Fly

Saya masih belum paham. Kenapa perempuan-perempuan manis itu yang dipajang di halaman depan web mereka. Kenapa bukan gambar pesawat atau interior dalam pesawat yang mengesankan kenyamanan.

Tampilan situs Airasia.com ini, mengingatkan saya dengan situs-situs dating, atau bahkan lebih mirip situs-situs escort service kelas dunia.

Escort Service? apalagi itu?

Google saja. Dan jangan kaget kalo anda menemukan tagsline serupa dengan diatas. Fly a queen to you”.

Obama Berjanji

Barack Obama telah menjadi presiden United States. Dan banyak orang menaruh harap kepada lelaki ini. Entah itu dari warga Amerika (pendukung, simpatisan hingga warga bukan pendukungnya), atau dari luar Amerika. Bukan tanpa alasan. Banyak orang berdebat soal latar belakangnya yang diharapkan mampu memahami dampak politik global di dunia ketiga. Ditambah lagi janji-janji kampanyenya, menyuarakan sebuah nilai-nilai persamaan hak untuk semua bangsa dan juga manusia.

Itu adalah sebuah kesimpulan singkat di awal. Awal sekali bahkan, karena Obama saja baru dilantik beberapa saat lalu – grogi mengucapkan sumpah presidennya.

Janji terucap. Janji itu seperti sebuah rencana. Janji adalah sebuah ide yang ditawarkan. Dan ide serta rencana membutuhkan sebuah pelaksanaan. Tanpa pelaksanaan, sebuah janji bagaikan aplikasi yang gagal diwujudkan.

Bagaimana dengan Obama? Paling tidak saya melihat ada janji yang sudah dia coba untuk bangun aplikasinya.

“Participation — President Obama started his career as a community organizer on the South Side of Chicago, where he saw firsthand what people can do when they come together for a common cause. Citizen participation will be a priority for the Administration, and the internet will play an important role in that. One significant addition to WhiteHouse.gov reflects a campaign promise from the President: we will publish all non-emergency legislation to the website for five days, and allow the public to review and comment before the President signs it.” – Change has come to WhiteHouse.gov – whitehouse.gov

Sebuah penggalan dari tulisan blog pertama di situs gedung putih yang baru. Saya tidak tahu, apakah ini bisa disamakan dengan situs serupa di tanah air ini. Tapi yang pasti statement itu adalah lompatan selangkah dari janji yang ditawarkan Obama ketika kampanye. Dia mencoba meng-aplikasi-kan janjinya dengan caranya.

Ke depannya akan banyak janji-janji serupa hadir di Indonesia, dalam beberapa hari lagi. Mungkin sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Mungkin para pembuat janji negeri ini meniru Obama untuk membuat janji-janji. Tapi yang jadi masalah, seberapa sanggup mereka meniru Obama untuk menerapkan janji-janjinya.

Berjanji itu mudah, namun melaksanakan janji itu tidak gampang. Saya paham bahwa menjadi ingkar itu bukanlah hal yang sulit. Dan rasanya tidak menyenangkan.

Reset

Banyak hal dalam hidup ini dipaksakan untuk ditelaah dan dideskripsikan. Padahal hidup itu adalah sebuah perjalanan yang akan jelas pertimbangan “kiri kanan atas bawah”-nya ketika titik itu dijalani pada waktunya, saat momen nya datang.

Kita hidup dari buku-buku dengan tagsline-tagsline yang mengajar hal-hal baik dan benar. Baik dan benar dalam ukuran buku-buku. Di balik itu, buku-buku juga hadir untuk membantah buku satu dengan buku lainnya.

Saya bisa mendebat dengan dialektika berjam-jam semalam suntuk untuk mencari sebuah premis paling benar dari sebuah tagsline yang diajarkan buku-buku itu. Entah sebuah bantahan atau hanya untuk mengatakan pembenaran.

Mungkin saya capek berdialektika. Jenuh menelan semua idealisme. Tapi saya juga tidak mau menjadi orang pragmatis.

Sekedar realistis,…saya rasa itu sudah cukup.

Eubermensch Joker

JokerJagoan super bukan hanya milik seorang superhero. Terhipnotis dengan sosok super seorang Joker dalam sekuel Batman : The Dark Knight, memberikan kepada saya kesan lain dari seorang Heath Ledger yang dulu dicap sebagai homoseksual karena film Brokeback Mountain. Tidak kalah dari sosok super seorang Batman, justru Joker menjadi fokus perhatian banyak penonton film ini, karena berbagai kegilaan dan ide simpatiknya yang menggambarkan rumitnya sebuah sistem sosial politik dan kekuasaan di kota Gotham.

Continue reading

"Itu ada di Detikcom, Yang Mulia"

Dalam banyak komunitas di dunia maya, Detik sering dipelesetkan sebagai media yang “basbang”, yang juga berarti “Basi Banget”.

Tetapi tidak begitu menurut Artalyta alias Ayin, si tersangka dalam kasus penyuapan Kejaksaan Agung itu. Dalam sidang hari ini, dengan gaya menjawabnya yang berbelit-belit, ternyata Detik harus berterima kasih ke Artalyta.

