Leak dan Framing Media

Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.

Sayangnya arti dari potongan quote itu memiliki makna lain bagi Nixon. “…livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war” ternyata tidak hanya berarti keluar dari perang secara langsung. Namun tetap berada di belakang negara-negara boneka untuk mempertahankan eksistensi dan impian sebagai adikuasa dunia. Dan mulailah penderitaan perang berpindah ke negara-negara seperti Vietnam dan Pakistan. Konflik dunia terus disuburkan untuk memarkir ambisi-ambisi Uncle Sam. Sebuah ego adikuasa yang terus bertahan sampai sekarang dengan segala upaya.

Ini adalah catatan buruk dari seorang Nixon. Apalagi setelah kasus Watergate terbuka ke publik dan membuka segala konspirasinya berkenaan dengan upaya-upaya ego Uncle Sam tersebut. Kisah Watergate adalah kesalahan terbesar dari sebuah upaya untuk memata-matai pihak lawan partai politik. Usaha spionase politik terhadap Partai Demokrat tersebut terbuka ke publik setelah 5 orang perampok berhasil ditangkap ketika sedang berusaha merampok di komplek gedung Watergate. Perampokan ini disinyalir lebih dari sekedar perampokan biasa karena ketahuan adanya usaha penyadapan terhadap gedung tersebut. Diduga kegiatan penyadapan ini juga dilakukan Nixon terhadap semua lawan politik dan juga di area gedung putih. Rekaman hasil penyadapan itu digunakannya sebagai alat “kekuatan lobi”-nya terhadap lawan-lawan politik. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk meraih kursi presiden lagi dalam sebuah proyek kampanye dinamakan CREEP (Committee to Re-elect the President).

Dalam kurun waktu 2 tahun, penyelidikan pihak hukum membuka borok spionase Nixon, aksi penyuapan dalam berpolitik dan juga proyek rahasia militer yang berbau korupsi. Watergate sendiri membawa banyak cerita indah seputar hebatnya dunia informan, dan bukti kekuatan media dalam membongkar konspirasi politik kelas tinggi. Salah satu dongeng yang terkenal adalah Watergate’s Tape and Smoking Gun, yaitu berupa bukti-bukti rekaman Nixon sendiri dalam pita audio 9 kaset Sony TC-800B. Salah satunya adalah cerita tentang usaha Nixon yang meminta Direktur FBI untuk menghentikan penyelidikan kasus perampokan di komplek Watergate (dikenal dengan sandi Smoking Gun). Mungkin bisa dibilang juga sebagai senjata makan tuan.

Rekaman-rekaman tersebut membuat Nixon tidak bisa berkelit. Tiga bawahannya pun mengundurkan diri tidak bisa membelanya. Memaksa Nixon mengganti secara mendadak posisi-posisi ajudannya. Kejadian ini dikenal dengan sebutan Saturday Night Massacre.

Selain itu ada usaha dari pihak Nixon untuk menghapus 18,5 menit dari tape tersebut. Sayangnya publik dan pihak hukum sudah terlanjur meruncing untuk menyudutkannya dengan keterlibatan kejahatan politik tersebut. Alhasil tiga orang lingkaran dalam Nixon, yang juga tokoh politik besar di masa itu, mantan jaksa agung John Mitchell dan kepala penasehat Gedung Putih John Ehrlichman serta Penanggung Jawab CREEP HR Haldeman, diangkut ke dalam sel. Nixon sendiri memilih mengundurkan diri, dan kemudian mendapat pengampunan dari presiden Gerrard Ford, penggantinya.

Pengungkapan skandal terbesar di USA tersebut berkat usaha-usaha pihak lawan politik Nixon sendiri, termasuk dari pihak hukum dipimpin Hakim John Sirica, ditambah 2 wartawan Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein. Tidak terlupakan seorang informan rahasia yang dikenal dengan panggilan “Deep Throat“, yang akhirnya setelah 30 tahun, dibuka identitasnya oleh Vanity Fair dan Washington Post sebagai orang nomor dua di FBI pada masa itu, Mark Felt.

Cerita ini sengaja saya detailkan. Karena ada kesamaan dengan sebuah dongeng yang sedang berlangsung di negeri Indonesia, si negeri krisis APBN -bukan BBM-. Ternyata sebuah pita rekaman bisa bercerita banyak dan bahkan mengancam impeachment seorang penguasa negara. Saya mendadak terbayang seandainya saja sadapan rekaman telpon yang hanya terpublikasi 3 sesi itu, masih bisa ditambah rekaman-rekaman sadapan lainnya. Bukan tidak mungkin ada sebuah “Smoking Gun” atau mungkin lebih buruk dari itu pernah terjadi.

