Menara Gading (part one)

Standard

Tugu Kubus ITBCerita ini akan menjadi sangat panjang.

 

Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat Beni dan pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih?

Selama setengah minggu di sana, saya hadir di kota kembang itu untuk menyelesaikan janji-janji tertunda dan banyak hal. Dua hari sebelum berangkat, saya sempat bertemu dulu dengan Cyn yang sedang pulang kampung ke Salatiga – Cyn juga pulang ke Indonesia untuk wisuda ITB di hari sabtu-nya. Cewek satu ini penasaran dengan Ulen Sentalu, dan saya sempat menemani dia, pacar-nya dan 3 temannya menuju museum putri kraton tersebut, walaupun gerimis terus membasahi kaki Merapi.

Kamis pagi seperti direncanakan, berangkatlah saya. Oleh-oleh sebuah “patung yoni” dan coklat ala Yogya juga sudah terbeli. Saya menggunakan Lodaya Pagi jam 09.30. Walau sistem tiket di Stasiun Tugu sempat offline 30 menit sebelum berangkat, kereta tidak terlambat seperti kata Iwan Fals. Saya dapat duduk nyaman di kursi kosong tanpa teman di sebelah, menikmati pagi-siang-sore perjalanan Yogya-Bandung. Kereta ini terasa sepi. Langit mendung sepanjang perjalanan, sawah-sawah yang menguning, buruh-buruh tani yang mengarit, pedagang kaki lima, dan mbok-mbok gendong yang setia menjajakan pecel (saya memesan pecel gendongan yang beralas daun pisang itu, sayur yang segar!). Bacaan saya di atas kereta adalah Kompas hari itu beserta buku “Surat Dari Palmerah” sang Seno. Kombinasi sempurna. Melihat, membaca, mendengar dan merasakan. Sekelibat banyak ide yang ingin saya tuliskan nanti. Ada 6-8 list yang saya catat di halaman kosong buku Seno untuk ditulis nanti. Indonesia ini benar-benar indah dan “lucu”.

Dalam perjalanan ada kejadian aneh. Seperti biasa, selalu ada anak-anak iseng yang melempar batu ke kaca kereta. Tetapi kali ini bukan iseng lagi. Sudah mengarah pada pengrusakan dan membahayakan jiwa. Batu yang berukuran 2 kali kepalan tangan saya menghantam kaca jendela seorang ibu-ibu berada. Si ibu sangat shock saat itu. Saya bisa melihat dari matanya. Untungnya beliau tidak terkena batu tersebut. Seketika saya beranjak memanggil petugas yang ada di gerbong sebelah, sementara penumpang lain menenangkan si ibu. Petugas dengan pangkat tertinggi -mungkin- juga tiba di gerbong kami, beliau akan melapor di Stasiun terdekat tentang hal ini. Petugas-petugas lain membersihkan serpihan kaca-kaca. Gerbong masih ramai dengan gosip dan cengkrama perihal kejadian tadi, malah ada yang bergosip tentang kenyamanan angkutan-angkutan publik lainnya. Saya hanya bisa bertanya dalam hati, siapa yang disalahkan jika ada kejadian seperti ini?

Sorenya, gerimis di Stasiun Bandung. 16.45 saya menaiki angkot yang langsung menuju kampus Gajah itu. Disana saya sudah berjanji bertemu teman-teman Persma ITB, untuk diskusi tentang “Konsep New Journalism Media” . Cuma diskusi. Saya bukan pembicara yang handal soal jurnalistik. Karena ini cuma kebetulan saja saya didaulat oleh mereka untuk sekedar ndobos™, mumpung ada generasi baru yang masuk. Kalau saya bilang, tujuan ceramah saya lebih kepada membangun spirit berkegiatan buat anak-anak ini. Dimana kondisi kampus ini sudah sangat membatasi waktu mereka untuk berkegiatan di dunia kemahasiswaan dan kampus. Entah ide apa yang diusung kampus besar ini di tahun-tahun ke depan. Di satu sisi saya melihat sebuah langkah progresif yang bagus (yap, saya pernah terlibat diskusi lama dulu sebelum konsep BHMN muncul dikampus ini). Namun di lain sisi seperti ada spirit-spirit yang sengaja dibunuh, atau lebih kasarnya lagi, ada pembunuhan karakter manusia yang socialite disini. Ah, entahlah. Yang pasti kampus ini sudah bukan milik saya lagi.

Dan malamnya, malam Jumat yang basah, saya tetap berdiam dikampus itu. Di antara keraguan menghadiri undangan pesta wisuda dari seseorang, saya memilih ngobrol-ngobrol dengan banyak teman. Dari urusan politik negara hingga politik cinta. Seperti biasa, kampus ini selalu membawa saya pada langlang buana penuh romantisme. Semangat membubung tentang negeri ini. Dan akhirnya tercebur dalam pemahaman bahwa memang kampus ini lebih cocok dikatakan sebuah Menara Gading.

Hmm,.. tapi negeri ini tidak butuh sebuah menara gading yang tinggi, bukan?

 

To be Continued…

22 thoughts on “Menara Gading (part one)

  1. lho ke bandung, ah ga ngabar2in saya. eh si yudis udah ksih tahu ding tp saya ngabur ke t4 simbok..wah ga jodoh ktmu kita emang, di jogja ga ktmu di bandung pun ngga :D

  2. Perilaku anak2 kecil itu adalah bibit kepengecutan yang baru, mereka berani melempar setelah tahu kereta tak pernah berhenti untuk membiarkan penumpang membalas sebuah pukulan buat mereka!

  3. Dan yang tertinggal dari kampus ini hanyalah sebuah semangat. Boleh saja saat ini ada menara, boleh saja semakin menjadi gading, tapi yang tetap tertinggal adalah sebuah semangat, seperti semangat kaum 66, seperti semangat kaum 78, seperti semangat kaum 89, seperti semangat kaum 98, seperti sebuah semangat jika aku mau maka aku bisa mengubahnya.

  4. setuju sama tobil… yang ngelemparin kereta itu cuman pengecut. coba klo bisa nglempar pesawat :D sama halnya orang di kendaraan kepada pejalan kaki. berani karena tau ngga bisa nglawan

Leave a Reply