Nurdin Yang Terkutuk

“Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.” – Tan Malaka (1925)

Menonton Indonesia dari televisi. Menonton ke sekian kali Tim Merah Putih bertanding dengan negara-negara tetangga.

Awalnya saya tidak berharap banyak, 2 atau 3 tahun saya cukup kecewa dengan penampilan Timnas. Saya memang bukan seorang yg jago menganalisis pertandingan. Tetapi melihat pertandingan-pertandingan yang pernah ada, seperti melihat sebuah motor yang rusak di busi-nya. Distarter ngadat. Didorong pun harus dipaksa sambil masukkan gigi satu.

Saya pernah bahas soal ini di tulisan-tulisan sebelumnya. Prestasi tim nasional mandek, mau tidak mau karena buah kompetisi yang baunya tidak enak. Ujung-ujungnya, buah ini semakin tercium busuk setelah ditarik ke level manajemen Sepakbola negeri ini. Yaitu PSSI sendiri. Dan dengan “setan-[setan]” di dalamnya bernama Nurdin Halid [dan cs-nya].

Bukti? Cukup lelah koran-koran dan media lainnya bersuara. Dan saya tidak perlu membuat diri capek lagi hanya untuk menyentil orang satu itu. Sentilan itu tidak mempan, bisa jadi karena memang “setan-[setan]” itu sudah bermuka tebal. Padahal saya sendiri percaya, setan saja masih punya malu dan harga diri.

Tetapi asa kembali muncul ketika sebuah photo profil ditag ke halamanFacebook saya. Photo seseorang yang cukup nekat, mengenakan kaos putih bertuliskan “Aku berlindung dari godaan Nurdin yang terkutuk”, dengan latar dirinya sedang memandang jauh Stadion Senayan “GBK”. Saat itu, suporter nekat itu sedang menonton Tim Garuda melawan Tim Nasional Uruguay dalam rangka uji tanding sebelum menjajal kejuaran Piala AFF Suzuki Cup Desember ini. Entah bagaimana, saya merasa photo itu cukup mewakili kekecewaan, tetapi juga sekaligus harapan. Bahwa saya, si suporter gila itu, dan berjuta-juta fans sepakbola tanah air masih punya harapan untuk hadir di Senayan dan menyaksikan tim kebanggaannya menang.

Suatu masa yang lain, dari radio streaming yang penuh dagelan, bernama Radioteflon, saya mendengar analisa menarik untuk peluang Indonesia di AFF. Wawancara dagelan itu pun tidak lupa menyinggung prestasi timnas dan pengaruh dari bobroknya PSSI bersama “setan-[setan]”-nya. Satu kali lagi saya mencatat, si narasumber yg gemar menulis blog soal bola itu, juga yakin bahwa kita masih bisa berprestasi. Prestasi itu tidak dijemput, tetapi harus dikejar. Dan PR kita masih banyak, termasuk membenahi PSSI dan sistem kompetisi lokal yang acak kadut.

Dan semalam, juga 2 malam sebelumnya, menjadi bukti bahwa kita mampu. Nurdin cs yang pesimis, dan sempat menentang cara pelatih Alfred Riedl mengatur tim, justru dibalas tegas kemenangan telak. Lima satu dengan Malaysia, setengah lusin bersama Laos.

Kita bisa menang. Bahkan bisa lebih baik dari sekarang. Dan kemenangan itu semua bukan hak Nurdin sama sekali. Dia lebih pantas turun sekarang juga dari PSSI. “Lindungi Indonesia dari godaan Nurdin yang terkutuk”

 

*thanks to @zenrs @hedi @colonelseven @di_larashati @escoret @epat @kelakuan dan semua yg menginspirasi. Kalau kata Tan, “Dalam tiap-tiap macam perjuangan, inisiatif mempunyai nilai besar” – Tan Malaka.

Saya akan turut ke Final. Siapkan satu kaos untuk ku ya!

10 Comments

  1. Saat 60 ribu orang bersama2 menyanyikan indonesia raya, dadaku bergetar. Saat itu, kita akan sadar, sepakbola indonesia masih punya harapan, sepakbola indonesia terlalu sayang kalau terus menerus diperkosa nurdin halid dkk.

    Reply

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Fakhrizal, Galuh Pangestri. Galuh Pangestri said: gelisah! RT @leksa Untuk Indonesia yg lolos ke Semifinal, dan buat pendukung #NurdinTurun "Nurdin Yang Terkutuk" http://ht.ly/3k0oc […]

    Reply

  3. Samalah macam kau, Jal. Aku pun pesimis dengan PSSI. Namun, suporter dan kemenangan telak berturut-turut, membuat insyaf: persepakbolaan Indonesia masih bisa diselamatkan dari perangaii Nurdinirrojim.

    Kalau PSSI bagus, persepakbolaan di pelosok kami, klub-klub kampung, dengan potensi pemain muda langganan Suratin Cup yang pantas dilirik tim besar, akan makin besar kans berkiprah. Amin.

    Reply

    1. betul! Semangat Persiraja, setelah menang dari PSMS..
      Suruh ikut LPI aja… Masak org2 kaya Aceh ga ada duit ngumpulin 5M buat ikutan?

      Lagian besar kemungkinan duitnya balik, kalo perhitungan bisnis si Panigoro betol, malah bisa untung :))

      Eh,.. itu soal lain, kompetisi..
      PR persiraja skarang, perbaiki level lokal, penyaringan tim SSB aceh yg dikampung sebenarnya bagus. Jngn anak2 bos aja dimasukin SSB terus masuk level kompetisi..
      Anak kampung kalo ada beasiswa juga bisa juara..
      kawan ku dikampung banyak yg jago crossing ala Okto :D

      Reply

  4. semoga para supporter palesu bayaran pak nurdin itu tahu malu,
    dan salutlah buat yang bawa spandukmerah gede nan fenomenal itu,
    keren !

    Reply

  5. Kecongkakan firaun nurdin sudah sangat-sangat di muka bumi nusantara ini, LAWAN!

    Reply

  6. mau ke final? ikuuuuuuuuuuuut…..!

    Reply

  7. bagaimana setelah ada LPI mas? Apakah ada titik cerah sepakbola kita akan bangkit? Toh nurdin memang tak akan tergerak hatinya untuk mundur. Jadi lebih baik kita saja yang maju. :)

    Reply

    1. Belum tentu..
      tergantung PSSI semuanya,

      Reply

  8. Postere ndak nguati… keren tenan

    Reply

Leave a Reply