Tangan saya kaku. Dan kepala saya seperti terbentur tembok.
Kira-kira begitu yang saya rasakan ketika ingin memulai menulis. Berlebihan? Mungkin saja. Tapi memang demikian adanya.
Kira-kira beberapa minggu kebelakang, saya harus menulis. Menulis karena harus. Juga sesekali masih mencoba menulis komentar di Politikana. Juga masih sempat-sempatkan menulis sahutan di milis. Hasilnya? Tidak memuaskan hati sama sekali.
Cara saya menyampaikan sesuatu lebih sering berputar-putar, dengan penggunaan kata yang terbalik-balik antara S P O K. Kalau dibilang gaya bahasa orang timur, tidak juga. Karena toh saya masih bisa mengerti tulisan dan gaya bahasa teman-teman dari timur. Dari Aceh? Mirip-mirip saja dengan bahasa timur. Memang pilihan kata-kata antara objek dan subjek (dan keterangan 1, 2, dan embel-embelnya) itu sering terbalik di daerah-daerah ujung Indonesia itu. Tapi seburuk-buruknya pun, saya masih paham dan mengerti.
Untuk tulisan-tulisan saya itu, justru tidak. Continue reading