Warung Kapucino

Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda

Wednesday, April 23, 2008

Revolusioner (part 1) - Tentara

Letjend (alm) Agus WirahadikusumaRevolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah “darah”.

Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh “ihh…emang masih jaman ya?”

Padahal revolusi cuma sebuah kata. Yang memiliki arti tidak lebih dari perubahan yang dipercepat. Anak-anak muda bersemangat seperti saya mungkin, bisa jadi hanya mengenal tokoh-tokoh revolusioner negeri lain. Stalin yang tangguh, Che yang berwajah kokoh, Chavez yang mandiri, atau Sun Yat Sen yang cerdas. Padahal kita memiliki tokoh-tokoh revolusioner kita sendiri. Tan Malaka dan Sjahrir yang hebat itu. Atau Soekarno dan kawan-kawan di masanya.

Oke, itu dulu. Mereka lapuk dan bapuk dalam catatan sejarah kita. Bagaimana dengan sekarang? Saat ini? Agak sulit melihat pemikiran revolusioner tokoh-tokoh Indonesia di masa sekarang. Tetapi paling tidak saya punya sedikit catatan dalam memori saya, penilaian saya tentang mereka yang berpikiran/bervisi revolusioner dalam pertemuan saya dengan mereka.

Di tahun 2000, sekolah saya sempat mengundang seorang Petinggi TNI. Tidak main-main, jabatannya adalah (mungkin) Pangkostrad saat itu. Saya lupa tepatnya kapan acara ceramah di sekolah saya tersebut. Yang pasti 29 Maret 2000, Letjen Agus Wirahadikusuma, dikenal dengan nama AWK, diangkat Presiden Gusdur sebagai Pangkostrad. Dan diberhentikan 3 bulan kemudian. Beliau adalah keponakan sekaligus anak angkat dari mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma.

Masih ingat oleh saya, dengan pakaian hijaunya itu, di balairung segilima sekolah kami, beliau terlihat dalam rona muka yang sangat serius. Berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang biasa datang ke sekolah ini. Walau mereka dari kalangan TNI, tetapi sangat menyesuaikan diri dengan anak-anak remaja seperti kami. Pembicaraan soal nasionalisme dan negara dibahas secara santai dan disesuaikan untuk anak-anak muda -hanya sekedar tahu.

Letjen AWK saat itu dengan berapi-api (ya saya ingat sekali) menyampaikan pesan-pesan menekan, bahwa reformasi atau revolusi sekalipun namanya adalah tugas bersama-sama, sipil maupun TNI. Saat itu TNI dalam kondisi perdebatan panas perihal reformasi di tubuhnya sendiri. AWK berkata , setiap orang bahkan hingga TNI pun tidak luput dari resiko untuk berubah. Dan sekolah saya, sebagai bagian dari tubuh TNI, juga harus menyesuaikan diri. Reformasi bukanlah sebuah hantu menakutkan. Ketakutan hanyalah bagi orang-orang yang bersalah, layak untuk mendapat ganjaran atas penderitaan rakyat selama ini. Yang siap untuk berubah menuju revolusi Indonesia baru, diajak oleh beliau untuk maju bersama.

Beliau juga sempat bercerita tentang pengalaman-pengalamannya menempuh pendidikan militer. Satu hal lain yang sangat saya ingat. Beliau membanggakan kesempatan bisa menempuh pendidikan Ranger di USA. Ranger itu bisa dikatakan sebagai pasukan khususnya Army Paman Sam. Beliau senang bisa mencuri ilmu-ilmu perang Ranger Amerika perihal konsep gerilya Vietkong. Ranger Amerika menjadi sangat fokus membedah pengetahuan gerilya daerah tropis, sejak kekalahan telak di masa perang Vietnam.

Yang saya tangkap saat itu, wow..! Tentara berpangkat tinggi satu ini memang beda dalam visi dan semangat. Bercerita dengan lugas, tegas dan sangat menohok ke persoalan bangsa. Terutama tentang hubungan antara TNI - sipil dan reformasi dalam tubuh TNI, sesuatu hal yang saya tahu sangat tabu dibicarakan oleh korps berbaju hijau.

