Ketika Soeharto

Soeharto-SoedirmanKetika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan “JRENG”, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.

Kok bisa saya tidak tahu? Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini. Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih imut muda dengan otak yang belum tercemar suka sok cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.

Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya bertarung dengan sampah dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi “juga dengan KAGET”. Mungkin Kang Heri, Om Denden dan Uncle Goop tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.

Saya langsung meng-SMS Anto yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus “sms to group” lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk ngurusi calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih nguli lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. Lha saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.

Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.

Saya cuma bisa mendehem saja melihat riweuh-riweuh itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga – entah baik atau buruknya.

Seperti kata para simpatisan Nixon “si Presiden Watergate”, mereka berani bicara lantang dengan bangga “Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.”

 

*Gambar di-scan dari “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.

Soeharto

Mercusuar Pandansari YogyaBasi banget membahas Eyang satu ini. Jasadnya juga sudah beristirahat di Astana Giri Bangun. Tetapi apa salah nya kalau saya menulis tentang beliau? Terserah orang-orang mau bilang “capee deeehh..Soeharto lagee, Soeharto lage..”. Kalau bagi saya justru penting meramaikan wacana ini. Karena mengingatkan saya dan pembaca blog ini, bagaimana seharusnya menyikapi berita hingar bingar perihal Soeharto, sejak beliau langser hingga meninggalkan kita semua 2 hari lalu. “Pamali tau mengungkit-ngungkit kisah orang yang sudah ngga ada”. Halahh… Lebih baik pamali daripada beliau di “alam sana” meninggalkan tanggungan dan menjadi arwah penasaran.

Bahwa sesungguhnya manusia sakit itu adalah biasa. Bahkan kematian adalah keniscayaan dari hukum dunia yang fana. Tidak ada kehebatan, apalagi sampai patut untuk dilebih-lebihkan mengenai itu. Tetapi kemarin-kemarin, suatu kewajaran tersebut justru menjadi suatu hal yang luar biasa untuk Soeharto. Mengalahkan keluarbiasaan bencana banjir di Timur Jawa, atau melambungnya harga kedelai karena langka di pasaran nasional.

Kenapa semua orang ribut-ribut membahas soal kasus kejahatan Soeharto? Sejak almarhum mendapat Surat Keputusan Penghentian Proses Penyidikan (SKP3) atas kasus-kasus pidananya, sebenarnya polemik mulai berkembang. Keputusan spekulatif dari Kejaksaan Agung di Mei 2006 itu melengkapi jalan panjang pengusutan kasus perdata Soeharto hingga ajalnya menjelang. Kesempatan besar untuk mengusut 7 yayasannya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kerugian negara juga kemudian tersendat. Namun anehnya dalam rentang waktu satu setengah tahun, dengan kondisi kesehatan yang turun naik, tidak terlihat itikad baik dari autoritas hukum Indonesia maupun pihak Soeharto CS untuk menyelesaikan sisa-sisa dari sekian banyak catatan kejahatan negara beliau. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana menggemanya kemeriahan Reformasi 1998 untuk mengusut segala penyimpangan KKN Soeharto, yang ini mendasari munculnya TAP MPR No. 11 Tahun 1998. TAP MPR tersebut adalah acuan dasar hukum tertinggi yang terus mendorong setiap organ hukum kita bergerak mengusut segala kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terutama sebagai kekuatan hukum untuk menyidak kasus KKN yang dilakukan oleh pejabat negara.

Mengingat prelude diatas membuat saya berpikir, apakah sedemikian lemahnya hukum kita sehingga bisa dijadikan komoditas politik. Suara-suara sumbang sudah mendehem jauh-jauh hari untuk berhati-hati akan kekuatan kroni-kroni Soeharto dan orde baru. Karena sebenarnya Soeharto sendiri bisa jadi adalah komoditas politik dari kroni-kroni nya sendiri, yang sampai saat ini berlindung, bersembunyi dan terus mengatur strategi untuk menyelamatkan diri.

Lalu isu berkembang menjadi tawaran win win solution dari kejaksaan kepada Soeharto cs. Tepatnya sejak almarhum kembali masuk ke Rumah Sakit Pertamina karena kondisi kesehatannya yang cenderung menurun, dan bahkan sempat beberapa kali divonis kritis. Semua orang panik di awal Tahun Tikus ini. Pemerintah seperti kebakaran jenggot, mengingatkan saya pada saya sendiri yang suka dikejar deadline karena menunda-nunda pekerjaan. Media-media raksasa negeri ini juga tidak mau kehilangan moment. Seperti seragam – serempak kontan menyambut kondisi kritisnya beliau sebagai lahan menggenjot rating.

