Air Bandung Yang Bermartabat

sungai cikapundungIni keluhan yang sangat sangat sangat mengganggu.

Kebetulan saya baru kembali dari Bandung. Menumpang 4 hari di rumah teman di sekitar daerah Kanayakan, Dago. Dan saya harus katakan kesal luar biasa.

Saya baru saja tiba dari Bandara Sukarho Hatta waktu itu, dan langsung bergerak menuju Bandung. Berharap sampai di Bandung bisa merasakan segarnya air Bandung menutupi penat nya badan karena udara kotor Jakarta. Tapi apa dinyana. Air di tempat saya tinggal tersebut mati.

Menunggulah saya dan teman-teman di rumah itu, berharap ini cuma giliran pemadaman saja. Seperti biasanya. Tapi, ternyata lebih parah. Sampai kemarin saya kembali ke Yogyakarta, air belum juga mengalir. Info terbaru malah sampai hari ini (berarti hari ke-5) belum juga mengalir. Keluhan serupa datang dari berbagai penjuru kawasan Dago, yang saya baca di twitter, juga dengar dari cerita teman-teman dan tetangga.

Ini bukan cerita aneh buat kota Bandung memang. Tapi sampai 5 hari tanpa informasi jelas atau lewat permintaan maaf dari pihak PDAM Bandung -media massa/atau dimanapun yang bisa dijangkau publik infonya, bagi saya ini berarti sebuah kekeliruan manajemen kota yang serius!

Masyarakat diminta untuk terus membayar. Tapi pelayanan pun semakin menyesakkan dengan bertambahnya hari-hari panas di Bandung. Setahu saya, PDAM bandung sendiri pernah merilis bahwa mereka menyadari semakin kekurangan debit air untuk kebutuhan publik. Tapi di sisi lain, pihak manajemen mengakui juga kalau mereka mengalami kerugian karena berbagai sebab secara berkala, dengan nilai rupiah hingga puluhan miliar pertahunnya (34 miliar terakhir saya baca dari Pikiran Rakyat).

Jika sudah begini Persoalan air kota Bandung bukan lagi urusan PDAM semata. Pemerintah kota, atau bahkan Pemda Jabar harus proaktif turun tangan. Institusi pendidikan teknologi terhebat di Indonesia yang berlokasi di kota yang sama pun mengakui bahwa muka air tanah kota Bandung semakin rendah. Ironisnya, kontribusi institut ini buat permasalahan tata kota mereka sendiri belum bisa diselesaikan secara nyata. Padahal mereka sendiri baru membanggakan diri karena kenaikan peringkat institusi pendidikan tersebut naik menjadi 80 besar di dunia. Terakhir yang saya lihat, sebuah mall disiapkan lagi didepan gedung rektoratnya. Sungguh ironis.

Sebabnya kekuarangan air ini bisa ditebak. Daya serap air tanah semakin rendah, aliran air semakin sedikit dengan kondisi iklim yang sulit ditebak juga karena pengaruh iklim. Sementara disana, bangunan-bangunan gedung yang menggila terus dibangun karena tuntutan sebagai “kota satelitnya orang jakarta”. Dan membludaknya kebutuhan air dari mobilisasi penduduk, plus kebutuhan air untuk gedung-gedung besar ini jelas menyedot air Bandung yang semakin sedikit. Jika sudah begini, akan dibawa kemana tata kota Bandung yang akunya Bermartabat itu?

Jangan-jangan memang martabat kota Bandung harus dipertanyakan kembali. Dulu sempat dipertanyakan karena sampah. Apakah sekarang harus bertaruh nama kembali lantaran permasalahan air?


Sumber :

Research singkat dari google persoalan air dan tata kota Bandung.

http://coretankelambu.wordpress.com/author/yudhaspiza/page/14/

Berteman (lagi) Dengan Bencana

Ketika dulu saya kuliah Geologi Dasar “101″, dosen saya yang kecil dan lucu itu selalu mengijinkan open book untuk ujian. Dan nilai kuliah harian, hanya dilihat dari absensi dan presentasi. Namanya mahasiswa, kadang malas mendera, absen pun bisa dititipkan. Presentasi? Serahkan saja pada yang rajin dan jago bicara. Hasilnya, 90% kelas bisa lulus dengan nilai A. Padahal, jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini bisa mencapai 300 orang pertahunnya. Karena Geologi Dasar adalah mata kuliah wajib bagi 3-5 jurusan ilmu kebumian.

Itu dulu. Ketika saya dan teman-teman kuliah hanya melihat ilmu ini adalah hanya sekedar bagian dari prestasi mengejar kelulusan.

Tahun 2004, sebuah bencana paling besar di abad ilmu modern terjadi. Gempa yang disusul tsunami membawa korban jiwa dan kerusakan luar biasa hingga 3 benua. Jumlah korban jiwa mengalahkan jumlah korban bom atom Jepang yang mengakhiri perang dunia II. Dan kemudian semua orang seperti diajak berpikir, ada apa dengan bumi ini? Apakah bumi “mulai” marah dengan polah manusia?

Bumi tidak pernah marah. Sedari dulu memang demikianlah bumi kita beraktifitas. Coba saja perhatikan gambar berikut, bagaimana hanya dalam satu minggu bisa tercatat beberapa gempa dimuka bumi ini.

Warna Merah : Gempa sejam terakhir
Warna Biru : Gempa hari ini
Warna Kuning : Gempa minggu ini

Gempa Dunia Dalam Seminggu Terakhir

Justru kalau diingat-ingat, kita lah manusia yang berjalan di atasnya ini sering menyakiti “ibu bumi”.

Setelah tsunami besar itu, banyak ilmuwan dan profesor kelas dunia, turut bersuara. Suara mereka seperti mengajarkan ilmu baru buat umat manusia. Padahal, sudah sejak lama mereka terjun di keilmuwan dan penelitian mereka, mencoba memberi “warning” bahwa manusia selalu dekat dengan bencana. Tapi sekali lagi, dulu, suara mereka tidak didengar. Seperti saya dan teman-teman mahasiswa kelas Geologi Dasar itu, melihatnya hanya sebagai angin lalu. Padahal tanah Indonesia yang kita pijak ini, selalu, dan dari dulu adalah kawasan yang tidak lepas dari bencana gempa, longsor, gunung berapi atau pun tsunami.

Tsunami Aceh – Nias, gempa Yogyakarta, gempa Jawa Barat, dan terbaru, gempa di Sumatra Barat, juga bencana gempa lainnya kecil atau besar, membuktikan bahwa kita dekat dengan bencana. Paling tidak, kita sebagai warga negara indonesia harus sadar bahwa kita dekat dengan bencana yang tidak pernah bisa kita lawan. Tetapi perlu diingat. Tidak bisa melawan, bukan berarti harus takut. Seharusnya kita mulai merenungkan diri, bagaimana caranya bersahabat dengan bencana tersebut.

Skala goncangan gempa atau pun jumlah korban, hanyalah hitungan statistik. Hanya menjadi pembanding, seberapa parah satu bencana dengan lainnya. Seberapa banyak bantuan harus diturunkan ke lapangan. Di zaman yang sudah semakin maju teknologi seperti sekarang, sudah tidak sulit untuk mengkalkulasi kerusakan, korban atau pun jumlah kantung darah yang dibutuhkan oleh kawasan tertimpa bencana. Tapi tetap kita belum bisa memprediksi kapan bencana itu terjadi. Saya justru miris mendengar ulasan di media TV yang mempertanyakan “kapan bencana terjadi” atau lebih parah lagi membahas “bagaimana melawan bencana”.

Kalau kita jeli, semua mitos yang ada di nusantara mengajarkan kearifan lokal bahwa kita memang dekat dengan bencana. Dari cerita Naga dan Raksasa di ujung barat-selatan Aceh, dongeng danau Toba,  dongeng Tangkuban Perahu, dan entah berapa banyak lagi cerita-cerita mitos serupa, disana bisa kita berkaca bahwa ada cerita sebuah bencana di masa lalu tepat di kawasan tersebut. Percaya atau tidak, Gunung Tambora dan Danau Toba saja pernah diteliti sebagai sejarah ledakan terbesar dalam peradaban manusia.

