<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Kapucino</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/category/kapucino/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Masih Mau Nonton Sinetron?</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2011/02/14/masih-mau-nonton-sinetron/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2011/02/14/masih-mau-nonton-sinetron/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 19:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya sudah tidak mau menonton sinetron lagi, sejak dahulu kala. Alasannya? Silahkan simak tulisan teman-teman berikut: Absurditas di Putri yang Ditukar Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar Yang Putri Yang Ditukar Belajar Dari Nodame Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2011/02/14/masih-mau-nonton-sinetron/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2011/02/putriyangditukar-353x500.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-574" title="putriyangditukar-353x500" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2011/02/putriyangditukar-353x500.jpg" alt="" width="353" height="500" /></a></p>
<p>Kalau saya sudah tidak mau menonton sinetron lagi, sejak dahulu kala. Alasannya? Silahkan simak tulisan teman-teman berikut:</p>
<p><a style="font-weight: normal;" title="Absurditas di Putri yang Ditukar" href="http://nonadita.com/2011/02/09/absurditas-di-putri-yang-ditukar/">Absurditas di Putri yang Ditukar</a></p>
<p><a style="font-weight: normal;" title="Permanent Link to Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar" rel="bookmark" href="http://hermansaksono.com/2011/02/koin-untuk-sinetron-putri-yang-ditukar.html">Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar</a></p>
<p><a style="font-weight: normal;" href="http://choro.wordpress.com/2011/02/11/yang-putri-yang-ditukar/">Yang Putri Yang Ditukar</a></p>
<p><a title="Belajar Dari Nodame" href="http://suprie1983.wordpress.com/2011/02/14/belajar-dari-nodame/" target="_blank">Belajar Dari Nodame</a></p>
<p><a style="font-weight: normal;" title="Permanent Link to Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan" rel="bookmark" href="http://diary.satchdesign.com/barang-yang-sudah-terlanjur-dibeli-tidak-bisa-ditukar-ataupun-dikembalikan.joe">Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan</a></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Itu baru satu sinetron. Padahal sinetron murahan tersebar banyak di televisi kita. Belum ditambah reality show yang cuma menipu dan membodohi. Kasihan kita ya.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>*PS: Yang nulis di note FB atau di blognya atau dimanapun soal sinetron jelek, trackback dan comment aja. Ntar dimasukin link diatas hihihi..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2011/02/14/masih-mau-nonton-sinetron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nurdin Yang Terkutuk</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2010/12/05/nurdin-yang-terkutuk/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2010/12/05/nurdin-yang-terkutuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 20:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.&#8221; &#8211; Tan Malaka (1925) Menonton Indonesia dari televisi. Menonton ke sekian kali Tim Merah Putih bertanding dengan negara-negara tetangga. Awalnya saya tidak berharap banyak, 2 atau 3 tahun saya cukup kecewa &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2010/12/05/nurdin-yang-terkutuk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.&#8221; &#8211; Tan Malaka (1925)</em></p>
<p>Menonton Indonesia dari televisi. Menonton ke sekian kali Tim Merah Putih bertanding dengan negara-negara tetangga.</p>
<p>Awalnya saya tidak berharap banyak, 2 atau 3 tahun saya cukup kecewa dengan penampilan Timnas. Saya memang bukan seorang yg <em>jago</em> menganalisis pertandingan. Tetapi melihat pertandingan-pertandingan yang pernah ada, seperti melihat sebuah motor yang rusak di busi-nya. Di<em>starter</em> ngadat. Didorong pun harus dipaksa sambil masukkan gigi satu.</p>
<p>Saya pernah bahas soal ini di tulisan-tulisan sebelumnya. Prestasi tim nasional mandek, mau tidak mau karena buah kompetisi yang baunya tidak enak. Ujung-ujungnya, buah ini semakin tercium busuk setelah ditarik ke level manajemen Sepakbola negeri ini. Yaitu PSSI sendiri. Dan dengan &#8220;<em>setan-[setan]&#8221; </em>di dalamnya bernama Nurdin Halid [dan cs-nya].</p>
<p>Bukti? Cukup lelah koran-koran dan media lainnya bersuara. Dan saya tidak perlu membuat diri <em>capek </em>lagi hanya untuk menyentil orang satu itu. Sentilan itu tidak mempan, bisa jadi karena memang &#8220;<em>setan-[setan]&#8220;</em> itu sudah bermuka tebal. Padahal saya sendiri percaya, setan saja masih punya malu dan harga diri.</p>
<p>Tetapi asa kembali muncul ketika sebuah photo profil di<em>tag </em>ke halaman<em> </em>Facebook saya. Photo seseorang yang cukup nekat, mengenakan kaos putih bertuliskan <em>&#8220;Aku berlindung dari godaan Nurdin yang terkutuk&#8221;, </em>dengan latar dirinya sedang memandang jauh Stadion Senayan &#8220;GBK&#8221;. Saat itu, suporter nekat itu sedang menonton Tim Garuda melawan Tim Nasional Uruguay dalam rangka uji tanding sebelum menjajal kejuaran Piala AFF Suzuki Cup Desember ini. Entah bagaimana, saya merasa photo itu cukup mewakili kekecewaan, tetapi juga sekaligus harapan. Bahwa saya, si suporter gila itu, dan berjuta-juta fans sepakbola tanah air masih punya harapan untuk hadir di Senayan dan menyaksikan tim kebanggaannya menang.</p>
<p>Suatu masa yang lain, dari radio streaming yang penuh dagelan, bernama <a title="Radioteflon" href="http://radio.cahandong.org" target="_blank">Radioteflon</a>, saya mendengar analisa menarik untuk peluang Indonesia di AFF. Wawancara dagelan itu pun tidak lupa menyinggung prestasi timnas dan pengaruh dari bobroknya PSSI bersama &#8220;<em>setan-[setan]&#8220;-</em>nya. Satu kali lagi saya mencatat, si narasumber yg gemar menulis blog soal bola itu, juga yakin bahwa kita masih bisa berprestasi. Prestasi itu tidak dijemput, tetapi harus dikejar. Dan PR kita masih banyak, termasuk membenahi PSSI dan sistem kompetisi lokal yang acak kadut.</p>
<p>Dan semalam, juga 2 malam sebelumnya, menjadi bukti bahwa kita mampu. Nurdin cs yang pesimis, dan sempat menentang cara pelatih Alfred Riedl mengatur tim, justru dibalas tegas kemenangan telak. Lima satu dengan Malaysia, setengah lusin bersama Laos.</p>
<p>Kita bisa menang. Bahkan bisa lebih baik dari sekarang. Dan kemenangan itu semua bukan hak Nurdin sama sekali. Dia lebih pantas turun sekarang juga dari PSSI. <em><strong>&#8220;Lindungi Indonesia dari godaan Nurdin yang terkutuk&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong><img class="aligncenter" title="Nurdin Terkutuk" src="http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/Spanduk-hujatan-terhadap-Nurdin-Halid.jpg" alt="" width="565" height="350" /></strong></em></p>
<p><em>*thanks to @zenrs @hedi @colonelseven @di_larashati @escoret @epat @kelakuan dan semua yg menginspirasi. Kalau kata Tan, &#8220;Dalam tiap-tiap macam perjuangan, inisiatif mempunyai nilai besar&#8221; &#8211; Tan Malaka. </em></p>
