Demokrasi 2.0

Saya membaca catatan pinggir “Caping” dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka “imut” dan berada di dalam “tempurung” yang aman.

GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar “catatan pinggir”. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,

“Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.”

Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom “Surat dari Palmerah“, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah “Jakarta Jakarta”, Senin 8 April 1996 yang berjudul “GM & KA-I-PE-PE”. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :

“Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?”

“..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.”

Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di “lorong-lorong”, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli ’97 menjadi awal pergolakan reformasi.

Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang booming itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang “manuskrip-manuskrip tua” yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.

Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu? Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.

Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak “seindah” sekarang. Blog, facebook, POLITIKANA? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya “sebentar” lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.

Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, “Jangan pilih Capres Militer”. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, “Jangan pilih capres militer” ? Wah, ini soal lain.

Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai “nama baik” dan “perlindungan tokoh-tokoh sentral” politik masa kini, maka ini baru jadi masalah! Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah “dimata-matai” di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?

Dalam cerita lainnya di kolom Surat dari Palmerah (“Percakapan Dengan Goenawan“, Jakarta Jakarta – 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.

“Apa rencana Anda sekarang?” “Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini”.

Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan “bingung sejarah” seperti saya sekarang.


Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.

20 Comments

  1. yak mari meninggalkan bekas :D

    Reply

  2. andai sejak dulu sudah ada facebook atau blog mungkin penjara penuh dengan blogger hihihi

    Reply

  3. @geblek :
    hahahaha…. bener juga tuh Mas.. :p

    *beruntungnya saya besar di masa skarang..

    Reply

  4. selalu menjadi yang terbaik…

    Reply

  5. masih juga membuat keningku berkerut, bro :D ah, bodoh saya :mrgreen:
    maka, barangkali ini tidak nyambung, maafkeun, namun bolehlah mengutip pakde.com, “saya tidak akan lupa.”
    *nyambung… ngga… nyambung… ngga….*

    Reply

  6. yah, seperti minke bilang: “menulislah. karena dengan menulis engkau menjadi abadi”

    Reply

  7. mari mari terus menulis. Apapun itu.Akan membantu orang lain mengenali dunia kita..

    Reply

  8. uuuhhh …lelah melihat ritual negeri ini…

    Reply

  9. Beruntunglah saya.

    Saya harap blog saya bisa menjadi dokumentasi tentang kejadian-kejadian di sekitar saya.

    Terima kasih

    Saya akan terus meninggalkan jejak :)

    Reply

  10. OOT,
    Gunawan Muhamad itu saudaranya Gunawan Rudy ya? :mrgreen:

    eniwei, demokrasi 2.0 harus tetap dipertahankan sampai suatu saat khilafah 2.0 siap dirilis…. :)

    Reply

  11. ikut ngoment ah… tp ngomen apa yah?? hmm keren aja deh :p

    Reply

  12. Aku masih bingung dengan kalimat terakhirmu, jadi kamu itu bingung sejarah atau ndak? :roll: Eh ya, memoar itu artine opo Kang? :D

    Reply

  13. yah…mnulislah sblm mnulis d larang,he…

    Reply

  14. GM lebih ngambil peran jadi oposisi daripada ambil posisi langsung di pemerintahan ya..

    Reply

  15. abaaaaangg! kapan kita ngobrol-ngobrol lagih? heheh :p

    Reply

  16. verba valent, scripta manent… Ucapan akan cepat hilang sementara tulisan akan abadi… Sebelum menulis harus banyak baca dulu… Kapan ku bisa menulis seperti “Demokrasi 2.0″ disamping ya?…

    Reply

  17. laillea12@twitter June 16, 2009 at 4:00 pm

    JANGAN LUPA OBAMA JUGA PRODUK DEMOKRASI 2.0 MAS LEKSA,…

    NAMANYA ASYIK YAH, kayak my favo… LAKSA :)

    SALAM KENAL,

    LIA

    Reply

  18. ”Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.”

    Saya setuju.

    Reply

  19. Leksa: Demokrasi 2.0…

    Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, “Jangan pilih Capres Militer”. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubang……

    Reply

  20. Demi suara rakyat agar lebih partisipatif

    Reply

Leave a Reply