Ingat cerita bagaimana pulau Simeulue yang paling dekat dengan titik tsunami 2004 lalu bisa menghindarkan banyaknya korban jiwa? Kalau tidak salah ingat hanya belasan saja yang menjadi korban, dan itu pun orang-orang yang sedang melaut dan orang-orang tua yang sudah tidak kuat berlari. Warga pulau itu masih memahami sebuah mitos nenek moyang tentang bumi yang berguncang sebagai tanda datangnya “makhluk jahat”, “air bah”, atau “bala” (bencana) dari arah laut. Mereka menyebut mitos ini sebagai “smong”. Smong menjadi bentuk kewaspadaan warga tersebut. Dan kearifan lokal itu menjadi media mitigasi yang sangat ampuh.

Mungkin cerita warga pulau Simeulue itu tidak bisa disamakan dengan bencana-bencana lainnya. Tetapi satu hikmah penting di sini harus mulai kita pahami. Bahwa, kita memang dekat dengan bencana. Ada baiknya kita belajar untuk bersahabat dengan bencana itu. Tidak perlu dilawan. Tetapi pahamilah bagaimana menyikapinya, belajar mempersiapkan diri ketika bencana datang, sekaligus menyiapkan segala supra dan infra-struktur di kawasan kita yang rawan bencana.

Sederhananya, coba kita lihat, bagaimana mengakomodasi bantuan secara efektif ketika bencana datang. Model-model mitigasi bencana harus dirancang di semua kawasan yang memang rawan bencana. Disini perlunya keterlibatan aktif pemerintah dan masyarakat untuk membuat blueprint, cetak biru mitigasi sebuah kawasan yang rawan bencana. Tidak hanya skala fisik saja -ini pun kita masih kurang, tapi juga mencerdaskan “kembali” masyarakat untuk berteman dengan bencana.

Kalau saya boleh berseloroh, “memahami rawan bencana itu harusnya seperti memahami pacar. Harus tahu, tanda-tandanya si dia mulai kesal, kenali perilakunya ketika marah, sampai mengatur strategi bagaimana berdamai setelah ribut-ribut terjadi”.


Artikel ini sebagai bentuk turut berduka cita untuk semua korban bencana di Indonesia

Melihat Aceh Bukan Dari Syariat

Photo dari Nuri

Mengangkat lagi, tulisan lama saya soal Aceh, dari artikel ini

Kemarin (17/2) saya membaca artikel opini kompas tentang isu pemekaran wilayah. Isu lama, tetapi hangat kembali setelah meninggalnya Ketua DPRD Sumatra Utara beberapa waktu lalu. Dari raungan untuk membebaskan keinginan memekarkan wilayah, kini muncul renungan apakah pemekaran wilayah menjadi sebuah hal yang sama pentingnya dibandingkan kesejahteraan warga masyarakat secara merata untuk semua wilayah? Dulu, kepentingan pemekaran wilayah dan penerapan sistem desentralisasi diusung dengan alasan
mewujudkan pembangunan yang merata di setiap pelosok negeri ini. Memang ada wilayah-wilayah pemekaran yang sukses membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Gorontalo misalnya, membuat nama Fadel Muhammad sering disebut-sebut oleh acara-acara pemilu TV. Propinsi Gorontalo memang sukses, tapi tidak bisa dikesampingkan predikat jumlah penduduk propinsi tersedikit (800 ribu jiwa), bandingkan dengan Bandung yang berupa Kotamadya (4.1 juta jiwa). Jika mau di logika maka pelayanan publik Propinsi Gorontalo pun menjadi lebih stream dan efisien.

Penting melihat kembali kebutuhan akan pemekaran wilayah yang sampai saat ini banyak yang mulus persetujuannya di DPR. Banyak alasan yang muncul menjadi jauh dari kebutuhan menyejahterakan warga. Dari soal ras, agama, sejarah, bahasa, atau perasaan ketertinggalan. Lalu isu-isu ini menjadi senjata untuk mengajukan pemekaran.

Sebenarnya jika mau jujur, pemekaran wilayah ini muncul karena sebuah alasan keekonomian. Acuan terpenting adalah soal aset yang dimiliki sebuah kawasan. Bukan hal klise jika bicara hal ini. Aset sebuah kawasan atau daerah adalah kekayaan Sumber Daya Alamnya. Titik tolak dari semua usaha untuk menciptakan kesejahteraan. Setiap kawasan memiliki potensi SDA berbeda, cara pengelolaan berbeda, termasuk budaya masyarakatnya dalam mengelola pun berbeda. Persoalan kesenjangan bisa jadi hanya menjadi sebuah alasan saja, padahal yang ingin dititikberatkan adalah kesempatan pengelolaan secara mandiri aset lokal kawasan. Nah, pertanyaannya menjadi sederhana jika berbicara pengelolaan SDA secara lokal ini. Sampai sejauh mana SDA yang ada bisa dimaksimalkan oleh para petinggi-petinggi/pengusaha setempat untuk kemakmuran rakyat, dan bukan sebagai lahan korupsi baru?

Ini adalah ketakutan saya dari dulu, ketika penerapannya hanya menjadi bumerang untuk menciptakan raja-raja kecil baru, dengan kepentingan-kepentingan pejabat baru yang lebih spesifik dan akhirnya mengesampingkan pelayanan terhadap warga. Ada sebuah jawaban aneh dari seorang teman saya menanggapi soal ini, “mending dikorupsi ama orang-orang sendiri daripada dikorupsi ama orang luar”. Bagi saya, itu bukan lah jawaban. Tetapi lebih terlihat sebagai bentuk primordial akut yang menyentil konflik horizontal baru.

Adalah hal yang menakutkan jika muncul konflik horizontal sosial dalam kawasan yang dimekarkan. Berawal dari soal perasaan ketertinggalan hingga akhirnya kebablasan menjadi primordial yang berlebihan, chauvisnisme. Efek terburuk yang mungkin hanya membutuhkan “penabuh gong”, separatisme secara paksa dengan cara radikal. Negeri ini sudah belajar dari sejarah dalam hal separatisme. Tidak ada teori yang memastikan bahwa separatisme lahir karena tekanan ketidakadilan secara vertikal. Separatisme berawal dari ketidakpuasan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga bisa juga secara horizontal.

Permasalahan yang muncul di kawasan-kawasan yang ingin memisahkan/memekarkan diri, tentunya harus ditilik dari beberapa aspek yang berimbang. Bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan konstelasi politik dan historis terbaru yang berkembang di kawasan tersebut. Setiap kawasan, memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam hal affirmasi keberbedaan dan asal tuntutan pemisahan/pemekaran. Ini menjadi alasan absurd tak terkonsolidasi yang paling dominan dari sekian banyak pemekaran yang terjadi. Proposal yang sampai ke DPR bisa saja bicara soal kemakmuran dan kesenjangan, tetapi delik alasan kemakmuran dan kesenjangan tersebut jarang dilihat para pengambil keputusan dari sisi affirmasi keberbedaan dan legitimasi tujuan pemisahan.

Saya sendiri belum bisa mengutarakan secara gamblang dengan bahasa runut apa dan bagaimana cara melihat lebih detail sisi-sisi tersebut. Nanti akan saya coba tulis lagi dalam cerita berbeda. Mungkin dengan sedikit mengangkat historis-culture di Aceh, terutama yang terjadi di kawasan Aceh Tengah.

Dan (tambahan) mungkin setelah “mudik” singkat saya di Aceh minggu-minggu ke depan, saya mencoba membaca dengan mata dan hati ada apa sebenarnya disana sekarang. Dan akan kita lihat ada apa dengan Qanun Jinayat Aceh ini? Ada apa antara Partai Aceh dan Partai Demokrat? Kenapa banyak konstelasi politik lokal yang sungguh aneh bagi saya,terutama tentang banyaknya keuntungan yg diperoleh para “raja kecil” di Aceh pasca Helsinski. Vis avis, ini pun yang mendorong pergolakan disintegrasi (lanjutan?) di kawasan Serambi Mekah.

