Warung Kapucino

Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda

Wednesday, April 30, 2008

Magic Works

Semua penggemar Harry Potter pasti tahu sebuah kisah persahabatan unik antara Hermione dan Ron. Ditambah bumbu-bumbu asmara ala anak muda juga tentunya. Tokoh Ron Weasley, sudah terlihat akhil baliq dan mulai ada “rasa” terhadap Hermione sejak buku atau film ke-3, The Prisoner of Azkaban. Tetapi bumbu asmara keduanya baru terasa pedas di seri ke-4 cerita tersebut, The Goblet of Fire.

(more…)

posted by Leksa at 10:09 am  
 

Tuesday, April 29, 2008

Semoga Mendung Tidak Turun Sore Ini

Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata “Mari kita Selesaikan Malam ini..”

(more…)

posted by Leksa at 2:53 am  
 

Monday, April 28, 2008

Parikesit Menjemput Mimpi

Zam ModeAlkisah dalam sebuah cerita pasca Bharatayudha berakhir, Aswatama yang pengecut dan karena itu juga menjadi kejam, memasuki tenda dimana kubu Pandawa sedang lelap. Ia menikam orang-orang yang sedang tidur. Drestajumena, Srikandi dan Pancawala tidak bisa melihat matahari esok paginya. Sementara Utari terbangun dan menyelamatkan diri beserta bayi dalam kandungannya. Sang bayi ini lah yang dikenal dengan nama Parikesit nantinya, pewaris tahta Pandawa pengganti Pancawala yang mati. Tidak tanggung-tanggung, 2 kerajaan sekaligus hasil kemenangan Bharatayudha akan dipegang olehnya, Hastina dan Indraprastha.

(more…)

posted by Leksa at 4:15 am  
 

Friday, April 25, 2008

Rindu Memaki

Mbak“Mbak…”, aku lebih memilih memberi awalan ini di depan namamu yang manis itu sekarang. Kau semakin bersinar di negeri orang, makin dewasa, semakin menjadi “wanita” dalam mimpi-mimpimu. Bahagia terlukis di setiap gambar-gambar mu. Namun gambar-gambar yang tak pernah kuasa aku bingkai lagi.

(more…)

posted by Leksa at 7:15 am  
 

Wednesday, April 23, 2008

Revolusioner (part 1) - Tentara

Letjend (alm) Agus WirahadikusumaRevolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah “darah”.

Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh “ihh…emang masih jaman ya?”

(more…)

posted by Leksa at 5:37 am  
 
« Previous PageNext Page »

Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float