"Itu ada di Detikcom, Yang Mulia"

Dalam banyak komunitas di dunia maya, Detik sering dipelesetkan sebagai media yang “basbang”, yang juga berarti “Basi Banget”.

Tetapi tidak begitu menurut Artalyta alias Ayin, si tersangka dalam kasus penyuapan Kejaksaan Agung itu. Dalam sidang hari ini, dengan gaya menjawabnya yang berbelit-belit, ternyata Detik harus berterima kasih ke Artalyta.

“OK. Dari pembicaraan itu, Anda sepertinya tahu persis perkembangan kasus BLBI II. Anda tahu dari mana?” kata Andi (Hakim Andi bachtiar -red).
“Itu ada di detikcom, yang Mulia,” kata Artalyta.

Hebat! Bermodal membaca Detik saja, Ayin bisa tahu seluk beluk kasus BLBI II sedalam itu. Selamat buat Detik. Sekaligus selamat bekerja mengumpulkan arsip berita BLBI untuk di crosscheck dengan rekaman Ayin.

Tapi jika merujuk logical fallacy, sebenarnya pernyataan itu juga tidak menjawab pertanyaan Andi. Pintar sekali wanita satu ini berkelit-kelit dalam menjawab pertanyaan hakim.

Sepertinya Arya harus traktir saya untuk kemajuan Detik satu ini.

Memburu Tapal Batas

Hari sudah hampir berakhir. Warna langit sudah digores-gores oleh kuning dengan paduan emas dan biru gelap. Kendaraan-kendaraan diluar bus ini terlihat berlalu semakin cepat. Seperti ada yang mereka kejar di tujuan masing-masing. Kadang aku melihat ada muka lelah namun justru matanya menunjukkan sebuah semangat untuk bertemu sesuatu di ujung perjalanannya. Lain lagi jika melihat dalam perhentian lampu merah, ada wanita-wanita bermuka cerah yang memeluk mesra pengemudi motor yang memboncengnya. Harum tubuh mereka serasa bisa kucium, walaupun ada kaca tebal antara tempat ku duduk di bus mini ini dengan mereka yang saling menikmati senja diluar sana.

Continue reading →

Leak dan Framing Media

Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.

Continue reading →

BLBI dan Monas

Kenapa soal ribut-ribut Monas dan Ahmadyah lebih meramaikan panggung Republik dari pada soal kasus BLBI yang sedikit demi sedikit mulai terbuka?

Yang saya tahu 6M itu bukan cuma sekedar suap menyuap. Belum lagi urusan pelicin lainnya yang bisa saja menyangkut banyak pihak. Terus jika diakumulasi dengan total kerugian negara dari BLBI sendiri? Wah, kalau kedok ini terbuka bisa geger Republik.

Kalau berbicara soal ini, dan berpikir sedikit “liar”, siapakah aktor-aktor yang bermain di level atas dalam soal BLBI?

Pertama, urusan tangkap menangkap saya jadi ingat Polisi. Kalau boleh berpikir jahat, apakah Sutanto itu terlibat?

Kedua, urusan menggugat adalah urusan Kejaksaan. Kalau ini sudah jelas melibatkan beberapa Jaksa muda di dalam kejaksaan. Tetapi sekali lagi saya berpikir jahat, siapakah bosnya para jaksa muda ini? Hendarman? Saya masih ingat berita heboh di akhir februari lalu, “2 Obligor BLBI aman, Kejagung tidak menemukan adanya tindak pidana koruspi dalam penyerahan aset Anthony Salim (BLBI I) dan Syamsul Nursalim (BLBI II).”

Ketiga, dalam teori pemerintahan yang demokratis, peran partai politik sebagai bemper hak warga negara besar adanya. Dengan kondisi Nursalim yang tetap aman di Singapur sana, dan tentunya masih memiliki cadagan kekayaan, partai mana yang tidak tergiur dengan dana segar pemilu? Pesta kekuasaan itu sebentar lagi dimulai.