<p><em>Saya akan turut ke Final. Siapkan satu kaos untuk ku ya!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2010/12/05/nurdin-yang-terkutuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog dan Twitter Indonesia (Part 1)</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2010/09/21/blog-dan-twitter-indonesia-1/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2010/09/21/blog-dan-twitter-indonesia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 01:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mencari-cari di Google, saya menemukan beberapa data yang menarik. Ini bukan soal proposal dan jualan kecap. Tetapi bisa menjadi catatan menarik jika anda seorang blogger &#8220;yang peduli&#8221;, atau pun seorang pengguna twitter &#8220;yang sehat&#8221;. Sebelumnya mungkin kita harus tahu &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2010/09/21/blog-dan-twitter-indonesia-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mencari-cari di Google, saya menemukan beberapa data yang menarik. Ini bukan soal proposal dan jualan kecap. Tetapi bisa menjadi catatan menarik jika anda seorang blogger &#8220;yang peduli&#8221;, atau pun seorang pengguna twitter &#8220;yang sehat&#8221;.</p>
<p>Sebelumnya mungkin kita harus tahu dulu beberapa catatan umum dan penting. Berdasarkan data <a title="APJII" href="http://apjii.or.id" target="_blank">APJII</a> Juni 2010, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai<a title="45 juta pengguna internet di Indonesia" href="http://www.detikinet.com/read/2010/06/09/121652/1374756/398/pengguna-internet-indonesia-capai-45-juta" target="_blank"> 45 juta</a>. Sementara pengguna Facebook per Agustus 2010 tercatat lebih dari 27 juta user dari Indonesia. Dan <a title="ComScore report for Twitter User 2009-2010" href="http://www.comscore.com/Press_Events/Press_Releases/2010/8/Indonesia_Brazil_and_Venezuela_Lead_Global_Surge_in_Twitter_Usage" target="_blank">Indonesia mencatat rekor penetrasi twitter tertinggi dalam setahun ini</a> (20,8%), dengan menduduki posisi ke-6 pengguna Twitter terbanyak (2,41%).</p>
<p>Pembahasan ini akan saya detailkan dalam 3 bagian. Dimana pada bagian akhir akan kita coba lihat seberapa besar aktifitas blogging dan kaitannya dengan penetrasi twitter akhir-akhir ini. Semoga akan ada sedikit kesimpulan dan manfaat yang bisa diperoleh.</p>
<p><span id="more-518"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Blog</strong></p>
<p>Januari 2009, ketika pelaksanaan <a title="Central Wordcamp" href="http://central.wordcamp.org/" target="_blank">Wordcamp</a> Indonesia pertama kali digelar, sempat disinggung bahwa pengguna WordPress.com dari Indonesia menempati posisi ke-dua setelah Inggris (sumber : <a title="Indonesia Pangguna Blog Terbesar Kedua di Dunia" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2009/01/17/brk,20090117-155687,id.html" target="_blank">tempointeraktif.com</a>). Walaupun saat itu saya sempat hadir disana, tetapi saya tidak bisa mengkonfirmasi benarkah data yang diperoleh Tempo tersebut? Saat ini saya hanya bisa melacak ke belakang lewat statistik pengunjung dan pengguna bahasa Indonesia <a title="Wordpress.com Stats" href="http://wordpress.com/stats" target="_blank">WordPress.com</a> dibantu log data dari <a title="Wordpress.com stats by Quancast.com" href="http://www.quantcast.com/p-18-mFEk4J448M" target="_blank">quantcast.com</a>.</p>
<p>Pengunjung WordPress.com yang berasal dari Indonesia terdata memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.</p>
<h6 style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Wordpress Visitor Monthly from Indonesia" src="http://static.ow.ly/photos/normal/3YMM.jpg" alt="" width="522" height="335" />Visitor bulanan WordPress.com dari Indonesia</h6>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Wordpress.com visitor by impression" src="http://wpcom.wordpress.com/files/2006/12/quantcast-june-2010.png" alt="" width="523" height="375" /></p>
<h6 style="text-align: center;">Visitor bulanan WordPress.com berdasarkan impression</h6>
<p>&nbsp;</p>
<p>Data pengunjung wordpress.com dari Indonesia yang dikumpulkan quancast.com dimulai sejak Juli 2009. Terlihat dari data tersebut, secara kasar pengunjung wordpress.com berasal dari Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Setahun lalu ada 5 juta pengunjung perbulannya. Dan saat ini sudah menembus 12 juta pengunjung setiap bulannya dengan total pencapaian bacaan terhadap <em>post</em> dalam wordpress.com hingga 85,7 juta halaman sebulannya.</p>
<p>Selain itu, statistik terbaru menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia dalam wordpress.com berada pada posisi ke 4 setelah bahasa Portugis. Padahal pada Wordcamp 2009, saya mengetahui bahasa Indonesia menempati posisi ke-3 setelah bahasa Inggris dan Spanyol. Memang mengalami penurunan dari segi persentase. Bahasa Portugis adalah bahasa resmi di Brazil. Pengguna wordpress dari Brazil sedang meningkat secara signifikan dalam 2 tahun terakhir. Tidak hanya di platform blog seperti WordPress.com, juga diberbagai jejaring social media.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Wordpress.com language stats per June 2010" src="http://static.ow.ly/photos/normal/3Z1X.jpg" alt="" width="556" height="247" /></p>
<h6 style="text-align: center;">WordPress.com language stats per June 2010</h6>
<p>&nbsp;</p>
<p>Data-data diatas baru bersumber dari platform wordpress.com yang memang sangat popular. Belum lagi jika kita melihat <a title="Blogger.com" href="http://blogger.com" target="_blank">blogger </a>, <a title="Multiply.com" href="http://multiply.com">multiply </a>atau servis lokal seperti <a title="Blog Detik" href="http://blogdetik.com" target="_blank">blogdetik</a>. Termasuk platform blog sederhana yang sedang <em>ngetrend </em>saat<em> </em>ini seperti <a title="Tumblr" href="http://tumblr.com" target="_blank">Tumblr </a>dan <a title="Posterous" href="http://posterous.com" target="_blank">Posterous</a>.</p>
<p>Saya juga tidak melupakan blog-blog yang ditanam secara pribadi di dalam server/hosting pribadi. Seperti misal blog saya ini. Dari Quantcast juga saya memperoleh data engine blog untuk blog <em>selfhosted </em>tersebut, seperti MovableType sebesar 6,79% dan TypePad tercatat 1,32%. Sedangkan engine WordPress (<a title="Wordpress.org - Blog Engine Download" href="http://wordpress.org" target="_blank">wordpress.org</a>) mencapai lebih dari 52%. Perhitungan ini mungkin tidak bisa dijadikan patokan yang valid, karena Quantcast merekam index URL beserta engine blognya secara terbatas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Blog platform by Quancast and Builtwith data" src="http://static.ow.ly/photos/normal/3Z1f.jpg" alt="" width="510" height="387" /></p>
<h6 style="text-align: center;">Data engine blog dari Quancast dan Builtwith per September 2010</h6>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika melihat cara orang Indonesia memanfaatkan blog, saya bisa mengambil kesimpulan data serupa wordpress.com diatas, juga bisa ditemukan di platform lainnya, termasuk blog <em>selfhosted</em>.</p>
