meLANJUTKAN hutang

bukupengusaha

Disaat semua ramai membahas Teroris, Om Nurdin dan serangan gotong royong SWAT Indonesia Jumat lalu, saya nyasar ke beberapa berita lain. Seperti yang menarik adalah soal hutang negeri ini. Ternyata utang “kita” baru saja bertambah US$500 Juta untuk Program Pemberdayaan Masyarakat Nasional (PMPN) tahun 2009. Dan entah berapa lagi untuk 2010, menunggu pertemuan dengan World Bank Oktober nanti.

Bank Dunia Siap Kucurkan Utang US$ 500 Juta buat PNPM Mandiri

JAKARTA. Pemerintah masih mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat. Yang terbaru, Bank Dunia akan menggelontorkan pinjaman sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun (kurs Rp 9.850 per US$) untuk membiayai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri 2009.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 13,7 triliun untuk membiayai PNPM Mandiri. Rinciannya, PNPM Inti Rp 10,4 triliun dan PNPM Penguatan Rp 3,3 triliun. Program tersebut akan dilaksanakan oleh enam kementerian dan lembaga di 33 provinsi, 465 kabupaten/kota, dan 6.408 kecamatan. Yang menarik, semua dana tersebut berasal dari utang sejumlah lembaga keuangan asing.

Lantaran bertujuan mengurangi kemiskinan, utang dari Bank Dunia tersebut mengenakan bunga nonkomersial. Sayangnya, pemerintah masih enggan menyebutkan besaran bunga utang tersebut. Bappenas juga belum bisa memastikan kapan Bank Dunia akan mencairkan duit pinjaman itu. Yang pasti, Pemerintah dan Bank Dunia akan membahas kembali rencana ini pada Oktober mendatang.

Selain dari Bank Dunia, pinjaman untuk PNPM Mandiri juga berasal dari lembaga keuangan internasional lain seperti Bank Pembangunan Asia (ADB). “Tapi, jumlahnya tidak akan sebesar Bank Dunia,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Paskah Suzetta, Rabu (5/8).

Paskah mengaku yakin, dana PNPM Mandiri tahun ini akan terserap hingga 90% sampai Desember nanti. Dengan begitu, akan terjadi penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran dibandingkan tahun lalu.

Yang menarik, utang luar negeri dari sejumlah lembaga keuangan tersebut juga akan menjadi andalan pembiayaan PNPM Mandiri 2010. Tahun depan, Pemerintah akan mengalokasikan sekitar Rp 16 triliun untuk membiayai program ini. Jumlah anggaran ini naik Rp 2,3 triliun dibandingkan tahun ini. Nah, saat bertemu Bank Dunia Oktober nanti, Pemerintah juga berniat membahas rencana utang baru untuk pembiayaan PNPM Mandiri tahun depan.

Dalam Nota Keuangan 2010, PNPM Mandiri memang masuk sebagai prioritas belanja Pemerintah untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Selain PNPM, Pemerintah juga menggulirkan Bantuan Operasional Sekolah, Program Keluarga Harapan, dan Jaminan Kesehatan Nasional. Total alokasi anggaran untuk semua program tersebut mencapai Rp 37 triliun. Dengan dana sebesar itu, Pemerintah menargetkan bisa memangkas tingkat kemiskinan menjadi 12% – 13% pada tahun depan.

Sumber : http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/19217/Bank-Dunia-Siap-Kucurkan-Utang-US-500-Juta-buat-PNPM-Mandiri

 

Saya tahu memang ada ilmunya untuk mengekstrak parameter-parameter ekonomi menjadi angka-angka (value). Dan masing-masing value ini bisa di otak atik, sehingga bisa didapatkan point (tujuan) ideal yang diharapkan. Mungkin untuk kasus di atas, tujuannya adalah sebuah angka yaitu “tingkat kemiskinan”.

Selain itu ada berita lain lagi di saat yang sama dengan penggrebekan Densus 88,

Jakarta – Kepemilikan asing pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) sampai akhir Juli 2009 bertambah Rp 4 triliun menjadi Rp 91,58 triliun dari posisi akhir Juni 2009 yang berjumlah Rp 87,15 triliun.

Secara persentase kepemilikan asing pada SUN adalah sebesar 16,54% dari total SUN yang diterbitkan pemerintah yang jumlahnya Rp 553,6 triliun.

Demikian data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan yang dikutip detikFinance , Senin (27/7/2009).

Dari Rp 553,6 triliun jumlah SUN yang diterbitkan, perbankan masih memegang porsi terbesar yaitu Rp 273,08 triliun.

Sementara Bank Indonesia (BI) memegang Rp 17,82 triliun. Kemudian reksadana memegang Rp 37,46 triliun, asuransi Rp 62,87 triliun, dana pensiun Rp 34,62 triliun, sekuritas Rp 0,61 triliun, dan lainnya Rp 36,17 triliun.

Namun sampai posisi 6 Agustus 2009, porsi kepemilikan asing pada SUN turun menjadi Rp 90,98 triliun.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan dana yang masuk kepada SUN mencapai US$ 4 miliar ini berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah yang menyentuh level di bawah Rp 10.000 per dolar AS.

