Anekdot Keluarga

Standard

dago plaza bandungIni cuma sepenggal cerita ketika saya di Bandung beberapa minggu lalu. Saya bertemu seorang teman lama di Cafe sekitaran Dago Bandung. Bisa dibilang teman dekat juga, jauh pun iya. Seorang teman masa SMU dengan pilihan jalan hidup dan profesi sekarang yang sama sekali berbeda dengan saya. Namun setelah kami bercakap-cakap sejak tengah malam hingga menjelang pagi, saya menyadari bahwa dia tetap seperti dulu, dengan hati nya yang gelisah layaknya saya.

Saya kenal orang tuanya. Dulu pun ketika saya SMU, beberapa kali saya jalan-jalan dengan orang tuanya, bahkan menumpang menginap di rumahnya. Keluarga yang menyenangkan, kocak dan saya melihat teposeliro yang berbeda di keluarga ini. Jika hubungan kasih sayang dalam keluarga saya dibangun oleh ketaatan, islami dan cara-cara ndeso khas Sumatra, namun justru di keluarga ini berbeda. Anak dan orang tua bisa bercanda lepas saling gojek kere dan tertawa, saling pengertian dibangun oleh pola kasih sayang berbeda dari yang saya tahu selama ini (saat itu baru pertama kali saya merantau ke tanah Jawa). Itulah salah satu kebanggaan saya bisa merantau, melihat pola-pola hubungan manusia yang berbeda dari “kotak” saya.

Malam makin larut, dan kami sampai pada kesimpulan mengakui bahwa umur absolute bertambah. Namun kedewasaan dan takdir adalah sesuatu yang lain. Tidak pernah absolute. Obrolan kami seputar dunia masing-masing, mengenal dunia yang jauh berbeda memang selalu menarik. Tetapi hati manusia masih bisa merasakan sesuatu yang selalu sama. Terutama ketidakberesan hidup. Kegelisahan atas apa yang kami temui sehari-hari. Bercanda atas apa yang salah, memaki diri dan menertawakan kebodohan-kebodohan hidup.

Kita juga berbicara tentang ketidakadilan di Indonesia. Kasus-kasus korupsi yang lagi ramai, dan tentunya saling menanggapi dengan pandangan masing-masing. Namun sebuah berita kemudian saya dapatkan darinya. Berita ini membuat saya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bapak teman saya ini, salah satu orang tua yang saya kagumi di awal-awal saya merantau, terjerat sebuah kasus korupsi di kotanya. Ya, kasus korupsi yang mana selalu saya maki siapapun yang berani-berani mengambil bagian ini. Teman saya ini tahu bagaimana otak saya jahat sekali menjudge para pelaku ketidakadilan. Dia juga paham pengalaman saya sendiri perihal kasus seperti ini.

Saya tidak tahu harus memulai tanggapan darimana. Tapi saya suka gayanya. Tetap dengan santai bercerita layaknya ini bukan sebuah berita yang menjadi beban. Tetapi saya sadar itu beban yang berat baginya. Kakak perempuannya harus menunda pesta pernikahan karena ini, adiknya yang masih bersekolah harus ditanggung olehnya yang berpenghasilan pas-pasan. Ibunya yang jantungan juga harus selalu diawasi dari berita-berita buruk soal kasus ini karena bisa lemas mendadak jikalau mendengar perkembangan berita buruk ini.

Saya justru mencoba melihat dari 2 sisi, secara hukum maupun dengan nurani. Secara hukum memang orangtuanya terlibat – walaupun detil delik kasus ini masih perlu saya telaah lagi. Tetapi dia bersumpah seupil pun tidak ada dari duit haram tersebut masuk ke dalam kantong keluarganya. Bahkan hanya karena proses hukum yang bertele-tele dari Kejaksaan, orang tuanya sudah menghabiskan banyak duit. Bukan menyogok saudara-saudara. Sama sekali bukan. Tetapi entah kenapa harus saja ada duit untuk membuat lobi-lobi hukum menjadi lebih lancar.

