Berhaji dan Mabrur

Dulu ibu saya pernah bilang “Jadi haji itu paling berat bukan ketika berusaha bisa naik haji, tetapi ketika sudah selesai berhaji”. Seperti itu jadi ukuran yang benar adanya. Sama halnya ketika ibadah puasa ramadhan yang diadakan tiap tahun itu. Ada 3 tahapan khusus selama 30 hari berpuasa, dengan tingkatan yang berbeda. Diharapkan seorang muslim bisa mencapai tahap tertinggi, yaitu taqwa. Dan pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menjadi takwa hingga ramadhan berikutnya? Atau jangan-jangan karena Ramadhan setiap tahun adanya, maka maksud sesungguhnya adalah “dosa – hapus – dosa lagi – hapus lagi – dan seterusnya”.

Apalagi berhaji mungkin. Yang dikata naik haji haruslah benar-benar menuju pada takwa, menghapus dosa, mencium hajar aswat. Tetapi saya malah melihat dengan kondisi ekonomi yang mungkin semakin mapan di negeri ini, sepertinya berwisata religi bukanlah halangan lagi. Artis-artis juga bisa umrah dan haji berkali-kali, tetapi berita gosip putus cerai selingkuhnya pun bisa berulang kali di televisi.

Terus berlanjut ke urusan mengurus naik haji yang diurus susah selama ini. Ditengarai tahun lalu, Panitia Haji yang dibentuk sulit untuk mengurusi perut jamaah. Karena katering yang telat sampai ke jamaah sendiri. Belum lagi isu korupsi di tubuh Depag yang rada rawan kalau dibahas.

Lalu saya teringat cerita-cerita klenik dari kakek dan sepuh-sepuh yang saya kenal. Dulu, ada orang yang bisa naik haji dengan mudah tinggal masuk sumur dan sampai ke kota Mekkah. Memang tidak ada yang melihat. Cuma warga sekitar bisa merasakan panganan ala kota Mekkah dirumah orang-orang sakti tersebut. Wallahualam.

Dan kemarin tepatnya, dari rumah di negeri Tsunami sana, saya disinggung sedikit oleh sepupu saya. Segeralah kamu jadi orang sukses dan bisa naik haji, Nak. Kira-kira demikian permintaannya. He,.. saya jadi bingung mau menjawab apa. Kok tiba-tiba berhaji menjadi ukuran kesuksesan.

Sukses akhirat mungkin. Atau sukses dimata orang lain dilingkungan sekitar? Ah, seandainya Naik Haji cuma pergi ke kota sebelah, cuma tinggal memanjat satu bukit, saya yakin pasti bukan menjadi ukuran kesuksesan.

Teman saya di arab sana juga cerita, naik haji tidak menjadi ukuran sukses buat mereka, selain mendapat keuntungan banyak dari orang-orang Indonesia yang doyan belanja.

13 Comments

  1. lha kok manggil kamu ‘ndhuk’??? kowe ki lanang opo lanang sih? :))

    Reply

  2. @venus : dah diedit, Mbok .. 😐 susah nyari padanan logat aceh ke jawa.. :p

    Reply

  3. Berhaji pada jaman dulu “katanya” butuh perjuangan banget. Tapi sekarang gelar haji sangat mudah didapat. Orang2 Indonesia sudah kaya raya rupanya 😛

    Reply

  4. He… kalo naek haji adalah cuma terbang ke Jakarta, mungkin setiap 4 bulan sekali saya bisa ke sana 🙂

    *ngumpulin uang utk naek haji ah, kalo bisa sekeluarga*

    Reply

  5. jadi lo pilih sukses dulu apa naek haji dulu? 😀

    Reply

  6. hahaha. dulu aku ingat pelajaran waktu sd. pilihan benar atau salah untuk kalimat “yang bisa menunaikan haji hanya orang kaya”. dan aku disalahkan ketika menjawab “salah”, dan wkatu itu sih ngotot klo ornag ga kaya juga bisa naek haji, mungkin lewat sumur itu :Dsayang sekali, haji jadi standarisasi.

    Reply

  7. Saya ulangi sekali lagi :

    Segeralah kamu jadi orang sukses dan bisa naik haji, Nak.

    *Hi hi 🙂

    Reply

  8. # Mardies
    weits masalah haji jadi ribet kalo bicara kaya miskin :p

    # rd Limosin
    lebih enak lagi kalo tinggal naek andong, langsung nyampe 😀

    # tukangkopi
    wisuda dulu 😐

    # dewi
    kalo cerita SD saya ada lebih lucu lagi :))

    # Echi
    cari jodoh dulu ahhhh… 😐

    Reply

  9. asal jangan jadi haji tomat..pergi TObat pulang kuMAT..

    Reply

  10. saya habis dari tanah suci tapi ndak berhaji..

    😀

    Reply

  11. Kalo pulang dari haji malah ndak nggenah, itu namanya haji mabur.. 😛

    Reply

  12. kikikik… ;))

    jadi teringat teman saya seorang wanita. sehabis naik haji, beberapa bulan kemudian tiba-tiba di FS nya ada foto dirinya sedang memakai bikini. heran saya…

    Reply

  13. ah kembalikan “NDUK”, hapus “NAK”!

    Reply

Leave a Reply