<p>Mungkin ada perbedaan mencolok untuk pengguna blog <em>selfhosted,</em> dimana jumlah publisher blog dengan tujuan monetizing PPC juga meningkat di Indonesia. Satu-satunya data tentang jumlah <em>Adsense Publisher </em>yang resmi dari Google adalah pada April 2010 lalu. Lewat blog resminya Google membocorkan bahwa mereka memiliki <a title="Bridging the gap: The value proposition - how and why we pitch the Google Content Network to advertisers" href="http://adsense.blogspot.com/2010/04/bridging-gap-value-proposition-how-and.html" target="_blank">lebih dari 1 juta <em>adsense publishe</em>r</a> dalam berbagai program. Jika di pukul rata setiap publisher memiliki 1-5 blog <em>monetized, </em>berarti ada lebih dari 6 juta website yang di<em>monetized <span style="font-style: normal;">oleh </span>adsense publisher </em>seluruh dunia<em>.<span style="font-style: normal;"> Sayangnya dari informasi ini pun kita tidak dapat mengira-ngira berapa blog Indonesia yang digunakan untuk </span>monetizing. </em>Belum lagi mempertimbangkan monetizing dengan PPC lainnya, termasuk yang lokal seperti kumpulblogger.com.</p>
<p><em> </em>Pembicaraan paling sering berkenaan dengan blog monetizing adalah soal kualitas konten blog. Diskusi tentang ini lebih sering menjadi debat kusir. Bahkan berujung pada identitas blog dan blogger itu sendiri. Dalam tulisan ini saya tinggalkan dulu <em>pengkotakan </em>ini. Alasannya cukup sederhana, karena kita melihat angka-angka ini nantinya dari jumlah data yang masif berdasarkan laporan robot atau crawler juga. Mereka tidak mengerti kualitas konten bukan? Selain itu, karena <em>toh</em> para publisher ini juga ada di negara-negara lain dalam prosentase dan <em>attitude </em>yang serupa; <em>Make money with the content whenever it&#8217;s possible.</em> Harus dipahami oleh semua netters bahwa kehadiran publisher -baik adsense, affiliate, dan program-program <em>monetizing </em>lainnya- adalah dinamika tersendiri dalam industri internet di dunia.</p>
<p>Bagaimana dengan blog-blog atau catatan online yang tersebar dalam web social network seperti &#8220;Note&#8221; Facebook? Saya tidak memasukkan mereka sebagai bagian dari blog, karena keterbatasannya diakses oleh public diluar social network tersebut. Gampangnya, Google pun tidak meng-indeks dengan baik &#8220;Note&#8221; Facebook.</p>
<p>Jumlah pengguna baru (juga lama) blog tidak tercatat secara terbuka. Kecuali pihak-pihak penyedia service berkenan merilis data pengguna service mereka. Kesimpulan awal kita disini adalah bahwa &#8220;pembaca&#8221; blog di Indonesia masih ada, dan jumlahnya juga terus meningkat dari bulan ke bulan. Sekali lagi saya tekankan &#8220;pembaca. Kenapa?  Kata pembaca lebih tepat digunakan jika dilihat dari hasil statistik yang hanya menunjukkan jumlah pengunjung blog dan pencapaian halaman<em>post</em> yang terbaca.</p>
<p>Harus dibedakan antara pembaca dan pengguna blog. Pengguna blog adalah blogger aktif yang menghasilkan konten untuk blog mereka. Sementara, data statistik pengunjung atau halaman blog yang terbaca tersebut adalah sekumpulan angka yang dihasilkan dari jumlah pembaca. Kita tidak bisa menentukan secara pasti, apakah lebih banyak konten baru bermunculan? Atau justru hanya jumlah pembacanya yang bertambah secara signifikan? Dilihat dari trend data di atas, satu-satunya kepastian yang bisa saya simpulkan adalah BENAR bahwa penetrasi internet di Indonesia yang meningkat secara signifikan. </p>
<p><em>*Sesuai dengan laporan APJII, dalam setahun ini telah tercatat peningkatan pengguna internet lebih dari 15 juta orang (Agustus 2009 &#8211; Juni 2010) di Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2010/09/21/blog-dan-twitter-indonesia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sebuah Ironi, Indonesia Kreatif</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/09/13/tentang-sebuah-ironi-indonesia-kreatif/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/09/13/tentang-sebuah-ironi-indonesia-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 23:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar ramai-ramai soal Indonesia Kreatif? Kalau saya pernah mendengarnya samar-samar tahun lalu. Ketika semakin banyak teman-teman yang bermain-main di Industri Kreatif secara freelance mulai terdengar gaungnya disana sini. Thanks to internet yang membuat saya bisa menjelajah ke teman-teman yang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/09/13/tentang-sebuah-ironi-indonesia-kreatif/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Creativity Irony" src="http://simplychi.files.wordpress.com/2008/07/jsin280l.jpg" alt="" width="400" height="315" /></p>
<p>Pernah dengar ramai-ramai soal Indonesia Kreatif?</p>
<p>Kalau saya pernah mendengarnya samar-samar tahun lalu. Ketika semakin banyak teman-teman yang bermain-main di Industri Kreatif secara freelance mulai terdengar gaungnya disana sini. <em>Thanks to </em>internet yang membuat saya bisa menjelajah ke teman-teman yang super kreatif disitu.</p>
<p>Minggu lalu, saya sempat menghadiri salah satu acara sosialisasi Indonesia Kreatif yang disponsori Departemen Perdagangan. Label &#8220;Sosialisasi Indonesia Kreatif&#8221; (IK -red) ini yang mengulik rasa ingin tahu saya. Maksudnya apa? Apakah artinya warga Indonesia dinilai belum kreatif oleh pemerintahnya sendiri?</p>
<p>Tepatnya, acara tersebut berlangsung seperti ramah tamah biasanya menjelang berbuka puasa. Ada Ibu Cokorda Istri Dewi (Indonesia Design Power) mewakili tim sosialisasi IK Departemen Perdagangan disana, ada mas Arif Budiman dari Petakumpet, juga ada bung Enda yang namanya melintang di dunia Blog dan internet. Intinya mereka semua memaparkan secara statistik perkembangan indutri kreatif (oleh ibu Dewi), ajakan dan motivasi oleh Mas Arif, dan kondisi <em>real and fact</em> seputar dunia internet dan digital oleh Bung Enda. Saya coba taruh salah satu presentasi dari Ibu Dewi disini buat dibaca.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="580" height="500" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=presentasicgdigitalmediaplanik-090903231917-phpapp02&amp;stripped_title=sosialisasi-digital-plan-indonesia-kreatif" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="580" height="500" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=presentasicgdigitalmediaplanik-090903231917-phpapp02&amp;stripped_title=sosialisasi-digital-plan-indonesia-kreatif"></embed></object></p>
<p>Dalam acara juga berlangsung diskusi. Walau singkat karena dikejar waktu, tetapi beberapa point penting sempat saya tangkap.  Tentunya pertanyaan ini datang dari para hadirin yang memang mereka adalah pelaku-pelaku industri kreatif di Yogyakarta (dan saya yakin yang datang kemarin masih jauh dari jumlah di lapangan). Pertanyaan mendasar adalah, sejauh apa keterlibatan pemerintah dalam plan tersebut? Dan akan seperti apa bentuknya? Karena <em>toh</em> sampai saat ini, industri kreatif kita bisa berkembang pesat tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah. Lihat saja statistik yang disajikan, industri kreatif Indonesia bisa menyumbang sebesar rata-rata 7.8 persen terhadap PDB negara. Atau sumbangan penghasilan per pekerja sebesar 19.5 juta, diatas pendapatan rata2 pekerja secara nasional. Dan trend-nya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.</p>
