Presiden Penyair +
Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama Jimmy Carter dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya dukungan Jimmy Carter terhadap Obama. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan “berandai-andai” bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adalah karena kemiripan mereka berdua dalam berpolitik. Isu versi lain yang lebih keras malah lebih buruk, “Obama akan sama buruknya dengan Carter”.
Memang itu cuma cerita negeri orang. Tetapi justru isu itu membuat saya teringat dengan sebuah cerita tentang Carter, sang mediator perjanjian damai bersejarah antara Mesir dan Israel itu.
Carter dikenal sebagai Presiden USA yang paling lembek - dalam arti kebanggaan sensasional USA yang “gagah” ala Rambo membabat Vietnam. Kesan ini muncul karena kebijakan politik nya yang lemah dalam kasus penyanderaan di Kedubes Teheran 1979.
Sebenarnya Carter bukan orang yang lembek-lembek amat. Layaknya anak desa dengan mimpi tinggi dan berprestasi, Carter memulai karir di Naval Academy dengan predikat Sarjana Fisika. Kecintaannya pada Angkatan Laut, terutama ilmu submarine/selam, membuat Carter muda ingin terus belajar mengenai teknologi kapal laut. Pada tahun 1953, sekolah training ilmu nuklir pun dijajalnya. Carter sangat yakin nuklir akan menjadi bagian penting dari Submarine Ship di masa mendatang.
Sayangnya beberapa bulan kemudian, ditahun yang sama, ayahnya meninggal dunia. Dan keadaan ini membuatnya harus berhenti sekolah, sekaligus keluar dari kedinasan dengan pangkat terakhir Letnan. Carter pulang ke kampung halaman, menutup lembaran mimpinya menjadi seorang Jenderal AL USA. Tanggal 17 januari 1955, kapal selam nuklir pertama USA yang seharusnya diujicoba olehnya, berlayar di perairan pasifik.
Kembali ke kampung halaman menjadi petani kacang. Pembawaannya memang bukanlah seseorang yang populis. Malah cenderung puitis. Tidak ada dramatisasi dengan nasib yang menimpa dirinya. “Saya tidak punya buruh dan saya juga tidak punya pelanggan,” katanya. Dengan kondisi sebagai petani kacang yang nyambi usaha keluarga di penjualan pupuk, kesan yang tertangkap hidupnya amatlah santai. Santai yang bermanfaat dimana dia justru menyempatkan diri kembali bergulat dengan banyak buku. Sialnya, Carter menggemari antologi puisi. Fans berat Dylan Thomas, penyair terkenal dari Wales. Seorang penyair yang mengenalkan istilah “After the first death there is no other” , yang juga dikutip oleh film terkenal Dangerous Minds.
Jiwa sosial yang mengalir dari ibu-nya yang kemudian membuat Carter aktif dalam berbagai organisasi sosial. Dan memang karena visi-visi nya yang brilian (seperti halnya visi akan Nuklir di kapal selam), justru membuat orang terkagum-kagum. Namanya melejit cepat. Karir politik dimulainya dengan bergabung di Senat Georgia dan kemudian menjadi Gubernur. Pada 1976 Carter berhasil menjadi Presiden USA. Kemenangannya ditandai dengan terbitnya 2 buku inspiratif tentang visi politik Amerika yang baru untuk masa itu (Why Not the Best? dan A Government as Good as Its People).
Kejenuhan rakyat Amerika dengan segala konflik Vietnam di masa Nixon memang menguntungkan kubu Carter, Partai Demokrat. Belum lagi ditambah kasus Watergate yang unspokable itu. Langkah mulus pun diraih Carter menuju kursi presiden, dielu-elukan oleh rakyat Amerika sebagai pecinta perdamaian dan berpihak pada kaum marginal.
Rakyat Amerika mengenalnya sebagai Presiden dengan kemampuan verbal yang hebat, tidak hanya seorang pembaca yang tekun, tetapi juga pecinta puisi. Puisi-puisi kesukaannya tidak saja hanya tulisan Dylan Thomas dan James Dickey yang biasanya menjadi makanan anak-anak Sastra. Puisi-puisi milik kaum marginal sekelas “pengamen” Bob Dylan pun dikuasainya.
