Dilarang Mengaji

Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa rajah, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.

Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.

Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 -kalau tidak salah. Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.

Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.

Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah “dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang” atau“mematikan televisi”.

Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih “mematikan televisi”. Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.

Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada “mengecilkan volume suara TV”, maka yang paling dekat dengan itu ya “mematikan televisi”.

Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.

Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. Toh, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.

Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara “Dunia Dalam Berita” pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)

“Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?”, ujar beliau.

Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,

“Abah cuma nanya, ‘ga nyuruh kamu matikan”.

Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,

“Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya (guru mengaji saya di Langgar dekat rumah) juga ngajar ngaji ke adek. Adek ‘ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga”

Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.

Sebuah “penghormatan perbedaan” keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.

Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan “kitab kuning” nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.

***

Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN -bukan BBM- soal pelarangan “mengaji”. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh orang-orang yang melarang-larang itu.

Illustrasi diambil dari sini

31 Comments

  1. Giliran saya capek Jal, lihat panggung konspirasi negeri ini.
    Tapi masih untung lah, punya blog buat misuh2.

    Reply

  2. skrg krn idup sendirian, pas magrib ya volumenya gak aku kecilin hihihi~ biasa aja

    Reply

  3. ah…, beruntungnya dikau mempunyai kakek sebijak beliau. tapi memang pendidikan selama kita masih kanak-kanak akan banyak mewarnai apa jadinya seorang manusia itu…

    Reply

  4. Selama masih punya opsi untuk ‘mengecilkan suara televisi’ atau ‘mematikan’ sekalian, mungkin orang akan cenderung memilih keduanya. Soalnya jauh lebih sulit untuk memilih menutup kuping.

    Reply

  5. wah…kalau matiin tipi biar hemat listrik, gimana? :-?

    Reply

  6. sudah lama saya tidak mengaji, ingin rasanya mengaji lagi..

    Reply

  7. Mau matiin atau mengecilkan volume, tergantung menyikapinya…..
    Mau distel kuenceng sekuenceng2nya kalo ndak berpengaruh y ga apa2

    Reply

  8. kirain benaran ndak boleh ngaji.

    Reply

  9. nice, bro. sangat manis kisahmu ini!

    Reply

  10. sama.

    kalo ada siaran rohani agama lain, disuruh mengecilkan suara atau mematikannya. karena ndak ada siaran tipi lain. :)

    Reply

  11. ada PMP :mrgreen:
    sepertinya aku juga sempat mencecap pelajaran itu, sebelum diganti PPKn.

    Kalimat tepa selira, toleransi antar umat beragama, dulu menjadi kalimat seleb yang sering nangkring di halaman buku. Kita diajarkan melafalkan bagaimana sikap seharusnya.

    Melafalkan…

    ya, dirimu memang beruntung, bukan hanya karena apa yang kau tuliskan di baris terakhir postmu ini, tapi juga karena telah memiliki mentor untuk menjadikan tepa selira terbaca dalam makna.

    anw.. maap aku meracau
    salam kenal

    Reply

  12. yap……damaii negeriku..sejahtera bangsaku…

    salam kenal mas.

    Reply

  13. pesan kapucino satu om ?? hehe

    Reply

  14. acara keagamaan yang paling ditunggu kehadirannya di tv adalah azan magrib … pas bulan puasa.

    Reply

  15. dulu adik adik saya suka lari ketakutan kalau acara rohani agama Buddha…
    Khan awalannya suka sedikit agak gimana.
    Btw. Andaikan semua orang seperti Kakekmu jal…Andaikan.