<p>Jawaban yang disampaikan Ibu Dewi, bahwa dari sisi pemerintah berkeinginan untuk mengakselerasi perkembangan ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa konsistensi dari pelaku industri kreatif selama ini telah menyumbang banyak bagi paradigma baru industri nasional, dan ini perlu untuk disupport. Salah satunya <em>mungkin </em>dimulai dengan memudahkan jalur bagi para pelaku industri kreatif  untuk memenuhi kebutuhan pasar akan ide-ide kreatif mereka. Inilah yang mendasari Digital Plan tersebut. Rencananya akan ada beberapa portal/website yang menjadi tool untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk aggaran pengembangan sendiri, disiapkan dana sebesar 50 M di tahun 2010. Kecil besarnya dana ini sangat tergantung dari program pemerintah, yang sampai saat ini bentuknya masih menjadi tanda tanya.</p>
<p>Unik memang melihat gelagat pemerintah disini. Tetapi tidak salah juga. Andil pemerintah dengan sistem dan aturannya memang dibutuhkan untuk perkembangan industri kreatif Indonesia. Mungkin rekan-rekan yang bertarung sebagai pelaku industri kreatif, bisa merasakan sendiri di tahun-tahun belakang bagaimana susahnya bermain di arena ini. Katakanlah dari soal modal, bagaimana susahnya memperoleh modal dari bank atau investor untuk mengembangkan ide-ide kreatif anda. Atau bagaimana rancunya para insan kreatif kita menempatkan diri mereka dalam struktur sosial budaya juga hukum atas profesinya, bahkan untuk sebuah karya  <em>mastepiece</em>-nya, seringnya berada dalam perdebatan pro dan kontra. Ditambah lagi dengan segala infrastruktur hukum kita soal perlindungan hak kekayaan intelektual. Lihat saja perdebatan yang rancu seputar budaya lokal yang <em>tercuri </em>, yang sebenarnya itu adalah modal awal yang sudah siap pakai untuk mengembangkan industri kreatif kita.</p>
<p>Belum lagi jika melihat perilaku sosial masyarakat Indonesia. Sederhananya, bagaimana seorang Ibu bisa menghargai pilihan seorang anaknya menjadi seniman/pekerja seni, sama berharganya jika si anak memilih menjadi insinyur perminyakan. Bagaimana mendidika masyarakat untuk mengenal inovasi dan kreasi sebagai salah satu kunci keberhasilan industri rumah tangga mereka. Bagaimana memberikan pencerahan kepada para pemodal, investor dan bank, bahwa kreatifitas juga bisa dijadikan industri dan memiliki nilai jual. Lain lagi soal pendidikan masyarakat tentang kekayaan intelektual, sekaligus jaminan perlindungan terhadap kekayaan intelektual itu sendiri. Negeri ini masih prematur dalam mengeksplorasi sisi hukum, terutama pendidikan sosial masyarakat perihal ini. Dan pada akhirnya ini menjadi PR tambahan sendiri, sosialisasi menjadi wacana yang harus disertai pendidikan di masyarakat, disertai aksi yang nyata dari pemerintah dan para pelaku bidang ini.</p>
<p>Berkaca pada Inggris yang sudah mulai melihat industri kreatif sebagai modal penting dari industri mereka sejak tahun 1997, pemerintah mulai mendesain cetak biru Indonesia Kreatif ini mengikuti pola yang sama dengan negara monarki tersebut. Definisi industri kreatif  Indonesia juga mengadopsi dari Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang yang terlibat. Kemudian ada 14 sektor utama yang digarap untuk tahap awal pengembangan. (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi. Dan besar harapannya, pada tahun 2025 Indonesia sudah bisa mennyusul negara-negara lainnya, bersaing untuk membangun &#8220;ekonomi kreatif&#8221;. Sebuah mimpi besar dari pemerintah yang bisa dibilang, patut diacungi jempol.</p>
<p>Baru saja saya mendengar presentasi tersebut minggu lalu, dan 3 hari kemudian saya dikejutkan dengan berita soal disahkannya RUU Perfilman Indonesia. Jelas-jelas disebutkan bahwa industri perfilman ada dalam plan tersebut. Bahwa 14 bidang utama tersebut akan didorong oleh pemerintah untuk terus berkembang.</p>
<p>Kita lihat faktanya dilapangan. Di tahun 2001 saja, cuma ada 2 film Indonesia yang tumbuh dengan cemerlang, dengan kaki-kaki para pelaku industri film sendiri. Bermodal dari niat untuk membangun kembali perfilman Indonesia. Dan kini, ketika dalam setahun kita sudah bisa memproduksi film sebanyak 100 judul, pemerintah mulai mencoba untuk turut terlibat didalamnya, dengan bahasa turut men-support dan menumbuhkan terus semangat perfilman Indonesia. Tetapi dari beberapa isi UU perfilman tersebut, justru malah menyisakan pertanyaan, bukankah malah terkesan pemerintah mengatur dan membatasi kreatifitas sineas kita? Sebaliknya, Jero Wacik, sebagai Menteri dari Departemen yang selama ini banyak menjaring masukan untuk merevisi UU perfilman lama (UU No. 8/1992), memberikan pernyataan perihal UU perfilman baru ini bahwa &#8220;<span id="article_body">(dengan UU Perfilman baru ini) kita akan menciptakan iklim yang baik untuk menumbuhkan perfilman Indonesia.” Ia juga menjamin, para sineas tidak akan dipersulit saat akan membuat film.<br />
</span></p>
<p>Mungkin ada sudut pandang berbeda dari para anggota dewan yang sudah hampir habis masa jabatannya tersebut soal UU ini. Atau mungkin justru tidak adanya undangan keterlibatan secara aktif para pelaku industri kreatif perfilman dalam penyusunan UU ini. Yang pasti, sekarang banyak insan perfilman yang menolak UU tersebut.</p>
<p>Benar-benar menjadi PR besar bagi kita semua, <em>the long road</em> dari sebuah ironi baru Indonesia Kreatif. Seperti kata Pearl Jam,</p>
<p><em>And the wind keeps rollin<br />
And the sky keeps turning grey<br />
And the sun is set<br />
The sun will rise another day<br />
&#8230;<br />
How I wish for you today<br />
Will I walk the long road?<br />
We all walk the long road</em></p>
<p><em>&#8211;</em></p>
<p><em>Diolah dari : </em></p>
<p><em>Sosialisasi Digital Plan Indonesia Kreatif</em></p>
<p><em>http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/12/04335636/kami.tidak.percaya.negara</em></p>
<p><em>gambar : http://simplychi.wordpress.com/2008/07/24/bulan-indonesia-kreatif/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/09/13/tentang-sebuah-ironi-indonesia-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enlarge Your P*nis</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/06/03/enlarge-your-penis/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/06/03/enlarge-your-penis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 08:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[bebaskan prita]]></category>
		<category><![CDATA[kampanye email]]></category>
		<category><![CDATA[kasus prita]]></category>
		<category><![CDATA[prita]]></category>
		<category><![CDATA[spam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini muncul sebagai bentuk dukungan saya, sekaligus keprihatinan saya. Jelas ketidakadilan terhadap kasus yang dialami Ibu Prita menjadi perhatian kita semua. Siapa yang tega melihat seorang ibu terpisah dari anaknya karena tersangkut kasus yang ambigu demikian? Iya, saya mengatakan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/06/03/enlarge-your-penis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini muncul sebagai bentuk dukungan saya, sekaligus keprihatinan saya. Jelas ketidakadilan terhadap kasus yang dialami Ibu Prita menjadi perhatian kita semua. Siapa yang tega melihat seorang ibu terpisah dari anaknya karena tersangkut kasus yang ambigu demikian?</p>