Tentang Sebuah Ironi, Indonesia Kreatif

Pernah dengar ramai-ramai soal Indonesia Kreatif?

Kalau saya pernah mendengarnya samar-samar tahun lalu. Ketika semakin banyak teman-teman yang bermain-main di Industri Kreatif secara freelance mulai terdengar gaungnya disana sini. Thanks to internet yang membuat saya bisa menjelajah ke teman-teman yang super kreatif disitu.

Minggu lalu, saya sempat menghadiri salah satu acara sosialisasi Indonesia Kreatif yang disponsori Departemen Perdagangan. Label “Sosialisasi Indonesia Kreatif” (IK -red) ini yang mengulik rasa ingin tahu saya. Maksudnya apa? Apakah artinya warga Indonesia dinilai belum kreatif oleh pemerintahnya sendiri?

Tepatnya, acara tersebut berlangsung seperti ramah tamah biasanya menjelang berbuka puasa. Ada Ibu Cokorda Istri Dewi (Indonesia Design Power) mewakili tim sosialisasi IK Departemen Perdagangan disana, ada mas Arif Budiman dari Petakumpet, juga ada bung Enda yang namanya melintang di dunia Blog dan internet. Intinya mereka semua memaparkan secara statistik perkembangan indutri kreatif (oleh ibu Dewi), ajakan dan motivasi oleh Mas Arif, dan kondisi real and fact seputar dunia internet dan digital oleh Bung Enda. Saya coba taruh salah satu presentasi dari Ibu Dewi disini buat dibaca.

Dalam acara juga berlangsung diskusi. Walau singkat karena dikejar waktu, tetapi beberapa point penting sempat saya tangkap.  Tentunya pertanyaan ini datang dari para hadirin yang memang mereka adalah pelaku-pelaku industri kreatif di Yogyakarta (dan saya yakin yang datang kemarin masih jauh dari jumlah di lapangan). Pertanyaan mendasar adalah, sejauh apa keterlibatan pemerintah dalam plan tersebut? Dan akan seperti apa bentuknya? Karena toh sampai saat ini, industri kreatif kita bisa berkembang pesat tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah. Lihat saja statistik yang disajikan, industri kreatif Indonesia bisa menyumbang sebesar rata-rata 7.8 persen terhadap PDB negara. Atau sumbangan penghasilan per pekerja sebesar 19.5 juta, diatas pendapatan rata2 pekerja secara nasional. Dan trend-nya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Jawaban yang disampaikan Ibu Dewi, bahwa dari sisi pemerintah berkeinginan untuk mengakselerasi perkembangan ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa konsistensi dari pelaku industri kreatif selama ini telah menyumbang banyak bagi paradigma baru industri nasional, dan ini perlu untuk disupport. Salah satunya mungkin dimulai dengan memudahkan jalur bagi para pelaku industri kreatif  untuk memenuhi kebutuhan pasar akan ide-ide kreatif mereka. Inilah yang mendasari Digital Plan tersebut. Rencananya akan ada beberapa portal/website yang menjadi tool untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk aggaran pengembangan sendiri, disiapkan dana sebesar 50 M di tahun 2010. Kecil besarnya dana ini sangat tergantung dari program pemerintah, yang sampai saat ini bentuknya masih menjadi tanda tanya.

Unik memang melihat gelagat pemerintah disini. Tetapi tidak salah juga. Andil pemerintah dengan sistem dan aturannya memang dibutuhkan untuk perkembangan industri kreatif Indonesia. Mungkin rekan-rekan yang bertarung sebagai pelaku industri kreatif, bisa merasakan sendiri di tahun-tahun belakang bagaimana susahnya bermain di arena ini. Katakanlah dari soal modal, bagaimana susahnya memperoleh modal dari bank atau investor untuk mengembangkan ide-ide kreatif anda. Atau bagaimana rancunya para insan kreatif kita menempatkan diri mereka dalam struktur sosial budaya juga hukum atas profesinya, bahkan untuk sebuah karya  mastepiece-nya, seringnya berada dalam perdebatan pro dan kontra. Ditambah lagi dengan segala infrastruktur hukum kita soal perlindungan hak kekayaan intelektual. Lihat saja perdebatan yang rancu seputar budaya lokal yang tercuri , yang sebenarnya itu adalah modal awal yang sudah siap pakai untuk mengembangkan industri kreatif kita.

Belum lagi jika melihat perilaku sosial masyarakat Indonesia. Sederhananya, bagaimana seorang Ibu bisa menghargai pilihan seorang anaknya menjadi seniman/pekerja seni, sama berharganya jika si anak memilih menjadi insinyur perminyakan. Bagaimana mendidika masyarakat untuk mengenal inovasi dan kreasi sebagai salah satu kunci keberhasilan industri rumah tangga mereka. Bagaimana memberikan pencerahan kepada para pemodal, investor dan bank, bahwa kreatifitas juga bisa dijadikan industri dan memiliki nilai jual. Lain lagi soal pendidikan masyarakat tentang kekayaan intelektual, sekaligus jaminan perlindungan terhadap kekayaan intelektual itu sendiri. Negeri ini masih prematur dalam mengeksplorasi sisi hukum, terutama pendidikan sosial masyarakat perihal ini. Dan pada akhirnya ini menjadi PR tambahan sendiri, sosialisasi menjadi wacana yang harus disertai pendidikan di masyarakat, disertai aksi yang nyata dari pemerintah dan para pelaku bidang ini.

Berkaca pada Inggris yang sudah mulai melihat industri kreatif sebagai modal penting dari industri mereka sejak tahun 1997, pemerintah mulai mendesain cetak biru Indonesia Kreatif ini mengikuti pola yang sama dengan negara monarki tersebut. Definisi industri kreatif  Indonesia juga mengadopsi dari Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang yang terlibat. Kemudian ada 14 sektor utama yang digarap untuk tahap awal pengembangan. (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi. Dan besar harapannya, pada tahun 2025 Indonesia sudah bisa mennyusul negara-negara lainnya, bersaing untuk membangun “ekonomi kreatif”. Sebuah mimpi besar dari pemerintah yang bisa dibilang, patut diacungi jempol.

Baru saja saya mendengar presentasi tersebut minggu lalu, dan 3 hari kemudian saya dikejutkan dengan berita soal disahkannya RUU Perfilman Indonesia. Jelas-jelas disebutkan bahwa industri perfilman ada dalam plan tersebut. Bahwa 14 bidang utama tersebut akan didorong oleh pemerintah untuk terus berkembang.

Kita lihat faktanya dilapangan. Di tahun 2001 saja, cuma ada 2 film Indonesia yang tumbuh dengan cemerlang, dengan kaki-kaki para pelaku industri film sendiri. Bermodal dari niat untuk membangun kembali perfilman Indonesia. Dan kini, ketika dalam setahun kita sudah bisa memproduksi film sebanyak 100 judul, pemerintah mulai mencoba untuk turut terlibat didalamnya, dengan bahasa turut men-support dan menumbuhkan terus semangat perfilman Indonesia. Tetapi dari beberapa isi UU perfilman tersebut, justru malah menyisakan pertanyaan, bukankah malah terkesan pemerintah mengatur dan membatasi kreatifitas sineas kita? Sebaliknya, Jero Wacik, sebagai Menteri dari Departemen yang selama ini banyak menjaring masukan untuk merevisi UU perfilman lama (UU No. 8/1992), memberikan pernyataan perihal UU perfilman baru ini bahwa “(dengan UU Perfilman baru ini) kita akan menciptakan iklim yang baik untuk menumbuhkan perfilman Indonesia.” Ia juga menjamin, para sineas tidak akan dipersulit saat akan membuat film.

