Di masa SMU, 2 kali saya menjelajah Perbukitan Menoreh. Ketika kelas 1 SMU dan penghujung tahun ke-3 sebelum lulus. Memang bukan menjelajah dalam arti sebenarnya. Karena hanya kebetulan sebuah kegiatan lapangan yang dijejali oleh SMU saya kepada para siswa untuk mata pelajaran khusus Bela Negara. Kami para siswa dibekali ketrampilan lapangan berupa latihan mengenal alam, navigasi, berbagai kegiatan penjelajahan alam melatih rasa korsa dan kesetiakawanan. Persis latihan-latihan kemandirian seperti di Pramuka dan Menwa. Namun bersyukurnya saya, kami dibimbing langsung oleh para pembina dan pelatih dibidangnya (a.k.a militer). Diantara semua kegiatan tersebut, tentunya efek yang paling saya suka yaitu dapat berakrab-akrab dengan penduduk sekitar Magelang – Menoreh. Hal ini memberikan kesan berbeda yang membuat saya mengingat masa-masa indah SMU saya hingga sekarang, hingga saat ketiga kali saya berada di perbukitan Menoreh tersebut. Dan beruntungnya saya bisa berada di puncak tertingginya, di Puncak Suroloyo menyambut datangnya pagi pertama di tahun 2008.
Hanya ide gila yang tiba-tiba disosorkan pada saya di Kafe Djambur, beberapa saat sebelum kembang api pergantian tahun meramaikan langit Jogja. Anto yang menawarkan kepada saya untuk menikmati sunrise hari pertama 2008 di Puncak Suroloyo. Tentunya ide ini juga melibatkan pakar jeng jeng handal, Mat Riphe alias Zam. Saya tidak tahu apa itu puncak Suroloyo, yang saya bayangkan hanyalah matahari pagi yang indah di hari pertama tahun tikus ini.
Selepas acara tahun baru ala blogger kere, saya dan Chow “Gun” Fat berhasil diracuni oleh Anto untuk mengikuti ide gila ini. Kenapa gila menurut saya? karena ternyata Anto dan bahkan sang pakar Zam sendiri belum tahu dimana tepatnya lokasi Puncak Suroloyo. Setelah motor saya titipkan di kost Anto, kita harus ke warnet untuk melacak lokasi terlebih dahulu. Terasa bagaimana bermanfaatnya informasi di dalam Internet saat itu, mengingatkan saya pada seberapa besar manfaat yang ditawarkan sebuah website pariwisata termahal di negeri ini. Saya mencari informasi seputar puncak Suroloyo, terutama kondisi geologis dan topografinya, paling tidak ada gambaran bagaimana medan yang akan kami tempuh. Karena dari yang saya ketahui perbukitan Menoreh merupakan kawasan rawan longsor bagi Purwerejo, Magelang dan Kulon Progo, dimana rekahan karst sering terjadi di musim kemarau dan resapan air yang tinggi terjadi di musim hujan, ditambah lapisan tebal tanah lempung yang ber-plastisitas tinggi di saat basah. Tetapi keyakinan saya memuncak untuk berangkat, setelah mencari tahu kawasan Suroloyo tidak memiliki catatan bencana longsor di sepanjang lokasi perjalanan menuju kesana, Muntilan – Kalibawang – Suroloyo.
Dengan berbekal informasi perjalanan dari website pariwisata Yogyes, dan info yang ada, kami memutuskan perjalanan resmi dimulai. Karena pikiran pragmatis sesat saya, bagaimanapun tersesatnya, sialnya, paling kami masih berada di Magelang – Yogyakarta. Berbekal satu botol minuman, snack seadanya dan setangki penuh bensin, 2 mesin motor menjadi korban atas ambisi 4 anak muda tolol ini. Syarat pertama memulai ekspedisi terpenuhi, kurangi beban dan gunakan bawaan seperlunya.