<p>Iya, saya mengatakan ambigu. Proses hukum yang terjadi memungkinkan adanya &#8220;<em>debat pengadilan</em>&#8221; yang sengkarut. Rumah Sakit Omni kuat dari segi tuntutan yang didukung pengacara <em>coorporate</em> yang lebih handal di banding Prita yang cuma seorang kala itu. Ditambah pasal-pasal karet dalam UU ITE yang memungkinakan kurangnya pemahaman akan UU ITE oleh Jaksa dan Hakim.</p>
<p>Apapun hasil proses persidangan, yang tertinggal adalah sebuah empati bagaimana seorang Ibu akan berpisah dari anaknya karena &#8220;kalah debat&#8221;.</p>
<p>TAPI,</p>
<p>Saya lebih empati dengan para pendukung yang kebablasan. Belum lagi buat pihak-pihak yang berkepentingan entah atas nama kekuasaan, atau apapun lah itu. Akibatnya? Jelas ada kerugian yang lebih besar lagi buat kita, bahkan bagi publik sendiri.</p>
<p>Contoh kasus saja, hari ini. Rumah sakit Omni kebanjiran email, membuat jalur komunikasi mereka terganggu. Kok bisa?</p>
<p>BEGINI,</p>
<p><img class="alignleft" title="Enlarge-yourP" src="http://politikana.com/images/small/servantofchaoscom.jpg" alt="" width="180" height="240" />Saya yakin hari ini RS Omni kelabakan dengan email mereka. Bukan cuma mereka, saya sendiri juga repot mengurusi spammer setiap hari.</p>
<p>Dulu saya ingat, sebelum UU-ITE disahkan, bahkan jauh sebelum blog ramai membahas Undang-undang sengkarut itu, <a title="Priyadi.net" href="http://priyadi.net/">Pak Pri</a> pernah memposting, berkomentar bahkan berkampanye soal pentingnya aturan main SPAM dalam UU-ITE.</p>
<p>Dan sepertinya anggota dewan cukup bijak mengabulkan perihal satu ini.</p>
<blockquote><p>Pasal 32<br />
(1)<br />
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.</p>
<p>Pasal 33<br />
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.</p></blockquote>
<p>Demikian bunyi butir diatas. Jadi tindakan SPAM yang merusak, justru menjadi tindak kejahatan dalam UU-ITE. Pasal-pasal diatas bisa saya anggap 2 diantara pasal-pasal UU ITE yang tidak sengkarut, yang justru melindungi kita sebagai pengguna, dan semua pihak yang terbantukan oleh fungsi kerja alat komunikasi, terutama internet.</p>
<p>Jika ada diantara saudara yang tidak mengerti SPAM, mungkin bisa cek email saudara. Saya sih lebih sering mengingatnya dengan 3 kata judul diatas.</p>
<p>Itu saja dari jangkauan pengetahuan saya apa dampak buruk dukungan kebablasan ini. Ibarat kata, kita sering merasa terganggu oleh kemacetan akibat demo-demo. Apalagi sampai merusak layanan publik. Nah, sekarang jika kita juga kebablasan dalam menyikapi kasus Ibu Prita, maka kita juga tidak ada bedanya dengan pendemo yang sering kita pisuhi.</p>
<p>Rumah Sakit Omni adalah sebuah layanan publik, yang memberikan bantuan, pertolongan kesehatan kepada masyarakat. Mereka setiap hari beroperasi dengan ratusan pasiennya. Mereka juga butuh alat komunikasi seperti email dan  internet. Lewat jalur itulah rumah sakit ini bisa berhubungan dengan para supplyer obat-obata, menagtur skedul dengan pihak dokter,  berkorespondensi dengan luar rumah sakit dan komunikasi dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan operasional.</p>
<p>Ah, saya jadi sentimentil.</p>
<p>Tapi tak apa-apa, toh beberapa hari ini semua orang memang cenderung sentimentil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/06/03/enlarge-your-penis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Kapten Tua Bernomor Punggung 3</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/05/24/seorang-kapten-tua-bernomor-punggung-3/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/05/24/seorang-kapten-tua-bernomor-punggung-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 16:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Jika saya mengingat masa-masa awal menggemari sepak bola dulu, maka nama klub yang muncul dibenak saya adalah AC Milan. Dan jika disuruh mengingat kaos bola AC Milan (bukan original) pertama yang saya  miliki, itu tidak lain adalah bernomor punggung 3. &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/05/24/seorang-kapten-tua-bernomor-punggung-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/05/maldini.jpg"><img class="size-full wp-image-410 aligncenter" title="maldini" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/05/maldini.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p style="text-align: justify; clear:both;">Jika saya mengingat masa-masa awal menggemari sepak bola dulu, maka nama klub yang muncul dibenak saya adalah <a title="AC Milan" href="http://www.acmilan.com">AC Milan</a>. Dan jika disuruh mengingat kaos bola AC Milan (bukan original) pertama yang saya  miliki, itu tidak lain adalah bernomor punggung 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Lucu mengingat masa-masa itu. Saat itu memang era awal kebangkitan siaran televisi swasta di Indonesia. Dan satu-satunya siaran bola eropa hanyalah Liga Italia. Saya bersama teman-teman seumuran dulu, bisa berdebat soal kehebatan klub masing-masing. Saya yang memegang AC Milan, bisa tertawa mengejek teman yang menggemari AC Parma tatkala Nesta pindah klub ke Milan. Kalaupun dia berkelit dengan seribu alasan, satu pernyataan pamungkas menyelesaikan debat tidak penting itu, <em>&#8220;Kalo bisa coba beli Maldini&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, pertandingan terakhir sang <em>La Bandiera della Milan</em> di <a title="Giuseppe Meazza" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Giuseppe_Meazza">Giuseppe Meazza</a>. Pujian dan <em>respect</em> dari berbagai komentator bola ternama seluruh dunia disanjungkan padanya minggu-minggu ini. Seperti juga salah satu pujian komentator lepas Indonesia -<a title="Zen RS" href="http://pejalanjauh.com">Zen</a> yang maniak MU di <a title="Sesuatu Itu Bernama Maldini" href="http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/05/23/072459/1135860/425/sesuatu-itu-bernama-maldini">Detik</a>, <em>&#8220;<a title="Paolo Maldini" href="http://goal.com/id-ID/people/italy/1/paolo-maldini">Paolo Maldini</a> bukan hanya &#8220;seseorang&#8221;, ia juga &#8220;sesuatu&#8221;. Sebagai &#8220;seseorang&#8221;, Maldini adalah seorang pemain besar, seorang legenda. Sebagai &#8220;sesuatu&#8221;, Maldini adalah suatu etik, suatu etos juga suatu simbol&#8221;</em>. Jika boleh menambahkan potongan pujian Zen tersebut, maka saya menambahkan <em>&#8220;Dan itu bukan hanya untuk klub AC Milan, atau sepak bola Italia saja. Tetapi juga sepak bola dunia&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Berlebihan? Mungkin. Walaupun saat ini saya tidak begitu simpati lagi kepada AC Milan. Tetapi untuk seorang pemain kebanggan seperti Maldini, saya akan bersulang bir untuk debut terakhirnya ini. Pemain paling setia. Di saat Milan jaya maupun dalam kondisi gamang seperti 2 musim lewat, Maldini selalu &#8220;ada&#8221; untuk menjaga lini belakang Milan. Sebut saja berapa striker kelas dunia sudah dihadapinya. Dari Maradona, Van Basten, Rummenige, R.Baggio, Platini, Zico, Romario, sampai striker muda sekelas Rooney dan Cristiano Ronaldo.