Diskalimer

Standard

Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?

Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.

Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.

Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang sok pengen tahu. Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? Ah, sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se-cemen itu saudara-saudara

Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. Deal?

14 thoughts on “Diskalimer

  1. barangkali kita perlu kenalan lagi bro :P
    bukan diterjemahkan kan? tapi menerjemahkan dunia :D
    seringkali, menggunakan sebuah gambar untuk menilai album, mana tahan, hihihi

  2. jadi ingat kata2 Gie: selama masih banyak anak muda yang terus menerus naik gunung, bangsa ini tak akan kehabisan calon pemimpin.

    bisa, ndak, ya, analoginya diubah jadi: “selama masih ada blogger anak muda yang posting ttg masalah indonesia, bangsa ini tak akan kehabisan orang-orang yg peduli”?

    *kuda meringkik, peziarah tetap berlalu, Jal!”

  3. waktu saya muda dulu ( cailaaaaa ..memang sekarang sudah tua ? ).
    Saya tak pernah puas dengan apa yang telah saya lakukan. Selalu ada cara mencari pengalaman hidup dan itu tidak pernah saya sesali sekalipun kelak ( saat ini ). Jadi jalan terus saja…

  4. anu, kebenaran itu kadang tergantung dari sisi mana si penilai kebenaran memandang.. Mangkanya sulit sangat menjadi benar tanpa menyalahkan orang lain… *aku iki ngomong apa?*

Leave a Reply