Saya sendiri sampai bosan menunggu kapan beliau akan meninggal saat itu. Karena tiap hari ada saja berita-berita, entah di koran atau televisi yang seolah-olah menciptakan keprihatinan dan ketakutan akan kehilangan sesosok agung bagi negeri ini. Media memang lahan yang basah untuk menciptakan opini publik. Seperti dejavu, saya jadi teringat bagaimana dulu keseragaman mainstream media-media kita di jaman Soeharto saat masih berkuasa.

Dan opini-opini yang bermunculan kemudian, membulat menjadi sebuah isu “memaafkan”. Setingan yang luar biasa, mengingatkan saya juga terhadap strategi BIN dan BAIS di zaman orde baru sebagai Prajurit Khusus Perang Fikiran ala Soeharto. Memang hanya beliau, yang sanggup membuat setingan berkelas serupa ini. Tidak heran jika gelar Bapak Intelijen Indonesia patut disandang oleh almarhum.

Dan setelah beliau mengakhiri hidupnya, dikubur dan tenang malam di Astana Giri Bangun, apa yang tertinggal dari hingar bingar tersebut? Malam ini saya hanya melihat di televisi menayangkan berita tahlilan di Pendopo Ndalem Kalitan Solo.

Padahal saya berharap ada sebuah jamuan Open House ala Pejabat-Pejabat Negara/Daerah di hari Idul Fitri, lengkap dengan ucapan pembuka Open House dari pejabat-pejabat itu biasanya, “Saya mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada semua hadirin dan masyarakat yang hadir di Open House kami” – dan masyarakat pun menyerbu semua panganan yang belum tentu mereka tahu itu adalah hasil gaji atau korupsi.

 

 

*Gambar mercusuar diambil dari Ekowanz.info. Sebuah editan sephia photo mercusuar, yang gagah namun sangat hening pada akhirnya.

Campaign atau Kampanye?

Cuma lagi iseng. Udah nemu iklan kampanye yang sama 2 kali di Internet, dan sekali di jalan.

Stop Using Plastic

Sepengetahuan saya sampah plastik paling banyak dipakai mbok-mbok di pasar rakyat, dan pembantu-pembantu rumah tangga.

Semoga mereka cukup ngerti bahasa bule walau sekedar dari telenovela-telenovela bilingual kita :D

 

*gambar menumpang di Hosting si Matt, make akun om didut .

Sejarah

History TimeSelesai SMP di sebuah kota kecil, saya masuk sebuah sekolah asrama dimana kental dengan nuansa pendidikan dan pengasuhan ala orde baru. Bahkan ketika tahun 1998, saat perubahan politik yang drastis terjadi di luar pagar sekolah, saya bisa dibilang tidak tahu apa-apa. Langit Magelang yang memayungi sekolah saya tetap biru, rutinitas sebuah asrama tetap berlangsung seperti biasa dan makanan tidak pernah kurang sama sekali, walau menunya memang mengalami perubahan terpengaruh harga pasar.

Beruntunglah saya memiliki guru-guru sejarah hebat di sana. Mereka adalah orang-orang yang hebat bagi saya karena mengikuti kondisi aktual bangsa layaknya peneliti sejarah dan sosial. “Segala sesuatu yang berlaku kini adalah akibat hari lalu”, itu sedikit pemahaman yang saya peroleh dari mereka.

Seorang ibu guru sejarah yang mengajar saya di kelas 1, sangat pintar dalam menjelaskan sejarah dunia dan kerajaan-kerajaan Indonesia kuno. Beliau bisa bercerita hingga keluar dari textbook, membawakan dongeng-dongeng dan legenda menjadi penghias sebuah kronologis sejarah. Oh ya, terlebih lagi beliau masih single dan menawan. Saya menaruh salut kepada beliau, bisa mengajar di sekolah seperti ini dengan umur yang masih muda.