Disini, peran jurnalis yang berkarakter, pihak hukum yang kuat, dan lawan politik yang cerdas plus integritas kejujuran dibutuhkan. Media mana yang berani mengambil posisi itu sekarang? Kompas? Tempo? MNC? Metro TV? koran lokal? atau malah freemagz-freemagz di cafe-cafe?

Untuk hukum dan lawan politik, saya tidak tahu apakah karakter Hakim John Sirica masih ada di Indonesia? Apakah masih ada partai politik yang berintegritas dengan kejujuran?

Saya memutar lagi film “All The President’s Men“. Dan teringat potongan scene terkenal, ketika Deep Throat menjawab pertanyaan Woodward di remang-remang garasi gelap parkiran umum di kota Washington,

“Forget the myths the media’s created about the White House. The truth is, these are not very bright guys, and things got out of hand. Follow the money

—0o0—

Sebuah catatan pendek lain dari cerita negeri ini, seorang Mantan Danjen baret merah ditangkap sudah. Walaupun kisah ini harusnya berakhir sederhana sejak dulu. Tetapi sekarang menjadi sangat dramatis lewat semua berita media dan mendadak banyak “pahlawan” HAM kesiangan bermunculan. Padahal kerja mereka loyo selama ini bertameng antek-antek asing. Apa karena pemilu sebentar lagi? Dan media hanya menjadi ajang bersuara mencuri posisi?

Ah, kebenaran itu rumit untuk menjadi Absolut.

14 Comments

  1. mirip jalan cerita X-Files yak :D
    mengharapkan media lokal untuk berani tampil menguak?
    kalo cuman miyak goreng yg dioplos oli bekas ato bikin dialog 2 pihak yang sedang berseteru mungkin berani. lebih dari itu…?
    apa perlu bikin blog khusus nih hehehe

    Reply

  2. jal, tau ndak kata “deep throat” yang dipilih duet wartawan itu diambil dari nama apa? coba cari tau. kamu akan terkejut dan mrenges!

    Reply

  3. Apapun yang berbau absolut pasti berpretensi menjadi tidak benar. eh bener nggak sih ?
    btw
    Jal..aku punya dvd yang berjudul DEEP THROAT ( saya menduga duga Tika, Zam atau Anto udah liat liat ini he he )

    Reply

  4. Framing dengan satu “m”. Itu doang yg bisa gua komentarin :P

    Reply

  5. “aku tak kan pernah mati…”, itu kata dia.

    Reply

  6. kalo gw jadi wartawan kompasnya dah gw bocorin.
    ups jadi nyebut medianya.

    Reply

  7. inget jal inget, framing media di Indonesia adalah ‘hil yang mustahal’ -asmuni srimulat-..
    selagi sangat disadari media (tv dan cetak beroplah besar) berperan begitu kuat dalam membangun kekuatan politis kelompok tertentu. lain halnya apabila media begitu banyak sehingga masyarakat punya begitu banyak pilihan..kecenderungannya dengan media yang hanya sedikit dan cenderung oligopolit, mereka akan saling mengekor satu sama lain, atau malah mungkin ‘terbeli’ oleh satu penguasa yang bermodal besar.. saya inget kamis lalu, bahkan empat mata pun sepertinya mengekor kerja kick andy.. di kick andy menayangkan episode travelling around the europe, sementara Empat mata mengangkat tema ‘tempat-tempat indah yang memorable dan unforgettable’ dan mengundang tamu seorang ‘naked traveller’..

    Reply

  8. pilih jurnalis yang bekarakter ato institusi media yang berkarakter?? jurnalis yang berkarakter pelan-pelan akan mati jika tidak didukung oleh perusahaan media yang benar-benar profesional. jurnalis sudah kehilangan rumah. rumah mereka kini hanya memikirkan uang dan bargaining dengan kekuatan ekonomi. transaksi-transaksi yang menggiurkan menjelang pemilu lebih penting……sehingga diciptakanlah move-move yang memungkinkan transaksi itu, lihat saja ulah DPR….

    Reply

  9. beratttttttttt !
    kalo ditempatku ini masuk kategori NGANTUK.

    .::he509x™::.

    Reply

  10. gara-gara zen jadi ng-google artinya deep throat. wah, tanggung jawab!

    Reply

  11. Media di sini kebanyakan bukannya framing..
    Tapi farming, alias nyari untung dengan pasang berita-berita “hot” yang “lagi in”

    Reply

  12. media itu emang sux

    Reply

  13. media blog ini bisa jadi menerapkan semuanya….

    Reply

Leave a Reply