Belajar Adil

Blind JusticeAdil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.

Apa alasan saya melihat keadilan sebagai sebuah absurditas? Tidak usah dipungkiri jika pemahaman nilai keadilan sangat tergantung dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, masyarakat dan norma. Dan satu lagi, jika anda berani mengeksplor dan mencari tahu apa itu keadilan layaknya seorang sufi, mungkin bisa jadi memberi pemahaman keadilan yang berbeda.

Mungkin karena itu ada yang namanya pengadilan dan hukum. Dimana banyak kepala bertemu, bersekutu dan berdebat untuk menemukan banyak pemahaman adil dari berbagai kepala, sehingga sebaik mungkin nilai keadilan dari berbagai versi di dekati. Hukum berasal dari turunan perundang-undangan yang juga disusun oleh banyak kepala dan ahli. Bisa jadi sebuah kesalahan di mata saya menjadi benar oleh sebuah debat hukum. Kondisi ideal ini tentu berlangsung baik adanya, dengan melepas unsur-unsur oportunistis.

Lalu ada yang bilang keadilan dilihat secara kemanusiaan. Ada juga versi “pakailah hati itu dalam melihat keadilan”. Saya justru selama ini termasuk genre yang satu ini. Percaya dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagai parameter keadilan. Mungkin pemahaman saya sebatas nilai kemanusiaan satu dua orang saja. Saya tidak tahu apakah jika sudah menumpukkan berbagai ego manusia yang mengaku bernilai kemanusiaan, keadilan tersebut masih memiliki ukuran yang sama? mungkin saja hasil akhirnya malah beda.

“Percayakan hati mu untuk menilai keadilan..”, itu juga pesan lainnya yang saya terima. Tetapi masih bisa saya debat dengan kepala ini. Hati nya siapa? Hati saya dan anda jelas berbeda dalam melihat sebuah keadilan. Hati itu juga sebuah bentuk metafora yang tidak terlepas dari unsur subjektifitas.

Banyak kasus yang saya dengar dari teman-teman saya tentang pergulatan ini. Nilai keadilan mereka menjadi absurd setelah mencoba berpikir dengan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang satu dua. Mungkin anda juga pernah merasa yang sama seperti ini, begitupun saya. Kasus dimana sering terbentur antara keadilan manusia satu dua dengan keadilan sebuah kepentingan yang lebih besar.

Analogi sederhana lainnya – agak sedikit mudah. Dalam hubungan asmara manusia – yak, soal cinta. Ketika kita sudah berikrar -dengan pertimbangan matang- untuk berkomitmen dengan seseorang, dan kemudian ternyata hati ini masih tersandung rasa dengan hati yang lain, apakah keadilan yang bisa kita berikan untuk keduanya? Memihak hati sejati-jatinya? Atau Selingkuh? Poligami?Poliandri?

Hmm.. Untuk kasus diatas, kenyataannya saya lebih sepakat menjaga yang telah terucap. Seperti sebuah nilai yang saya pahami dari dulu, “Think, Said and Commit..”. Komitmen.

10 Comments

  1. dua-duanya tidak mudah, berlaku adil dan berkomitmen…
    tsah…

    Reply

  2. humph..
    berlaku adil ke diri sendiri aja sulitnya minta mampus, apalagi adil ke orang laen ya..

    Reply

  3. yup… stuju unclegoop. adil dan berkomitmen memang tak mudah… tetapi tidak mustahil.

    Reply

  4. adil itu subyektif, adil menurut siapa?
    apalagi kalo poligami :lol:

    Reply

  5. poliandri!!

    *digebok*

    hakhakhakhak…

    Reply

  6. mo punya istri 2?? kok belajar adil :p *melemparkan diri ke gua cerme*

    Reply

  7. Bukannya kita ini hidup di negara yang rakyatnya sudah adil, makmur dan sentosa?

    Reply

  8. seorang terpelajar itu harus sudah berlaku adil sejak dari pikiran. salah satu quote terhebat dari PAT.

    Reply

  9. Bukankah adil itu hanya milik TUHAN?hukum dan peraturan emang dibuat demi keadilan, tapi toh pasti ada pihak yang merasa tidak adil. Dalam soal cinta, HUUUHHH..sejak kapan cinta itu adil?cinta ga pernah adil kang mas, pasti salah satu pihak ada yang lebih besar cintanya terhadap yang lain sehingga rela berkorban apapun, sementara pihak lawannya cuma melihat. Ini cuma pendapat saya, tapi berdasar apa yang saya lihat drai hubungan ortu saya, saya lihat biar bagaimana cinta itu butuh logika supaya kita bisa adil, and it works to my parents..hehehe..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>