Kamu yang 80an dan anak-anak mu yang baby yoga

Karena di Facebook sedang ramai membahas masa lalu dan seru2nya memori jadul (itu lho grup sebelah 80-90), menarik melihat kembali topik subkultur tentang Baby boomer, Generation-x, Generation-y, dan sekarang ditambah Generation-z.

Penganut kitab web two point O -Douglas Couplan, dan esais foto perang -Robert Capa, yang mencukil istilah Baby Boomer dan Gen-x ini.


From the Baby Boomers to Generation Z

As the war ended and the servicemen returned on a high, the Baby Boomers were conceived en masse. Born between 1946 and 1964, their early memories may include watching Bobby Moore lift the World Cup, the day Neil Armstrong stepped onto the Moon and the Vietnam War. As they grew up they donned mini and maxi skirts and bell-bottoms, listened to the Beatles and the Rolling Stones on vinyl, smoked cannabis, maybe dabbled with LSD, and took the new contraceptive pill. Next came Generation X, born between 1965 and 1982. Raised on television and early computers, they have been unkindly labelled by some the ‘me generation’ of the Eighties. They were the punks of the Seventies, listening to the Sex Pistols and the Buzzcocks. Lots were teenagers when cassettes made way for CDs. They wore leg warmers and ra ra skirts, shoulder pads and snoods. Most remember the Cold War, the miners’ strike, the birth of Thatcherism and the yuppie. Some smoked cannabis or took mushrooms while City high-fliers splashed out on cocaine.

The Baby Boomers’ children are Generation Y. Dubbed the ‘internet generation’, they owned computers and mobile phones, write blogs, listen to their iPods and download music. Born between 1982 and 2002, the older ones will remember the rise of boy-bands and Brit Pop. They loved Take That and the Spice Girls, Oasis and Blur. Some of them dabbled with ecstasy and witnessed the rise of the super-club. They watched shows such as Big Brother and Pop Idol as reality television took off. They roamed the streets in hoodies.

A lack of memory of life before the war on terror defines Generation Z. They are toddlers and babies, born after 2002. They probably spend their time learning baby yoga.

source: http://www.theguardian.com/money/2008/may/25/workandcareers.worklifebalance

Integritas Akademik?? WTF..

Karena menonton sesuatu hal yg “janggal’ di pikiran saya, jadi pengen curhat.

Bagi kawan-kawan yang beruntung menjadi peneliti dan bergelar intelektual bangsa, mengenyam sekolah dan penelitian ke luar negeri, semoga bisa paham.

Ada golongan atau kelas sosial tertentu di negeri ini yang bawaannya “kasar & frontal”, lebih sering pedas terhadap kaum priyayi intelektual. Sudah sejak dulu jaman Tjokroaminoto ya begitu itu.

Namun sekarang, kelas sosial seperti ini semakin besar jumlahnya. Mereka dengan gampang bisa belajar dan mengelola keilmuwan mereka langsung di lapangan, dekat dengan subjek dan objek yang ada di masyarakat. Kelompok ini tidak melihat lagi adanya gap-gap keilmuan seperti jaman Boedi Oetomo masih hidup.
Teknologi informasi yg kita pakai ini yang membuat mereka seperti ini. Tidak hanya mengenyam ilmu dan informasi, bahkan dengan gampang seseorang bisa mendebat profesor ilmu politik di US sana. Lain waktu dengan ‘selo’ mereka bisa membantah status seorang PhD ilmu komunikasi. Di saat lain, karena sebuah forum atau open online course, ada seseorang yang bisa berdiskusi tentang microfinance system bersama 3 professor dari 3 benua.

Lalu apa yang kemudian dituntut dari mereka-mereka yang memiliki kesempatan lebih menuntut ilmu dan penelitian di luar negeri sana?
Adalah sedekat mungkin membagikan ilmu mereka ke publik, mendekatkan keilmuan mereka dengan persoalan riil di masyarakat, mau membuka ruang untuk dikritisi dan belajar lebih banyak lagi.
Dan justru tidak ribut berdebat soal integritas akademik dalam konteks jargon dan pembahasan elitis. Sudah usang dan basi.

Ini satu hal lagi pembelajaran setelah Pemilu Presiden yang saya dapat.
Dan benar, jaman sedang berubah, kawan.

Saya semakin percaya kata bapak saya, seseorang hidup bermartabat bukan karena rumah atau mobil atau gelar pendidikannya. Tetapi seberapa banyak manfaaat yang dia berikan kepada orang lain.

Keberagaman dan Sains dalam sebuah kutipan teori

Dalam teori Merton Thesis yang kontroversial itu, disebutkan bahwa tumbuhnya toleransi Katolik terhadap berkembangnya Protestan dan etika protestan pada abad 17 di Inggris, turut mendorong semakin berkembangnya sains di masa itu.

Teori serupa dari Max Weber jg ada, tetapi lbh menyoroti teori awal kapitalisme dan hubungannya dengan antusiasme intelektual puritan Inggris (penganut protestant-ethics) terhadap ilmu ekonomi.

Kalau ditarik korelasi teori ini ke masa sekarang di Indonesia, maka semakin tidak tolerannya kelompok agamis garis keras terhadap berkembangnya agama lain, maka sains akan semakin redup.