Jendela-Jendela

Ada yang bilang bahwa hidup dimulai dari langkah pertama manusia di muka bumi. Karena itulah ada budaya di negeri ini dimana seorang bayi akan dilehat untuk menjejakkan kakinya di tanah. Sebuah ritual yang saya temui baik itu di daerah asal Aceh sana, juga di pulau Jawa ini. Mungkin cuma sebuah ritual saja. Bentuk kebahagian karena sang bayi hadir meramaikan keluarga besar. Continue reading →

Kelamin Sosial Media

Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter. Continue reading →

Dua Tahun

Cukup lama waktu 2 tahun itu. Silahkan anda menghitung dari seberapa lama anda mandi, seberapa lama anda butuh waktu untuk makan, ngopi, menonton satu episode sinetron, atau sekedar merokok sebatang. Dua tahun ternyata satuan waktu yang relatif lama dibanding aktifitas rutin anda. Akan terasa lebih lama lagi kalau sekarang anda sedang membaca pengumuman yang mengatakan remunerasi anda baru dinaikkan 2 tahun lagi. Atau, sekarang anda menapat jawaban dari pasangan “Dek, tunggu abang 2 tahun lagi ya. I’ll be back.” Terasa lama da mengenaskan.

Tapi dua tahun bisa dirasa sangat singkat pula. Anda boleh merasakannya sekarang juga. Coba bayangkan saja 2 tahun lalu anda sedang apa? Sedang memegang bertumpuk-tumpuk buku kuliah mungkin, atau sedang bernyanyi riang bersama teman di bawah malam, atau sedang menyaksikan Final Champion MU versus Chelsea?  Dua tahun lalu yang saya ingat ketika sedang menonton pertandingan final Piala Champion di salah satu televisi warnet di pojok komplek. Lucunya kemarin saya baru menyadari ketika MU dan Chelsea bertanding lagi -walau saya tidak sempat menonton live di TV, saya sempat singgah membeli rokok di warung  sebelah warnet itu lagi. Dan saat itulah saya merasakan 2 tahun itu ternyata singkat sekali. Hanya seukuran seberapa lama jarak saya berjalan kaki dari kontrakan menuju warnet itu.

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menghampiri saya via Messenger. Ngobrol, bercanda dan pastinya membahas hal tidak penting. Bicara seputar kabar si anu dan si una, pacar-pacar mereka, atau pacar-pacar kita. Dan kemudian dia melempar pertanyaan yang sama dengan tulisan ini.

“Perasaan baru dua tahun lalu gue ketemu lu di Jogja.” tulisan terkirim di messenger saya.

Pernyataan yang tidak penting buat saya. Karena toh, baru 2 bulan lalu saya bertemu dia di Bandung. Lalu apa pula maksudnya bicara dua tahun lalu bertemu di Jogja?

Halah, lu juga sempat ketemu gue setahun lalu di Jogja. Belum juga 2 bulan kita ketemu di Bandung. Kenapa musti mundur jauh bicara seolah melankolia banget, terakhir kali di Jogja bertemu 2 tahun lalu?” jawab saya.

Bukan apa-apa. Ini memang sebuah kebiasaan manusia. Kita lebih suka mengasosiasikan melankolia dengan jauhnya jarak dan lamanya waktu. Saya memilih kata melankolia untuk teman saya itu, karena kata “lebay” justru akan merendahkan dia sebagai lelaki dewasa.

“Hahaha. Lebay ya gw.” kata nya kembali.

Dan ternyata teman saya ini memilih merendahkan dirinya sendiri.

Persoalan lama tidaknya dua tahun memang bisa sangat merepotkan. Misal, pacar anda bicara, “Mana? Janjinya mau ngawinin aku. Itu janji kamu 2 tahun lalu!” Merepotkan. Bukan soal menjawabnya, yang saya yakin gampang keluar dari mulut anda, “Iya. Iya. Aku ini justru sedang berusaha supaya itu segera terwujud, sayang.” See? Gampangkan? Tetapi ini memang bukan persoalan jawabanya. Tapi ini soal seperti apa lamanya 2 tahun itu bagi anda atau pasangan anda.Dia melihat ke belakang sudah lama 2 tahun menunggu kapan akan dilamar. Sedangkan anda melihat 2 tahun itu “cepet juga ya”,  dan anda membutuhkan injury time lagi.

Itu jika kita bicara 2 tahun sebagai lama atau tidaknya dalam ukuran waktu.

Sekarang coba tanyakan ke sepasang kakek nenek, apa artinya 2 tahun bagi mereka. Saya yakin, jika anda bertanya “Kek, Nek, apa arti 2 tahun bagi kakek dan nenek?”. Menurut pertimbangan saya, kemungkinan respon yang anda dapat ada dua. Pertama, mereka akan tersenyum, memutarbalik memori mereka ke masa-masa 2 tahun lalu, 12 tahun lalu, bahkan bisa jauh ketika mereka berumur 20 tahun.

Kedua, mereka bisa mengernyitkan dahi, kaget. Seolah-olah anda sedang bertanya kapan mereka akan mati. Lebih parah lagi jika mereka berpikir, “Cucu sialan! Belum apa-apa sudah minta warisan?”

Makna 2 tahun bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Jika sudah bicara makna dan memaknai, saya juga bisa bilang, 2 menit pun bisa berbeda bagi tiap-tiap orang. Karena ukurannya bukan soal lama atau sebentar. Dua tahun atau 20 puluh tahun. Cukup rumit memang mengakui persoalan makna, karena urusannya menjadi sangat “sederhana” jika sudah ditambahi kata “makna”. Coba saja anda menjawab,

“Dua tahun ini anda sudah ngapain aja ?”

Sepersekian detik waktu dan energi otak anda harus mengingat dan berpikir sebuah pertanyaan sederhana ini.

Itulah kenapa sejarah manusia mencatat sejak era Da Vinci sudah mengkhayalkan adanya mesin waktu. Dan lagi-lagi ini aneh, ketika kita merasa 2 tahun itu cukup lama atau singkat untuk dilalui, kita malah berharap adanya mesin waktu yang justru menambah atau mengurangi tahun-tahun kita.

Saya jadi ingat kutipan terakhir dalam surat curhat Gie, “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Pikiran saya pun terbayang, apa alasan Gie mengatakan bahagia jika mati muda? Jangan-jangan surat itu cuma anekdot dia saja, karena merasa 2 tahun terlalu lama untuk berjuang. Atau kebalikannya, 2 tahun terlalu singkat untuk berjuang, jadi ya mending mati saja. Sebuah pernyataan bernilai “nihil”, dan Nietzsche yang memperkenalkan kutipan ini pun tidak memilih mati muda.

Dua kemungkinan jawaban diatas bisa menjadi benar rupanya. Tapi syukurlah Gie tidak sempat membuktikan benar salahnya curhat tersebut. Begitu pun saya, tidak berpikir untuk memilih mati muda walau kutipan ini saya pakai berkali-kali. Misal saja Gie menulis, “Bersyukurlah saya jika mati 2 tahun lagi”, mungkin dia juga tidak akan jadi pahlawan seperti sekarang.