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan AC Milan sendiri setelah kepergian Maldini? Memang kondisi sedang buruk untuk Rossoneri. Selain ditinggal Kapten terbaiknya ini, Anceloti juga sedang gundah karena tawaran Chelsea, Ronaldinho yang digosipkan lebih sering clubbing, sampai Kaka yang bingung dengan karirnya ke depan. Milan dalam dilema. Tapi Milan tetaplah Milan. Sudah berapa kali masa jaya dan kelam dilewatinya. Namun kaos hitam merah bernomor punggung 3 masih terus menjadi favorit sampai generasi keponakan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya menonton Milan lagi, setelah sekian lama tidak menyaksikan mereka berlaga. Aroma Milanisti lebih terasa di cafe tempat saya menonton, walaupun dipenuhi penonton berkaos Liverpool. Semua seperti tahu malam ini adalah malam perpisahan dengan sang legenda. Bahkan ketika Maldini gagal memblocking Mexes atau Menez, tepuk tangan tetap gemuruh. Begitu pula di lapangan San Siro sana. Setiap tertinggal gol dari AS Roma, pemain Milan terlihat lebih bertenaga memburu gol balasan. Seperti tidak mau malam ini berakhir mendung untuk <em><a title="Captain 900" href="http://www.acmilan.com/NewsDetail.aspx?idNews=85613">Captain 900</a></em> mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Injury time AC Milan vs AS Roma. Kedudukan 2-3 untuk Roma. Menez meliuk-liuk disisi kanan gawang Milan. Melewati baris pertahanan Milan, memotong 2 pemain bertahan. Hanya tinggal Dida di depan matanya. Tendangan keras dilepas. Sayang bola terpental keluar lapangan. Menez terpekur. Ternyata masih ada seorang tua bernomor punggung 3 mem-block tendangan kerasnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/05/maldini_farewell.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-416" title="FBL-ITA-AC MILAN-AS ROMA-MALDINI" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/05/maldini_farewell.jpg" alt="" width="500" height="328" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/05/24/seorang-kapten-tua-bernomor-punggung-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokrasi 2.0</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 11:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[politikana]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Saya membaca catatan pinggir &#8220;Caping&#8221; dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="Goenawan Mohamad Quote" src="http://politikana.com/images/medium/illustrasigm.jpg" alt="" width="384" height="415" />Saya membaca catatan pinggir &#8220;Caping&#8221; dari <a title="Herman - Catatan Pinggir" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/04/06/mbm.20090406.CTP129987.id.html" target="_blank">tempointeraktif</a> hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka &#8220;imut&#8221; dan berada di dalam &#8220;tempurung&#8221; yang aman.</p>
<p style="text-align: justify;">GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar &#8220;catatan pinggir&#8221;. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom &#8220;<em>Surat dari Palmerah</em>&#8220;, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah &#8220;Jakarta Jakarta&#8221;, Senin 8 April 1996 yang berjudul <strong>&#8220;GM &amp; KA-I-PE-PE&#8221;</strong>. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di &#8220;lorong-lorong&#8221;, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli &#8217;97 menjadi awal pergolakan reformasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang <em>booming</em> itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang &#8220;manuskrip-manuskrip tua&#8221; yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu?  Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak &#8220;seindah&#8221; sekarang. Blog, facebook, <a title="Situs Politik 2.0" href="http://politikana.com" target="_blank">POLITIKANA</a>? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya &#8220;sebentar&#8221; lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, &#8220;Jangan pilih Capres Militer&#8221;. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, &#8220;Jangan pilih capres militer&#8221; ? Wah, ini soal lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai &#8220;nama baik&#8221; dan &#8220;perlindungan tokoh-tokoh sentral&#8221; politik masa kini, maka ini baru jadi masalah!  Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah &#8220;dimata-matai&#8221; di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam cerita lainnya di kolom <em>Surat dari Palmerah</em> (&#8220;<strong>Percakapan Dengan Goenawan</strong>&#8220;, Jakarta Jakarta &#8211; 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Apa rencana Anda sekarang?&#8221; &#8220;Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan &#8220;bingung sejarah&#8221; seperti saya sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/02/22/cermin/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/02/22/cermin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 20:38:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah dongeng, ibu ratu selalu menanyakan kepada cermin di kamarnya, &#8220;Cermin, cermin, cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia?&#8221;. Cermin menampakkan gambar si Putri Salju. Ibu ratu naik pitamnya, dan Putri Salju pun dibuang ke hutan. Dulu &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/02/22/cermin/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah dongeng, ibu ratu selalu menanyakan kepada cermin di kamarnya, <em>&#8220;Cermin, cermin, cermin di dinding, siapakah wanita paling cantik di dunia?&#8221;</em>. Cermin menampakkan gambar si Putri Salju. Ibu ratu naik pitamnya, dan Putri Salju pun dibuang ke hutan. Dulu aku selalu bertanya, kenapa si cermin tidak tunjukkan saja gambar perempuan lain? Model-model kelas dunia mungkin. Atau bisa saja wajah si tuannya, Ibu Ratu sendiri? Kalau ceritanya demikian, tentunya kamu dan aku tidak pernah mendengar cerita ini sekarang. Cuma kisah-kisah cinta tragis seperti nasibnya Bondowoso yang diperdengarkan ibu-ibu kita. Padahal dari cerita cermin Ibu Ratu itu, aku belajar satu hal. Ternyata cermin itu bisa bercerita!</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu tahu bangsa Mesopotamia kan, sayang? Mereka telah menemukan cermin sejak dulu. Bukan membuat. Mereka hanya mengasah sedikit dari batu-batuan dari golongan obsidian. Batu yang kasar dan rapuh, tetapi kristalnya memiliki kilap yang cukup untuk memantulkan cahaya. Mungkin karena itu pula banyak cerita, bagaimana wanita-wanita suku-suku Mesopotamia  terkenal pintar bersolek dan kecantikannya tercatat dalam cerita-cerita sejarah. Lain lagi sebuah kisah dari Mesir. Seorang Raja Mesir pernah menggunakan cermin yang ternyata berasal dari batuan yang lebih tua dari peradaban mesir sendiri. Arkeolog berpendapat bahwa cermin itu bukan berasal dari batuan di bumi. Kilapnya yang sempurna alami hanya bisa dihasilkan pada gesekan super panas di udara. Mungkin saja berasal dari meteor dan asteroid yang jatuh ke bumi berjuta-juta tahun lalu. Ternyata cermin benar-benar bercerita hingga menembus dimensi waktu, sayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Shakespeare juga pernah mencoba merefleksikan pesan kejujuran cermin dalam cerita Julius Caesar-nya. <em>&#8220;Wahai Brutus, bercerminlah, kau seperti diriku dalam cermin, dan engkau pun akan tahu secara jujur apa kata cermin tentang dirimu&#8221;</em>. Benar adanya, Brutus harus jujur bahwa