
Kesibukan pagi dimulai dgn siap-siap untuk 2 acara “wah” hari ini. Pertama Dagdigdug.com akan launching. Yang kedua berangkat ke Ambom untuk acara Sharing Keliling Salingsilang.
Dan tulisan ini dikirim dengan Optimus 2X. Android rule.
Sekedar Isi dari sumpeknya pikiran

Kesibukan pagi dimulai dgn siap-siap untuk 2 acara “wah” hari ini. Pertama Dagdigdug.com akan launching. Yang kedua berangkat ke Ambom untuk acara Sharing Keliling Salingsilang.
Dan tulisan ini dikirim dengan Optimus 2X. Android rule.
Kopi paste adalah pekerjaan memalukan. Tetapi untuk menyebarkan cerita ini, saya tidak merasa malu sama sekali. Karena memang layak dibaca oleh semua pecinta sepakbola Tanah Air. Dengan ini sekaligus saya izin kepada http://indonesianfootballdiary.wordpress.com dan http://pejalanjauh.com.
Pengantar: Indonesian Football Diary dengan bangga mengumumkan bahwa entri artikel kali ini akan diisi oleh penulis tamu, Zen Rahmat Sugito, yang akan menceritakan kisahnya menyusun dan mengedarkan zine PLAK! hingga ia akhirnya gagal masuk ke dalam stadion saat semifinal leg 2 kemarin

Setelah pontang panting menyebarkan zine PLAK!, disusul usaha sekuatnya untuk mendapatkan tiket tambahan, saya pun gagal masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan langsung semifinal kedua Indonesia vs Filipina. Saya berdiri di depan gerbang besi berjeruji berwarna biru. Di depan saya, seorang bocah yang sedang dipanggul di pundak ayahnya terlihat mengenakan jersey timnas bernomor punggung 10. Ia, anak kecil itu, berteriak-teriak penuh semangat, sementara saya berdiri dengan pasrah. Badan terasa lemas, terasa letih.
Lalu gemuruh suara dahsyat itu pun terdengar dari dalam GBK:
“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku….”
Sungguh, mendengar gemuruh suara nyanyian itu perasaan saya campur aduk. Sudah banyak yang bilang bahwa menyanyikan Indonesia Raya di dalam stadion bersama puluhan ribu orang akan selalu terasa menggetarkan. Saya sering mengalaminya, sangat sering, berkali-kali. Menggetarkan, memang. Tapi, sungguh, kecamuk perasaan yang menjalar saat mendengar gemuruh nyanyian itu sangat berbeda dalam posisi saya saat itu. Tak sekadar merasa tergetar, tapi juga sedih dan kecewa, juga marah.
Saya diam beberapa detik. Orang-orang masih hilir mudik mencoba mencari sisa tiket. Petugas keamanan berjejer di pintu masuk. Iqbal Prakara, kawan saya yang paling keras kepala, sama-sama terlihat muram wajahnya. Lalu, dengan spontan, saya angkat syal merah putih ke atas kepala dan lalu dengan lantang bergabung bersama gemuruh nyanyian dari dalam itu, bedanya saya dari luar stadion, di depan sebuah gerbang berjeruji yang membuat sejumput kecil pemandangan di dalam GBK terlihat lamat-lamat.
“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya….”
Iqbal mengepalkan tangannya dan mengangkatanya tinggi-tinggi ke udara dan bergabung dengan saya menyanyikan Indonesia Raya. Orang-orang di sekeliling yang tadinya diam mulai ikut angkat suara.
Saya tak ingin mengalami momen dan suasana macam itu. Saya ingin ada di dalam stadion, sangat ingin. Tapi nasib memang kesunyian masing-masing. Dan saya, bersama Iqbal juga beberapa yang lain, menyanyikan Indonesia Raya dalam kesunyiannya yang justru terasa lebih mengharukan, sejenis keharuan yang tak biasa, terasa lebih khas ketimbang yang pernah saya rasakan saat menyanyikan Indonesia Raya dari tribun selatan GBK.
“Asu, aku mbrebes mili (anjing, aku berkaca-kaca),” kata Iqbal kemudian.
Orang harus mengalami apa yang kami rasakan untuk sepenuhnya paham umpatan Iqbal.
*** Continue reading
“Menjadi orang Indonesia itu lebih pantas diukur dari seberapa banyak manfaat yang telah diberikan oleh seseorang itu kepada bangsa ini. Bukan karena numpang lahir, atau pun karena takdir menitipkan dia lahir atas ibu/bapak seorang Indonesia”
Baiklah. Katakan saja saya seorang “sok filosofis” karena ungkapan saya demikian. Tetapi buat saya pribadi, itulah jawaban paling akurat untuk polemik naturalisasi TimNas sepakbola kita. Bentuk nasionalisme akut? Bisa jadi. Tetapi itu ungkapan paling jujur dari saya. Bisa jadi sebuah pandangan tidak berdasar, tidak ada konteks ilmiah di dalamnya, apalagi konteks hukum dan tetek bengeknya.
