sendiri saat itu terpolarisasi dalam politik perang dingin global. Sehingga piring hitam Joan Baez milik Gie sempat ditahan imigrasi Australia ketika dia berada disana. Joan masih terus bernyanyi hingga sekarang, dengan khas folksong-bergitar Amerika-nya, membawakan lagu-lagu bertema Human Rights. Single lainnya yang dikenal adalah “We Shall Overcome” (yang di kampus GT™ pasti tahu lagu ini).

 

Postingan ini dipersembahkan buat semua pembaca untuk mengenang kembali semangat seorang Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969). Yang dimasanya memiliki interprestasi berbeda terhadap revolusi Indonesia. Bahkan merelakan suatu kebutuhan kodrati dari manusia untuk perjuangannya, yaitu “hidup sendiri” :

“Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. (Surat Seorang Teman dari Amerika – Dalam Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran oleh Arif Budiman, 1993)

14 thoughts on “Bebas

  1. maaf, saia OOT..
    masnya khan komeng begini
    “tapi ternyata sebelomnya ente nikam ane,”
    saia benul-benul ndak ada maksud untuk menghina bloger lain. karena itu tulisan satir. Dan, munkin mas orang yang kedua yang ngrasa ditikam he…saia jadi ndak kfenak. ah ya, orang yang fertamax ada disini
    dan fostingan saia tentang website itu, sama sekali tidak mengkritik blogernya, tetafi mengkritik femilik website tersebut. Maafkan saia mas, saia sedang belajar satir untuk menyindir, tetafi malah menyindir fihak yang bukan saia maksud untuk disindir.
    sorry OOTna kefanjangan. Yang jelas, saia sama sekali ndak ada maksud untuk menghina fihak bloger. Saia cuma menyertakan link tersebut untuk melakukan trekbek doggie-style *halah*

  2. Wew… Joan Baez ya, masih ada hubungan darah sama John Baez tuh. Matematikawan yang terkenal sama “This Week’s Finds in Mathematical Physics” nya, bisa dibilang prototype blog, situs statis tapi diupdate jadi (seakan-akan) dinamis. Masih ada situsnya tp dah ga diupdate keknya.

    Ah, OOT ya? Maap :P

  3. Gie, In Memoriam ya om ^^

    Bebas… Adakah aktivis masa kini yang memilih ‘bebas’, tidak terjun ke pergulatan dunia politik seperti yang dilakukan Gie menjelang akhir-akhir demonstrasinya dulu… ahhh…

  4. @hoek : nama situ mirip ama Gie.. :D

    @cewetulenkebangetan : ah Nja,.. situ mah bawaan orok sukanya diem :p

    @axlarry : Dasar Maniak Sains :D tapi gue blom tahu tuh Matematikawan Baez..

    @rozonesia : cmn mengenang,.. kebetulan pengen melihat Gie dalam kacamata “kebebasan”

  5. OOT, ada temen gue namanya Sigit yg sangat mengidolakan Soe Hok Gie, so nama cybernya Soe Hok Git, hahahaha..Soe Hok Git ngarep jd pengganti Soe Hok Gie masa kini!! boleh ngga???
    waktu ngobrol dg bapak Soe Hok Git, diriku dicekoki ttg revolusi and something like that, at the end of the conversation, ada pertanyaanku yg ngga bisa beliau jawab. Tentang kebebasan dan revolusi..numpang tanya nih oom..kalo orang yg membela revolusi (tapi tidak ikut turun ke lapangan & ikut berjuang dg para agen perubahan), apakah statusnya = seorang revolusioner?
    yes?no?

    somehow Soe Hok Gie itu orang yg sangat berani..

  6. @rozonesia : huahaha.. kopdar yg memBEBASkan kepenatan :x

    @Benx : nick situ sama kayak nick benxjelek.blogspot.com :D

    @dodot : :)>- juga

    @Domba Garut : Waah omm.. kalo situ sih udah pelaku kebebasan :) jauh2 ke negeri orang untuk mem”bebas”kan .. SEMANGAT Om Luigi :D

Leave a Reply