Archive for the ‘Kapucino’ Category

Dalam Doaku

Thursday, June 5th, 2008

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.

Penyakit Fatal

Tuesday, June 3rd, 2008

Jogja Gallery - Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si Tika tiba-tiba bersuara,

“Leks, fatalis itu apa sih?”

Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya.

(more…)

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Friday, May 30th, 2008

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. (more…)

Ical For President

Thursday, May 29th, 2008

Dengan ini
Saya Menyatakan

“MENDUKUNG ICAL

UNTUK PRESIDEN 2009″

 

Alasan saya sederhana, (more…)

Bertaruh

Monday, May 26th, 2008

Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello

I never bet on it, bro..

Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang dibanting-banting dan dikocok-kocok sampai terjawab, menang berbahagia atau sakit berkalang resah.

Tapi lu musti inget! Dulu siapa yang bilang ke gue “Wanita hebat itu adalah yang berani mendampingi lu di saat gelap hingga terang. Bukan sekedar wanita yang menyicip kebahagiaan dan gemerlap lu!” ??

Sayangnya, sekarang lu dan gue sama-sama tahu. Cuma beberapa persen wanita yang berani mengambil secara hebat posisi itu. Dari sekian banyak yang kita kenal selama ini, ternyata tidak lebih dari sepuluh jari kita, bukan?

Bro,…
Sekarang saat lu bertaruh..
Silahkan kalian kocok dadunya bersama.
Atau tutup saja meja ini. Dan kita maen gaplek saja!

 

 

*niru2 gaya si Mbok, mosting pendek soal terlarang sambil nitip pesan