“OK. Dari pembicaraan itu, Anda sepertinya tahu persis perkembangan kasus BLBI II. Anda tahu dari mana?” kata Andi (Hakim Andi bachtiar -red).
“Itu ada di detikcom, yang Mulia,” kata Artalyta.

Hebat! Bermodal membaca Detik saja, Ayin bisa tahu seluk beluk kasus BLBI II sedalam itu. Selamat buat Detik. Sekaligus selamat bekerja mengumpulkan arsip berita BLBI untuk di crosscheck dengan rekaman Ayin.

Tapi jika merujuk logical fallacy, sebenarnya pernyataan itu juga tidak menjawab pertanyaan Andi. Pintar sekali wanita satu ini berkelit-kelit dalam menjawab pertanyaan hakim.

Sepertinya Arya harus traktir saya untuk kemajuan Detik satu ini.

Memburu Tapal Batas

Hari sudah hampir berakhir. Warna langit sudah digores-gores oleh kuning dengan paduan emas dan biru gelap. Kendaraan-kendaraan diluar bus ini terlihat berlalu semakin cepat. Seperti ada yang mereka kejar di tujuan masing-masing. Kadang aku melihat ada muka lelah namun justru matanya menunjukkan sebuah semangat untuk bertemu sesuatu di ujung perjalanannya. Lain lagi jika melihat dalam perhentian lampu merah, ada wanita-wanita bermuka cerah yang memeluk mesra pengemudi motor yang memboncengnya. Harum tubuh mereka serasa bisa kucium, walaupun ada kaca tebal antara tempat ku duduk di bus mini ini dengan mereka yang saling menikmati senja diluar sana.

Continue reading

Leak dan Framing Media

Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.

Continue reading

BLBI dan Monas

Kenapa soal ribut-ribut Monas dan Ahmadyah lebih meramaikan panggung Republik dari pada soal kasus BLBI yang sedikit demi sedikit mulai terbuka?

Yang saya tahu 6M itu bukan cuma sekedar suap menyuap. Belum lagi urusan pelicin lainnya yang bisa saja menyangkut banyak pihak. Terus jika diakumulasi dengan total kerugian negara dari BLBI sendiri? Wah, kalau kedok ini terbuka bisa geger Republik.

Kalau berbicara soal ini, dan berpikir sedikit “liar”, siapakah aktor-aktor yang bermain di level atas dalam soal BLBI?

Pertama, urusan tangkap menangkap saya jadi ingat Polisi. Kalau boleh berpikir jahat, apakah Sutanto itu terlibat?

Kedua, urusan menggugat adalah urusan Kejaksaan. Kalau ini sudah jelas melibatkan beberapa Jaksa muda di dalam kejaksaan. Tetapi sekali lagi saya berpikir jahat, siapakah bosnya para jaksa muda ini? Hendarman? Saya masih ingat berita heboh di akhir februari lalu, “2 Obligor BLBI aman, Kejagung tidak menemukan adanya tindak pidana koruspi dalam penyerahan aset Anthony Salim (BLBI I) dan Syamsul Nursalim (BLBI II).”

Ketiga, dalam teori pemerintahan yang demokratis, peran partai politik sebagai bemper hak warga negara besar adanya. Dengan kondisi Nursalim yang tetap aman di Singapur sana, dan tentunya masih memiliki cadagan kekayaan, partai mana yang tidak tergiur dengan dana segar pemilu? Pesta kekuasaan itu sebentar lagi dimulai.

Keempat, dari pihak pemerintah, ada seseorang yang dari 2006 lalu selalu mengusahakan negosiasi antara pemerintah dan obligor-obligor nakal ini. Seseorang yang menjabat sebagai Sekeretaris Kabinet di masa itu.

Kelima, intel negeri ini terlalu jago untuk sekedar mengetahui keberadaan koruptor-koruptor nakal itu. Apa ada intel yang juga ikut bermain dalam pengamananan kasus dan pengolahan isu?

Bagaimanapun juga, ada kemungkinan terlalu banyak yang kecipratan di dagelan ini. Dalam teorinya, jika sebuah kasus korupsi telah meluber kemana-mana begini, maka dongengnya harus dibatasi. Dibatasi siapa yang menjadi pemain-pemainnya. Top leader harus aman bagaimana pun caranya. Yang kupingnya panas, mulai beraksi saling serang di antara para pendukung yang dulunya berjalan kompak. Seru memang melihat sesama penjahat dalam kartel mafia korupsi saling menelikung.

Yang jelas, uang panas yang terus berputar itu seperti rantai setan. Yang satu membiayai yang lain. Karena bagaimanapun juga duit suap, atau pelicin sekalipun adalah dana segar yang harus tidak bisa dilacak keberadaannya. Bisa jadi dana segar dari keuntungan korupsi lainnya. Butterfly Effect juga berlaku di lingkaran uang haram ternyata.

Jadi, lebih buruk mana, bergosip soal agama? atau pasang mata dan hati untuk lingkungan sosial anda yang sedang seakarat?