Berkontemplasi Bersama Sawung Jabo

Sawung Jabo“Pokoknya putus..!!”
Njleb! Bibirku termangu dan otakku terus berputar. Apalagi alasan yang harus aku berikan? Lagu-lagu yang mengalun indah dari dentingan gitar Sawung Jabo pun tidak bisa mendamaikan hatimu malam ini. Bahkan sepanjang perjalanan menurun dari Selasar Sunaryo, puncak atas Dago Pakar, kau terus mengulang pernyataan itu tanpa henti. Dan sekarang aku hanya bisa mendesah perlahan, menselonjorkan kaki di kursi teras ini menghadapi mata mu yang penuh amarah dan air mata – sambil mengulang sisa-sisa nada sumbang musik tadi yang sempat ku tangkap satu dua. Aku tersenyum kecil, tetapi kecut dan pahit. Membayangkan lagu-lagu sang Sawung tadi seharusnya menjadikan malam ini sangat romantis.

Continue reading →

Label Blog Lagi?

Blog WarSabtu kemarin di Kafe Djendelo, saya ngga sengaja malah mengulik hal “kemana aja lu, Mon!” bersama seorang teman. Ya kembali masalah label, terutama label blog. Apa pentingnya ngebahas itu? Pertanyaan sederhana saja, label apa yang anda sosorkan ke blog ini ketika mulai membaca dan mengenal blog ini? Semoga saja bukan label kalau si penulis adalah seorang residivis .. hahaha….

Continue reading →

Lesehan Mewah ala Bloger Yogya

Ketika sekelompok bloger berkumpul, bisa dipastikan bagaimana Total Kerusakan yang terjadi. Bahkan sebuah lobi hotel indah nan klasik pun bisa dijadikan lesehan!

Total KerusakanSemua berawal dari ketidakkenyang-an atas kopdar di malam sebelumnya (Sesungguhnya saya sangat kenyang malam itu..Gudeg Berporsi-porsi!). Dan dengan inisiatif tinggi, siang ituhâ„¢…, Mbak Tika pun menjadi Menkopul Kebangetan dadakan, menggantikan Pejabat sebenarnya yang sedang mencoba pertaruhan menjadi bintang film JAV terbaru di Ujung Kulon.

Continue reading →

Ketololan

ijal

Tidak saya pungkiri, sejak SMU saya menggemari segala sesuatu berbau sosial budaya dan sejarah. Selepas SMU, saya nekat mengambil sebuah formulir masuk untuk kelas Seni, tanpa kursus-kursus persiapan, hanya dengan tekad “ah apa salahnya dicoba”, dan parahnya lagi hanya bermodal bisa menggambar seorang anak TK dengan dua gunung dan pematang sawah. Mimpi sih tidak bulat untuk kesana, juga disusupi sifat standar seorang lulusan SMU, “Segala kesempatan dicoba”. Sayangnya karena “manut” terhadap permintaan ibu yang saya cinta, formulir tersebut tidak pernah saya kembalikan dan test masuk juga tidak pernah saya lakukan.

Continue reading →