Menang Sebelum Start

Sore gerimis, saya hendak mengisi pulsa di sebuah konter pulsa di pinggiran Yogyakarta. Motor saya berhentikan, dan mata saya langsung sibuk melihat daftar harga pulsa di dinding konter itu. Beberapa detik kemudian saya sebutkan pulsa yang ingin saya beli sambil memalingkan wajah ke si penjual. Rupanya si mas penjual pun sedang sibuk sendiri, memperhatikan televisi yang menyiarkan laporan langsung berita dari Kongres Partai Demokrat di Bandung.

Gelagapan si Mas penjual menjawab permintaan saya “eh, 11 ribu, Mas”.

“Lagi seru yo, Mas?” sahut saya sambil ikut memicingkan mata ke televisi.

“Iya. Andi kalah di putaran pertama, Mas” jawabnya cepat.

Wah, ini rupanya yang bikin dia serius amat menonton televisi. Putaran pertama pemilihan Ketua Demokrat ternyata menyingkirkan Andi Malarangeng yang paling heboh kampanye dan koar-koar nya di berbagai media. Saya sendiri lebih akrab dengan nama seorang “Andi”, dari pada Anas, atau kuda hitam seperti Marzuki Ali. Telaknya, Marzuki Ali yang belakangan mencalonkan diri, justru memecah belah suara untuk kedua calon lainnya. Ini memang seru kalau ditonton di warung kopi.

Andi naik sebagai calon dengan rumor mendapat dukungan SBY. Bukan cuma rumor, toh dia memang dekat dengan Big Boss dalam 2 periode ini. Belum lagi melihat kiblat seorang anak SBY. Namun, bukan Demokrat namanya kalau tidak berlaku demokrat. “Pilihlah dengan hati nurani masing-masing”, demikian ucapan SBY yang ditayangkan berulang-ulang oleh televisi dan media lainnya.

Tetapi babak drama berlangsung beda, Andi kalah di leg pertama. Berita televisi pun kembali heboh. Seorang Andi kalah?Waw. Ini baru putaran pertama, lho. Jujur saja, bagi saya, stasiun-stasiun TV lokal kita memang paling jago mendramatisir dongeng politik seperti ini. Lihat saja penjaga konter HP pun menonton dengan serius, sama seriusnya dengan ketika dia menonton tim Thomas dibantai Cina 2 minggu lalu.

Putaran pertama seorang Anas yang santun dan kalem, menohok Andi menjadi peraih suara terbanyak. Marzuki Ali yang baru mendeklarasikan diri di hari kamis, tiba-tiba terbang ke posisi 2 menempel ketat Anas. Andi? Saya yakin tidak akan lebih baik dari 15% untuk “bukan jawa” satu ini, walaupun masa kampanye di tambah seminggu lagi. Delapan puluh dua suara Andi  akan di”hibah”kan ke Marzuki Ali pada putaran kedua. Perhitungan matematis, Marzuki Ali pasti menang. Tapi, sekali lagi ini panggung politik, “1+1 bisa saja bukan 2″ kalau kata Bang Ruhut.

Sebelum pulang saya melihat Andi diwawancara, dia mengakui kekalahan ini sebagai sebuah koreksi atas kurang dekat hubungannya dengan “Grass root” Partai Demokrat sendiri. Saya pulang dari konter itu dengan pikiran bermacam-macam. Ada sedikit senyum sinis tersungging. Ini bisa jadi cerita menarik jika sinisme saya benar.

Malam harinya, saya dapat kabar dari pacar, Anas jadi ketua demokrat. Kabar yang aneh untuk malam senin dari seseorang pacar. Masak seorang pacar yang cantik justru mengabari saya berita politik. Saya justru menunggu kabar yang biasa-biasa saja, seperti misal : makan malam dengan apa, tesisnya yang sudah sampai bab berapa. Atau minimal berita gosip selebritis sajalah, jadi saya tidak kuper-kuper amat untuk bergaul dengan pecinta gosip seantero tanah air.

Tapi itu bukan berarti pula saya salah memilih pacar. Karena mungkin bagi sang pacar yang tinggal di Bandung, yang 2 malam sebelumnya memaki-maki kemacetan malam minggu kota Bandung semakin diperparah kongres PD itu,  bisa berarti berita ini layak naik tayang sebagai Gosip panas. Akan lebih panas jika seorang Cut Tari jadi presenter siaran langsungnya. Bisa pula jauh lebih panas dari “pager ayu” yang dihadirkan di perlehatan kongres. Atau pelesiran super panas di malam minggu sebagai hiburan kongres.