Keempat, dari pihak pemerintah, ada seseorang yang dari 2006 lalu selalu mengusahakan negosiasi antara pemerintah dan obligor-obligor nakal ini. Seseorang yang menjabat sebagai Sekeretaris Kabinet di masa itu.

Kelima, intel negeri ini terlalu jago untuk sekedar mengetahui keberadaan koruptor-koruptor nakal itu. Apa ada intel yang juga ikut bermain dalam pengamananan kasus dan pengolahan isu?

Bagaimanapun juga, ada kemungkinan terlalu banyak yang kecipratan di dagelan ini. Dalam teorinya, jika sebuah kasus korupsi telah meluber kemana-mana begini, maka dongengnya harus dibatasi. Dibatasi siapa yang menjadi pemain-pemainnya. Top leader harus aman bagaimana pun caranya. Yang kupingnya panas, mulai beraksi saling serang di antara para pendukung yang dulunya berjalan kompak. Seru memang melihat sesama penjahat dalam kartel mafia korupsi saling menelikung.

Yang jelas, uang panas yang terus berputar itu seperti rantai setan. Yang satu membiayai yang lain. Karena bagaimanapun juga duit suap, atau pelicin sekalipun adalah dana segar yang harus tidak bisa dilacak keberadaannya. Bisa jadi dana segar dari keuntungan korupsi lainnya. Butterfly Effect juga berlaku di lingkaran uang haram ternyata.

Jadi, lebih buruk mana, bergosip soal agama? atau pasang mata dan hati untuk lingkungan sosial anda yang sedang seakarat?

Sepakbola Londo

Siapa jago anda di Piala EURO 2008?

Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah tidak menarik lagi (bagi saya), beralih ke EPL yang semakin susah ditonton. Saya mengidolakan salah satu tim hebat yang bisa mengalahkan AC Milan dengan mental Juara di Champion 2005, Liverpool.

Sayang Inggris gagal total lolos ke babak utama Euro tahun ini. Tetapi tidak mengapa. Masih ada Belanda. Yap, negeri “Londo” yang pernah menjajah Indonesia. Bukan karena saya anti Timnas Indonesia dan PSSI-nya. Tetapi memang permainan generasi muda Belanda memberikan tontonan yang luar biasa buat saya.

Walaupun harapan penampilan apik di Piala Dunia 2006 tidak tercapai, namun saya percaya Belanda punya banyak kesempatan menjadi juara dunia nantinya, dimana saat-saat ini negara kampiun sepakbola lainnya di dunia sedang berbenah dalam regenerasi tim. Belanda satu langkah lebih maju dalam hal regenerasi tim nasionalnya. Dua pertandingan lewat di EURO 2008 menjadi jawaban. Mempercundangi Italia di bawah asuhan Donadoni dengan skor 3-0, dan 4-1 membantai Les Bleus. Keduanya adalah finalis piala dunia lalu.

Pertanyaan aneh yang menghinggapi saya ketika mengidolakan Belanda sejak Piala Dunia 2006 lalu. Jika dan hanya jika negara-negara jajahan Inggris bisa besar dengan sepakbola-nya, lalu mengapa Indonesia yang juga bekas jajahan Belanda tidak bisa seperti mereka?

Lalu teman saya berteriak lewat YM
“Ya mo gimana, ketua PSSI nya saja koruptor. Ada yang salah dengan manajemen PSSI kita!!”

Ah, selalu. Lari-larinya pembenaran selalu ke level itu.

Jadi, kapan kita bisa bikin liputan Sepakbola Indonesia sekelas ini, Ar?

Catatan :

Melihat Robben, Van Persie dan Sneider seperti menyaksikan Trio Belanda masa lalu. Salah satunya menjadi arsitek Belanda yang botak dan dingin itu, Marco Van Basten.

UPDATE:

Maaf, ternyata kolom komentar lupa saya buka. Ah, padahal saya ingin bertemu para fans tim-tim negara lain. Momen seperti EURO begini paling seru untuk saling “manghujat” lewat dreamteam masing-masing.. hehehe…