Kemudian di kelas 2 SMU, saya bertemu dengan seorang guru sejarah yang tidak kalah hebat. Si bapak ini dulunya adalah bagian dari tim yang mengelola sebuah meseum pejuang terkenal di Jakarta. Namun karena alasan tertentu, lalu beliau memilih menjadi guru di sekolah ini. Dengan bekal pengalamannya yang segudang tentang sejarah pra-pasca kemerdekaan Indonesia, lebih dari cukup untuk membius saya dan teman-teman menelusuri sejarah bangsa ini. Selain sebagai pencerita yang hebat, si bapak ini juga enak diajak berdiskusi. Saya kadang-kadang saat malam minggu, ketika tidak ada acara di luar asrama, memilih untuk bermain ke rumahnya. Sekedar nonton tv, menikmati pangan gratis dan juga ngobrol banyak tentunya.

Ketika kelas 3, saya tidak bertemu mereka lagi, karena mengambil kelas IPA. Namun saya masih suka main ke rumah si Bapak, atau ke tempat si Ibu. Yah lumayan kalau bisa main tempat si Ibu, sekalian cuci mata ke daerah asrama perempuan. :) )

Pernah saya bertanya ke si Ibu Guru sejarah itu. Kenapa beliau selalu mengambil kelas mengajar di kelas 1. Alasannya sederhana, beliau merasa si Bapak guru sejarah lebih senior, pengalamannya lebih banyak. Dan satu alasan lainnya yang menarik. Karena semakin tua suatu sejarah, maka semakin ringan untuk mendeskripsikannya, semakin banyak sudut pandang yang sudah memiliki bukti dan pemahaman yang baik.

Benar memang kata si Ibu. Bapak guru sejarah saya memang sangat lihai dalam meladeni diskusi tajam seputar cerita pasca kemerdekaan yang memang terlalu gamang bagi remaja kelas 2 SMU. Berita-berita di koran, bukti-bukti baru setelah keruntuhan Orba, tentunya membuat seorang guru sejarah pasca kemerdekaan harus ekstra kerja keras dalam menjelaskan.

Saya jadi ingat momen-momen diskusi kecil saya dengan si Bapak guru dulu. Beliau sangat sabar dan hati-hati sekali meladeni saya. Entah karena pertanyaan-pertanyaan saya, atau entah karena saya berasal dari negeri “berdarah” di ujung barat Sumatra. Tetapi kesabaran beliau dalam bercerita, menjelaskan dan mengungkapkan berbagai sudut pandang, justru malah membuat saya sangat menghargai beliau.

Saya semakin mengerti setelah berkuliah. Bagaimana sejarah pasca kemerdekaan sampai sejarah hari kemarin pun akan selalu sulit diberi kesimpulan akhir. Seiring bertambahnya wawasan, maka kedewasaan dalam menilai sejarah juga menjadi semakin penting. Sesuatu yang justru terlupakan ketika sejarah malah dijadikan komoditi.

Sekarang dan sampai kapanpun, sejarah akan selalu menjadi polemik kehidupan. Begitu juga dengan sejarah bangsa ini. Ketika sebagian orang bicara bukti, ketika sebagian yang lain pesimis dengan jargon “Sejarah adalah milik penguasa”, ketika anak-anak muda negeri ini mengganti pahlawan kemerdekaan dengan “Idol-idol” baru, ketika media mengubah sejarah sebagai rating, ketika politik membeli sejarah yang memihak,… lalu saya bertanya “saya ada di sejarah yang mana?”

 

 

Hmmff,.. sepertinya saya kangen bertemu si Ibu dan si Bapak guru sejarah saya lagi.

Berkurangulang Tahun

Kalau sudah masuk tahun yang baru, biasanya saya kepikiran sebentar lagi akan berulang tahun. Kalau dulu masih sekolah dan kuliah di sana, selalu mikir siapa yang akan saya traktir, berapa pleton dan bakal makan-makan dimana.

Tetapi kalau sekarang, justru malah mikir lain. Keinget emak pernah ngomong di telepon, “Dek, sayang umur…” . Yah, begitulah kalau beliau sudah nyinggung2 soal kuliah saya yang ga kelar-kelar. Benar juga sih, wong umur ini sebenarnya bukan bertambah kok. Malah kalau dipikir-pikir seharusnya umur itu berkurang.

Terus disusul pertanyaan lanjutan yang biasanya datang dari gerombolan Tante dan sepupu-sepupu saya, “sudah ngapain aja selama sekian tahun? Kerja sekarang dimana? Calon mu siapa?” Huayahh… mabok-mabok tewas dengan sejuta asa

Ulang tahun saya masih lama. Tapi kok ya serem ngebayangin kalau hari itu tiba :| .