dirinya sedang dalam iri dengki terhadap Caesar, cerminnya sendiri. Ternyata cermin juga selalu jujur, tidak hanya pandai bercerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran tidak harus beriringan seperti 2 garis linier sejajar yang bisa dibuktikan teori matematika. Kejujuran bisa jadi sebuah refleksi, kebalikan. Aku percaya refleksi bukanlah sebuah negasi negatif. Refleksi bukan pula kebalikan. Sapardi berkata, <em>&#8220;cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;&#8221;</em>. Jangan salahkan cermin seperti yang selalu menjadi biang kerok dalam bahasa kita, dinegasikan sebagai sisi negatif sebuah gambaran kehidupan. Cermin tidak pernah menukar kiri dan kanan-mu, sayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Cermin cuma membawa kabar dengan caranya tentang bagaimana kamu, dan mungkin juga tentang aku. Belajar dari Ibu Ratu, coba kamu juga tanyakan kepada cermin di kamarmu, apa yang kamu rasa saat ini? Mungkin dia akan menjawab jujur dengan menunjukkan gambar ku dalam kabur pantulannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/02/22/cermin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan dan Disintegrasi</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/02/18/kenangan-dan-disintegrasi/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/02/18/kenangan-dan-disintegrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 06:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, saya sempat melihat photo-photo dari facebook yang diupload oleh seorang teman. Teman itu baru saja kembali dari dataran tinggi Alas di negeri Aceh sana. Pikiran saya langsung melayang, kira-kira ketika saya masih duduk di kelas 3-4 SD, pertama &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/02/18/kenangan-dan-disintegrasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/02/gayolues.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-394" title="gayolues" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/02/gayolues-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Hari ini, saya sempat melihat photo-photo dari facebook yang diupload oleh seorang teman. Teman itu baru saja kembali dari dataran tinggi Alas di negeri Aceh sana. Pikiran saya langsung melayang, kira-kira ketika saya masih duduk di kelas 3-4 SD, pertama kali dan satu-satunya pengalaman saya berada di Tanah Gayo bersama dengan almarhum Bapak yang kebetulan waktu itu menjalankan tugas keliling kota-kota kabupaten di DI Aceh (Nama Propinsi ini dulu, sebelum Nanggroe Aceh Darussalam sekarang). Sudah menjadi tugas dari kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Nama Dinas Pendidikan dulu) untuk Divisi/Bagian beliau, yaitu sebagai pemantau dan pengawas pelaksanaan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Nasional).</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama kali itu saya berkeliling di 3 kota kabupaten dalam satu trip panjang (kalau tidak salah 3 minggu lamanya), Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tengah. Sementara Bapak melaksanakan tugasnya berkeliling ke kantor-kantor Dinas Pendidikan di kabupaten-kabupaten tersebut, saya dititipkan di rumah sanak saudara. Banyak memori tersendiri dari perjalanan panjang ini. Tapi yang paling saya ingat jelas adalah Kota Takengon. Mungkin karena satu-satunya kota Kabupaten yang paling lama saya diami selama trip &#8220;dinas&#8221; ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, kota Takengon masih menjadi kota kabupaten satu-satunya untuk dataran tinggi Gayo. Berbeda dengan sistem desentralisasi saat ini, dimana sudah terbagi menjadi 3 kabupaten, yaitu Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Kawasan Aceh tengah secara etnografis memang memiliki perbedaan dengan kebanyakan penduduk aceh di pesisir. Dari segi budaya dan historis juga ada perbedaan. Dikenal sebagai daerah holtikultur yang sangat kaya dengan perkebunan kopi. Biji kopinya yang khas -salah satu varietas terbaik dari kopi Arabica,  sudah mengundang orang-orang Belanda sejak abad ke-17 untuk memproduksi kopi terbaik di Eropa kala itu. Dan jangan heran jika anda mendengar sebuah perusahaan Kopi di Belanda &#8220;Holland Coffee B.V.&#8221; sampai saat ini masih mengantongi brand dan trademark &#8220;Gayo Coffe&#8221;. Sebuah trademark yang bisa dibilang sudah tidak mungkin diperjuangkan lagi oleh otoritas Indonesia karena alasan historis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke cerita kecil saya dulu, saya masih mengingat kondisi warung makan Mie Aceh tempat Bapak dan rekan kerjanya meeting waktu itu. Tepat di pinggiran &#8220;Danau Laut Tawar&#8221;. Hotel tempat kami menginap yang juga dekat Danau Laut Tawar yang luas nan indah itu. Bukan karena ingin mencari-cari lokasi paling bagus untuk menginap, jalan-jalan atau makan-makan. Tetapi memang pusat kota Takengon sendiri berada disisi Danau Laut Tawar.  Soal pemandangan? Ah, keindahaannya cuma bisa tersimpan di memori saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sisa-sisa hari lain, selama Bapak berkeliling ke kota-kota kecil Kabupaten Aceh tengah, saya dititipkan di rumah sepupu saya. Sepupu saya itu sudah memiliki 2 anak perempuan cantik saat itu. Padahal saya sendiri masih duduk di kelas 3-4 SD. Umur anak-anaknya pun cuma selisih 3-5 tahun dari saya. Jadilah teman bermain saya selama disana, tepatnya di komplek Perumahan BPK (Balai Pelatihan Kerja), sekarang masuk dalam Kabupaten Simpang Tiga Redelong. Oh ya, saya masih ingat sempat &#8220;mencuri&#8221; secara halus satu komik bacaan mereka, sebuah komik yang sekarang masih saya ingat. Komik Marvel tiruan yang bercerita tentang semua tokoh Superhero dunia berkumpul mengalahkan kejahatan. Sebelum pulang kembali ke Banda Aceh,  saya sempat merengek-rengek ke Bapak untuk dibelikan jilid-jilid akhir komik ini ke toko buku di Kota Takengon yang jaraknya lumayan jauh. Bayangkan saja, untuk saat sekarang, itu sama artinya dengan harus melintasi kabupaten lain hanya untuk memenuhi keinginan seorang anak kecil yang kurang ajar seperti saya. Mungkin waktu itu Bapak saya akan berpikir, sialnya membawa anak banyak maunya seperti saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemarin (17/2) saya membaca artikel opini kompas tentang isu pemekaran wilayah. Isu lama, tetapi hangat kembali setelah meninggalnya Ketua DPRD Sumatra Utara beberapa waktu lalu. Dari raungan untuk membebaskan keinginan memekarkan wilayah, kini muncul renungan apakah pemekaran wilayah menjadi sebuah hal yang sama pentingnya dibandingkan kesejahteraan warga masyarakat secara merata untuk semua wilayah? Dulu, kepentingan pemekaran wilayah dan penerapan sistem desentralisasi diusung dengan alasan<br />
mewujudkan pembangunan yang merata di setiap pelosok negeri ini. Memang ada wilayah-wilayah pemekaran yang sukses membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Gorontalo misalnya, membuat nama Fadel Muhammad sering disebut-sebut oleh acara-acara pemilu TV. Propinsi Gorontalo memang sukses, tapi tidak bisa dikesampingkan predikat jumlah penduduk propinsi tersedikit (800 ribu jiwa), bandingkan dengan Bandung yang berupa Kotamadya (4.1 juta jiwa). Jika mau di logika maka pelayanan publik Propinsi Gorontalo pun menjadi lebih stream dan efisien.</p>
