Kelamin Sosial Media

Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter.

Social media dunia yang tidak adil? Juga bukan demikian. Ini soal berbagi peran. Misal, tidak mungkin anda meminta ibu anda yang biasa menonton sinetron untuk menggantikan kerja kantoran bapak anda. Dan begitu pun sebaliknya. Eh, kok contohnya bias gender? Sayang sekali kalau ada melihat pernyataan “misal” saya sesederhana membedakan vagina dan penis.

Kita tidak bicara fungsi penis atau vagina disini. Walaupun kedua benda ini sangat cocok untuk menjadi metafora penggunaan social media yang banyak hadir di layar komputer anda.

Kembali misal, karena kelaki-lakian saya, saya melihat penis itu menggunakan vagina sebagai alat pemuasnya. Seperti pengguna internet yang menggunakan social media. Tetapi kemudian teman-teman perempuan saya banyak yang protes,
“Siapa bilang kamu yang menjadikan vagina kami alat pemuas penis mu? Justru kami-kami ini yang membutuhkan penis mu itu sebagai mainan kami!”
Begitupun dengan social media, apakah anda pernah berpikir justru anda yang digunakan oleh social media dengan segala kekuatannya?

Urusan siapa menggunakan alat siapa memang bisa menjadi perdebatan panjang. Kita cukupkan disini saja.

Saya cuma bisa berpesan, tidak perlu meributkan hal sederhana di atas. Gunakan saja semaksimal mungkin layanan social media untuk kebutuhan-kebutuhan anda. Luaskan manfaatnya untuk orang-orang sekitar anda. Berpikir besar membangun atau menghancurkan negara dari sebuah aplikasi social media? Itu boleh-boleh saja. Tetapi pikirkan dulu dapur anda dan iuran lingkungan RT anda. Saya yakin di RT anda pun tidak semua orang tahu apa itu IP atau WiFi.

Ohya, satu lagi. Social media juga memiliki resiko. Bersiaplah dengan resiko-resiko kecil dulu. Seperti saya, sekarang harus mengambil resiko  karena penggunaan kata vagina dan penis yang terlalu masif disini. Maksud saya resiko dari spam, bukan resiko yang lain.

4 Comments

  1. intinya sih gunakan seperlunya saja atau sesuai kebutuhan :)

    Reply

  2. duh, ngga bisa konsen baca ini tulisan :D

    Reply

  3. *ngakak baca komentar di atas gw*
    btw, gw idem sama mas didut
    *lg ga kreatif*

    Reply

  4. tapi kalo di RT saya orangnya lumayan aware sama IP dan wifi koq om…soalnya kita patungan bikin koneksi wireless stingkat RT…jadi lumayan pada melek internet :D

    Reply

Leave a Reply