Eh btw, hari ini ada yang ulang tahun? Setahu saya si nona bermuka Sunda ini yang berulang tahun (seriuss emang bermuka sunda, gw pernah ketemu di angkot Sadang Serang – Bandung kok.. :) ) ) .

miyabi pose

Met Ultah Maria Ozawa :D

Fana

[singlepic=76,,,watermark,]

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

 

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

 

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

 

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

 

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

 

Sesungguhnya manusia tidak memiliki kuasa apapun terhadap diri dan alamnya. Lalu kenapa manusia tidak pernah mau memahaminya? Tetap melihat harta dunia sebagai hakikat semu keberadaan. Bahkan ketika umur menjadi keniscayaan yang tak mungkin ditolak.

Tidak pernah ada satu ksatria pun, penguasa pun, atau sehebat apa pun, yang mampu bertahan dengan 2 kaki mereka selama-lamanya.

 

 

Bahkan seorang Nabi paling suci sekalipun…

 

 

Penggalan Puisi di atas : Kesaksian Sederhana – Kyai Kanjeng

Objektif

Ayat Ayat CintaDulu sekali, pernah ada istilah beken “Shot The Message, Not The Messenger”. Bagaimana ngeshot message yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi – Belajar cuci otak??

Mungkin menonton film “Ayat Ayat Cinta” (AAC) bisa menjadi ajang latihan.

Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah dan istri yang sangat soleha impian semua pria muslim, diperankan oleh Rianti sang VJ MTV cantik, friendly, hip hip hura, juga terkadang seksi.

Tokoh Maria yang introvert, baik dan rendah hati, simpatik dengan kecintaannya terhadap Islam, walau bukan muslimah. Sosok wanita penuh luka cinta yang bisa menggugah pria-pria yang membaca novel AAC untuk memilikinya (termasuk saya). Diperankan oleh Carissa si antagonis sinetron-sinetron Indoonesia yang bengis, tak kenal ampun, suka teriak-teriak dan membuat ibu-ibu di mall bisa memaki-maki dirinya bila bertemu.

Tokoh Nurul yang putri pesantren, anak seorang Kyai ternama, baik budi, cerdas menggugah intelektual, kaffah dalam islam Indonesianya, mengingatkan saya pada ustadzah-ustadzah di mesjid kampung saya. Pemerannya adalah Melanie Putria yang mantan putri Indonesia, dengan keglamoran dan aktivitas selebnya yang macem-macem tanpa pakem.

Noura sang wanita penuh tekanan batin, terhimpit dalam penderitaan sehingga mengubahnya menjadi tukang fitnah yang keji. Dan Zaskia Mecca idola para lelaki “baik-baik” ketiban peran ini, model sekaligus aktris yang dianggap mumpuni dengan popularitas dan keteguhan budi muslimahnya. (Kenapa impian liar saya selalu membayangkan Zaskia sebagai BCL ditutupi kerudung?? :) ) )

Fedi Nuril?? Kalau ini saya ga kenal.

Hanung Bramantyo, sang sutradara. Wah ini sih Mas Rumputeki lebih kenal.

 

Mumpung belum tayang, jadi persiapkan diri anda untuk berlatih seperti yang saya ungkapkan diatas. Menjadi objektif bukanlah tuntutan, toh ini cuma hiburan bagi penonton, duit bagi produser dan idealisme bagi sang Sutradara.

 

*sedikit hadiah yang keren dari Blog Mas Hanung :

 

Rianti's Eye

 

Di Sun

 

“Sebenarnya ada acara apa disini, Mas?”, tanya saya.

Nemenin si Bos, ada rapat”, jawab nya.

“Rapat kok ampe’ ke Jogja. Gedung di Jakarta kurang gede apa?”

Biasssalaahh,.. akhir tahun. Ntar lagi kan tutup anggaran..”.

Dan keluarlah segala gosip seputar instansi pemerintah tempat kawan saya itu bekerja. Dari masalah budget rapat, pemenang tender siluman, naik pangkat, intrik partai, dan lain lain dan sebagainya.

 

Obrolan itu berlangsung November lalu, ketika sang kawan bertemu saya. Pagi ini saya baca koran di warung makan, isinya seputar DIPA ini DIPA itu – bersanding dengan berita bencana ini bencana itu. Bacaan yang mengaduk-aduk emosi untuk diungkapkan.

