Politik Wayang

Hampir sepuluh tahun saya berada di tanah Jawa. Makan dan minum dari tanah yang petaknya paling kecil dibanding 4 pulau besar lainnya di Indonesia. Padahal saya sendiri tidak pernah berpikir akan berdiam lama di pulau ini. Tetapi saya menikmatinya. Semakin lama saya menikmatinya, semakin mengolah pikir dan rasa. Proses dewasa dan sosial pribadi saya juga erat sekali dengan pulau wayang ini.

Saya berani menyebutnya pulau wayang. Karena saya melihat memang filosofi wayang lekat hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Mungkin sebagian orang-orang di pulau jawa akan membantah karena merasa tidak mewakili filosofi-filosofi wayang tersebut. Belum lagi jika sudah membawa unsur budaya dan ke-lokal-an. Saya belum menemukan seorang Sunda asli mau dikatakan sebagai orang jawa. Walau sebenarnya mereka tinggal di Pulau Jawa sebelah barat. Tetapi sebagai ‘penonton’, orang pendatang, saya bisa menilai, wayang adalah topeng dan sekaligus ruh kehidupan di Jawa. Mungkin untuk orang Sunda saya bisa menawarkan lebih, “bagaimana kalau wayang golek saja”?

Fachry Ali pernah menulis sebuah buku “Refleksi Paham -Kekuasaan jawa- Dalam Indonesia Modern” (1986). Ada juga De Jong, S dalam “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa” (1976). Buku-buku budaya terbaru yang berbau fiksi sejarah seperti karya Langit Kresna Hariadi, juga menjelaskan secara implisit mengenai kekuatan budaya jawa dalam politik dan kekuasaan.

Lalu apa hubungannya dengan wayang? Pemahaman saya yang secuil ini membawa pemikiran ke sana. Bagaimana lakon budaya, punggawa dan penguasa dalam wayang-wayang jawa selalu bisa dilakonkankan dengan sempurna dalam kehidupaan politik negeri ini. Sejak zaman Indonesia menjadi negara yang merdeka, hingga “merasa” postmodern seperti sekarang, banyak orang berusaha membuktikan bahwa pembangunan Indonesia menjadi seperti ini karena dipengaruhi kebudayaan Jawa sehari-hari. Infiltrasi budaya njawani ini sampai ke pelosok-pelosok nusantara. Bahkan buku-buku sejarah SMU di Aceh juga lebih banyak halaman bercerita sejarah raja-raja Jawa – kalau kata adik saya, tidak dihapal, resikonya tidak lulus.

Kembali ke wayang. Ada 2 tokoh wayang menarik yang saya kutip dari artikel Seno Gumira di Majalah Jakarta – Jakarta. Sengkuni dan Kresna. Siapa yang tidak kenal kedua tokoh belakang layar dalam panggung Mahabaratha ini, bagaimana mereka menginspirasi sebuah film serial India kolosal terbaik di TPI di masa orde baru dulu. Kadang membuat saya betah untuk menunda-nunda jadwal masuk siang ke sekolah hanya untuk menanti kejutan-kejutan trik dan politik kedua tokoh ini. Mereka berdua aktif dalam permainan kekuasaan, menggunakan otak mereka – bukan dengan aji kesaktian.

Memang benar Kresna adalah titisan Betara Wisnu yang tidak terkalahkan, tetapi sebagai Kresna dalam Mahabharata, Kresna tidaklah berperan sebagai Rama dalam lakon Ramayana – Sinta. Bukan pula Kresna sebagai Arjuna Sasrabahu di zaman sebelum perang Mahabharata. Dalam Mahabharata, ia hanya diizinkan menggunakan akalnya. Kecuali jka dalam keadaan terpaksa tidak mampu menahan amarah, seperti dalam lakon Kresna Duta, maka otomatis “takdir” menentukannya harus bertiwikrama.

