Kenapa soal ribut-ribut Monas dan Ahmadyah lebih meramaikan panggung Republik dari pada soal kasus BLBI yang sedikit demi sedikit mulai terbuka?
Yang saya tahu 6M itu bukan cuma sekedar suap menyuap. Belum lagi urusan pelicin lainnya yang bisa saja menyangkut banyak pihak. Terus jika diakumulasi dengan total kerugian negara dari BLBI sendiri? Wah, kalau kedok ini terbuka bisa geger Republik.
Kalau berbicara soal ini, dan berpikir sedikit “liar”, siapakah aktor-aktor yang bermain di level atas dalam soal BLBI?
Pertama, urusan tangkap menangkap saya jadi ingat Polisi. Kalau boleh berpikir jahat, apakah Sutanto itu terlibat?
Kedua, urusan menggugat adalah urusan Kejaksaan. Kalau ini sudah jelas melibatkan beberapa Jaksa muda di dalam kejaksaan. Tetapi sekali lagi saya berpikir jahat, siapakah bosnya para jaksa muda ini? Hendarman? Saya masih ingat berita heboh di akhir februari lalu, “2 Obligor BLBI aman, Kejagung tidak menemukan adanya tindak pidana koruspi dalam penyerahan aset Anthony Salim (BLBI I) dan Syamsul Nursalim (BLBI II).”
Ketiga, dalam teori pemerintahan yang demokratis, peran partai politik sebagai bemper hak warga negara besar adanya. Dengan kondisi Nursalim yang tetap aman di Singapur sana, dan tentunya masih memiliki cadagan kekayaan, partai mana yang tidak tergiur dengan dana segar pemilu? Pesta kekuasaan itu sebentar lagi dimulai.
Keempat, dari pihak pemerintah, ada seseorang yang dari 2006 lalu selalu mengusahakan negosiasi antara pemerintah dan obligor-obligor nakal ini. Seseorang yang menjabat sebagai Sekeretaris Kabinet di masa itu.
Kelima, intel negeri ini terlalu jago untuk sekedar mengetahui keberadaan koruptor-koruptor nakal itu. Apa ada intel yang juga ikut bermain dalam pengamananan kasus dan pengolahan isu?
Bagaimanapun juga, ada kemungkinan terlalu banyak yang kecipratan di dagelan ini. Dalam teorinya, jika sebuah kasus korupsi telah meluber kemana-mana begini, maka dongengnya harus dibatasi. Dibatasi siapa yang menjadi pemain-pemainnya. Top leader harus aman bagaimana pun caranya. Yang kupingnya panas, mulai beraksi saling serang di antara para pendukung yang dulunya berjalan kompak. Seru memang melihat sesama penjahat dalam kartel mafia korupsi saling menelikung.
Yang jelas, uang panas yang terus berputar itu seperti rantai setan. Yang satu membiayai yang lain. Karena bagaimanapun juga duit suap, atau pelicin sekalipun adalah dana segar yang harus tidak bisa dilacak keberadaannya. Bisa jadi dana segar dari keuntungan korupsi lainnya. Butterfly Effect juga berlaku di lingkaran uang haram ternyata.
Jadi, lebih buruk mana, bergosip soal agama? atau pasang mata dan hati untuk lingkungan sosial anda yang sedang seakarat?