Tentang Dinginnya Malam dan Bintang

Bintang tidak pernah bersinar dalam waktu yang sama di setiap belahan bumi. Ini bukan soal dunia yang bundar. Atau soal putaran galaksi. Ini hanya soal keliru menganggap bintang yang bersinar bisa dititipkan sebuah salam rindu.

Berapa banyak muda mudi terlena dalam sebuah quote mesra “Semoga kau melihat sinar bintang yang kulihat ini, Dinda..”. Padahal dalam fisika semesta hanya ada satu hukum yang menjelaskan soal ini. Teori Relativitas. Sinar mentari yang dekat dengan bumi saja, butuh waktu 8 menit 18 detik untuk sampai di bumi. Entah berapa lama sinar bintang yang lainnya itu tiba di bumi. Bisa jadi ketika aku lihat sebenarnya mereka telah mati.

Seperti malam ini, di Yogyakarta mendadak sangat cerah. Tanpa awan, biru gelap bersih seperti warna botol Dark Blue Hugo Boss milik ku. Kuning sang senja baru saja berakhir di ufuk barat. Bayang langkah kaki pun masih bisa aku lihat jelas berjajar di sebelah kiri. Bayang langkah kaki yang menyisakan sebuah cerita babak baru ku setiap hari, padahal sebenarnya babak baru sudah harus aku mulai dari setahun lalu. Seperti tidak pernah berakhir arti dari si babak baru ku ini. Atau mungkin lebih tepatnya bila ku anggap saja aku tidak pernah menjejak dalam posisi tegak berdiri yang pasti. Masa sudah lewat, senja berakhir, malam menyusul, bintang bersinar dan aku akui masih tetap bisa menikmatinya dalam perahu cadik versi ku.

Seno pernah bercerita soal “Cinta di Atas Perahu Cadik”. Bagaimana relatifitas sebuah cinta laksana berlayar tanpa mesin dalam perahu cadik. Hayati, istri dari Dullah, dengan hebatnya mencintai Sukab dan berlayar bersama di atas perahu cadik. Para nelayan mengaku hanya melihat Hayati dilatari warna langit senja tanpa sehelai benang pun di atas perahu, dengan mata penuh cinta membara menatap lantai perahu. Tidak ada orang lain di perahu itu, juga tidak ada Sukab. Apa yang ada di pikir para nelayan itu? Sukab bercinta dengan Hayati? Seno hanya memberi bocoran di akhir cerita bahwa mereka saling mencintai walau sudah saling beristri dan bersuami. Aku juga tidak tahu pastinya apa yang terjadi di antara mereka.

Tidak bedanya dengan perahu. Setali tiga uang, ada bintang di langit atas perahu. Aku sadar malam ini bintang bersinar cerah tanpa perduli hati para peminatnya sedang gundah atau tidak. Awan-awan seperti sengaja digeser oleh angin menuju pinggiran cakrawala. Dan angin pula yang membawa dingin malam. Dinginnya yang berbeda di setiap Juni-Juli-Agustus. Aku sadari dingin seperti ini hanya dirasai di bulan-bulan itu. Entah di Bandung atau di Yogya, siklusnya selalu sama. Masa yang baik untuk membiarkan mahasiswa baru bergadang dengan tugas awal kuliah dan tugas ospek. Terakhir aku tahu, Bandung mencatat suhu 15 derajat celcius beberapa malam ini. Sayangnya aku tidak membawa termometer untuk mengukur suhu di Yogya.

“Malam ini cerah. Banyak bintang. Tapi udaranya dingin banget”. Entah bagaimana aku menuliskan kalimat itu di telepon selular ku sambil berjalan keluar dari lorong gelap ini. Dan seketika pesan itu sudah kau baca di ujung sana. Ini mungkin hanya aku yang berharap mengabarkan dinginnya malam. Mungkin pula sekedar menebak kau sedang memandang bintang dari jendela kamar mu. Aneh, di antara sadar soal relatifitas, aku juga bisa berharap mimpi dalam relatifitas itu.