Selepas ceramah itu, saya suka mencari info tentang lelaki dengan inspirasi liar ini. Terkenal sebagai jendral vokal dalam jajaran tubuh petinggi TNI. Bahkan sempat ada berita besar beliau membongkar korupsi Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar (dalam artikel si peneliti sosial konflik SARA Maluku, George J. Aditjondro - “Orang-orang Jakarta Dibalik Tragedi Maluku“). Satu kesimpulan bagi saya untuknya saat itu . Tentara yang hebat!

Hingga ketika di Agustus 2001, saya mendengar beliau meninggal dunia, saya kaget, sekaligus sedih. Kenapa orang seperti beliau malah harus pergi duluan. Sementara masih banyak tentara-tentara yang lebih pantas pergi berkalang dosa dibandingkan beliau?

Kondisi kematian beliau memang tidak jelas detailnya. Hanya dikabarkan sakit jantung mendadak. Walau sebenarnya dalam pengakuan keluarga, almarhum masih sehat-sehat saja di hari sebelumnya, hingga esok paginya mulai tidak sehat. Dan kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit Pusat Pertamina. Saya jadi teringat kasus-kasus kepergian tokoh-tokoh lainnya yang meninggal secara misterius, seperti jaksa agung Baharuddin Lopa maupun Munir Thalib. Isu pun berhembus kencang dimana meninggalnya AWK erat kaitannya dengan konspirasi para Pati AD yang berseberangan blok dengan AWK untuk menjegal AWK menjadi KASAD. Para Pati AD ini sempat mengadakan pertemuan di Bandung 9 Oktober 2000 untuk membicarakan perihal pengajuan AWK ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dan konspirasi berlanjut, dimana para perwira yang resah tersebut, disinyalir tersangkut luas dalam jaringan tentara yang membawa tungku api di jantung tragedi Maluku, sepanjang 1999 hingga 2001, dan percikannya masih terasa panas sampai sekarang.

-0o0-

Suatu keberuntungan bagi saya mengenal beberapa tentara-tentara hebat seperti ini. Cerita lain adalah seorang Kolonel Marinir bernama Tjuk Sutanto yang sangat menginspirasi sudut pandang saya tentang bangsa. Beliau menjadi pengasuh saya di sekolah itu dulu. Dan setahu saya penempatannya selalu dalam lingkup pendidikan di tubuh TNI. Sebuah jabatan yang memang bukan lah posisi yang strategis. Atau sengaja ditempatkan di posisi tidak strategis seperti itu? Entahlah. Satu sisi, jika anak didiknya cukup “cerdas”, semoga bakal banyak orang-orang berpikiran hebat seperti beliau lahir.

Sempat juga saya melihat ketangkasan seorang Danrem Teuku Umar saat Musibah Tsunami menimpa Aceh. Saat itu saya bergabung di Tsunami Emergency Response di kota Meulaboh, Aceh Barat. Ketika semua jajaran Petinggi Pemda menghilang (entah karena trauma atau mengurusi dirinya sendiri), Danrem ini me-manage kondisi darurat menjadi lebih baik dengan nurani membantu rakyat yang menderita dalam barak. Paling tidak itulah sedikit banyak kesan yang sempat saya tangkap. Satu cerita miris saya, saat tim kami membutuhkan gudang tempat menaruh bantuan, kami berencana menggunakan rumah besar kosong milik seorang pejabat daerah di kota Meulaboh itu. Edan! Kami tidak mendapat izin dari sang pemilik. Malu saya saat itu, karena sebagai putra Aceh, datang ke kota ini dengan teman-teman dari tanah berbeda yang ikhlas menanggung resiko demi saudara-saudara satu daerah saya. Dan kemudian Danrem ini lah yang membantu mengurus tempat lain bagi kami untuk menyetok berbagai bantuan. Bahkan armada bantuan militernya pun berhak digunakan oleh kalangan LSM/Volunter manapun.

Padahal di tengah konflik yang masih terus berlangsung saat itu, saya bisa mengerti resiko berat yang ditanggungnya. Dualisme antara nurani dan berpegang teguh pada perintah (politik) komando atasannya. Saya bisa menangkap pesan ini dari obrolan-obrolan ringan dengannya. Dalam setiap malam rapat satuan koordinasi pelaksana (SatKorLak), selama 2 bulan lebih, beliau langsung memimpin rapat. Mengatur setiap bantuan dan teknis pelaksanaan. Cara militer memang efektif, tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Berbeda dengan setelah masa rehabilitasi diserahkan kembali kepada sipil 3 bulan kemudian, dimana terlalu banyak intrik, kongkalikong yang mencium-cium kesempatan. Perbedaan mencolok yang saya lihat dengan mata kepala sendiri saat itu.