Kemudian juga terus naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir disebabkan makin derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia melalui pintu pasar modal.

 

Kenapa negara ini doyan meLANJUTKAN utang ?

Kesederhanaan Politik

Dari_resist_book

Sebagai pembuka, saya ingin berkata jujur, bahwa pemahaman politik saya kurang. Bahkan untuk mendefinisikan arti “politik” sendiri saya tidak mampu menuliskannya. Saya merasa itu merupakan hal yang wajar. Toh, saya tidak pernah belajar ilmu politik secara teoritis. Hanya memahaminya sebagai proses, dan mungkin sedikit keterlibatan kecil dalam sebuah arti politik.

Hari ini, secara mendadak saya diminta (lebih tepatnya ditunjuk) oleh sekelompok teman-teman “bermain” saya di Bandung, untuk mewakili pertemuan di sebuah SMU swasta. Iya. Saya diminta mengikuti rapat wali murid atas 3 orang anak. Kebetulan 3 siswi kelas 3 SMU tersebut berada dalam asuhan kegiatan belajar non-formal yang diselenggarakan teman-teman saya di Bandung. Sedikit penjelasan tentang kegiatan “non-formal” tersebut, kegiatan ini merupakan kegiatan mandiri yang sudah dikelola sejak lama oleh beberapa teman saya (dan saya juga kadang-kadang ikut serta), sebuah kegiatan yang amat sederhana. Sekedar pendampingan belajar non-formal bagi anak-anak yang putus sekolah, sekaligus mencarikan bantuan dana sekolah bagi beberapa diantara mereka yang berkeinginan menyelesaikan sekolah formal. Kami menamakan kegiatan kami tersebut “Rumah Mentari”. Adalah @warnapastel yang mengenalkan saya dengan kegiatan ini beberapa tahun lalu.

Dan jam 9 pagi tadi, saya bergegas ke sekolah tersebut. Saya mendapat telpon ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Ternyata rapat sudah bubar ketika saya datang, tapi saya harus tetap kesana. Ada titipan beberapa peralatan sekolah untuk awal semester yang harus saya berikan kepada mereka. 

Ada rasa kecewa karena saya telat. Perkiraan awal saya tadi, rapat ini pasti masih akan berlangsung lama. Bayangan saya seperti rapat-rapat wali murid ketika saya SMP dulu di Aceh. SMP saya memang favorit di kota Banda Aceh, sekaligus masuk dalam kategori ternama untuk Propinsi NAD. Kalau sudah rapat, kegiatan belajar mengajar dihentikan, walau sekolah tidak diliburkan. Saya dan teman-teman bisa bermain seharian, ngantin, pacaran, bahkan cabut keluar sekolah seenak perut. Entah apa yang orang tua/wali murid bersama pihak sekolah rapatkan, kami tidak perlu ambil pusing. Toh, sekolah adalah sebuah kegiatan rutin seorang anak, demikian pikiran saya dan teman-teman dulu.

Dua adik asuh kami ini, rupanya menunggu saya dipinggir jalan. Saya diberitahu soal rapat yang berlangsung. “Tadi yang datang juga ngga rame kok, Kak. Ibu Dini-nya juga masih nunggu di sekolah kalo-kalo ada wali lain yang nyusul datang”, begitu penjelasan salah satu adik asuh kami itu, Santi namanya.

Saya bisa membayangkan “rapat” yang dimaksud Santi ini seperti apa. Cukup menenangkan saya akan rasa bersalah terhadap mereka karena telat menepati jadwal undangan rapat. Seorang lagi yang ikut menunggu saya tadi bernama Nisa.

Mereka menunggu saya di ujung sebuah gang. Kemudian saya diajak memasuki gang tersebut. Pikir saya bertanya-tanya, SMU seperti apa yang berada disebuah gang perumahan padat di kota Bandung?

Walaupun ini bukan pengalaman pertama atau kedua saya menelusuri sekolah-sekolah dalam sebuah gang atau ujung desa dan kaki gunung, tetapi selalu saja menarik melihat geliat orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dengan nuansa serba terbatas begini. Seperti ada semangat dengan rasa berbeda karena kondisi mereka yang serba terbatas. Baik itu penyelenggara sekolah-sekolah seperti ini, juga murid-muridnya. Seperti Santi misalnya. Keinginan bersekolahnya ini yang mendorong dia bisa menjadi juara 1 sekaligus pengurus OSIS di sekolahnya, disela-sela waktu membantu ibunya yang bekerja sebagai jasa pencuci pakaian.

Dua kelokan gang saya lewati, dan sampailah di sekolah Santi dan Nisa. SMU ini tidak begitu besar, bahkan halamannya pun tidak lebih besar dari halaman Dagdigdug atau Wetiga. Tapi saya bisa melihat ada tiang bendera disana, dan tetap pantas kalau saya sebut halaman itu sebagai lapangan upacara.