Dalam lakon Mahabharata, seperti diajarkan dalam ‘cerita-cerita baik’ dan menginspirasi, Sengkuni adalah seorang yang licik pembawa angkara murka (busuklah pokoknya), sedang Kresna adalah sumber segala kebaikan pesan dan perjuangan menuju kebenaran. Seperti layaknya semua dongeng masa kanak-kanak, kebenaran selalu absolute dimana sang jagoan dan tertindas harus menjadi pemenang. Cinderella maried berbahagia dan Putri Salju dikecup sang pangeran.

Tetapi coba kita lihat dari sisi politik. Kresna justru adalah tokoh yang sangat politis. Ia punya segala kelebihan nirwana. Backing dari Suralaya dan sebuah Kaca Lopian yang bisa menjawab semua masalah. Bahkan sudah tahu persis bagaimana jalannya sejarah yang akan datang, tahu akhir kisah Barathayudha dari awal cerita dipentaskan. Ya jelas, karena memang skenario nya adalah : “Pandawa memenangkan Bharatayudha“.

Bagaimana dengan sang laknat Sengkuni? Sungguh dia adalah seorang mediocre dari kampung coret Gandara. Cuma manusia biasa dengan modal otak saja. Tanpa ilmu-ilmu ajaib dari langit. Tetapi justru tampil dalam pentas secara lebih manusiawi. Sangat manusiawi malah, karena ada sifat iri dan dengki-nya itu. Kalau anda perhatikan, justru akal dan taktik politiknya sungguh mengagumkan dan bertebaran di sepanjang kisah Mahabharata.

Dasar nasib sial cuma terlahir sebagai manusia biasa, segala langkah Sengkuni jelas sudah terbaca oleh Kresna karena support dari Dewata. Berusaha sampai njengking sekalipun tetap saja kalah, karena tidak punya backing pemegang nasib dan takdir seperti sang Kresna.

Opini mitos Mahabharata di atas memang sangat dangkal adanya. Saya juga terinspirasi dari Seno. Tetapi bisa jadi benar juga, kenapa pandangan konservatif biasanya lebih cenderung memihak legitimasi Kresna. Dan sebaliknya dalam pandangan modern justru Sengkuni yang lebih manusiawi berada dalam batas realitas yang lebih mudah diterima. Meski kedua pandangan tersebut juga belum patut dijadikan teladan.

Lalu saya ditanya oleh seorang teman, “Jadi kamu memihak siapa?”. Well, mungkin menjadi Sengkuni lebih baik bagi saya. Manusia yang cerdik dan bisa menjadi kontrol penguasa dengan segala kekuatan politis yang licik. Ohya, Alm. Bapak saya juga pernah berpesan, “bayar zakat fitrah mu dimana kamu makan beras dan minum air-nya”.

NB : Ini cuma pikiran jorok saya di pagi hari saja. Sambil mendengar lagu Lobow “Kau Cantik Hari Ini”.

Btw, kamu memang cantik hari itu, Sungguh…

17 thoughts on “Politik Wayang

  1. Politik wayang ini sangat kental bagi para pemimpin Indonesia ( baca : jawa ).
    Sedikit banyak mereka sangat dipengaruhi dan membuat kebijakan berdasarkan skema wayang. Lha Gus Dur saja yang buta, mendapat pencerahan karena menonton wayang kulit…sekaligus mempoisiskan sebagai semar dalam politik indonesia

  2. hmm, i love it. :-)
    orang jawa semodren apapun tidak akan lepas dari pola pikir mahabrata dan itu menarik…sejujurnya sy ngak pernah bener2 menyukainya waktu menontonya di TVR dulu. Alasannya, simbol2 yg dipakai itu asing dan jauh dari tradisi keluarga sy. maklum, sy orang batak.

    Tapi coba cek ini postingan temen sy soal 14 prinsip jawa. Bagus banget!

  3. saya pernah baca sebuah buku, tentang jawa (lupa judulnya dan yg nulis), buku yang sama sekali berbeda dengan buku “NUSA JAWA : Silang Budaya”nya Dennys Lombard, dalam buku itu dikatakan bahwa, POLITIK WAYANG itu sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad (Abad 7), dan tokoh-tokoh dalam wayang itu adalah tokoh-tokoh dalam islam. agak bingung, tp ya itu yg saya baca dari buku. secara makna nama-nama tokoh dalam wayang memang ‘sama’ dengan nama-nama keNabian.