Diperjalanan, tepatnya jalan Magelang, saya menyadari tidak membawa SIM. Padahal sepanjang perjalanan beberapa kali saya melihat “pentungan berlampu” yang mengingatkan saya pada polisi yang sedang menggelar razia. Perasaan tidak nyaman menghantui. Maklum dengan kondisi jalanan seramai ini, mengingatkan saya kondisi di jalanan sepanjang Bandung – Cimahi. Rute wajib saya dulu sering mengantarkan mantan pacar pulang malam-malam dimana sering digelar razia motor dadakan. Karena seringnya ketangkep tanpa SIM, sampai-sampai saya kenal dengan bapak polisinya
.
Keluar dari Jalan Raya Magelang, tepatnya di Pasar Muntilan, kami berbelok kekiri. Penandanya adalah Klenteng terkenal disini, “Klenteng Hok An Kiong”. Dan setelah itu akan bertemu pertigaan, yang untuk menuju Suroloyo harus berbelok kiri ke arah Wates/Sendang Sono.
Kami sempat tersesat. Keterusan sejauh 4 km. Karena tidak terbacanya papan penunjuk jalan ke arah Puncak Suroloyo. Padahal papan penunjuk jalannya persis seperti rambu-rambu penunjuk jalan tol. Hanya saja malam terlalu pekat, dan posisi nya yang terlalu tinggi tidak teraba oleh lampu motor kami. Untungnya Zam menyadari bahwa kami telah melenceng dari rute perjalanan, dan pas sekali bertemu dengan seorang bapak-bapak di dekat jembatan di malam yang hening sempurna. Si bapak menunjukkan arah kembali, memberi tahu kalau kami sudah melewati belokan ke arah Suroloyo. Saya malah berpikir aneh. Sepanjang perjalanan tadi tidak terlihat sama sekali ada belokan di kanan kiri jalan, sepertinya malam benar-benar terlalu pekat sehingga menutup keawasan mata saya.
Di jalan menuju Suroloyo, di antara perkampungan penduduk kami menemukan percabangan jalan, dan sekali lagi ada warga yang bisa ditanyai. Seperti nya malam ini semesta memberikan waktu bagi kami untuk menikmati keindahannya. Walaupun ditambahi pesan tidak mengenakkan dari si warga berhati-hati karena ada “demit”nya, Tetapi apalah artinya pesan tersebut karena niat kami menuju puncak ini justru ingin menghargai keindahan panorama tempat “mereka” berdiam. Cukup dengan berniat lurus, memohon perlindungan dari yang menguasai semesta ini, hal-hal demikian tidak terlalu menjadi persoalan. Dan yang terpenting bukanlah keinginan untuk mengalahkan – menaklukkan, tetapi untuk menyaksikan seberapa Besar Ia mengatur alam yang indah ini. Demikian yang selalu saya pahami tentang perjalanan ke daerah-daerah baru.
[singlepic=64,130,,,left][singlepic=63,130,,,left][singlepic=58,130,,,]
Kondisi perjalanan sudah mulai menunjukkan bahawa kami diarah yang benar. Tanjakan curam khas perbukitan, turunan tajam berkelok, dan sisi kiri atau kanan jalan yang gelap gulita oleh jurang. Sepanjang perjalanan ini, hanya 2 motor kami yang meraung-meraung di tengah malam. Saya sendiri dibonceng oleh Gun, berada dibagian paling belakang. Anto sempat bercanda, kalau yang paling belakang hati-hati di”raba-raba” – di”belai-belai”. Memang saya akui kalau saya jablai. Tetapi itu pun hanya untuk wanita dan harus satu species dengan saya
) .
Di tengah perjalanan, kira-kira 800 meter menjelang lokasi puncak Suroloyo. Kami tiba dipinggiran salah satu jurang yang mempertunjukkan keindahan luar biasa. Istilah saya dulu jika berada di Lembang atau Dago Pakar-Bandung adalah Citylight. Sebuah penampakan keindahan lampu-lampu kota dari ketinggian. Saya tidak percaya dapat menyaksikan ini juga di daerah Yogyakarta-Magelang. Bahkan lebih indah dari penampakan di Bandung sana. Karena jujur saja, kabut asap di cekungan Bandung sudah tidak kuasa lagi ditanggulangi jumlah pohon yang ada, karena terus dibabat demi pembangunan property di kota sampah bunga itu.