<p style="text-align: justify;">Penting melihat kembali kebutuhan akan pemekaran wilayah yang sampai saat ini banyak yang mulus persetujuannya di DPR. Banyak alasan yang muncul menjadi jauh dari kebutuhan menyejahterakan warga. Dari soal ras, agama, sejarah, bahasa, atau perasaan ketertinggalan. Lalu isu-isu ini menjadi senjata untuk mengajukan pemekaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya jika mau jujur, pemekaran wilayah ini muncul karena sebuah alasan keekonomian. Acuan terpenting adalah soal aset yang dimiliki sebuah kawasan. Bukan hal klise jika bicara hal ini. Aset sebuah kawasan atau daerah adalah kekayaan Sumber Daya Alamnya. Titik tolak dari semua usaha untuk menciptakan kesejahteraan. Setiap kawasan memiliki potensi SDA berbeda, cara pengelolaan berbeda, termasuk budaya masyarakatnya dalam mengelola pun berbeda. Persoalan kesenjangan bisa jadi hanya menjadi sebuah alasan saja, padahal yang ingin dititikberatkan adalah kesempatan pengelolaan secara mandiri aset lokal kawasan. Nah, pertanyaannya menjadi sederhana jika berbicara pengelolaan SDA secara lokal ini. Sampai sejauh mana SDA yang ada bisa dimaksimalkan oleh para petinggi-petinggi/pengusaha setempat untuk kemakmuran rakyat, dan bukan sebagai lahan korupsi baru?</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah ketakutan saya dari dulu, ketika penerapannya hanya menjadi bumerang untuk menciptakan raja-raja kecil baru, dengan kepentingan-kepentingan pejabat baru yang lebih spesifik dan akhirnya mengesampingkan pelayanan terhadap warga. Ada sebuah jawaban aneh dari seorang teman saya menanggapi soal ini, <em>&#8220;mending dikorupsi ama orang-orang sendiri daripada dikorupsi ama orang luar&#8221;</em>. Bagi saya, itu bukan lah jawaban. Tetapi lebih terlihat sebagai bentuk primordial akut yang menyentil konflik horizontal baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah hal yang menakutkan jika muncul konflik horizontal sosial dalam kawasan yang dimekarkan. Berawal dari soal perasaan ketertinggalan hingga akhirnya kebablasan menjadi primordial yang berlebihan, chauvisnisme. Efek terburuk yang mungkin hanya membutuhkan &#8220;penabuh gong&#8221;, separatisme secara paksa dengan cara radikal. Negeri ini sudah belajar dari sejarah dalam hal separatisme. Tidak ada teori yang memastikan bahwa separatisme lahir karena tekanan ketidakadilan secara vertikal. Separatisme berawal dari ketidakpuasan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga bisa juga secara horizontal.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/02/blankejeren.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-395" title="blankejeren" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2009/02/blankejeren-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Permasalahan yang muncul di kawasan-kawasan yang ingin memisahkan/memekarkan diri, tentunya harus ditilik dari beberapa aspek yang berimbang. Bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan konstelasi politik dan historis terbaru yang berkembang di kawasan tersebut. Setiap kawasan, memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam hal affirmasi keberbedaan dan asal tuntutan pemisahan/pemekaran. Ini menjadi alasan absurd tak terkonsolidasi yang paling dominan dari sekian banyak pemekaran yang terjadi. Proposal yang sampai ke DPR bisa saja bicara soal kemakmuran dan kesenjangan, tetapi delik alasan kemakmuran dan kesenjangan tersebut jarang dilihat para pengambil keputusan dari sisi affirmasi keberbedaan dan legitimasi tujuan pemisahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri belum bisa mengutarakan secara gamblang dengan bahasa runut apa dan bagaimana cara melihat lebih detail sisi-sisi tersebut. Nanti akan saya coba tulis lagi dalam cerita berbeda. Mungkin dengan sedikit mengangkat historis-culture di Aceh, terutama yang terjadi di kawasan Aceh Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Dari album photo seorang teman, sebuah pengalaman masa kecil di dataran tengah-tengah Negeri Aceh, saya berpidato sampai soal pemekaran wilayah. Saya pun bingung kenapa bisa menulis dan berpikir soal begini. Ini cuma kebetulan sebuah sampah pemikiran saja saya rasa. Banyak gangguan-gangguan datang ke alam pikir saya untuk persoalan &#8220;Pemekaran, pemisahan wilayah administratif, hingga ancaman desintegrasi baru&#8221;. Mungkin kemampuan pemahaman saya hanya sampai pada persoalan sisi historis dan budaya saja. Dan ternyata tidak ada hal menakutkan sama sekali terjadi sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini juga berharap bisa sedikit menjawab pertanyaan kompleks yang sampai ke mailbox saya sejak 6 bulan lalu, 3 pertanyaan singkat :<br />
1. Bagaimana Aceh nantinya di mata-mu, Jal?<br />
2. Persoalan utama dari sekian banyak ancaman desintegrasi kelokalan di Aceh?<br />
3. Kapan kamu lulus dan kembali ke Aceh?</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="Nuri Photo" src="http://profile.ak.facebook.com/v222/1996/15/n657387461_34.jpg" alt="" width="72" height="64" />Photo-photo diambil dari album <a href="http://www.facebook.com/people/Nuri-Nurlaila-Setiawan/657387461" target="_blank">Nuri</a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Thanks Nur,..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/02/18/kenangan-dan-disintegrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bohong?</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/02/11/siapa-yang-bohong/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/02/11/siapa-yang-bohong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 06:49:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Saya kesal. Kesal karena melihat iklan-iklan pemilu di TV. Bayangkan saja, saya harus memotong kenikmatan siaran bola, atau film kartun pagi hari untuk menyaksikan sebuah iklan yang mengingatkan saya pada dukun yang sedang menghipnotis. Tiba-tiba diantara desahan bait-bait pidato berlatar &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/02/11/siapa-yang-bohong/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" src="http://www.presidensby.info/imageD.php/1732.jpg" alt="" width="320" height="247" />Saya kesal. Kesal karena melihat iklan-iklan pemilu di TV. Bayangkan saja, saya harus memotong kenikmatan siaran bola, atau film kartun pagi hari untuk menyaksikan sebuah iklan yang mengingatkan saya pada dukun yang sedang menghipnotis. Tiba-tiba diantara desahan bait-bait pidato berlatar gambar-gambar simpatik, terdengar suara rendah seorang wanita, yang bernada dingin, berirama menghipnotis. Mungkin buat yang paham supranatural atau psikologi klinis bisa melacak, ada <em>ngga </em>kira-kira unsur hipnotis didalamnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Itu soal suara dalam iklan yang menjengkelkan. Lain lagi isi pidato-nya. Satu iklan pidato isinya adalah memuja keberhasilan si S. Nah satu iklan pidato lainnya, mengatakan si S itu mengalami kegagalan luar binasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi makin bingung, udah <em>dihipnotis,</em> ditambah-tambah harus mikir, siapa yang bohong sebenarnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/02/11/siapa-yang-bohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

