Menikmati film silat sebagai sebuah “rasa yg dekat”

Ini memang tulisan yang membuat awal tahun baru dirasa mumet. Tetapi olahan mas Makbul ini membuat saya menelusuri dengan sadar bahwa alam pikir seni visual dan alam bawah sadar manusia itu sebagai satu kesatuan. Entah benang merahnya apa.

Misal saya saat ini mengenal Seno Gumira dalam 2 profil yang konsisten. Pertama, satu tahap dimana saya mengingat kekuatan Seno untuk cerpen cinta grafis absurd. Itu dalam 15 tahun.
Lalu tahap kedua, 5-7 tahun terakhir dengan olah kata untuk silat klasik dan sejarah “semi-fiksi” Nusantara.

Sementara kalau saya tanya sama yg lebih senior, mereka akan mengingat Seno sebagai 3 profil. Karena tahap pertamanya yaa sebagai kritikus peradaban Orba -peramu narasi, diksi, fiksi dan faksi.

Jadi memang cukup mbulet kalau mau mencerca sebuah karya. Apalagi melihat dari sekian transisi untuk menemukan identitas dalam setiap generasi.

Ini si film silat Mira Lesmana diaku diolah dgn serius. Wajarlah, namanya juga Sutradara. Bahkan produser dan seluruh kru terlibat mesti mengaku ini film serius dengan persembahan terbaik mereka bagi produk seni dan budaya nusantara.

Trend pergeseran dalam dunia film kita memang sedang menuju ke arah “cari-cari suatu nilai serius yang bermanfaat untuk publik”. Tuntutan revolusi terhadap B-Movie pocong ala Indonesia sudah sedemikian kuat. Namun sayangnya gaung revolusi perubahan ini hanya dikuasai kelompok menengah yang kritis, atau teman-temannya si kritikus yang lucu dan satire itu, atau yang kebetulan nge-fans media-media opini dan kolom-kolom budaya yang lagi bertabur sekarang.

Sehingga pada akhirnya saya berkesimpulan, yang sedang berevolusi bukan produk seninya, bukan produk budayanya, bukan karyanya. Apalagi menganggap sedang berlangsung revolusi literasi hipster di Indonesia.
Ini hanyalah revolusi gaya hidup untuk menjadi pintarnya itu.

Tapi itu bukannya pertanda bagus?

Leave a Reply