Mau senyum-senyum kok ga enak karena di sini banyak cewe-cewe cantik lagi makan, ntar dikira saya gila. Mau pasang muka jutek, kasihan kalau ternyata ada yang naksir saya malah ga jadi.

 

Ah,.. padahal saya berharap bisa di-sun oleh mereka.

Leksa

LeksaBunuh saja aku
Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau
Tapi jangan ragaku
Secuil nafas aku rasa sudah cukup

 

Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu

 

SC-E02, 3 Januari 2006 2007

 

 

 

 

 

 

 

update 4 Jan 2007 : Tahun di Edit

Menikmati Keagungan Alam di Awal Tahun 2008

Di masa SMU, 2 kali saya menjelajah Perbukitan Menoreh. Ketika kelas 1 SMU dan penghujung tahun ke-3 sebelum lulus. Memang bukan menjelajah dalam arti sebenarnya. Karena hanya kebetulan sebuah kegiatan lapangan yang dijejali oleh SMU saya kepada para siswa untuk mata pelajaran khusus Bela Negara. Kami para siswa dibekali ketrampilan lapangan berupa latihan mengenal alam, navigasi, berbagai kegiatan penjelajahan alam melatih rasa korsa dan kesetiakawanan. Persis latihan-latihan kemandirian seperti di Pramuka dan Menwa. Namun bersyukurnya saya, kami dibimbing langsung oleh para pembina dan pelatih dibidangnya (a.k.a militer). Diantara semua kegiatan tersebut, tentunya efek yang paling saya suka yaitu dapat berakrab-akrab dengan penduduk sekitar Magelang – Menoreh. Hal ini memberikan kesan berbeda yang membuat saya mengingat masa-masa indah SMU saya hingga sekarang, hingga saat ketiga kali saya berada di perbukitan Menoreh tersebut. Dan beruntungnya saya bisa berada di puncak tertingginya, di Puncak Suroloyo menyambut datangnya pagi pertama di tahun 2008.

Hanya ide gila yang tiba-tiba disosorkan pada saya di Kafe Djambur, beberapa saat sebelum kembang api pergantian tahun meramaikan langit Jogja. Anto yang menawarkan kepada saya untuk menikmati sunrise hari pertama 2008 di Puncak Suroloyo. Tentunya ide ini juga melibatkan pakar jeng jeng handal, Mat Riphe alias Zam. Saya tidak tahu apa itu puncak Suroloyo, yang saya bayangkan hanyalah matahari pagi yang indah di hari pertama tahun tikus ini.

[singlepic=66,,,watermark,]

dan inilah kisahnya..

Sekedar Perayaan? Jangan!

Sebenarnya malam tahun baru saya sudah memiliki rencana sendiri. Dengan berbekal motor pinjeman teman karena kebetulan saya tahu dia ada acara khusus dengan sang pacar, maka saya berniat untuk hunting ke kawasan desa seni Sangkring Art Space, sebuah lokasi di Nitiprayan, Bantul – Yogyakarta. Karena acara akhir tahun dalam event Biennale 2007 dipusatkan di sana. Tawaran berupa atraksi seni budaya – kontemporer, performance art, kampung lampion, pameran-pameran budaya lokal dan new media art yang sudah saya bayangkan jauh-jauh hari, menguatkan keinginan saya untuk menembus Bantul Yogyakarta yang berada di selatan walaupun saya harus berangkat dari kaki merapi di Utara Yogyakarta.

Sayangnya hujan turun, dan dengan berteduh di salah satu warnet – saya mencoba melacak tepatnya lokasi Sangkring Art Space tersebut. Dan wangsit pun datang melalui SMS di antara kesibukan saya meng-googling. Isi SMS tersebut menjelaskan undangan berkumpul di Manut Cafe untuk para blogger Jogja, dan apa acara selanjutnya ditentukan kemudian setelah berkumpul. A ha!! Saya bisa racuni teman-teman blogger Jogja ini untuk meluncur ke Sangkring, pikir saya >:) .

Ditengah perjalanan, informasi berubah. Anto mengabarkan tempat berkumpul pindah ke angkringan dekat Klebengan, utara Fakultas Peternakan UGM. Saya pun menyusul kesana dengan ketidaktahuan dimanakah letak Fakultas Peternakan UGM! Harap maklum, masih baru di Jogja. Ditambah lokasi kost saya di daerah Ring Road Utara, melengkapi malesnya jalan-jalan mungkin.