[singlepic=68,,,watermark,]
Dan akhirnya kami tiba di parkiran kawasan Puncak Suroloyo, total jarak diperkirakan 40 km. Disana sudah ada beberapa motor. Tetapi terkesan sepi bagi saya untuk sebuah lokasi yang menawarkan keindahan citylight. Karena biasanya lokasi untuk melihat citylight dipenuhi muda mudi yang sedang dimabuk asmara untuk bercumbu. Dan saya baru mengerti kemudian, setelah menaiki 286 anak tangga menuju puncak Suroloyo.

Sialnya, kami lupa membawa alas duduk mantel hujan yang sudah disiapkan Anto, plus sebungkus gorengan yang sempat dibeli di pasar Muntilan. Padahal diantara kelelahan dan kelegaan ini nikmat sekali rasanya bisa duduk santai dengan kopi dan panganan ringan, menikmati keindahan nuansa malam yang bertabur bintang dan bulan yang malu-malu dibalik awan. Saya putuskan untuk turun lagi mengambil mantel, gorengan dan sekaligus mencari tahu dari penjaga di lokasi parkir, mana tahu ada secangkir kopi hangat bisa kami nikmati. Pas sekali, satu-satunya warung di lokasi tersebut baru saja buka menyambut subuh. Tanpa pikir panjang saya menuju warung tersebut, memesan 4 bungkus coffemix panas. Coba ada kapucino, tentu makin nikmat, pikir saya.
Tidak ada yang lebih indah dari malam yang dingin, bersama teman bercerita, menikmati keindahan langit malam. Tapi rasanya bercerita masih terlalu biasa jika berada di tempat ini. Sebuah lokasi sakral bagi kebudayaan lokal, dipercaya sebagai tempat Sultan Agung Mataram mendapat wangsit kedua dalam “tapa ksatrian”nya. Raden Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang pada saat itu masih menjadi putra mahkota kerajaan Mataram, mendapat wangsit untuk memenuhi takdirnya sebagai penguasa tanah jawa. Beliau diharuskan berjalan dari istana kerajaan di Kotagede menuju arah barat. Di sekitar kawasan perbukitan Menoreh, beliau ternyata pingsan. Dalam pingsannya itu beliau mendapat wangsit kedua untuk menjalankan tapa kesatrian. Saya sendiri tidak tahu kalau puncak Suroloyo inilah lokasinya. Padahal cerita ini cukup terkenal dalam sejarah sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Cabolek karya Ngabehi Yasadipura. Ah, seandainya saya tahu, mungkin saya sempatkan bersemedi bertapa bermeditasi sejenak.

Selain itu Bukit Menoreh sendiri sangat terkenal dalam beberapa cerita silat. Salah satu pencerita yang terkenal adalah Singgih Hadi Mintardja dengan cerbung terkenal sepanjang 396 episode – Api di Bukit Menoreh. Belum lagi jika dimasukkan kisah seorang punggawa Pangeran Diponegoro, Ki Garang Serang. Seorang pengembara terkenal bagi masyarakat pegunungan Menoreh – Magelang, sebagai penyebar agama Islam, seorang sakti penguasa hutan buas Menoreh dan sekaligus pejuang melawan penjajah. Kisah Ki Garang Serang diabadikan pula dalam sebuah pentas tari khas Magelang bertajuk Kubrosiswo.
Pagi menjelang, warna keemasan dari ufuk timur mulai terlihat. Pelan-pelan angin pagi pegunungan berakselerasi sebagai konsekuensi termodinamika alami. Angin menderu kencang menggesek pepohonan dan batuan, menyibak kabut pagi menuju ke puncak bukit. Dan inilah fenomena alam yang luar biasa menurut saya. Seandainya murid-murid Puti bisa saya ajak kesini untuk menjelaskan proses Fisika tersebut, tentunya membuat mereka lebih memahami sekolah sebagai gerbang mengenal alam, menghargai alam dan membangun peradaban. Tidak seperti para orang pintar pendahulu mereka yang justru merusak alam untuk keserakahan manusia.
