Seorang Kapten Tua Bernomor Punggung 3

Jika saya mengingat masa-masa awal menggemari sepak bola dulu, maka nama klub yang muncul dibenak saya adalah AC Milan. Dan jika disuruh mengingat kaos bola AC Milan (bukan original) pertama yang saya  miliki, itu tidak lain adalah bernomor punggung 3.

Lucu mengingat masa-masa itu. Saat itu memang era awal kebangkitan siaran televisi swasta di Indonesia. Dan satu-satunya siaran bola eropa hanyalah Liga Italia. Saya bersama teman-teman seumuran dulu, bisa berdebat soal kehebatan klub masing-masing. Saya yang memegang AC Milan, bisa tertawa mengejek teman yang menggemari AC Parma tatkala Nesta pindah klub ke Milan. Kalaupun dia berkelit dengan seribu alasan, satu pernyataan pamungkas menyelesaikan debat tidak penting itu, “Kalo bisa coba beli Maldini”.

Hari ini, pertandingan terakhir sang La Bandiera della Milan di Giuseppe Meazza. Pujian dan respect dari berbagai komentator bola ternama seluruh dunia disanjungkan padanya minggu-minggu ini. Seperti juga salah satu pujian komentator lepas Indonesia -Zen yang maniak MU di Detik, Paolo Maldini bukan hanya “seseorang”, ia juga “sesuatu”. Sebagai “seseorang”, Maldini adalah seorang pemain besar, seorang legenda. Sebagai “sesuatu”, Maldini adalah suatu etik, suatu etos juga suatu simbol”. Jika boleh menambahkan potongan pujian Zen tersebut, maka saya menambahkan “Dan itu bukan hanya untuk klub AC Milan, atau sepak bola Italia saja. Tetapi juga sepak bola dunia”.

Berlebihan? Mungkin. Walaupun saat ini saya tidak begitu simpati lagi kepada AC Milan. Tetapi untuk seorang pemain kebanggan seperti Maldini, saya akan bersulang bir untuk debut terakhirnya ini. Pemain paling setia. Di saat Milan jaya maupun dalam kondisi gamang seperti 2 musim lewat, Maldini selalu “ada” untuk menjaga lini belakang Milan. Sebut saja berapa striker kelas dunia sudah dihadapinya. Dari Maradona, Van Basten, Rummenige, R.Baggio, Platini, Zico, Romario, sampai striker muda sekelas Rooney dan Cristiano Ronaldo.

Bagaimana dengan AC Milan sendiri setelah kepergian Maldini? Memang kondisi sedang buruk untuk Rossoneri. Selain ditinggal Kapten terbaiknya ini, Anceloti juga sedang gundah karena tawaran Chelsea, Ronaldinho yang digosipkan lebih sering clubbing, sampai Kaka yang bingung dengan karirnya ke depan. Milan dalam dilema. Tapi Milan tetaplah Milan. Sudah berapa kali masa jaya dan kelam dilewatinya. Namun kaos hitam merah bernomor punggung 3 masih terus menjadi favorit sampai generasi keponakan saya.

Malam ini saya menonton Milan lagi, setelah sekian lama tidak menyaksikan mereka berlaga. Aroma Milanisti lebih terasa di cafe tempat saya menonton, walaupun dipenuhi penonton berkaos Liverpool. Semua seperti tahu malam ini adalah malam perpisahan dengan sang legenda. Bahkan ketika Maldini gagal memblocking Mexes atau Menez, tepuk tangan tetap gemuruh. Begitu pula di lapangan San Siro sana. Setiap tertinggal gol dari AS Roma, pemain Milan terlihat lebih bertenaga memburu gol balasan. Seperti tidak mau malam ini berakhir mendung untuk Captain 900 mereka.

Injury time AC Milan vs AS Roma. Kedudukan 2-3 untuk Roma. Menez meliuk-liuk disisi kanan gawang Milan. Melewati baris pertahanan Milan, memotong 2 pemain bertahan. Hanya tinggal Dida di depan matanya. Tendangan keras dilepas. Sayang bola terpental keluar lapangan. Menez terpekur. Ternyata masih ada seorang tua bernomor punggung 3 mem-block tendangan kerasnya.