Beberapa menit kemudian, pintu mobil sudah aku buka. Duduk dengan nyaman bersandar empuknya kursi. Bintang di langit sudah tidak terlihat, terganti lampu-lampu jalan yang sinarnya mengayun cepat. Dinginnya malam juga sudah tak terasa, karena AC mobil ini sudah berusaha menggantikan segarnya udara malam.

“Disini aku ga bisa liat bintang. Dalam kamar kost he3x. Kalo diluar sih kayaknya emang dingin juga”. Pesan masuk. Sekilas saja aku baca pesan itu, seperti sudah pernah aku baca sejak dulu.

Aku memang perlu membaca ulang Cala Ibi. Pembukaannya juga sudah mengingatkan soal ini. β€œLalu bapakmu akan berkata, bintang tak pernah secantik tampakkannya, tak sedekat yang kita duga. Ia cuma penghias panas malam para pemimpi. Tapi aku mau terbang. Aku mau menyentuh bintang Jika ujung jariku melepuh, akan kubelah lima. Dan pulang dengan sepasang tangan berjari lima puluh”. Mungkin aku memang ingin menuju bintang. Tetapi kurang sadar kalau aku terlalu tolol sampai mengorbankan jari-jari ku hanya untuk berbagi suatu hal bernama mimpi.

-o0o-

Ada bintang di langitku. Sepertinya tidak begitu dengan langit mu. Seseorang di langit yang sama dengan ku bisa saja melihat bintang ku. Mungkin aku juga bisa berbagi jaket jeans lusuh ku melawan dingin malam bersamanya.

19 Comments

  1. ough, tentang jaket rupanya πŸ˜†
    tapi deskripsinya manstabs, kalau pesannya, sepertinya saya perlu pinjam dian yang jadi background itu.

    Reply

  2. bukankah cinta itu menafikkan logika?

    Reply

  3. “ketika cinta membantah science”, cerdasnya….

    Reply

  4. kalau memejamkan mata, mungkin sesaat akan berada di antara bintang2.. dan dompet anda hilang seketika…

    jambreet..

    Reply

  5. memang bintng itu indah…seindah pasangan hidup kita yang selalu menemani kita…

    Reply

  6. yang ini lead-nya bagus, jal. coba setelah kalimat ke empat itu kamu enter sekali alias ganti paragraf, mungkin bisa lebih menohok.

    Reply

  7. @mantan-Blogger : hahaha.. sak iki kowe ngambil status sebagai MANTAN BLOGEER , kang .. πŸ˜•

    udah aku coba saran mu,.. oke juga … thx πŸ˜€

    Reply

  8. aha? jaket jeans lusuh? apakah kamu dorman? hihihihihi

    Reply

  9. ah, another PLAYBOY JACKET! :))

    Reply

  10. @mbok venus: *sial :-w … ogah disamakan dengan gage [-(

    Reply

  11. melo melo melo …..

    Reply

  12. Bagian dari pengalaman?

    Tampak detail dan dalam πŸ˜€

    Reply

  13. Ada bintang di langitku. Sepertinya tidak begitu dengan langit mu. Seseorang di langit yang sama dengan ku bisa saja melihat bintang ku. Mungkin aku juga bisa berbagi jaket jeans lusuh ku melawan dingin malam bersamanya.

    hrusnya sih jal cew2 pd termehe2 klo denger kmu ngomong kalimat diatas, tp kira2 ada ga yo?? πŸ˜€

    Reply

  14. wes numpak mobil pribadi saiki kowe, jal? edyaann… tinggal nyari yang kinclong2 di pinggir jalan.. πŸ˜€

    Reply

  15. @aprikot : nyari masalah hee.. ?? /:)

    @tukangkopi : lu kompak amat ma Gita.. komen aja barengan,.. curiga?? πŸ˜•

    Reply

  16. walah…ijal lagi menye-menye… πŸ˜€

    *ngumpet*

    Reply

  17. gageeee, punya murid ternyatapun kau lae.

    Reply

  18. @Mbilung : Ahh,.. pak de ikut2an πŸ™

    *sial,.. postingan ini harusnya bernuansa roman,..
    malah jadi dagelan [-(

    Reply

  19. rismal paloma jhy June 30, 2014 at 7:29 pm

    bagaikan bulan dan bintng
    yang ada di samping kita

    Reply

Leave a Reply