
Saya bukan seorang “The Jak Mania”. Hanya seorang fans sepak bola dengan klub favorit tidak tetap, sekedar menikmati indahnya menunggu detik-detik gol terjadi. Juga mencintai tim nasional negeri ini dengan setulus hati. Walaupun manajemen dari PSSI yang “ngaco” itu terus bikin saya makan hati sebelah.
Saya tidak bicara mengenai PSSI yang amburadul itu. Cuma secara tidak sengaja, diantara blogwalking malam sabtu lalu, terdengar kabar sebuah perlehatan akbar di Taman Menteng Jakarta. Nama Menteng memutar sedikit kenangan manis saya di awal tahun 2002 ketika menunggu seseorang disana. Waktu itu tidak ada yang namanya Taman Menteng nan indah dan classy itu. Hanya Stadion Menteng milik PERSIJA saja, dan saya saat itu cuma “mencari aman” menunggu di salah satu warung kaki lima terdekat.
Sebelum masa perang, Belanda di Jakarta membentuk berbagai perkumpulan olah raga sepak bola. Salah satu perkumpulan yang terkenal adalah Voetbalbond Indische Omstreken Sport (VIOS). Mereka memiliki lapangan berlatih sendiri di Viosveld (lapangan Vios), yang dikenal dengan nama Stadion Menteng.
Setelah kemerdekaan lapangan Vios dipakai oleh PERSIJA (Persatuan Sepak Bola Jakarta). Persija didirikan pada tahun 1928, dengan cikal bakal bernama Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ). Lapangan berlatih VIJ saat itu dilapangan VIJ Petojo. VIJ merupakan salah satu klub yang ikut mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan keikutsertaan wakil VIJ, Mr.Soekardi dalam pembentukan PSSI di Societeit Hadiprojo Yogyakarta, Sabtu 19 April 1930.
Di lokasi Lapangan Vios, disebelahnya ada biskop Menteng (yang kini jadi pertokoan Batik Keris), sejumlah pertokoan dan tentu saja restoran. Restoran yang tekenal adalah sate kambing yang ada disisi sebelah kanan. Restoran sate kambing ini juga digusur, dan di sana berdiri Kentucky Fried Chicken yang pertama di Jakarta. Kemudian semua gedung dibongkar dan berdiri pertokoan seperti sekarang. Tetapi sampai tahun 80-an para penikmat Sop Kambing masih bisa menikmati restoran tenda itu diparkiran lapangan Vios.
Vios Veld dan biskop Menteng pada tahun 50-an memiliki sejarah indah tersendiri. Wilayah ini memang termasuk kawasan elit di masanya. Sama halnya dengan sekarang, juga menjadi kawasan bagi elit-elit jakarta melepas penat dari sumpeknya kota pemberi mimpi itu. Di masa lalu, sebagaimana diceritakan dalam kisah-kisah Batavia lama, kawasan Lapangan Vios sore hari penuh dengan kaum Indonesia baru yang lebih gengsi. Saat itu tidak terlalu aneh melihat masih banyak orang Belanda membaur dengan orang Indonesia yang berjalan. Kadang nampak suami istri sedang mendorong kereta bayi. Mereka berjalan ditrotoir, sambil mengumbar senyum. Tidak kurang orang Indonesia elit seperti Sjahrir ada diantara mereka. Sedikit lebih sore, lalu nonton film pada jam 19.00. Filmnya tentu saja film barat. Photo diatas merupakan salah satu photo yang banyak tertangkap Google jika menilik Menteng di masa lalu. Photo tersebut dibuat pada tahun 1947, terlihat tentara Belanda naik Jeep. Pada latar belakang Bioskop Menteng yang sedang mempertunjukkan film “Mr Lucky” diperankan oleh Cary Grant. Rupanya untuk parkir, bioskop juga mempergunakan parkiran lapangan Vios. Coba lihat plakat : “Parkeer Plaats Autos, Vios Veld”.
Sejak kepemimpinan Gubernur Surjadi Soedirdja, Lapangan Vios telah menjadi sengketa antara Pemkot DKI jaya dan PERSIJA. Dan akhirnya di tahun 2006, dengan biaya pembangunan sebesar 32 milyar dari APBD DKI, Lapangan Vios rata dengan tanah berganti sebuah taman yang mempertemukan para dewa dewi bloger “Ibu Kota” Indonesia di malam Sabtu lalu.