Terang sudah di puncak Suroloyo. Kehijauan di sekeliling kami terlihat jelas sekarang, 360 derajat seluas mata memandang. Ternyata tempat ini benar-benar puncak dari perbukitan Menoreh. Hanya memiliki luasan 7 x 15 meter, berbatas pagar dan sebuah joglo, dilengkapi sebuah arca Dewa Syiwa diatas Nandini (lembu betina kendaraan Dewa Syiwa). Ah, sebuah kombinasi sempurna khas ranah Jawa yang sangat saya gemari. Perpaduan sejarah-religi-budaya lokal. Saya sempat berdiskusi singkat dengan Zam mengenai Arca tersebut. Bagaimana ukiran dan pola-pola sulur memberikan makna-makna berbeda.
Saya juga bisa menyaksikan keindahan Gunung Sumbing yang perkasa terpampang jelas diterpa warna keemasan matahari, Gunung merapi yang kelihatan biru dari sini dengan dibelakangnya terlihat Merbabu. Kami sempat salah memperkirakan Bukit Tidar Magelang sebagai Candi Borobudur. Namun cahaya yang makin terang, ditambah cuaca yang cukup cerah dikawasan utara Puncak Suroloyo membuatnya semakin jelas. Tidar terlalu besar untuk Borobudur, saya menyadari ini. Dan mulai melacak dengan memperkirakan lokasi Borobudur dari Magelang. Akhirnya Borobudur bisa kami temukan. Sayangnya sisi selatan Puncak Suroloyo masih tertutup kabut sehingga tidak terlihat pesisir pantai selatan.

Puncak Suroloyo sebenarnya hanya salah satu dari 3 gardu pandang yang merupakan tempat pertapaan, yaitu Pertapaan Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Topografi yang unik dari ketiga gardu ini terlihat jelas. Dimana merupakan puncak dari bukit yang kecuramannya bisa mencapai 75 derajat di satu sisinya. Seolah-olah merupakan tiang-tiang batu karang raksasa yang naik ke permukaan. Geologi batuannya terlihat khas dengan batuan Andesit dan karst yang sudah tergerus, dan bahkan sudah menjadi pelapisan baru membentuk pegunungan/perbukitan. Morfologi bukit-bukit tersebut menunjukkan kondisi dimana proses pengungkitan karena aktivitas magmatis dimasanya. Sebuah tipikal kawasan pegunungan Purba yang memang Menoreh dikenal sebagai salah satu Gunung Api Purba Tersier di pulau Jawa.
Ketiga gardu pandang tersebut masing-masing puncaknya menawarkan pemandangan indah dengan fokus berbeda. Kami hanya sempat menghabiskan waktu di Suroloyo, namun itupun sudah cukup mejawab kedahagaan akan matahari baru di 2008. Beruntungnya lagi kami sempat melihat seekor elang jawa yang sudah sangat jarang terlihat (gambar elang tersebut, sempat tertangkap sebentar di kamera Anto)
Keindahan alam yang luar biasa disajikan di depan mata. Dengan kekayaan mitos dan budaya lokal yang ditawarkan, tidak cukup ruang blog ini untuk menjelaskan. Tidak cukup pula kamera Anto menggambarkan setiap detilnya. Hanya mata manusia yang sangat sempurna ini yang bisa menggambarkan keindahan tersebut. Dan saya melihat tidak hanya saya yang merasakan keagungan luar biasa ini, entah itu seorang Ustadz layaknya Zam, Agnostik seperti Gun, dan bahkan metrosexual sekelas Anto, bisa menyaksikan kedigdayaan sang Penguasa Semesta di Puncak Suroloyo ini.

Cerita dari ke-3 tokoh lainnya :
Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo oleh Zam.
Matahari Baru 2008 di Puncak Suroloyo oleh Anto
God Bless! Alhamdulillah! oleh Chow “Gun” Fat
Screenshot diatas adalah sementara saja yang diambil dari blog Zam, plus sedikit photo narsis saya. Beberapa jepretan pilihan yang saya peroleh dari Anto, dapat dilihat dibawah ini. Klik untuk memperbesar.
udah baca ini …asyem ngiri dab!!!
@didut : hayuk mas,.. jalan jalan kitah kapan2
wah, layak nih buat dipake jadi artikel opini di koran2
mantab bung~!!
