Ketika Soeharto

Standard

Soeharto-SoedirmanKetika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan “JRENG”, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.

Kok bisa saya tidak tahu? Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini. Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih imut muda dengan otak yang belum tercemar suka sok cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.

Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya bertarung dengan sampah dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi “juga dengan KAGET”. Mungkin Kang Heri, Om Denden dan Uncle Goop tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.

Saya langsung meng-SMS Anto yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus “sms to group” lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk ngurusi calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih nguli lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. Lha saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.

Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.

Saya cuma bisa mendehem saja melihat riweuh-riweuh itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga – entah baik atau buruknya.

Seperti kata para simpatisan Nixon “si Presiden Watergate”, mereka berani bicara lantang dengan bangga “Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.”

 

*Gambar di-scan dari “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.

21 thoughts on “Ketika Soeharto

  1. waktu pak Harto lengser? gw sedang imut2nya. :D
    jd kurang paham jg waktu itu apa yg terjadi.
    meskipun skrg kampus gw jd “saksi” peristiwa itu…
    tetep aja, gw cuma dapet cerita2nya dari senior2 n musium doank.
    dan waktu kejadian pak Harto meninggal…
    gw lg chat ama temen, ngebahas soal2 UAS… *ciyeeehhh… gaya* :P
    tau2 temen gw nyeletuk, suruh liat TV. katanya pak Harto meninggal! :-o
    jd, interupsi! yg sedang check out hotel dgn TTM-an nya itu bukan gw! :)) =))

  2. soeharto memang hebat. :d
    ah, berapa banyak otak di kepala yang sudah tercuci ramuan darah campuran darah wiji thukul, korban pembantaian bali, ciideng lampung, kedung ombo dll. :x

  3. @nico: ndak bro.. disana cuma photo.. ga berani memberi interprestasi sejarah :) biar netral ..

    @ekowanz : halaahhh… ga mungkin, kamu kan kelahiran 60-an, Ko.. [-(

    @antobil : ga dicuci, tapi kita ini yang tidak “berpikir” .. kata mbak Dian gitu :|

    @kw : suaranya berat.. inget saya merinding dulu dengar suara aslinya :|

    @zee : beliau emang waktunya kok, namanya juga umur… tapi sejarah itu abadi, akan terus dibaca anak cucu bangsa.. dan ini yang penting ;)

    @escoret : waduh, om pepeng.. saya malah rencananya mau Hetrik post ini :|

    @anang : Mas Anang udah pernah ke alam sana???? :o

    @venus : males juga balesnya ..:D

    @cempluk : hehehe.. ga jauh beda ma saya ternyata :D

    @goop : oh itu .. gambarnya ga keluar, cuma alt gambar nya aja.. maaf, dah tak benerin :(

    @tukangkopi : bukannya loe yg di hotel itu Bro … :|

  4. hmmm… intermezo aj…

    kata temen saya…
    “waaah gua gak rela Pak Harto meninggal…”

    pas ditanya kenapa….
    “iya soalnya mudanya ganteng”

    ———- /:) /:) /:) ———–

    *spontan ngakak*
    dan kata salah satu temen saya lainnya….
    “ndagel ikz! mbiyen kowe rung lahir, nduk!”

  5. Bagaimana tulisan2 itu ada hak ciptanya nggak?kalo ada orang yang mengambilnya, bagaimana?komplain atau tuntutan ada nggak yang akan dialamatkan kepada the plagiat?

Leave a Reply