Mungkin ada sudut pandang berbeda dari para anggota dewan yang sudah hampir habis masa jabatannya tersebut soal UU ini. Atau mungkin justru tidak adanya undangan keterlibatan secara aktif para pelaku industri kreatif perfilman dalam penyusunan UU ini. Yang pasti, sekarang banyak insan perfilman yang menolak UU tersebut.

Benar-benar menjadi PR besar bagi kita semua, the long road dari sebuah ironi baru Indonesia Kreatif. Seperti kata Pearl Jam,

And the wind keeps rollin
And the sky keeps turning grey
And the sun is set
The sun will rise another day

How I wish for you today
Will I walk the long road?
We all walk the long road

Diolah dari :

Sosialisasi Digital Plan Indonesia Kreatif

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/12/04335636/kami.tidak.percaya.negara

gambar : http://simplychi.wordpress.com/2008/07/24/bulan-indonesia-kreatif/

meLANJUTKAN hutang

bukupengusaha

Disaat semua ramai membahas Teroris, Om Nurdin dan serangan gotong royong SWAT Indonesia Jumat lalu, saya nyasar ke beberapa berita lain. Seperti yang menarik adalah soal hutang negeri ini. Ternyata utang “kita” baru saja bertambah US$500 Juta untuk Program Pemberdayaan Masyarakat Nasional (PMPN) tahun 2009. Dan entah berapa lagi untuk 2010, menunggu pertemuan dengan World Bank Oktober nanti.

Bank Dunia Siap Kucurkan Utang US$ 500 Juta buat PNPM Mandiri

JAKARTA. Pemerintah masih mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat. Yang terbaru, Bank Dunia akan menggelontorkan pinjaman sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun (kurs Rp 9.850 per US$) untuk membiayai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri 2009.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 13,7 triliun untuk membiayai PNPM Mandiri. Rinciannya, PNPM Inti Rp 10,4 triliun dan PNPM Penguatan Rp 3,3 triliun. Program tersebut akan dilaksanakan oleh enam kementerian dan lembaga di 33 provinsi, 465 kabupaten/kota, dan 6.408 kecamatan. Yang menarik, semua dana tersebut berasal dari utang sejumlah lembaga keuangan asing.

Lantaran bertujuan mengurangi kemiskinan, utang dari Bank Dunia tersebut mengenakan bunga nonkomersial. Sayangnya, pemerintah masih enggan menyebutkan besaran bunga utang tersebut. Bappenas juga belum bisa memastikan kapan Bank Dunia akan mencairkan duit pinjaman itu. Yang pasti, Pemerintah dan Bank Dunia akan membahas kembali rencana ini pada Oktober mendatang.

Selain dari Bank Dunia, pinjaman untuk PNPM Mandiri juga berasal dari lembaga keuangan internasional lain seperti Bank Pembangunan Asia (ADB). “Tapi, jumlahnya tidak akan sebesar Bank Dunia,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Paskah Suzetta, Rabu (5/8).

Paskah mengaku yakin, dana PNPM Mandiri tahun ini akan terserap hingga 90% sampai Desember nanti. Dengan begitu, akan terjadi penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran dibandingkan tahun lalu.

Yang menarik, utang luar negeri dari sejumlah lembaga keuangan tersebut juga akan menjadi andalan pembiayaan PNPM Mandiri 2010. Tahun depan, Pemerintah akan mengalokasikan sekitar Rp 16 triliun untuk membiayai program ini. Jumlah anggaran ini naik Rp 2,3 triliun dibandingkan tahun ini. Nah, saat bertemu Bank Dunia Oktober nanti, Pemerintah juga berniat membahas rencana utang baru untuk pembiayaan PNPM Mandiri tahun depan.

Dalam Nota Keuangan 2010, PNPM Mandiri memang masuk sebagai prioritas belanja Pemerintah untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Selain PNPM, Pemerintah juga menggulirkan Bantuan Operasional Sekolah, Program Keluarga Harapan, dan Jaminan Kesehatan Nasional. Total alokasi anggaran untuk semua program tersebut mencapai Rp 37 triliun. Dengan dana sebesar itu, Pemerintah menargetkan bisa memangkas tingkat kemiskinan menjadi 12% – 13% pada tahun depan.

Sumber : http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/19217/Bank-Dunia-Siap-Kucurkan-Utang-US-500-Juta-buat-PNPM-Mandiri

 

Saya tahu memang ada ilmunya untuk mengekstrak parameter-parameter ekonomi menjadi angka-angka (value). Dan masing-masing value ini bisa di otak atik, sehingga bisa didapatkan point (tujuan) ideal yang diharapkan. Mungkin untuk kasus di atas, tujuannya adalah sebuah angka yaitu “tingkat kemiskinan”.

Selain itu ada berita lain lagi di saat yang sama dengan penggrebekan Densus 88,

Jakarta – Kepemilikan asing pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) sampai akhir Juli 2009 bertambah Rp 4 triliun menjadi Rp 91,58 triliun dari posisi akhir Juni 2009 yang berjumlah Rp 87,15 triliun.

Secara persentase kepemilikan asing pada SUN adalah sebesar 16,54% dari total SUN yang diterbitkan pemerintah yang jumlahnya Rp 553,6 triliun.

Demikian data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan yang dikutip detikFinance , Senin (27/7/2009).

Dari Rp 553,6 triliun jumlah SUN yang diterbitkan, perbankan masih memegang porsi terbesar yaitu Rp 273,08 triliun.

Sementara Bank Indonesia (BI) memegang Rp 17,82 triliun. Kemudian reksadana memegang Rp 37,46 triliun, asuransi Rp 62,87 triliun, dana pensiun Rp 34,62 triliun, sekuritas Rp 0,61 triliun, dan lainnya Rp 36,17 triliun.

Namun sampai posisi 6 Agustus 2009, porsi kepemilikan asing pada SUN turun menjadi Rp 90,98 triliun.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan dana yang masuk kepada SUN mencapai US$ 4 miliar ini berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah yang menyentuh level di bawah Rp 10.000 per dolar AS.

Kemudian juga terus naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir disebabkan makin derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia melalui pintu pasar modal.

 

Kenapa negara ini doyan meLANJUTKAN utang ?

Kesederhanaan Politik

Dari_resist_book

Sebagai pembuka, saya ingin berkata jujur, bahwa pemahaman politik saya kurang. Bahkan untuk mendefinisikan arti ”politik” sendiri saya tidak mampu menuliskannya. Saya merasa itu merupakan hal yang wajar. Toh, saya tidak pernah belajar ilmu politik secara teoritis. Hanya memahaminya sebagai proses, dan mungkin sedikit keterlibatan kecil dalam sebuah arti politik.

Hari ini, secara mendadak saya diminta (lebih tepatnya ditunjuk) oleh sekelompok teman-teman “bermain” saya di Bandung, untuk mewakili pertemuan di sebuah SMU swasta. Iya. Saya diminta mengikuti rapat wali murid atas 3 orang anak. Kebetulan 3 siswi kelas 3 SMU tersebut berada dalam asuhan kegiatan belajar non-formal yang diselenggarakan teman-teman saya di Bandung. Sedikit penjelasan tentang kegiatan “non-formal” tersebut, kegiatan ini merupakan kegiatan mandiri yang sudah dikelola sejak lama oleh beberapa teman saya (dan saya juga kadang-kadang ikut serta), sebuah kegiatan yang amat sederhana. Sekedar pendampingan belajar non-formal bagi anak-anak yang putus sekolah, sekaligus mencarikan bantuan dana sekolah bagi beberapa diantara mereka yang berkeinginan menyelesaikan sekolah formal. Kami menamakan kegiatan kami tersebut “Rumah Mentari”. Adalah @warnapastel yang mengenalkan saya dengan kegiatan ini beberapa tahun lalu.

Dan jam 9 pagi tadi, saya bergegas ke sekolah tersebut. Saya mendapat telpon ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Ternyata rapat sudah bubar ketika saya datang, tapi saya harus tetap kesana. Ada titipan beberapa peralatan sekolah untuk awal semester yang harus saya berikan kepada mereka. 

