Hukumehong

Illustrasi Hukumehong - Teh Tongtji

Bung,

Setelah banyak koruptor ditangkap dan dinggundani, apakah jumlah koruptor berkurang? Hahahaha… Barangkali tidak, selama apa yang disebut hukum itu masih ditujukan pada golongan tertentu dan yang seklibat pastinya.

Apa boleh buat. Saya memang sedang berbicara tentang mental hukum yang kere, masih terus bergentayangan di sekitar kita. Berteriak sih kenceng, tapi kelakuan sendiri tetap saja ngepet. Mentalitas, tentu saja perkara yang penting. Setelah presiden berganti berkali-kali, dan juga anggota dewan dibongkar serta ditancap ulang, kalau perlu plus bongkar pasang seluruh (sekali lagi : seluruh – untuk menegaskan dengan sinis, bahwa hal ini pasti tidak akan dilakukan) dirjen maupun pegawai negeri eselon 1 dan 2 – apakah itu berarti mentalitas sudah berganti? Ideologi politik boleh berbeda-beda, tapi kita ini masih dilahirkan oleh tradisi kebudayaan munafik dan arogan yang sama. Pertanyaannya : bisakah kita berubah mulai kemarin? Persoalannya : kalau kemarin mental kita kere, besok mental kita juga akan tetap kere. Seorang patuh hukum sejati selalu mematuhi hukum untuk dirinya sendiri, bahkan setiap detik, ada maupun tidak ada rambu-rambu, ada maupun tidak ada pergantian presiden – HUKUM sudah merupakan suatu sistem yang menyatu dengan dirinya tanpa bengak-bengok.

Kalau orang harus menunggu selama 32 tahun untuk belajar jadi bener, belum tentu 32 tahun mendatang terjamin dia akan pasti bener. Itulah simalakama kita – yang beruntung adalah para penulis sejarah : mereka akan bilang sejarah itu seperti roda, setiap penguasa mengulangi kesalahan pendahulunya. Busyet.

Sorry Bung, kalau saya ngomong seperti orang tidak mengikuti arus besar, karena saya memang muak dengan para peselancar, para aparat hukum yang menunggang gelombang politik. Mereka yang maling teriak maling. Keselamatan menjadi hal utama. Dengan isi penduduk manusia-manusia seperti ini, memang tidak aneh kalau kita menjadi bangsa yang hobi berutang. Kita merasa harus berutang, karena tanpa utang kita tidak bisa mempertahankan gaya hidup kita, yakni gaya hidup sebuah bangsa yang terlanjur menganggap diri sukses. Pemujaan kepada sukses ini telah menjadi berhala pembangunan. Saya merasa sedih jika mengingat betapa kenyataan ini telah terlanjur pula membentuk mentalitas yang sudah sulit dibongkar pasang.

Berpikir tentang mentalitas ini saya jadi pesimis, karena ketika mahasiswa sudah berkorban – saat reformasi, yang menikmati hasil biasanya adalah tikus-tikus, karena tikus hanya berpikir tentang makanan.

Hukum digerakkan orang-orang yang masih idealistis, tapi kekuasaan tetap diperebutkan oleh para politisi. Ini sangat berbahaya, karena kemudian akan ada semangat mempertahankan kekuasaan – jangan-jangan dengan segala cara. Jika hal ini terjadi, berarti kesalahan sudah mulai diulangi. Yeah. Berapa ratus tahun dibutuhkan untuk mengubah mentalitas suatu bangsa?

Semoga tidak ada akal bulus permainan politik untuk mempertahankan pernyataan hukum. Karena bila hal itu terjadi, tidak ada itu hukum, yang ada cuma hukumehong – dan itulah yang sesungguhnya boleh disebut perampokan.

 

NB : Sukab mau buka warung. Nasi Uduk Hukum.

