Mbak,
Sekarang semakin ramai bendera-bendera partai berlambang bulan dan bintang di sini. Justru itu aku malah teringat kata-kata mu, “Mentari tetap yang berkuasa. Bintang dan bulan tidak terlihat kala mentari ada”.
Category Archives: Kapucino
Eubermensch Joker
Jagoan super bukan hanya milik seorang superhero. Terhipnotis dengan sosok super seorang Joker dalam sekuel Batman : The Dark Knight, memberikan kepada saya kesan lain dari seorang Heath Ledger yang dulu dicap sebagai homoseksual karena film Brokeback Mountain. Tidak kalah dari sosok super seorang Batman, justru Joker menjadi fokus perhatian banyak penonton film ini, karena berbagai kegilaan dan ide simpatiknya yang menggambarkan rumitnya sebuah sistem sosial politik dan kekuasaan di kota Gotham.
Setahun
“Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan”, demikian Ndoro yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu.
Tentang Dinginnya Malam dan Bintang
Bintang tidak pernah bersinar dalam waktu yang sama di setiap belahan bumi. Ini bukan soal dunia yang bundar. Atau soal putaran galaksi. Ini hanya soal keliru menganggap bintang yang bersinar bisa dititipkan sebuah salam rindu.
"Itu ada di Detikcom, Yang Mulia"
Dalam banyak komunitas di dunia maya, Detik sering dipelesetkan sebagai media yang “basbang”, yang juga berarti “Basi Banget”.
Tetapi tidak begitu menurut Artalyta alias Ayin, si tersangka dalam kasus penyuapan Kejaksaan Agung itu. Dalam sidang hari ini, dengan gaya menjawabnya yang berbelit-belit, ternyata Detik harus berterima kasih ke Artalyta.
“OK. Dari pembicaraan itu, Anda sepertinya tahu persis perkembangan kasus BLBI II. Anda tahu dari mana?” kata Andi (Hakim Andi bachtiar -red).
“Itu ada di detikcom, yang Mulia,” kata Artalyta.
Hebat! Bermodal membaca Detik saja, Ayin bisa tahu seluk beluk kasus BLBI II sedalam itu. Selamat buat Detik. Sekaligus selamat bekerja mengumpulkan arsip berita BLBI untuk di crosscheck dengan rekaman Ayin.
Tapi jika merujuk logical fallacy, sebenarnya pernyataan itu juga tidak menjawab pertanyaan Andi. Pintar sekali wanita satu ini berkelit-kelit dalam menjawab pertanyaan hakim.
Sepertinya Arya harus traktir saya untuk kemajuan Detik satu ini.
Memburu Tapal Batas
Hari sudah hampir berakhir. Warna langit sudah digores-gores oleh kuning dengan paduan emas dan biru gelap. Kendaraan-kendaraan diluar bus ini terlihat berlalu semakin cepat. Seperti ada yang mereka kejar di tujuan masing-masing. Kadang aku melihat ada muka lelah namun justru matanya menunjukkan sebuah semangat untuk bertemu sesuatu di ujung perjalanannya. Lain lagi jika melihat dalam perhentian lampu merah, ada wanita-wanita bermuka cerah yang memeluk mesra pengemudi motor yang memboncengnya. Harum tubuh mereka serasa bisa kucium, walaupun ada kaca tebal antara tempat ku duduk di bus mini ini dengan mereka yang saling menikmati senja diluar sana.
Leak dan Framing Media
Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.
BLBI dan Monas
Kenapa soal ribut-ribut Monas dan Ahmadyah lebih meramaikan panggung Republik dari pada soal kasus BLBI yang sedikit demi sedikit mulai terbuka?
Yang saya tahu 6M itu bukan cuma sekedar suap menyuap. Belum lagi urusan pelicin lainnya yang bisa saja menyangkut banyak pihak. Terus jika diakumulasi dengan total kerugian negara dari BLBI sendiri? Wah, kalau kedok ini terbuka bisa geger Republik.
Kalau berbicara soal ini, dan berpikir sedikit “liar”, siapakah aktor-aktor yang bermain di level atas dalam soal BLBI?
Pertama, urusan tangkap menangkap saya jadi ingat Polisi. Kalau boleh berpikir jahat, apakah Sutanto itu terlibat?
Kedua, urusan menggugat adalah urusan Kejaksaan. Kalau ini sudah jelas melibatkan beberapa Jaksa muda di dalam kejaksaan. Tetapi sekali lagi saya berpikir jahat, siapakah bosnya para jaksa muda ini? Hendarman? Saya masih ingat berita heboh di akhir februari lalu, “2 Obligor BLBI aman, Kejagung tidak menemukan adanya tindak pidana koruspi dalam penyerahan aset Anthony Salim (BLBI I) dan Syamsul Nursalim (BLBI II).”