Berita itu pun panas sampai ke kuping saya. Sekali lagi saya diperalat oleh media dan partai politik. Seketika saya bisa merasakan panasnya aura kekecewaan  pendukung MU setelah Munchen menaklukkan MU di perempat final Piala Champion.  Menang secara matematis, tetapi tetap saja skor lolos sebagai juara tidak berubah, baik itu leg pertama – maupun leg ke dua. Putaran kedua, tetap Anas sang juara.

Sebagian dari kita bisa terlalu serius menikmati sandiwara dalam Piala Champion. Lihat saja treble yang spektakuler justru bisa jadi tiket kepergian manager ber-ego tinggi seperti Mourinho. Diego Milito yang dulunya biasa-biasa saja, tapi justru jadi pahlawan muka Italia di kancah Eropa. Dan lebih dramatis lagi, juaranya tim Eropa dimenangkan oleh sebuah tim Italia yang tanpa pemain Italia sama sekali pada start line up -nya.

Sedikit persamaan dengan politik negeri ini yang juga bisa bersandiwara seperti sepak bola Eropa. Saya terlalu sinis memang, jika tidak dikatakan kurang ajar. Tidak cukup bukti jika ada sandiwara dalam sebuah panggung demokrat(isasi) negeri ini. Tetap saya melihatnya bisa demikian.

Ditengah persiapan perjalanan Kongres PD, saya melihat ini sebuah aksi kampanye politik yang terang-terangan, padahal pemerintahan periode ini belum juga jalan setengahnya. Kuncinya ada pada strategi politik demokrat, pintar melihat media yang haus berita. Sehingga kongres “lokal partai” seperti kemarin, justru tidak meninggalkan kisah kekalahan sama sekali. Yang ada adalah sebuah berita kemenangan strategi politik skala nasional untuk tabungan masa depan, sekaligus pengaman periode politik saat ini.

SBY boleh berbangga dengan kesuksesan ini. Perannya sebagai Big Boss yang santun dan demokrat sejati ter’cap’ kuat di jidatnya hanya dalam 2 hari saja. Seorang muda seperti Anas dalam kursi PD 1 semakin meng-gol-kan label Partai Demokrat sebagai “partainya anak muda” -yang mungkin setengahnya pada 2014 sudah beranjak tua. Nama Anas pun melangit dikenal oleh khalayak. Dan Andi yang sportif dengan pengakuan kekalahannya, mengingatkan acara termehek-mehek akan pengakuan dosa.  PD seperti melabelkan diri bahwa mereka masih memiliki calon-calon kuat di 2014. Bagaimana dengan Marzuki Ali? Beliau adalah kuda hitam. Yang saya tangkap itu justru masih lebih baik daripada mejadi kambing hitam.

Ongkos kampanye Andi yang luar biasa besarnya juga bukanlah kerugian seorang Andi, bukan pula kesalahan strategi seorang Andi. Apalagi melihat dukungan saudara nya yang jagoan menciptakan strategi media bagi partai PD di masa lalu. Ongkos politik dari kekalahan Andi Malarangeng, justru sebenarnya sebuah ongkos politik dari strategi PD pada keseluruhannya.

Sekali lagi PD unggul dalam strategi media untuk politik mereka. Mendapat simpati dari khalayak akan drama demokrasi yang mereka ciptakan, padahal kampanye pemilu masih 4 tahun lagi. Dan mereka tidak perlu memiliki stasiun televisi.

Ibu saya yang seorang simpatisan demokrat di kampung pun bisa menitip pesan lewat telepon dengan bangga, “Lihat tuh, SBY itu memang adil orangnya. Kamu jangan ga ikut pemilu lagi tahun depan”

Gamabar dari Artikel Kompas : SBY Jadi Penentu Ketua Umum.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/07/03511714/sby.jadi.penentu.ketua.umum

4 Comments

  1. Pak Anas memang lebih pantas sebagai pimpinan Demokrat.

    Reply

  2. wah mas, saya ndak tertarik soal bagus atau tidak mereka2 itu :D

    Reply

  3. salam kenal mas…
    kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana
    terima kasih….
    kunjungi website kumpulan jurnal kami : http://repository.unand.ac.id

    Reply

  4. skrang lgi skndal mas,, heee

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>