Ada rasa kecewa karena saya telat. Perkiraan awal saya tadi, rapat ini pasti masih akan berlangsung lama. Bayangan saya seperti rapat-rapat wali murid ketika saya SMP dulu di Aceh. SMP saya memang favorit di kota Banda Aceh, sekaligus masuk dalam kategori ternama untuk Propinsi NAD. Kalau sudah rapat, kegiatan belajar mengajar dihentikan, walau sekolah tidak diliburkan. Saya dan teman-teman bisa bermain seharian, ngantin, pacaran, bahkan cabut keluar sekolah seenak perut. Entah apa yang orang tua/wali murid bersama pihak sekolah rapatkan, kami tidak perlu ambil pusing. Toh, sekolah adalah sebuah kegiatan rutin seorang anak, demikian pikiran saya dan teman-teman dulu.

Dua adik asuh kami ini, rupanya menunggu saya dipinggir jalan. Saya diberitahu soal rapat yang berlangsung. “Tadi yang datang juga ngga rame kok, Kak. Ibu Dini-nya juga masih nunggu di sekolah kalo-kalo ada wali lain yang nyusul datang”, begitu penjelasan salah satu adik asuh kami itu, Santi namanya.

Saya bisa membayangkan “rapat” yang dimaksud Santi ini seperti apa. Cukup menenangkan saya akan rasa bersalah terhadap mereka karena telat menepati jadwal undangan rapat. Seorang lagi yang ikut menunggu saya tadi bernama Nisa.

Mereka menunggu saya di ujung sebuah gang. Kemudian saya diajak memasuki gang tersebut. Pikir saya bertanya-tanya, SMU seperti apa yang berada disebuah gang perumahan padat di kota Bandung?

Walaupun ini bukan pengalaman pertama atau kedua saya menelusuri sekolah-sekolah dalam sebuah gang atau ujung desa dan kaki gunung, tetapi selalu saja menarik melihat geliat orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dengan nuansa serba terbatas begini. Seperti ada semangat dengan rasa berbeda karena kondisi mereka yang serba terbatas. Baik itu penyelenggara sekolah-sekolah seperti ini, juga murid-muridnya. Seperti Santi misalnya. Keinginan bersekolahnya ini yang mendorong dia bisa menjadi juara 1 sekaligus pengurus OSIS di sekolahnya, disela-sela waktu membantu ibunya yang bekerja sebagai jasa pencuci pakaian.

Dua kelokan gang saya lewati, dan sampailah di sekolah Santi dan Nisa. SMU ini tidak begitu besar, bahkan halamannya pun tidak lebih besar dari halaman Dagdigdug atau Wetiga. Tapi saya bisa melihat ada tiang bendera disana, dan tetap pantas kalau saya sebut halaman itu sebagai lapangan upacara.

Setahu saya cuma ada 2 kelas masing-masing untuk kelas 1 dan 2. Bahkan kelas 3 SMU tersebut cuma memiliki satu kelas 3 IPA berisi 18 anak, dan saya tidak tahu berapa banyak siswa kelas 3 IPS-nya. Sebelumnya saya sudah mendegar perihal sekolah ini dari teman dan adik-adik asuh kami ini. Sekolah kecil yang dikelola oleh yayasan lokal yang dimiliki sebuah keluarga.

Santi memperkenalkan saya dengan seorang ibu guru muda cantik yang duduk diteras sekolah, Ibu Guru Dini namanya, yang tadi sempat disebutkan Santi. Saya dipersilahkan masuk ke kantor guru, terlibat obrolan singkat seputar sekolah dan kegiatan saya bersama teman-teman dalam mengasuh adik-adik kami ini. Si ibu guru ini terlihat “well educated” dari obrolan ringan yang berlangsung. Saya juga bisa menaksir kalau beliau seumuran dengan saya. Seumuran dengan saya, dan mengurus sebuah sekolah seperti ini. Sedangkan saya sendiri, meloloskan diri dari sekolah saya sendiri pun belum (curcol :D ).

Dan sampailah pada inti pembicaraan. Beliau mengabarkan bahwa sebenarnya rapat tadi adalah pemberitahuan dari pihak sekolah kepada semua orang tua/wali murid bahwa sekolan telah memperoleh bantuan dana pendidikan. Tahun sebelumnya, juga ada dana bantuan pendidikan yang turun, tetapi hanya bisa diberikan kepada Kelas 1 saja. Dan sekarang, karena pihak sekolah bisa mempersiapkan laporan pertanggungjawaban tahun ajaran lalu dengan lebih baik dan lebih cepat, dana bantuan untuk tahun ajaran sekarang bisa diturunkan lebih besar. Sehingga bisa membiayai penuh biaya SPP selama setahun. “Sekarang semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 mendapat bantuan. Permohonan dari pihak sekolah Rp 900.000 persiswa untuk biaya setahun ini diloloskan oleh Bapak Walikota”, demikian penjelasan dari si Ibu Dini ini sambil memperlihatkan senyum cantiknya. Ah, saya berpikir wajar saja beliau lebih cantik tersenyum sekarang, karena memang ini menjadi berita baik bagi semua orang tua/wali murid, sekaligus prestasi untuk sekolah ini.

Walaupun ada dana-dana lain, seperti LKS, 3 kali try out UAN/SMPTN, 30 ribu untuk biaya tahunan kesiswaan, dan entah apa lagi mungkin nanti menyusul kemudian hari, tetapi kabar seperti ini memang pantas melegakan hati semua orang tua murid. Saya juga ikut merasa lega di hati. Padahal keterlibatan saya di Rumah Mentari tidak terlalu besar seperti teman-teman lain yang lingkang pukang memburu donatur, atau yang menyempatkan waktu sempitnya untuk mendampingi adik-adik kami ini belajar sabtu – minggu.

Saya sempat berdiskusi kecil soal dana pendidikan yang diperoleh sekolah dari Walikota Bandung tersebut. Pertanyaan yang wajar dari saya, karena setahu saya bantuan sekolah gratis turun dari Dinas Pendidikan seharusnya, entah itu berupa BOS atau sekolah gratis seperti di iklan-iklan televisi. Ibu Guru Dini cuma menyampaikan bahwa mereka sedari awal sejak Bapak Walikota Bandung menjanjikan dana bantuan sekolah, mereka terus mengikuti prosesnya dan mencari tahu prosedurnya seperti apa. “Syukurlah, Mas. Beruntung juga Pak Dada terpilih lagi, memang sejak kampanye kan beliau konsen di persoalan dana bantuan pendidikan”, jawab si Ibu Dini diplomatis. “Tapi sekarang ini juga jabatan terakhir beliau. Harapannya kita sih, program seperti ini bisa terus jalan siapa pun Walikotanya, ya kan?”. Saya tersenyum sambil mengiyakan.

Tiba-tiba saya teringat demo-demo menuntut Dada Rosada turun beberapa tahun lalu ketika jabatan Walikota pertama kali beliau peroleh. Ada juga pihak-pihak yang memberi raport jelek bagi beliau ketika Laporan Pertanggungjawaban kerja (LPKj) 2008 lalu. Saya sendiri termasuk yang sangat alergi dengan kebijakan Dada Rosada seputar persoalan tata kota Bandung. Dan entah berapa lagi catatan buruk yang ditinggalkan Dada Rosada, sampai-sampai tahun lalu ada demontrasi penolakan beliau menjadi Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya belajar satu hal disini, ternyata urusan kebijakan politik bisa menjadi sangat sederhana bagi orang-orang seperti Ibu Dini. Dan bisa juga menjadi sangat tidak masuk akal bagi sebagian orang lainnya. Atau lebih buruk, bagi orang seperti saya, yang berpikir rumit sendiri dengan harapan terlalu luas dan banyak maunya dari sebuah kebijakan politik penguasa.