Ketiga, dalam teori pemerintahan yang demokratis, peran partai politik sebagai bemper hak warga negara besar adanya. Dengan kondisi Nursalim yang tetap aman di Singapur sana, dan tentunya masih memiliki cadagan kekayaan, partai mana yang tidak tergiur dengan dana segar pemilu? Pesta kekuasaan itu sebentar lagi dimulai.
Keempat, dari pihak pemerintah, ada seseorang yang dari 2006 lalu selalu mengusahakan negosiasi antara pemerintah dan obligor-obligor nakal ini. Seseorang yang menjabat sebagai Sekeretaris Kabinet di masa itu.
Kelima, intel negeri ini terlalu jago untuk sekedar mengetahui keberadaan koruptor-koruptor nakal itu. Apa ada intel yang juga ikut bermain dalam pengamananan kasus dan pengolahan isu?
Bagaimanapun juga, ada kemungkinan terlalu banyak yang kecipratan di dagelan ini. Dalam teorinya, jika sebuah kasus korupsi telah meluber kemana-mana begini, maka dongengnya harus dibatasi. Dibatasi siapa yang menjadi pemain-pemainnya. Top leader harus aman bagaimana pun caranya. Yang kupingnya panas, mulai beraksi saling serang di antara para pendukung yang dulunya berjalan kompak. Seru memang melihat sesama penjahat dalam kartel mafia korupsi saling menelikung.
Yang jelas, uang panas yang terus berputar itu seperti rantai setan. Yang satu membiayai yang lain. Karena bagaimanapun juga duit suap, atau pelicin sekalipun adalah dana segar yang harus tidak bisa dilacak keberadaannya. Bisa jadi dana segar dari keuntungan korupsi lainnya. Butterfly Effect juga berlaku di lingkaran uang haram ternyata.
Jadi, lebih buruk mana, bergosip soal agama? atau pasang mata dan hati untuk lingkungan sosial anda yang sedang seakarat?
Sepakbola Londo
Siapa jago anda di Piala EURO 2008?
Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah tidak menarik lagi (bagi saya), beralih ke EPL yang semakin susah ditonton. Saya mengidolakan salah satu tim hebat yang bisa mengalahkan AC Milan dengan mental Juara di Champion 2005, Liverpool.
Sayang Inggris gagal total lolos ke babak utama Euro tahun ini. Tetapi tidak mengapa. Masih ada Belanda. Yap, negeri “Londo” yang pernah menjajah Indonesia. Bukan karena saya anti Timnas Indonesia dan PSSI-nya. Tetapi memang permainan generasi muda Belanda memberikan tontonan yang luar biasa buat saya.
Walaupun harapan penampilan apik di Piala Dunia 2006 tidak tercapai, namun saya percaya Belanda punya banyak kesempatan menjadi juara dunia nantinya, dimana saat-saat ini negara kampiun sepakbola lainnya di dunia sedang berbenah dalam regenerasi tim. Belanda satu langkah lebih maju dalam hal regenerasi tim nasionalnya. Dua pertandingan lewat di EURO 2008 menjadi jawaban. Mempercundangi Italia di bawah asuhan Donadoni dengan skor 3-0, dan 4-1 membantai Les Bleus. Keduanya adalah finalis piala dunia lalu.
Pertanyaan aneh yang menghinggapi saya ketika mengidolakan Belanda sejak Piala Dunia 2006 lalu. Jika dan hanya jika negara-negara jajahan Inggris bisa besar dengan sepakbola-nya, lalu mengapa Indonesia yang juga bekas jajahan Belanda tidak bisa seperti mereka?
Lalu teman saya berteriak lewat YM
“Ya mo gimana, ketua PSSI nya saja koruptor. Ada yang salah dengan manajemen PSSI kita!!”
Ah, selalu. Lari-larinya pembenaran selalu ke level itu.
Jadi, kapan kita bisa bikin liputan Sepakbola Indonesia sekelas ini, Ar?
Catatan :
Melihat Robben, Van Persie dan Sneider seperti menyaksikan Trio Belanda masa lalu. Salah satunya menjadi arsitek Belanda yang botak dan dingin itu, Marco Van Basten.
UPDATE:
Maaf, ternyata kolom komentar lupa saya buka. Ah, padahal saya ingin bertemu para fans tim-tim negara lain. Momen seperti EURO begini paling seru untuk saling “manghujat” lewat dreamteam masing-masing.. hehehe…
Dilarang Mengaji
Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa rajah, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.
Diskalimer
Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?
Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.
Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.
Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang sok pengen tahu. Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? Ah, sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se-cemen itu saudara-saudara
Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. Deal?
Dalam Doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)
Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.