  4. “Lha Gus Dur saja yang buta, mendapat pencerahan karena menonton wayang kulit…sekaligus mempoisiskan sebagai semar dalam politik indonesia”
    Hohoho….ada-ada saja……

    politik wayang, baru skarang saia ndenger istilah ini. Tafi, sefertina lebih komfleks sekarang dibandingkan kisah folitik ferwayangan jaman dahulu.
    ah ya, analisa yang cerdik sangadh, kawand!

  5. Politik wayang, kesanya semuanya menjalankan peran nya sesuai dengan status dan posisinya, hmmm bisa dikatakan begitu, bisa juga ngga…. apalagi ketika wayang wayang tersebut mau bergerak sendiri sendiri, sang dalang belum tentu bisa mengatur alur ceritanya

  6. 1. kumandigital
    dalang memang hebat..
    jadi siapa dalang dalam politik Indonesia :D

    2. [H]Yudee
    sapa tuh mas Yud ;) ?

    3. iman brotoseno
    Wah kalo sampai bicara korelasi tokoh wayang dan tokoh politik Indonesia, justru menariknya disitui Mas.. nest post deh :D

    4. uwiuw
    Saya orang Aceh..
    tetapi batasan darah yg mengalir, atau geografis sekalipun bukan masalah bagi saya untuk belajar dari budaya orang lain…

    5. Nazieb
    hahaha..
    saya tidak mau menjadi pandawa mana pun..
    tahu kenapa?
    karena mereka mau2nya mengawini satu wanita yang sama..Dewi Drupadi :p
    I just want one girl, and she just for me :D

    6. stey
    nyambung Stey..
    Coba Sengkuni itu bisa setulus merpati?
    *tidak bakal ada sejarah Bharatayuda hahaha…

    7. didut
    Hanoman?? dah ketahuan kok sejak kita ketemu .. hahahaha…

    8. annots on April 6th, 2008 10:38 am (Edit)
    Bener!! Kowe pengen jadi apa Nots? :-?

    9. Effendi
    monyet putih?? COCOK!!!

    10. adityasani
    Jika kita berbicara wayang,..
    sebenarnya hanya adalah sebuah media dan lakon untuk pesan kepada masyarakat,.. layaknya sinetron di Tipi2 kita sekarang..
    JELAS ada perbedaan lakon wayang sebelum datang islam dan sesudah kedatangan islam di Nusantara.. diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga..
    nanti kita coba ulik ini, kalo saya cukup resources ;)

    11. hoek soegirang on April 7th, 2008 6:05 pm (Edit)
    Jangan kaget! bahkan masih banyak lakon budaya laen seluruh NUSANTARA bisa bicara politik… punya contoh, Hoek?

    12. Raffaell
    Menjalankan peran sesuai porsinya. Ini kalau kita menarik garis lurus kepada takdir dan nadir (kalau anda percaya itu..) .. tetapi itu bagi saya berada pada tataran “atas awan”.. saya lebih suka jika kita bicara maksud dari nilai2 skenario sosial nya saja.. :)

  7. wah tulisan yang keren! ;) memang orang jawa tak pernah lepas dari filosofi termasuk dari wayang… setiap peran ada watak yang dimainkan, ya sama seperti hidup…

  8. akqu kul di bahasa jawa,,,,

    jadi koment temen-temen ne bikin saya lebih tau tentang peran cerita jawa dalam kehidupan nyata….makasih,,,,bagus bangett…

  9. wah..saya bangga sekali jadi orang jawa,memiliki mahakarya indonesia yang luar biasa berupa wayang kulit sehigga orang luar negri terhipnotis olehnya

  10. ya saya setuju memang orang jawa tidak pernah lepas dari yang namanya wayang,
    setiap wayang mempunyai karakter dan watak masing-masing
    seperti kehidupan nyata kita juga,, :)

Leave a Reply