Saya bukan seorang penghuni ibu kota. Jakarta hanya menjadi tempat saya transit sehari dua hari sebelum berangkat lagi menuju kota lain. Cerita di atas saya dapat dari tanya-tanya Om Google tentang sejarah Menteng. Tetapi temuan-temuan saya ini cukup memberikan sebuah syakwasangka tersendiri buat saya. Bagaimana “Kejar Jakarta” benar-benar berlari, sejak zamannya Soeharto, pun sampai sekarang tidak berhenti membangun kontruksi-kontruksi baru. Padahal keruwetan lalu lintas disana sudah dilengkapi dengan banjir segala, hingga merangsek ke kawasan pemukiman “aman banjir” dan Jalan-jalan Tol.
Bukan gosip basi jika melihat penghuni Jakarta sendiri sekarang lebih suka berteduh di Kota Kembang, Bandung. Dengan jarak tempuh sekitar 2 jam saja, Bandung menjadi pilihan menarik untuk berakhir pekan, atau bahkan menetap. Sayangnya resiko kepadatan yang di tanggung kota Geulis ini juga terlalu besar. Alhasil, warga asli Bandung sendiri lebih memilih berdiam di rumah mereka di akhir pekan hanya untuk menghindari kemacetan yang menggila di setiap sudut kota Bandung. Dan layaknya sebuah asimilasi budaya-budaya zaman dahulu, Bandung pun harus berbenah memenuhi permintaan yang datang. Gedung-gedung yang baru dibangun menggusuri rumah-rumah tua khas Parijs Van java. Bukit-bukit indah digundulkan, berganti paviliun-paviliun yang membunuh resapan air di cekungan Parihyangan itu.
Mungkin ini yang dinamakan evolusi kota. Kemegahan nan elit masa lalu menjadi sejarah dan cagar budaya di masa sekarang. Dan kemudian kemegahan kota-kota di masa sekarang, bisa jadi dikenal sebagai sejarah juga buat anak-anak cucu kita di masa depan.
*Cerita Menteng dari berbagai Sumber di Google. Paling banyak diambil dari komunitas.cariartis.com. Gambar Taman Menteng dicomot dari Suara Pembaruan.
ya bagus lah begitu, wong sepak bolanya juga ngga bagus….
heuheuheuhue
yA BaGUS LAH ORANG SEPAK BOLA INDONESIA NGGAK BAGUS -BAGUS KALI?aMAT
itulah Jakarta..
mengejar materi.. tapi melupakan Alam..
tanah-tanah diganti beton.. pohon-pohon diganti gedung pencakar langit..
BANJIR? RASAKAN AKIBATNYA!!
Dari bola mpe Bandung? Weh kumplit banget postingannya.
Moga2 masih ada masa depan buat anak-cucu kita ya, Dik. Semoga bumi gak keburu jd laut semua gara2 global warming…
saya sebagai orang jakarta merasakan efeknya. jakarta panas gersang akibat kebanyakan gedung dan kurangnya sumber resapan air serta pohon teduh…
akibat semua itu, jakarta perlahan-lahan hancur. sisa-sisa budaya jadi semakin punah…
@rafaell : mksd nya TImnas apa Persija mas
@Dedek : Wuihh ada si Dedek!! Peu haba Bro?
@Zam : Doa mu ko gitu… kasian le..
@Dew : menjaga alam dan budaya yang ada itu sbenarnya sudah terintegrasi utk mencegah Global Warming
*nopel2 situ lebih komplit daripada tulisan ini Mbak 8-|
@cK : jangan sedih, Jeng… mosok harus tak nyanyikan lagu “Jakarta Pagi In – SLANKi”
dampaknya sampe ke samping2annya kaya bekasi….
jakarta..??
sumpeeeeeeekk
ya emang ada sebab ada akibat….itu yang harus mereka tuai kan jal?…
jakarta… gudangnya kenikmatan tapi juga gudangnya masalah
Jakarta Punya Banjir…OKE!!!
kopdarnya asik
*gak nyimak isi postingan, hehehe…
yehh naha ieu teh urang bandung ngabahas PERSIJABLay..engga gaul amat
gr2 banjir, aku ga bisa ke sarinah, aku t4erpaksa turun di arteri pondok indah trus nae ojek ke kemanggisan
( tp untung ga telat nyampe taman menteng
bener kt simbok kopdare asyik
Jakarta merindukan Nabi untuk membenahinya….
Hmm… Apa Bandung sebentar lagi bakal juga menjadi seperti Jakarta yah??
@mas iman : gyahahaha…. kalo ini berat Mas
ga terbayang kalo Nabi ada di Jakarta kek apa jadi nya … 8-|
@aprikot & venus : indahnya kopdar bareng celeb2 8-|
@mbahsangkil : saya akan Ingat bagian ini saja :KENIKMATAN!!
)
@insider : Persib tetep nu aing..