Hohohooo…
4 kali pula saya menggelar tampang mupeng setelah baca 4 artikel ndoyoker itu
(:((
@anto : ngenye situ [-( …
@Chow “Gun” Fat : lama2 nama baru mu ini mirip koko2 di Malaysia.. Cek “Gun” Fat ..
)
@annots : kapan trips ndoyok selanjut nya, Mas .. situ kan kenet Andong- nya
3 mahkluk diatas sudah kujumpai pas kmrin dijogja, cuman pemilik blog ini aja yg blom
met tahun baru
@aprikot : ntar aja Mbak, kalo saya maen ke bandung
jal, gua suka foto yang paling atas..
selamat tahun baru (lagi)..
walah… detil sekali…
bisa buat bahan klo minat kesana nih :d/
Rasa korsa dan kesetiakawanan??? ya Alloh lama bgt dah nggak denger kata2 ini :d. btw, ngiriiiiiiiii ngeliat situ jalan2 ke tempat tinggi…:((:((
@rime : ntar menyusul photo2 keren lainnya
@dobelden : heuheuhe… itu si masih kurang lengkap.. coba baca cerita dari 3 orang lainnya
@cewetulen : makanya jadi Dosen aja di UPN sinih
.. kita jajal Wonosari, Wonosobo dan Sariloyo-Kaendran
)
*liat poto
suster ngesot jadi cowoo… naik gunung pula
ANJROT SUMPAH NGIRI PISAN!!
fotonya top notch semua..
btw, suroloyo kalo di bandung artinya suryalaya kali ya? ngehehehe…
terima kasih untuk ceritanya
cape bacanya…ngiri ama fotonaa…8-|
tp udh diliat lho, paps.
Loh? emang anak tambang belajar geologi jugak? brur, gw pengen juga nih jalan2 ke situ..
@funkshit : kamu kemana mlm itu [-( ditunggu2..
@bodhi : bedanya di Bandung jadi PLTA
@hedwig : sama2 Om,..
@imoth : yeee… dateng juga…
)
@yudhis : 3 mata kuliah geologi asa ga cukup bikin gue puyeng apa?? :-w
Waduh.. saya paling anti naek2 gunung gtu,mas…. Mending saya jalan2 di mall. Hahaha.. Anak zaman sekarang banget ya? Tapi fotona keyeenkeyeeeeeeennn…
wuasyem. asyu tenan. ngiri rek!.
*inget “jaman2 muda dulu. pa lagi jaman smp-sma. hampir tiap minggu naik gunung merapi – singgalang di kampung halaman sana : bukittinggi, kota ditengah gunung. inget jaman2 jadi pencinta alam. inget jaman2 menjelajahi gunung2 mulai leuser, merapi singalang, kerinci, gede pangrango, halimun salak, sampe terakhir jaman kuliah menaiki hampir seluruh gunung di jatim : simeru, welirang, arjuno.
internet bikin gak sempet lagi naik gunung. terakhir tahun 97.
ayo melu! heiuheiuhiue
mas Warung Kapucino, keren nih puncak Suroloyo. Kok bisa nemu ya?
Saya berencana ke Jogja nih, jalan kesana tuh susah gak ya kalo pake mobil? Pengen coba liat sunrise juga dari sana soalnya, kali-kali dapet. Kebetulan juga lagi harus bikin dokumentasi nih. Mungkin mas bisa bantu informasinya, sekiranya bisa di share informasine.
matur suwun sanget,
Ali
alidisini.multiply.com
KECEME IKU DESAKU, OMAHKU ONO ING GUNUNG SUROLOYO,
KEJOBO IKU AKU DILAHERKE KARO MBAH DUKUN,NANGING AKU
ORA LALI TETEP CINTA KARO DESAKU,AKU TETEP SENENG OPO MENEH
SAIKI DADI TEMPAT PARIWISATA.AYO KONCO KONCO DOLAN RONO
KANGGO SOTING OKE PEMANDANGAN OKE NING OJO LALI MAMPIR
TAKON KANG SARJI,KUNCUNG KUWI ADINE…..