Mungkin benar bahwa teori klasik politik dari Aristoteles akan selalu akan menjadi rahasia. “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”

 

-Senin, 3 Agustus 2009, 16.25 : Ngopi Doeloe Kota Bandung-

Enlarge Your P*nis

Tulisan ini muncul sebagai bentuk dukungan saya, sekaligus keprihatinan saya. Jelas ketidakadilan terhadap kasus yang dialami Ibu Prita menjadi perhatian kita semua. Siapa yang tega melihat seorang ibu terpisah dari anaknya karena tersangkut kasus yang ambigu demikian?

Iya, saya mengatakan ambigu. Proses hukum yang terjadi memungkinkan adanya “debat pengadilan” yang sengkarut. Rumah Sakit Omni kuat dari segi tuntutan yang didukung pengacara coorporate yang lebih handal di banding Prita yang cuma seorang kala itu. Ditambah pasal-pasal karet dalam UU ITE yang memungkinakan kurangnya pemahaman akan UU ITE oleh Jaksa dan Hakim.

Apapun hasil proses persidangan, yang tertinggal adalah sebuah empati bagaimana seorang Ibu akan berpisah dari anaknya karena “kalah debat”.

TAPI,

Saya lebih empati dengan para pendukung yang kebablasan. Belum lagi buat pihak-pihak yang berkepentingan entah atas nama kekuasaan, atau apapun lah itu. Akibatnya? Jelas ada kerugian yang lebih besar lagi buat kita, bahkan bagi publik sendiri.

Contoh kasus saja, hari ini. Rumah sakit Omni kebanjiran email, membuat jalur komunikasi mereka terganggu. Kok bisa?

BEGINI,

Saya yakin hari ini RS Omni kelabakan dengan email mereka. Bukan cuma mereka, saya sendiri juga repot mengurusi spammer setiap hari.

Dulu saya ingat, sebelum UU-ITE disahkan, bahkan jauh sebelum blog ramai membahas Undang-undang sengkarut itu, Pak Pri pernah memposting, berkomentar bahkan berkampanye soal pentingnya aturan main SPAM dalam UU-ITE.

Dan sepertinya anggota dewan cukup bijak mengabulkan perihal satu ini.

Pasal 32
(1)
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.

Pasal 33
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Demikian bunyi butir diatas. Jadi tindakan SPAM yang merusak, justru menjadi tindak kejahatan dalam UU-ITE. Pasal-pasal diatas bisa saya anggap 2 diantara pasal-pasal UU ITE yang tidak sengkarut, yang justru melindungi kita sebagai pengguna, dan semua pihak yang terbantukan oleh fungsi kerja alat komunikasi, terutama internet.

Jika ada diantara saudara yang tidak mengerti SPAM, mungkin bisa cek email saudara. Saya sih lebih sering mengingatnya dengan 3 kata judul diatas.

Itu saja dari jangkauan pengetahuan saya apa dampak buruk dukungan kebablasan ini. Ibarat kata, kita sering merasa terganggu oleh kemacetan akibat demo-demo. Apalagi sampai merusak layanan publik. Nah, sekarang jika kita juga kebablasan dalam menyikapi kasus Ibu Prita, maka kita juga tidak ada bedanya dengan pendemo yang sering kita pisuhi.

Rumah Sakit Omni adalah sebuah layanan publik, yang memberikan bantuan, pertolongan kesehatan kepada masyarakat. Mereka setiap hari beroperasi dengan ratusan pasiennya. Mereka juga butuh alat komunikasi seperti email dan  internet. Lewat jalur itulah rumah sakit ini bisa berhubungan dengan para supplyer obat-obata, menagtur skedul dengan pihak dokter,  berkorespondensi dengan luar rumah sakit dan komunikasi dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan operasional.

Ah, saya jadi sentimentil.

Tapi tak apa-apa, toh beberapa hari ini semua orang memang cenderung sentimentil.

Seorang Kapten Tua Bernomor Punggung 3

Jika saya mengingat masa-masa awal menggemari sepak bola dulu, maka nama klub yang muncul dibenak saya adalah AC Milan. Dan jika disuruh mengingat kaos bola AC Milan (bukan original) pertama yang saya  miliki, itu tidak lain adalah bernomor punggung 3.

Lucu mengingat masa-masa itu. Saat itu memang era awal kebangkitan siaran televisi swasta di Indonesia. Dan satu-satunya siaran bola eropa hanyalah Liga Italia. Saya bersama teman-teman seumuran dulu, bisa berdebat soal kehebatan klub masing-masing. Saya yang memegang AC Milan, bisa tertawa mengejek teman yang menggemari AC Parma tatkala Nesta pindah klub ke Milan. Kalaupun dia berkelit dengan seribu alasan, satu pernyataan pamungkas menyelesaikan debat tidak penting itu, “Kalo bisa coba beli Maldini”.

Hari ini, pertandingan terakhir sang La Bandiera della Milan di Giuseppe Meazza. Pujian dan respect dari berbagai komentator bola ternama seluruh dunia disanjungkan padanya minggu-minggu ini. Seperti juga salah satu pujian komentator lepas Indonesia -Zen yang maniak MU di Detik, Paolo Maldini bukan hanya “seseorang”, ia juga “sesuatu”. Sebagai “seseorang”, Maldini adalah seorang pemain besar, seorang legenda. Sebagai “sesuatu”, Maldini adalah suatu etik, suatu etos juga suatu simbol”. Jika boleh menambahkan potongan pujian Zen tersebut, maka saya menambahkan “Dan itu bukan hanya untuk klub AC Milan, atau sepak bola Italia saja. Tetapi juga sepak bola dunia”.

Berlebihan? Mungkin. Walaupun saat ini saya tidak begitu simpati lagi kepada AC Milan. Tetapi untuk seorang pemain kebanggan seperti Maldini, saya akan bersulang bir untuk debut terakhirnya ini. Pemain paling setia. Di saat Milan jaya maupun dalam kondisi gamang seperti 2 musim lewat, Maldini selalu “ada” untuk menjaga lini belakang Milan. Sebut saja berapa striker kelas dunia sudah dihadapinya. Dari Maradona, Van Basten, Rummenige, R.Baggio, Platini, Zico, Romario, sampai striker muda sekelas Rooney dan Cristiano Ronaldo.

Bagaimana dengan AC Milan sendiri setelah kepergian Maldini? Memang kondisi sedang buruk untuk Rossoneri. Selain ditinggal Kapten terbaiknya ini, Anceloti juga sedang gundah karena tawaran Chelsea, Ronaldinho yang digosipkan lebih sering clubbing, sampai Kaka yang bingung dengan karirnya ke depan. Milan dalam dilema. Tapi Milan tetaplah Milan. Sudah berapa kali masa jaya dan kelam dilewatinya. Namun kaos hitam merah bernomor punggung 3 masih terus menjadi favorit sampai generasi keponakan saya.

Malam ini saya menonton Milan lagi, setelah sekian lama tidak menyaksikan mereka berlaga. Aroma Milanisti lebih terasa di cafe tempat saya menonton, walaupun dipenuhi penonton berkaos Liverpool. Semua seperti tahu malam ini adalah malam perpisahan dengan sang legenda. Bahkan ketika Maldini gagal memblocking Mexes atau Menez, tepuk tangan tetap gemuruh. Begitu pula di lapangan San Siro sana. Setiap tertinggal gol dari AS Roma, pemain Milan terlihat lebih bertenaga memburu gol balasan. Seperti tidak mau malam ini berakhir mendung untuk Captain 900 mereka.

Injury time AC Milan vs AS Roma. Kedudukan 2-3 untuk Roma. Menez meliuk-liuk disisi kanan gawang Milan. Melewati baris pertahanan Milan, memotong 2 pemain bertahan. Hanya tinggal Dida di depan matanya. Tendangan keras dilepas. Sayang bola terpental keluar lapangan. Menez terpekur. Ternyata masih ada seorang tua bernomor punggung 3 mem-block tendangan kerasnya.

Demokrasi 2.0

Saya membaca catatan pinggir “Caping” dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka “imut” dan berada di dalam “tempurung” yang aman.

GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar “catatan pinggir”. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,

“Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.”

Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom “Surat dari Palmerah“, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah “Jakarta Jakarta”, Senin 8 April 1996 yang berjudul “GM & KA-I-PE-PE”. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :

“Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?”

“..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.”

Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di “lorong-lorong”, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli ’97 menjadi awal pergolakan reformasi.

Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang booming itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang “manuskrip-manuskrip tua” yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.

Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu? Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.

Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak “seindah” sekarang. Blog, facebook, POLITIKANA? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya “sebentar” lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.

Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, “Jangan pilih Capres Militer”. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, “Jangan pilih capres militer” ? Wah, ini soal lain.

Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai “nama baik” dan “perlindungan tokoh-tokoh sentral” politik masa kini, maka ini baru jadi masalah! Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah “dimata-matai” di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?

Dalam cerita lainnya di kolom Surat dari Palmerah (“Percakapan Dengan Goenawan“, Jakarta Jakarta – 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.

“Apa rencana Anda sekarang?” “Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini”.

Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan “bingung sejarah” seperti saya sekarang.


Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.

Cermin

Dalam sebuah dongeng, ibu ratu selalu menanyakan kepada cermin di kamarnya, “Cermin, cermin, cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia?”. Cermin menampakkan gambar si Putri Salju. Ibu ratu naik pitamnya, dan Putri Salju pun dibuang ke hutan. Dulu aku selalu bertanya, kenapa si cermin tidak tunjukkan saja gambar perempuan lain? Model-model kelas dunia mungkin. Atau bisa saja wajah si tuannya, Ibu Ratu sendiri? Kalau ceritanya demikian, tentunya kamu dan aku tidak pernah mendengar cerita ini sekarang. Cuma kisah-kisah cinta tragis seperti nasibnya Bondowoso yang diperdengarkan ibu-ibu kita. Padahal dari cerita cermin Ibu Ratu itu, aku belajar satu hal. Ternyata cermin itu bisa bercerita!

Kamu tahu bangsa Mesopotamia kan, sayang? Mereka telah menemukan cermin sejak dulu. Bukan membuat. Mereka hanya mengasah sedikit dari batu-batuan dari golongan obsidian. Batu yang kasar dan rapuh, tetapi kristalnya memiliki kilap yang cukup untuk memantulkan cahaya. Mungkin karena itu pula banyak cerita, bagaimana wanita-wanita suku-suku Mesopotamia terkenal pintar bersolek dan kecantikannya tercatat dalam cerita-cerita sejarah. Lain lagi sebuah kisah dari Mesir. Seorang Raja Mesir pernah menggunakan cermin yang ternyata berasal dari batuan yang lebih tua dari peradaban mesir sendiri. Arkeolog berpendapat bahwa cermin itu bukan berasal dari batuan di bumi. Kilapnya yang sempurna alami hanya bisa dihasilkan pada gesekan super panas di udara. Mungkin saja berasal dari meteor dan asteroid yang jatuh ke bumi berjuta-juta tahun lalu. Ternyata cermin benar-benar bercerita hingga menembus dimensi waktu, sayang.

Shakespeare juga pernah mencoba merefleksikan pesan kejujuran cermin dalam cerita Julius Caesar-nya. “Wahai Brutus, bercerminlah, kau seperti diriku dalam cermin, dan engkau pun akan tahu secara jujur apa kata cermin tentang dirimu”. Benar adanya, Brutus harus jujur bahwa dirinya sedang dalam iri dengki terhadap Caesar, cerminnya sendiri. Ternyata cermin juga selalu jujur, tidak hanya pandai bercerita.

Kejujuran tidak harus beriringan seperti 2 garis linier sejajar yang bisa dibuktikan teori matematika. Kejujuran bisa jadi sebuah refleksi, kebalikan. Aku percaya refleksi bukanlah sebuah negasi negatif. Refleksi bukan pula kebalikan. Sapardi berkata, “cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;”. Jangan salahkan cermin seperti yang selalu menjadi biang kerok dalam bahasa kita, dinegasikan sebagai sisi negatif sebuah gambaran kehidupan. Cermin tidak pernah menukar kiri dan kanan-mu, sayang.

Cermin cuma membawa kabar dengan caranya tentang bagaimana kamu, dan mungkin juga tentang aku. Belajar dari Ibu Ratu, coba kamu juga tanyakan kepada cermin di kamarmu, apa yang kamu rasa saat ini? Mungkin dia akan menjawab jujur dengan menunjukkan gambar ku dalam kabur pantulannya.

Kenangan dan Disintegrasi

Hari ini, saya sempat melihat photo-photo dari facebook yang diupload oleh seorang teman. Teman itu baru saja kembali dari dataran tinggi Alas di negeri Aceh sana. Pikiran saya langsung melayang, kira-kira ketika saya masih duduk di kelas 3-4 SD, pertama kali dan satu-satunya pengalaman saya berada di Tanah Gayo bersama dengan almarhum Bapak yang kebetulan waktu itu menjalankan tugas keliling kota-kota kabupaten di DI Aceh (Nama Propinsi ini dulu, sebelum Nanggroe Aceh Darussalam sekarang). Sudah menjadi tugas dari kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Nama Dinas Pendidikan dulu) untuk Divisi/Bagian beliau, yaitu sebagai pemantau dan pengawas pelaksanaan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Nasional).

Pertama kali itu saya berkeliling di 3 kota kabupaten dalam satu trip panjang (kalau tidak salah 3 minggu lamanya), Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tengah. Sementara Bapak melaksanakan tugasnya berkeliling ke kantor-kantor Dinas Pendidikan di kabupaten-kabupaten tersebut, saya dititipkan di rumah sanak saudara. Banyak memori tersendiri dari perjalanan panjang ini. Tapi yang paling saya ingat jelas adalah Kota Takengon. Mungkin karena satu-satunya kota Kabupaten yang paling lama saya diami selama trip “dinas” ini.

Dulu, kota Takengon masih menjadi kota kabupaten satu-satunya untuk dataran tinggi Gayo. Berbeda dengan sistem desentralisasi saat ini, dimana sudah terbagi menjadi 3 kabupaten, yaitu Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Kawasan Aceh tengah secara etnografis memang memiliki perbedaan dengan kebanyakan penduduk aceh di pesisir. Dari segi budaya dan historis juga ada perbedaan. Dikenal sebagai daerah holtikultur yang sangat kaya dengan perkebunan kopi. Biji kopinya yang khas -salah satu varietas terbaik dari kopi Arabica,  sudah mengundang orang-orang Belanda sejak abad ke-17 untuk memproduksi kopi terbaik di Eropa kala itu. Dan jangan heran jika anda mendengar sebuah perusahaan Kopi di Belanda “Holland Coffee B.V.” sampai saat ini masih mengantongi brand dan trademark “Gayo Coffe”. Sebuah trademark yang bisa dibilang sudah tidak mungkin diperjuangkan lagi oleh otoritas Indonesia karena alasan historis.

Kembali ke cerita kecil saya dulu, saya masih mengingat kondisi warung makan Mie Aceh tempat Bapak dan rekan kerjanya meeting waktu itu. Tepat di pinggiran “Danau Laut Tawar”. Hotel tempat kami menginap yang juga dekat Danau Laut Tawar yang luas nan indah itu. Bukan karena ingin mencari-cari lokasi paling bagus untuk menginap, jalan-jalan atau makan-makan. Tetapi memang pusat kota Takengon sendiri berada disisi Danau Laut Tawar.  Soal pemandangan? Ah, keindahaannya cuma bisa tersimpan di memori saya.