Ungkapan itu lahir karena sejatinya saya mengolah pandangan dan pola pikir saya dari apa yang saya dapat selama ini, baik itu bacaan maupun pengalaman. Dari banyak orang yang saya temui, seberapa banyak cerita dan diskusi warung kopi saya nikmati, model-model karakter orang yang sepintas lewat dalam hidup saya. Ya, teman-teman, rekan kerja, atau anda mungkin yang sempat sekelebat lewat di depan mata. Itu lah bentuk pengalaman saya.
Sebagai orang Aceh, bisa dikatakan “kebanyakan” teman saya dari Aceh, atau bahkan keluarga saya sendiri dari Aceh, punya pandangan berbeda. Pertanyaan pertama mereka selalu ketika saya pulang kampung “Kapan kau bangun Aceh ini? Apa yang sudah kau kasih buat Aceh ini? Kau kan orang Aceh!” Oh, okay. Pertanyaan itu tidak menjadi penting lagi untuk saya saat ini, atau bahasa halusnya “udah biasa”. Saya bisa paham, mereka -saudara dan teman-teman saya dari Aceh- melihat dalam ikatan sosial yang lebih sederhana, geografis yang lebih kecil. Aceh. Jadi wajar pertanyaan seperti itu terlempar buat perantau seperti saya. Dan saya yakin, situasi yang sama juga dirasakan teman-teman dari suku atau daerah lain, ketika ditanya atau disinggung dengan ungkapan serupa. Yang berbeda cuma ikatan sosial dan nama letak geografisnya saja.
Menjadi Indonesia itu bukan persoalan darah. Menjadi Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Flores, atau Papua itu bukan perkara numpang lahir. Bahkan “Menjadi Indonesia”, tidak sama dengan “menjadi warga Indonesia”. Menjadi warga Indonesia adalah sebuah entitas biasa saja. Ketika ego kita butuh untuk dilabeli sebagai komunal besar, anggota dari sebuah negara, secara hukum dan sosial. Terbayang kalau misal nanti Bumi ternyata bukan lagi satu-satunya planet di alam semesta? Ada ego komunal baru lagi yang kita butuhkan, warga bumi. Mungkin nanti ada yang namanya KTPB. Kartu Tanda Penduduk Bumi.
Persoalan “menjadi” itu memang filosofis menurut saya. Juga ada unsur bentuk tanggung jawab di dalamnya. Ketika ada yang bilang, “Gw sekarang udah jadi web designer, Bro” atau “Saya sekarang udah jadi PNS, Mas”, maka disana ada makna bukan sekedar punya NIP atau NPWP. Ada tanggung jawab bukan? Bekerja dengan profesional sebagai seorang web designer. Bekerja dengan tanggung jawab sebagai PNS. Dan disanalah bentuk “menjadi” itu memiliki arti yang lebih tepat.
Kalau kita menerapkan standar yang sama untuk hal-hal sederhana demikian, maka persoalan “menjadi Indonesia” malah justru tidak sesederhana memiliki KTP Indonesia. Ada tanggung jawab disana, ada nilai-nilai manfaat yang harus dipersembahkan buat negeri ini.
Jika seorang setengah darah Indonesia, atau tidak berdarah Indonesia sama sekali, mau mencium burung garuda di dada kirinya setelah mencetak gol, dan mengangkat kebanggaan bangsanya, saya rasa dia pantas untuk diberikan label “menjadi Indonesia”. Sebaliknya, jika seorang pejabat sekental apa pun darah Indonesianya tetapi justru, membuat sengkarut, korup, dan bikin ribut, maka lebih tepat kalau saya katakan pejabat itu cuma numpang berak di Indonesia.
Saya memang belum bisa “menjadi orang Aceh”, apalagi “menjadi seorang Indonesia”. Tetapi saya percaya, bahwa “menjadi” itu bukan seperti meninggalkan jejak lalu tersapu angin. “Menjadi” itu ibarat membangun rumah. Dan selalu ada pilihan untuk menghancurkan rumah tersebut.
Semoga saya dan anda tidak demikian.
Belum selesai trilogi saya tentang blog dan twitter Indonesia. Namun, saya merasa butuh menuliskan soal blog dan twitter (juga social media lainnya) dalam sudut pandang yang remeh temeh.
Sebentar lagi Pesta Blogger 2010 digelar. Istimewa? Bagi saya posisi Pesta satu itu masih istimewa. Istimewa dalam sudut pandang sederhana saya sebagai blogger sekaligus penggiat dunia online ala kadarnya. Buat saya bukan istimewa soal perlehatannya yang memakai judul “Pesta”. Bukan pula soal sponsornya seperti yang diributkan banyak orang. Apalagi sampai membahas premodialisme komunitas atau sengkarut antara pusat dan daerah. Buat saya itu kisah klasik dan laten setiap tahunnya.