Tetapi politik dalam hubungannya dengan kekuasaan, memang memerlukan aksi yang dramatik penuh sensasional, bukan malah puitik. Seperti ketika Bush Tua menggelar Perang Gurun, atau Bill Clinton yang merudal Irak, atau paling terkenal si Keras Kepala Bush Muda yang secara dramatis mengecam negara-negara penggangu sebagai biang kerok teroris. Sayangnya Carter terlalu lembek untuk hal-hal teaterikal seperti ini.
Di pemilihan selanjutnya Carter kalah oleh seorang aktor kelas dua yang sering bermain film koboi, Ronald Reagan. Ternyata seberbudaya-budayanya Amerika, mereka lebih suka melihat dirinya sebagai koboi ketimbang penyair.
Dan beberapa hari lalu, kembali Carter berpuisi dengan gayanya. Membuat panas kuping-kuping politisi di USA sendiri. Secara sepihak, Carter membuat pertemuan dengan Khaled Meshaal, pemimpin Hamas, untuk membahas perihal perjanjian damai antar Israel dan Palestina, dengan poin pokok adalah pembukaan blokade oleh Israel di Gaza, dan pertukaran sandera. “Puisi”-nya kali ini justru mendapat kecaman dari negaranya sendiri, dan jelas satu lagi oleh Israel yang mana dalam buku terbaru Carter disebut-sebut melakukan politik serupa apartheid di Palestina. Bagi USA dan Israel, Hamas adalah teroris, dan berarti tidak ada kewajiban untuk mengikutkan mereka dalam negosiasi. Sementara Carter berpendapat bahwa Hamas adalah kelompok pemenang Pemilu di Palestina, maka sewajarnya melibatkan mereka dalam proses perdamaian.
Jimmy Carter tentu sangat mengerti soal setingan politik dalam proses menuju damai antara kedua negara itu. Perdamaian bukan lagi menjadi kebutuhan manusiawi, tidak butuh sebuah nurani. Tertutup oleh kebutuhan politik penguasa. Persis seperti sebuah bait puisi Dylan Thomas yang digemarinya, yang mempertanyakan “apakah tangan-tangan kekuasaan mempunyai hati?”
Great is the hand that holds dominion over Man by a scribbled name.
The five kings count the dead but do not soften
The crusted wound nor stroke the brow :
A hands rule pity as a hand rules heaven :
Hands have no tears to flow…
The Hands that Signed the Paper - Dylan Thomas
Bahasan saya inii tidak berbicara tentang politik luar atau dalam negeri. Seperti kata saya diawal, saya tiba-tiba saja hanya ingin bercerita tentang tokoh satu ini. Carter memang bukan seorang orator hebat layaknya Soekarno atau Sang Mastro Fidel Castro. Bukan pula seorang aktor kawakan sekelas Reagan atau Arnold Scwazeneger atau pun Rano Karno dan Dede Yusuf. Apalagi jika anda sandingkan dengan para inspirator sekelas Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa.
Jimmy Carter hanyalah seorang presiden dengan apa adanya yang dia miliki, dan ia sangat menyadari bahwa kekuasaan hanyalah tangan-tangan yang menandatangani kertas-kertas. Seperti kata bait terakhir puisi Dylan diatas, sebuah kalimat yang sangat sering dikutip Jimmy Carter, dan juga membuat saya terpekur ketika mengulang-ulang membaca maksud kutipan ini di kolomnya Seno,
“Yeah, thats right..Hands Have No Tears to Flow…”
oooo, dia penyair juga toh? baru tau
[…] Warung Kapucino wrote an interesting post today on Presiden PenyairHere’s a quick excerpt Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama Jimmy Carter dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya dukungan Jimmy Carter terhadap Obama. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan “berandai-andai” bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adalah karena kemiripan mereka berdua dalam berpolitik. Isu versi lain yang lebih keras malah lebih buruk, “Obama akan sama buruknya dengan Carter”. Memang itu cuma cerita negeri orang. Tetapi justru isu itu membuat saya teringat den […]
good posting
jangan lupa, jal, JFK –presiden amrikiya juga, kan?– pernah melansir pernyataan yang sangat terkenal: “politik itu mengotori dunia, puisi yang membersihkannya.”
IMO, terlalu berlebihan (pernyataan) si Kennedy itu.
I can spell Politics. p-o-e-t-i-c-s.
tak sabar menunggu primary pensilvania…….
ada presiden US yang bisa bikin puisi?Great!!