    Reply

  16. Duh dalam sekali pesan almarhum kakek. Kalo saya mas, tayangan agama apapun saya matikan =P

    Reply

  17. 1. antobilang : cape2 juga, kamu masih makan beras negeri ini, dul…
    2. didut : kesepian kang? cari temennya lahhhh.. :))
    3. ngodod : soal satu ini, coba tanya memet.. saya aja ga kebayang ngurus anak saya nanti dengan segala pertanyaannya.. :(
    4. mya : heuhueh susah yaa? saya juga masih berada di ranah itu.. :D
    5. cK : halah chik,.. kalo setantron aja lu tongton volume gede2 :p
    6. kutaraja : sama euy… inget langgar kecil dengan aura mengaji yang sangat bersahaja,.. walo rotan guru saya siap menanti kapan saja hahaha… *kangen masa2 itu…
    7. indra1082 : bener kang,.. hanya saja mungkin saat itu, kakek saya tidak sepintar orang2 tua sekarang dalam menjelaskan.. :)
    8. herdianto : emang beneran ngga boleh,.. liat aja berita di TV.. :D
    9. zen : sepenggal memori selalu memberi pelajaran, kang.. kalo kita mau melihatnya..
    10. zam : kalo sekarang tinggal ganti cenel ke setenttron atau dangdut ae :))
    11. lainsiji : salam kenal juga :D
    12. Alex : : piss bos,.. kapucino abis di lemari saya :D
    14. Mbilung : hahaha…. bener banget pak deee,.. :))
    15. Iman : saya juga sempat ketakutan dulu,.. soalnya serem dengan penampilan biksu2 nya :D
    16. Cynthinks : diganti ama siaran apa? setantron yoo, Cin.. hahaha :))

    Reply

  18. :) indah sekali kakekmu..
    sayah jadi pengen ngobrol..

    Reply

  19. ga pernah nonton siaran rohani.Sebenarnya bukan hanya pelajaran pmp yg mengajarkan toleransi beragama, tp dalam pelajaran agama pun ada kok.Dan saya memandang kakek anda mengajarkan lebih ke pelajaran agama buat anda, bukan pmp.

    Reply

  20. iyah, kalo di tipi ada siaran rohani agama lain, kok spontan langsung diganti ato dikecilin yah…?kebiasaan kali ya?hmmm…

    Reply

  21. Saya dulu waktu SD tidak begitu bermasalah dengan isu-isu beda agama, karena memang di PMP (waktu itu) saya di ajarkan ttg toleransi beragama, ttg bagaimana kalau satu kawan saya yg berbeda agama beribadah apa sikap yg harus kita ambil (begitu penjelasan guru SD saya). Pesan guru saya agar menuggu kawan selesai ibadah baru datang kembali untuk ngajak main :D

    Tapi, pelajaran masa SD tidak sama dengan pendidikan massa selama saya di kampus, seakan ruang untuk hal hal seperti ini sudah di persempit dengan ideologi, yg bisa buat saya bingung kadang-kadang.

    Reply

  22. Jal, jadi pengen jalan-jalan ke Aceh., dan langsung merasakan ‘ngaji’ di langgar-langgar itu.. walau terlihat old fashioned, kesan yang ditimbulkan begitu mendalam..

    btw, boleh tau lebih tentang ‘dilarang ngaji’ di paragraf terakhir? ketinggalan berita nih sepertinya..

    Reply

  23. wah, sangat inspiratif banget. thanks :)

    Regards,
    http://www.arimurti.com

    Reply

  24. Salam kenal :)

    Jaman sekarang sulit mencari orang yang mau hidup dengan perbedaan. Tapi kita bisa membuat perbedaan, sama seperti kakekmu memberi contoh dengan membuat dirimu berbeda dari kebanyakan orang yang berpaham “sama itu baik”. Salut untuk kakekmu!

    Reply

  25. kitab kuning bisa dibaca dengan melihat kambing disawah, bocah di perempatan, pak tua dengan usia uzur si penjual tape dengan jalan membungkuk, bahkan dengan melihat anjing buduk di tepian jalan.

    Reply

  26. saya jadi keinget masa kecil juga, jadi pengen posting juga ttg beginian :D

    Reply

  27. Jal, this is such a sweat writting. Beatiful

    Reply

  28. keimanan tidak dapat diwariskan, dari sejarah dapat dilihat kisah nabi nuh yang putranya sendiri tidak beriman kepada Allah. Saya baru buat blog neh datang yaa

    Reply

  29. jadi ingat kakek yang sedang terbaring di RS..
    kangen banget meski udah sempat dengar suaranya…
    *kok curhat*

    Perasaan dulu PMP kok suka bikin raporku tidak terlihat indah ya..
    kurang bergaul ama kakek kali..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>