Sisa-sisa hari lain, selama Bapak berkeliling ke kota-kota kecil Kabupaten Aceh tengah, saya dititipkan di rumah sepupu saya. Sepupu saya itu sudah memiliki 2 anak perempuan cantik saat itu. Padahal saya sendiri masih duduk di kelas 3-4 SD. Umur anak-anaknya pun cuma selisih 3-5 tahun dari saya. Jadilah teman bermain saya selama disana, tepatnya di komplek Perumahan BPK (Balai Pelatihan Kerja), sekarang masuk dalam Kabupaten Simpang Tiga Redelong. Oh ya, saya masih ingat sempat “mencuri” secara halus satu komik bacaan mereka, sebuah komik yang sekarang masih saya ingat. Komik Marvel tiruan yang bercerita tentang semua tokoh Superhero dunia berkumpul mengalahkan kejahatan. Sebelum pulang kembali ke Banda Aceh,  saya sempat merengek-rengek ke Bapak untuk dibelikan jilid-jilid akhir komik ini ke toko buku di Kota Takengon yang jaraknya lumayan jauh. Bayangkan saja, untuk saat sekarang, itu sama artinya dengan harus melintasi kabupaten lain hanya untuk memenuhi keinginan seorang anak kecil yang kurang ajar seperti saya. Mungkin waktu itu Bapak saya akan berpikir, sialnya membawa anak banyak maunya seperti saya.

Kemarin (17/2) saya membaca artikel opini kompas tentang isu pemekaran wilayah. Isu lama, tetapi hangat kembali setelah meninggalnya Ketua DPRD Sumatra Utara beberapa waktu lalu. Dari raungan untuk membebaskan keinginan memekarkan wilayah, kini muncul renungan apakah pemekaran wilayah menjadi sebuah hal yang sama pentingnya dibandingkan kesejahteraan warga masyarakat secara merata untuk semua wilayah? Dulu, kepentingan pemekaran wilayah dan penerapan sistem desentralisasi diusung dengan alasan
mewujudkan pembangunan yang merata di setiap pelosok negeri ini. Memang ada wilayah-wilayah pemekaran yang sukses membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Gorontalo misalnya, membuat nama Fadel Muhammad sering disebut-sebut oleh acara-acara pemilu TV. Propinsi Gorontalo memang sukses, tapi tidak bisa dikesampingkan predikat jumlah penduduk propinsi tersedikit (800 ribu jiwa), bandingkan dengan Bandung yang berupa Kotamadya (4.1 juta jiwa). Jika mau di logika maka pelayanan publik Propinsi Gorontalo pun menjadi lebih stream dan efisien.

Penting melihat kembali kebutuhan akan pemekaran wilayah yang sampai saat ini banyak yang mulus persetujuannya di DPR. Banyak alasan yang muncul menjadi jauh dari kebutuhan menyejahterakan warga. Dari soal ras, agama, sejarah, bahasa, atau perasaan ketertinggalan. Lalu isu-isu ini menjadi senjata untuk mengajukan pemekaran.

Sebenarnya jika mau jujur, pemekaran wilayah ini muncul karena sebuah alasan keekonomian. Acuan terpenting adalah soal aset yang dimiliki sebuah kawasan. Bukan hal klise jika bicara hal ini. Aset sebuah kawasan atau daerah adalah kekayaan Sumber Daya Alamnya. Titik tolak dari semua usaha untuk menciptakan kesejahteraan. Setiap kawasan memiliki potensi SDA berbeda, cara pengelolaan berbeda, termasuk budaya masyarakatnya dalam mengelola pun berbeda. Persoalan kesenjangan bisa jadi hanya menjadi sebuah alasan saja, padahal yang ingin dititikberatkan adalah kesempatan pengelolaan secara mandiri aset lokal kawasan. Nah, pertanyaannya menjadi sederhana jika berbicara pengelolaan SDA secara lokal ini. Sampai sejauh mana SDA yang ada bisa dimaksimalkan oleh para petinggi-petinggi/pengusaha setempat untuk kemakmuran rakyat, dan bukan sebagai lahan korupsi baru?

Ini adalah ketakutan saya dari dulu, ketika penerapannya hanya menjadi bumerang untuk menciptakan raja-raja kecil baru, dengan kepentingan-kepentingan pejabat baru yang lebih spesifik dan akhirnya mengesampingkan pelayanan terhadap warga. Ada sebuah jawaban aneh dari seorang teman saya menanggapi soal ini, “mending dikorupsi ama orang-orang sendiri daripada dikorupsi ama orang luar”. Bagi saya, itu bukan lah jawaban. Tetapi lebih terlihat sebagai bentuk primordial akut yang menyentil konflik horizontal baru.

Adalah hal yang menakutkan jika muncul konflik horizontal sosial dalam kawasan yang dimekarkan. Berawal dari soal perasaan ketertinggalan hingga akhirnya kebablasan menjadi primordial yang berlebihan, chauvisnisme. Efek terburuk yang mungkin hanya membutuhkan “penabuh gong”, separatisme secara paksa dengan cara radikal. Negeri ini sudah belajar dari sejarah dalam hal separatisme. Tidak ada teori yang memastikan bahwa separatisme lahir karena tekanan ketidakadilan secara vertikal. Separatisme berawal dari ketidakpuasan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga bisa juga secara horizontal.

Permasalahan yang muncul di kawasan-kawasan yang ingin memisahkan/memekarkan diri, tentunya harus ditilik dari beberapa aspek yang berimbang. Bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan konstelasi politik dan historis terbaru yang berkembang di kawasan tersebut. Setiap kawasan, memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam hal affirmasi keberbedaan dan asal tuntutan pemisahan/pemekaran. Ini menjadi alasan absurd tak terkonsolidasi yang paling dominan dari sekian banyak pemekaran yang terjadi. Proposal yang sampai ke DPR bisa saja bicara soal kemakmuran dan kesenjangan, tetapi delik alasan kemakmuran dan kesenjangan tersebut jarang dilihat para pengambil keputusan dari sisi affirmasi keberbedaan dan legitimasi tujuan pemisahan.

Saya sendiri belum bisa mengutarakan secara gamblang dengan bahasa runut apa dan bagaimana cara melihat lebih detail sisi-sisi tersebut. Nanti akan saya coba tulis lagi dalam cerita berbeda. Mungkin dengan sedikit mengangkat historis-culture di Aceh, terutama yang terjadi di kawasan Aceh Tengah.

Dari album photo seorang teman, sebuah pengalaman masa kecil di dataran tengah-tengah Negeri Aceh, saya berpidato sampai soal pemekaran wilayah. Saya pun bingung kenapa bisa menulis dan berpikir soal begini. Ini cuma kebetulan sebuah sampah pemikiran saja saya rasa. Banyak gangguan-gangguan datang ke alam pikir saya untuk persoalan “Pemekaran, pemisahan wilayah administratif, hingga ancaman desintegrasi baru”. Mungkin kemampuan pemahaman saya hanya sampai pada persoalan sisi historis dan budaya saja. Dan ternyata tidak ada hal menakutkan sama sekali terjadi sebenarnya.

Tulisan ini juga berharap bisa sedikit menjawab pertanyaan kompleks yang sampai ke mailbox saya sejak 6 bulan lalu, 3 pertanyaan singkat :
1. Bagaimana Aceh nantinya di mata-mu, Jal?
2. Persoalan utama dari sekian banyak ancaman desintegrasi kelokalan di Aceh?
3. Kapan kamu lulus dan kembali ke Aceh?

Photo-photo diambil dari album Nuri

Thanks Nur,..

Siapa Yang Bohong?

Saya kesal. Kesal karena melihat iklan-iklan pemilu di TV. Bayangkan saja, saya harus memotong kenikmatan siaran bola, atau film kartun pagi hari untuk menyaksikan sebuah iklan yang mengingatkan saya pada dukun yang sedang menghipnotis. Tiba-tiba diantara desahan bait-bait pidato berlatar gambar-gambar simpatik, terdengar suara rendah seorang wanita, yang bernada dingin, berirama menghipnotis. Mungkin buat yang paham supranatural atau psikologi klinis bisa melacak, ada ngga kira-kira unsur hipnotis didalamnya?

Itu soal suara dalam iklan yang menjengkelkan. Lain lagi isi pidato-nya. Satu iklan pidato isinya adalah memuja keberhasilan si S. Nah satu iklan pidato lainnya, mengatakan si S itu mengalami kegagalan luar binasa.

Saya jadi makin bingung, udah dihipnotis, ditambah-tambah harus mikir, siapa yang bohong sebenarnya?