Menjadi Indonesia

Standard

“Menjadi orang Indonesia itu lebih pantas diukur dari seberapa banyak manfaat yang telah diberikan oleh seseorang itu kepada bangsa ini. Bukan karena numpang lahir, atau pun karena takdir menitipkan dia lahir atas ibu/bapak seorang Indonesia”

Baiklah. Katakan saja saya seorang “sok filosofis” karena ungkapan saya demikian. Tetapi buat saya pribadi, itulah jawaban paling akurat untuk polemik naturalisasi TimNas sepakbola kita. Bentuk nasionalisme akut? Bisa jadi. Tetapi itu ungkapan paling jujur dari saya. Bisa jadi sebuah pandangan tidak berdasar, tidak ada konteks ilmiah di dalamnya, apalagi konteks hukum dan tetek bengeknya.

Ungkapan itu lahir karena sejatinya saya mengolah pandangan dan pola pikir saya dari apa yang saya dapat selama ini, baik itu bacaan maupun pengalaman. Dari banyak orang yang saya temui, seberapa banyak cerita dan diskusi warung kopi saya nikmati, model-model karakter orang yang sepintas lewat dalam hidup saya. Ya, teman-teman, rekan kerja, atau anda mungkin yang sempat sekelebat lewat di depan mata. Itu lah bentuk pengalaman saya.

Sebagai orang Aceh, bisa dikatakan “kebanyakan” teman saya dari Aceh, atau bahkan keluarga saya sendiri dari Aceh, punya pandangan berbeda. Pertanyaan pertama mereka selalu ketika saya pulang kampung “Kapan kau bangun Aceh ini? Apa yang sudah kau kasih buat Aceh ini? Kau kan orang Aceh!” Oh, okay. Pertanyaan itu tidak menjadi penting lagi untuk saya saat ini, atau bahasa halusnya “udah biasa”. Saya bisa paham, mereka -saudara dan teman-teman saya dari Aceh- melihat dalam ikatan sosial yang lebih sederhana, geografis yang lebih kecil. Aceh. Jadi wajar pertanyaan seperti itu terlempar buat perantau seperti saya. Dan saya yakin, situasi yang sama juga dirasakan teman-teman dari suku atau daerah lain, ketika ditanya atau disinggung dengan ungkapan serupa. Yang berbeda cuma ikatan sosial dan nama letak geografisnya saja.

Menjadi Indonesia itu bukan persoalan darah. Menjadi Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Flores, atau Papua itu bukan perkara numpang lahir. Bahkan “Menjadi Indonesia”, tidak sama dengan “menjadi warga Indonesia”. Menjadi warga Indonesia adalah sebuah entitas biasa saja. Ketika ego kita butuh untuk dilabeli sebagai komunal besar, anggota dari sebuah negara, secara hukum dan sosial. Terbayang kalau misal nanti Bumi ternyata bukan lagi satu-satunya planet di alam semesta? Ada ego komunal baru lagi yang kita butuhkan, warga bumi. Mungkin nanti ada yang namanya KTPB. Kartu Tanda Penduduk Bumi.

Persoalan “menjadi” itu memang filosofis menurut saya. Juga ada unsur bentuk tanggung jawab di dalamnya. Ketika ada yang bilang, “Gw sekarang udah jadi web designer, Bro” atau “Saya sekarang udah jadi PNS, Mas”, maka disana ada makna bukan sekedar punya NIP atau NPWP. Ada tanggung jawab bukan? Bekerja dengan profesional sebagai seorang web designer. Bekerja dengan tanggung jawab sebagai PNS. Dan disanalah bentuk “menjadi” itu memiliki arti yang lebih tepat.

Kalau kita menerapkan standar yang sama untuk hal-hal sederhana demikian, maka persoalan “menjadi Indonesia” malah justru tidak sesederhana memiliki KTP Indonesia. Ada tanggung jawab disana, ada nilai-nilai manfaat yang harus dipersembahkan buat negeri ini.

Jika seorang setengah darah Indonesia, atau tidak berdarah Indonesia sama sekali, mau mencium burung garuda di dada kirinya setelah mencetak gol, dan mengangkat kebanggaan bangsanya, saya rasa dia pantas untuk diberikan label “menjadi Indonesia”. Sebaliknya, jika seorang pejabat sekental apa pun darah Indonesianya tetapi justru, membuat sengkarut, korup, dan bikin ribut, maka lebih tepat kalau saya katakan pejabat itu cuma numpang berak di Indonesia.

Saya memang belum bisa “menjadi orang Aceh”, apalagi “menjadi seorang Indonesia”. Tetapi saya percaya, bahwa “menjadi” itu bukan seperti meninggalkan jejak lalu tersapu angin. “Menjadi” itu ibarat membangun rumah. Dan selalu ada pilihan untuk menghancurkan rumah tersebut.

Semoga saya dan anda tidak demikian.

2 thoughts on “Menjadi Indonesia

Leave a Reply