Pada awalnya, dia bercerita bahwa si bapak sama sekali tidak mau mengeluarkan duit untuk mengurus ini itu. Orang tua itu ingin berjuang layaknya seorang yang merasa benar. Tetapi hukum bukanlah milik orang yang lurus di negeri ini, bahkan pengurus hukumnya sendiri mungkin tidak tahu arti lurus. Alhasil beliau menyerah juga. Satu-satunya mobil pribadi yang Kijang tua itu pun harus dijual tanpa sepengetahuan si ibu. Bahkan sepetak tanah masa depan jatah teman saya mungkin akan dia ikhlaskan juga nantinya, karena teman saya tidak mau mengganggu kebahagiaan sang kakak yang sedang menabung untuk pesta perkawinannya. Dia cuma menertawakan itu sebagai anekdot indah dalam hidupnya. Namun saya yakin ada yang tergores dihatinya itu.

Saya cuma bisa berdiam mendengar ceritanya. Menghirup asap rokok saya dalam-dalam. Antara bingung mau berbicara atau memaki.

Sisi lain yang saya lihat, terbukti sebuah keluarga adalah gerbang terakhir untuk himpitan ketidakadilan. Si bapak juga mungkin berpikir demikian. Alangkah bahagianya si bapak memiliki anak-anak yang pengertian seperti teman saya dan saudara-saudaranya. Saya bisa merasakan bahwa keluarga mereka tetap kuat menghadapi cobaan sebesar ini. Terlihat dari ucapan teman saya itu mengakhiri cerita sebelum azan subuh menjelang, “Kemarin pas kumpul-kumpul di rumah malah tak gojeki si bapak. ta’ bilang : ..Bapak sih sok-sokan ga mau ngambil jatah. Padahal kan lumayan buat ongkos ini itu kalo ketauan…”. Hahaha… saya tertawa lepas juga akhirnya mendengar anekdot korupsi ini.

Dan setiba dikontrakannya subuh itu, tiba-tiba saya ingin sholat subuh dan kangen bapak saya.

19 thoughts on “Anekdot Keluarga

  1. 1. venus
    iya pahit Mbok :)

    2. iman brotoseno
    Mikir saya,.. kenapa untuk sekedar adil begitu susahnya..

    3. kumandigital
    Bener juga Dipt :D . sukur ane masih bisa nemuin Surga..

    4. balibul
    Sabar Kang,.. urang balik ka aceh tos gaduh geulis pujaan heula.. pesan si ibu ceunah …hahaha

  2. Trus klo sekarang, masih kejam dalam men’judge’?

    di episode Kick Andy tentang ‘kuliah di penjara’ aku lihat juga beberapa ‘orang beken’ yang diLP tersebut merasa tidak bersalah dan diperlakukan tidak adil. beberapa itu yang dulu saya ‘judge’. mbuh, sapa yang bener..

    Semoga mendapatkan keadilan untuk bapak temen Leksa :)

  3. ada banyak pertanyaan yang memang tidak akan bisa terjawab di dunia, begitu pula keadilan yang mungkin tidak akan bisa dilunasi kala masih di sini. tapi apapun itu, postingan ini, membuat saya hampir menangis…..thx jal..

  4. percayalah.
    selalu ada sinetron sinetron nyata di sekitar kita.

    kadang sampe ndak percaya sendiri, kok bisa gitu. kok bisa gitu. kok bisa gitu.
    tapi lanjut terus dah sinetron sampe berapa babak.

  5. # tooooooooooopics
    napa Kang,..? :D

    # dina
    Ga Mbak Dina,..
    sepertinya saya harus berpikir ulang sebelom sudzon kelewatan dengan para koruptor di berita media,.. Mungkin media ita juga SUCKS..!! banyak kepentingan bawaan… :(

    # cewektulen
    Jangan nangis Nja,.. :D

    # Nazieb
    Berpihak pada yang benar, toh..?

    # uwiwu
    Maaf Mbak,.. ga maksud gitu :|

    # tukangkopi
    kerjaan mu juga ga jauh dari ngegombal ini.. percayalah Dhis..

    # -tikabanget-
    awalnya aku pikir juga sinetron Tik,..
    tapi ini bener2 kejadian ..

  6. Itu dago plaza yah mas?
    saya juga punya teman dekat yang bapaknya dituduh korupsi, trust me..kadang saya dan temen2 lainnya suka speechless ga tau harus berkata apa tentang ini ke dia, karena kami tau betul bapak bukan orang seperti itu..

  7. makanya jaman sekarang sudah terbalik yg sala di manja yg benar di penjara jaman sekarang jamanya sudah edan apa lagi di bidang pemerinta’an ber lomba2 koropsi tetapi masih eksis duduk di kursi tertawa melihat rayat kelaparan

Leave a Reply