Setahu saya cuma ada 2 kelas masing-masing untuk kelas 1 dan 2. Bahkan kelas 3 SMU tersebut cuma memiliki satu kelas 3 IPA berisi 18 anak, dan saya tidak tahu berapa banyak siswa kelas 3 IPS-nya. Sebelumnya saya sudah mendegar perihal sekolah ini dari teman dan adik-adik asuh kami ini. Sekolah kecil yang dikelola oleh yayasan lokal yang dimiliki sebuah keluarga.

Santi memperkenalkan saya dengan seorang ibu guru muda cantik yang duduk diteras sekolah, Ibu Guru Dini namanya, yang tadi sempat disebutkan Santi. Saya dipersilahkan masuk ke kantor guru, terlibat obrolan singkat seputar sekolah dan kegiatan saya bersama teman-teman dalam mengasuh adik-adik kami ini. Si ibu guru ini terlihat “well educated” dari obrolan ringan yang berlangsung. Saya juga bisa menaksir kalau beliau seumuran dengan saya. Seumuran dengan saya, dan mengurus sebuah sekolah seperti ini. Sedangkan saya sendiri, meloloskan diri dari sekolah saya sendiri pun belum (curcol :D ).

Dan sampailah pada inti pembicaraan. Beliau mengabarkan bahwa sebenarnya rapat tadi adalah pemberitahuan dari pihak sekolah kepada semua orang tua/wali murid bahwa sekolan telah memperoleh bantuan dana pendidikan. Tahun sebelumnya, juga ada dana bantuan pendidikan yang turun, tetapi hanya bisa diberikan kepada Kelas 1 saja. Dan sekarang, karena pihak sekolah bisa mempersiapkan laporan pertanggungjawaban tahun ajaran lalu dengan lebih baik dan lebih cepat, dana bantuan untuk tahun ajaran sekarang bisa diturunkan lebih besar. Sehingga bisa membiayai penuh biaya SPP selama setahun. “Sekarang semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 mendapat bantuan. Permohonan dari pihak sekolah Rp 900.000 persiswa untuk biaya setahun ini diloloskan oleh Bapak Walikota”, demikian penjelasan dari si Ibu Dini ini sambil memperlihatkan senyum cantiknya. Ah, saya berpikir wajar saja beliau lebih cantik tersenyum sekarang, karena memang ini menjadi berita baik bagi semua orang tua/wali murid, sekaligus prestasi untuk sekolah ini.

Walaupun ada dana-dana lain, seperti LKS, 3 kali try out UAN/SMPTN, 30 ribu untuk biaya tahunan kesiswaan, dan entah apa lagi mungkin nanti menyusul kemudian hari, tetapi kabar seperti ini memang pantas melegakan hati semua orang tua murid. Saya juga ikut merasa lega di hati. Padahal keterlibatan saya di Rumah Mentari tidak terlalu besar seperti teman-teman lain yang lingkang pukang memburu donatur, atau yang menyempatkan waktu sempitnya untuk mendampingi adik-adik kami ini belajar sabtu – minggu.

Saya sempat berdiskusi kecil soal dana pendidikan yang diperoleh sekolah dari Walikota Bandung tersebut. Pertanyaan yang wajar dari saya, karena setahu saya bantuan sekolah gratis turun dari Dinas Pendidikan seharusnya, entah itu berupa BOS atau sekolah gratis seperti di iklan-iklan televisi. Ibu Guru Dini cuma menyampaikan bahwa mereka sedari awal sejak Bapak Walikota Bandung menjanjikan dana bantuan sekolah, mereka terus mengikuti prosesnya dan mencari tahu prosedurnya seperti apa. “Syukurlah, Mas. Beruntung juga Pak Dada terpilih lagi, memang sejak kampanye kan beliau konsen di persoalan dana bantuan pendidikan”, jawab si Ibu Dini diplomatis. “Tapi sekarang ini juga jabatan terakhir beliau. Harapannya kita sih, program seperti ini bisa terus jalan siapa pun Walikotanya, ya kan?”. Saya tersenyum sambil mengiyakan.

Tiba-tiba saya teringat demo-demo menuntut Dada Rosada turun beberapa tahun lalu ketika jabatan Walikota pertama kali beliau peroleh. Ada juga pihak-pihak yang memberi raport jelek bagi beliau ketika Laporan Pertanggungjawaban kerja (LPKj) 2008 lalu. Saya sendiri termasuk yang sangat alergi dengan kebijakan Dada Rosada seputar persoalan tata kota Bandung. Dan entah berapa lagi catatan buruk yang ditinggalkan Dada Rosada, sampai-sampai tahun lalu ada demontrasi penolakan beliau menjadi Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya belajar satu hal disini, ternyata urusan kebijakan politik bisa menjadi sangat sederhana bagi orang-orang seperti Ibu Dini. Dan bisa juga menjadi sangat tidak masuk akal bagi sebagian orang lainnya. Atau lebih buruk, bagi orang seperti saya, yang berpikir rumit sendiri dengan harapan terlalu luas dan banyak maunya dari sebuah kebijakan politik penguasa.

Mungkin benar bahwa teori klasik politik dari Aristoteles akan selalu akan menjadi rahasia. “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”

 

-Senin, 3 Agustus 2009, 16.25 : Ngopi Doeloe Kota Bandung-