—————

 

Tulisan diatas adalah sebuah artikel yang direpro ulang dengan mengganti padanan kata yang sesuai, – sesuai kasus mungkin. Artikel asli berjudul Reformehong. Ditulis di majalah “Jakarta Jakarta”, Selasa Legi 26 Mei 1998, oleh Seno Gumira Ajidarma. Bahkan gambar illustrasi-nya juga adalah bungkus “Teh Tong Tji” produksi tahun 1997, dengan model bungkus berbeda tentunya. Hampir sepuluh tahun umur artikel opini ini.

Apakah ini membuktikan sebuah teori memetics si Dawkins, seperti kata Lelanang Ing Jagad satu itu? Tetapi yang saya lihat bisa jadi demikian. Sebuah pengulangan ide terjadi diantara satu manusia dengan manusia lainnya, satu masa dengan masa lainnya, atau menjadi sebuah budaya yang mengulang-ulang mungkin? Atau sudah takdir nasibnya si Republik ya ngono ?

 

“Ah, sudahlah, Jal… Loe Ngga usah banyak mikir.. pokoknya tanggal 6 di Bandung,.. kita pesta…”, kata teman saya di YM.

28 thoughts on “Hukumehong

  1. saya mau share dengan cara Pemerintah Cina memberantas korupsi, dengan efeek jera supaya kapok.
    1) Setiap pengadilan. pasti tersangka ( belum dihukum putus, masih proses peradilan ) selalu disuruh memakai kostum narapidana. Sementara disini tersangka tetap rapi, memakai jas, batik dsb. Intinya secara psikologis dengan memakai baju narapidana, mereka ada rasa malu dan kehidupan sosialnya tercemar.
    2) Setelah pengadilan, mereka dijejer diphoto dengan kepala tertunduk. Disini mereka membuat konperensi pers dengan pengacaranya yang parlente dan mengendarai totota Alphard
    3) Hukuman mati. Belum pernah dengar ada koruptor dihukum mati disini, Di Cina, baik pejabat, gubernur semua disikat ke neraka.

    [Reply]

  2. # Herman Saksono
    berarti aku korban lucu2an e NdoroJagad itu … :o arghh…

    # ndoro kakung
    Njenengan yang nge-rock saya awalnya :p

    # iman brotoseno
    Dimana2 sample pemberantasan Korupsi selalu Cina ya Mas.. :D

    # Mbilung
    Lha piye Pakde,.. soalnya dianggap eror.. :D

    [Reply]

  3. # ikram
    pengen Kram,.. liat deh kalo ada waktu :)

    # stey :| .. post ini berefek buruk buat stey :|

    # dewi
    korupsi nya berantai, Mbak Dew.. ;) )

    [Reply]

  4. Waduh, suwer aku dah ga ngikutin berita-berita tentang negara ini. Serasa udah ga ada harapan lagi negara ini.

    Ibaratnya, disuruh meludahi mereka aja udah ogah karena ga akan ngefek apapun.

    Ah semoga Tuhan ikut pemilu 2009 nanti..

    [Reply]

  5. # sandal
    AMpun akang … ngeri sekali doanya :|

    # verlita
    kok capek, Mbak ? Korup ga sama ma jogging kan :-/

    # tukangkopi
    asyeemm… :-w
    let see on bandung,.. sapa yang kere dan tidak [-(

    # Ina
    lingkaran setan .. :) )
    situ pernah lihat setan? ;) )

    # rumahkayubekas on March 4th, 2008 9:12 pm
    heheh.. barangkali… beda China, beda Indonesia,.. gitu maksudnya, Kang? :D

    [Reply]

  6. saya ndak tau gimana caranya memberantas korupsi, mungkin sama sulitnya seperti menghapus sebuah budaya yang melekat seperti agama. oya, bilangkan ke Sukab, saya mo mampir ke warungnya untuk sekedar ngopi di sebuah senja..okeeeee……..

    [Reply]

  7. saya kok kesulitan menghubungkan antara hukumehong, ketaksukaan berfikir mengikuti arus besar, artikel reproan, teori memetics, sama gambarnya yaa…
    8-|

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>