Segala keputusan ala militer saat itu hanyalah untuk bantuan dan keselamatan warga. Bahkan daerah rawan kontak senjata pun diterjang demi sampainya bantuan di daerah-daerah belum terjamah. Pernah 2 truk tentara dan personil pun dikirimkannya menemani tim saya survei ke daerah yang sangat minim menerima bantuan. Terbayang bagaimana tentara-tentara ini dalam kondisi dag dig dug melewati daerah rawan, dan kemudian setiba di sana pun mereka turut membagi-bagi bantuan.

Sepenggal cerita dari mereka-mereka yang mau melakukan akselerasi untuk sedikit perubahan yang lebih baik. Para Tentara Revolusioner.

“Kalau kita berbicara mengenai moralitas, saya minta dikembalikan lagi. Apakah penculikan itu bermoral? Apakah permainan-permainan yang menimbulkan kerusuhan Mei itu bermoral? Apakah penembakan-penembakan dan tindakan-tindakan di luar batas-batas profesionalitas sebagai tentara terhadap mahasiswa itu bermoral? Termasuk juga masalah-masalah di Timor Timur dan Aceh. Apakah itu bermoral? Saya kembalikan lagi. Jangan keluar dari kenyataan. Itu sangat tidak bermoral dan sangat merusak kredibilitas TNI sebagai tentara yang seharusnya dicintai rakyat,”

-Letnan Jendral (Alm) Agus Wirahadikusma-

(bersambung)

posted by Leksa at 5:37 am  
 

7 Comments »

  1. jadi, revolusi menjadi kata yang seksi ya mas

    dimana saya bisa menemukan banyak artikel tentang hal-hal seperti ini mas?
    bisa kasih saya link? btw, ini bagus sekali.

    Comment by pudakonline INDONESIA
    April 23, 2008 @ 11:27 am
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0b5 on Windows Windows XP

  2. bagaimana sekarang mo revolusi sedangkan keberpihakan terhadap status quo justru lebih mendatangkan keuntungan……

    Comment by cewektulen INDONESIA
    April 23, 2008 @ 1:16 pm
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.0.5 on Windows Windows XP

  3. @pudakonline : sebenarnya saya cuma mengolah memori saya, kenmudian mencari bahan lewat Internet. *thanks to Mbah Gugel
    Buku kang,.. buku adalah inspirasi, koran adalah sumber imaginasi,.. sedikit informasi dari mereka, dibantu google, maka lengkaplah keinginan menulis saya :D

    @Senja : status Quo tidak selalu Buruk, Nja.

    Comment by Leksa INDONESIA
    April 23, 2008 @ 2:37 pm
    Using Flock 1.0.3 on Windows Windows XP

  4. Saya sangat kagum dengan almarhum AWK. Sayang beliau berpulang terlalu cepat meninggalkan reformasi TNI yang belum selesai.

    Comment by arif CANADA
    April 23, 2008 @ 4:39 pm
    Using Blackberry Blackberry 8707

  5. ah saya takut memberikan komentar..

    *intel ngintip

    Comment by iman brotoseno INDONESIA
    April 23, 2008 @ 4:46 pm
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Mac OS Mac OS X

  6. Saat DOM (Daerah Operasi Militer) Aparat berpesta dgn senjatanya, Orang aceh divonis pemberontak, halal untuk ditembak! Negara apa ini?
    Saya diam-merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan, ternyata saya tetap cinta Indonesia.
    Para pahlawan, mari kita kopdar disurga..

    Comment by kutaraja INDONESIA
    April 24, 2008 @ 12:51 am
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

  7. saya di calang waktu itu, tapi saya tidak sempet mbedain mana militer dan mana sipil ^_^

    salam hormat

    ipungmbuh SH

    Comment by ipungmbuh Sh UNITED STATES
    April 24, 2008 @ 12:04 pm
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float