@ekowanz : sebab akibat .. hmm… harus dibikin “sebab2 baru” berarti..
@Asma : Mbak Ama di Jkt?
prasaan kita masih ketemu di Bekisar kemarin
@Bekasi : waduh, dah lama ga kebekasi saya.. tetapi kota itu juga gersang Bos
@adit nya niez : mudah2an ngga
supayan pesta adit bareng Niez bisa di bdg nantinya
dan halaman pun kian jarang ditemukan…
*maaf bila OOT*
bacanya skip-skip..soalnya saya PANSER BIRU!!!hehehe..
ini posting Jakarta tempo dulu, sepakbola (persija), batik keris, lha kok nyambung ke kopdaran blogger
saya blom baca postingannya but the layout looks cool!
saya cuma berharap, candi prambanan jangan digusur jadi dan diganti BTS operator GSM yang sudah tak tau sopan-santun menjamur dimana-mana, merusak tatanan keindahan buwmi prambanan
(
jakarta dan sekitarnya itu acak-acakan, tidak beraturan, pembangunan asal
pas kemaren ke Bandung setelah sebulan gak balik (biasanya balik tiap minggu), gw nemu cewe cakep banget di angkot. Ah, Bandung, betapa mudahnya cewe2 cantik itu ditemui…
*OOT buanget!*
rikues dong di blognya ada warna ijo nya:D
*lebih OOT buanget*
jal.. akhirnya gw disidang juga jal.. terharu gw.. hukhukhuk.. (ngejunk mode : on)
semoga furwokerto tetaf begini adanya…
*komadh-kamidh baca mantra felindung furwokerto*
PSSI amburadul, saya kira butuh proses dan waktu serta pemimpin yang bijaksana dalam membangun manajemen di tubuh PSSI tuk lebih baik..
meski PSSI belum pernah menggapai prestasi, saya tetap menyukainya dan mendukung semangat pemainnya. Bravo PSSI!
PSSI? udah males ngomonginnya…
kata siapa ente buka The Jak mania, Buktinya banyak banget informasi tentang jakarta yang ente kemukakan disini. walaupun cuma hasil Googling aja, tapi kalo tau banyak tentang jakarta, itu sama aja dengan the jak mania
Bagaimana kalau blog-blog yang ada di tejemahkan kedalam bahasa inggris? supaya orang-orang lebih mengenalnya (published), by another program translator
aku malih bingung… fokusnya ini dimana sih?
jadi binun mo komen apaan…
Wah wah… aku mau komen tapi jadi bingung. Ini dari sepak bola, jakarta, bandung terus ke kopdar..
banyaks amat..
tuh kan Jenk Leksa… *ampuuun, saya bukan orang jahat*
sarah aja ikutan bingung jadinya…
aku ga mau tinggal di Jakarta … tapii .. semoga aku kerja di Semarang dan gajinya lebih gede dari Jakarta ..
hehehehehe ……
*gw ngemeng epeen seeh ?????
@Hoek : welkam bek Hoek
@tukangkopi : Wisuda Maret di bandung dong, bro…
@pak sawali : waduh Pak… saya sih bukan cinta PSSI, tapi cinta Sepak Bola Negeri ini..
@dimsum : Dim, Maret pas loe wisuda, gue disana
taste lu makin berkelas ni
keren!
Walah, saya kira habis time-traveling ke Djajakarta Tempo Doeloe..
Ternyata minta penerawangan ke simbah Gugel…
Ah, ya, saya hanya berdoa kampung saya ndak bakal jadi gitu..
*Ya, saya rela tanah kelahiran saya disebut kampung, asal jangan jadi Jakarta saja…
hohohoho….
saya tidak hidup dijaman itu….
emang bos… emang ada yang salah dengan pembangunan kota-kota di Indonesia.. gue sendiri merasa bahwa Jakarta, Bandung, dan semua kota di Jawa Bagian Barat itu nggak nyaman banget…
jakarta kalo gk macet + banjir pasti lebih asyik
Setubuh! Eh.. setuju!!!! Salam Kenal… makasi kunjungannya, Sob
jakarta jakarta …. makin hari makin beku … trus gimana donk Om ?
Pokoke kalo banjir cabut aja!
kunjungan perdana nih.. salam kenal
taman menteng, malam itu gak jadi kesana.
reportasenya keren amat. salam kenal
makanya kota tuh perlu ada kawasan preservasi
mereka telah berbohong tentang Ruang Terbuka Hijau maupun Daerah Resapan Air…
menarik mengikuti cerita sejarah stadion itu mas..
eniwei, lam nal yah..
bloqwalkin’