Singkat cerita, saya tiba di Angkringan yang dituju. Disana sudah ada Anto, Annots, Zam, Chow “Gun” Fat – Rozenesia, Arya dan Irsan (kalau tidak salah). Saya kecewa, kok sepi wanita?? Dan Anto menjanjikan wanita-wanita akan menyusul ke tempat pastinya acara akhir tahun digelar. Acara akhir tahun yang bagaimana? Hohoho.. jelas acara akhir tahun khas blogger ga ada modal. Yaitu gojek kere, dengan kafe murah meriah cukup luas untuk bergosip hangat seputar HP dan rukun blogger ke-5.

Dan acara akhir tahun itupun dipilih di Djambur Cafe. Sebuah kafe kecil menurut saya, namun menawarkan suasana yang pas. Lampu temaram, musik akustik dan Layar Tancap Infocus dengan siaran Astro TV. Lokasi yang cukup nyaman bagi para pasangan dimabuk asmara. Sedikit unik jika melihat setingan kafe ini. Diseting untuk nuansa romantis dengan beberapa kursi dan meja disediakan berpasangan dalam nuansa gelap-gelap rawan dibawah pohon rindang. Namun di bagian pinggir kafe didirikan 3 sawung dari anyaman bambu dengan kapasitas 7-10 orang. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau ada pasangan yang mengambil tempat di sawung sebesar itu hanya untuk berduaan sementara kemudian ada rombongan seperti kami yang datang untuk kumpul-kumpul? Apakah si waitress bakal mengusir meminta pasangan tersebut pindah padahal sedang asyik masyuk? Cuman sebuah bayangan tolol dari otak saya saja.

 

Sedikit Photo di Malam Tahn baru

Kemudian malam berlanjut. Dihiasi lagu-lagu slow rock dengan versi akustik, ditambah siaran TV seputar film-film HBO dan Star TV, kami mulai gojek kere. Ditengah acara, Mas Alex juga ikut datang meramaikan karena beliau belakangan berkeluh kesah dengan sumpeknya ber-coding ria. Disusul kemudian Mbak Tikabanget. Gila si Mbak satu ini. Setahu saya beliau diopname. Tetapi dengar-dengar kabar, sehabis kabur dari Rumah Sakit, beliau sempat ke Surabaya, Ullen Sentalu dan rafting segala.

Tepat pukul 00.00 WIB, langit Jogja diwarnai kembang api dari berbagai penjuru. Di kafe Djambur pun ada perayaan kembang api sendiri. Plus suguhan kue tart dari sang pemilik Kafe kepada semua pengunjung! Bisa dibayangkan bagaimana partai blogger ndak modal ini mendapat suguhan gratisan.

Kembang-kembang api masih saja meletup-letup, dari yag kecil hingga yang besar. Sedikit aneh, karena kok saya ngerasa semua Kafe atau tempat nongkrong di Jogja saat ini seperti memiliki waktu versinya sendiri menyambut tanggal 1 Januari 2008. Walaupun Tuhan hanya menciptakan satu waktu, tetapi manusia bisa saja melihatnya secara relatif, namun tidak mungkin manusia memundurkannya bukan? Apalagi berusaha menghentikannya.

Dan acara tahun baru selesai. Usai sudah. Saya pun lupa meracuni teman-teman blogger ini untuk menuju Sangkring. Mungkin karena memang benar-benar menikmati kumpul-kumpul ini. Obrolan-obrolan ringan hingga yang berat habis dijajal saat itu. Tidak terlupa rencana-rencana yang lebih baik untuk si tahun baru 2008. Termasuk obrolan seputar bencana di Negeri ini, sekolah-sekolah murah, mutu pendidikan dan lain-lain. Saya sadar, memang mimpi-mimpi kita akan terlalu banyak dibanding energi dan waktu yang kita punya. Manusia sangat terbatas, walaupun berkumpul seperti ini pun masih sangat terbatas. Tetapi apakah tidak mungkin merealisasikan satu saja untuk sesuatu ide yang bermanfaat? ADA! Tunggu saja tanggal mainnya. Rekan-rekan blogger Jogja sedang mempersiapkan untuk satu ini ;) .

Acara selesai. Dan waktunya pulang dengan segala mimpi-mimpi baru di 2008. Namun, untuk 4 orang gila tolol keren yang ada malam itu, ternyata acara belum usai. Masih ada sebuah keinginan singkat yang harus ditunaikan. Sepertinya semangat baru harus dipanaskan oleh matahari pagi pertama di tahun 2008.