Archive for the ‘Media’ Category

Berkontemplasi Bersama Sawung Jabo

Friday, February 29th, 2008

Sawung Jabo“Pokoknya putus..!!”
Njleb! Bibirku termangu dan otakku terus berputar. Apalagi alasan yang harus aku berikan? Lagu-lagu yang mengalun indah dari dentingan gitar Sawung Jabo pun tidak bisa mendamaikan hatimu malam ini. Bahkan sepanjang perjalanan menurun dari Selasar Sunaryo, puncak atas Dago Pakar, kau terus mengulang pernyataan itu tanpa henti. Dan sekarang aku hanya bisa mendesah perlahan, menselonjorkan kaki di kursi teras ini menghadapi mata mu yang penuh amarah dan air mata - sambil mengulang sisa-sisa nada sumbang musik tadi yang sempat ku tangkap satu dua. Aku tersenyum kecil, tetapi kecut dan pahit. Membayangkan lagu-lagu sang Sawung tadi seharusnya menjadikan malam ini sangat romantis.

(more…)

Fly Me To The Moon

Thursday, February 14th, 2008

Apakah salah jika seorang bloger menulis atau memposting sesuatu yang renyah-renyah? Cap menjadi seorang penulis serius? Ah.. saya tidak hidup dengan label-label. Apalagi dilabelkan oleh orang lain.

Seperti lagu ini, membawa saya pada nuansa rileks dan santai, tanpa perlu “Fly” dengan mariyuana.

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/vVFa2iuKmFw" width="290" height="250" wmode="transparent" /]

 

Saya percaya postingan blog yang renyah juga dapat berefek sama.

Campaign atau Kampanye?

Monday, January 21st, 2008

Cuma lagi iseng. Udah nemu iklan kampanye yang sama 2 kali di Internet, dan sekali di jalan.

Stop Using Plastic

Sepengetahuan saya sampah plastik paling banyak dipakai mbok-mbok di pasar rakyat, dan pembantu-pembantu rumah tangga.

Semoga mereka cukup ngerti bahasa bule walau sekedar dari telenovela-telenovela bilingual kita :D

 

*gambar menumpang di Hosting si Matt, make akun om didut .

Objektif

Saturday, January 5th, 2008

Ayat Ayat CintaDulu sekali, pernah ada istilah beken “Shot The Message, Not The Messenger”. Bagaimana ngeshot message yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi - Belajar cuci otak??

Mungkin menonton film “Ayat Ayat Cinta” (AAC) bisa menjadi ajang latihan.

Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah dan istri yang sangat soleha impian semua pria muslim, diperankan oleh Rianti sang VJ MTV cantik, friendly, hip hip hura, juga terkadang seksi.

Tokoh Maria yang introvert, baik dan rendah hati, simpatik dengan kecintaannya terhadap Islam, walau bukan muslimah. Sosok wanita penuh luka cinta yang bisa menggugah pria-pria yang membaca novel AAC untuk memilikinya (termasuk saya). Diperankan oleh Carissa si antagonis sinetron-sinetron Indoonesia yang bengis, tak kenal ampun, suka teriak-teriak dan membuat ibu-ibu di mall bisa memaki-maki dirinya bila bertemu.

Tokoh Nurul yang putri pesantren, anak seorang Kyai ternama, baik budi, cerdas menggugah intelektual, kaffah dalam islam Indonesianya, mengingatkan saya pada ustadzah-ustadzah di mesjid kampung saya. Pemerannya adalah Melanie Putria yang mantan putri Indonesia, dengan keglamoran dan aktivitas selebnya yang macem-macem tanpa pakem.

Noura sang wanita penuh tekanan batin, terhimpit dalam penderitaan sehingga mengubahnya menjadi tukang fitnah yang keji. Dan Zaskia Mecca idola para lelaki “baik-baik” ketiban peran ini, model sekaligus aktris yang dianggap mumpuni dengan popularitas dan keteguhan budi muslimahnya. (Kenapa impian liar saya selalu membayangkan Zaskia sebagai BCL ditutupi kerudung?? :)) )

Fedi Nuril?? Kalau ini saya ga kenal.

Hanung Bramantyo, sang sutradara. Wah ini sih Mas Rumputeki lebih kenal.

 

Mumpung belum tayang, jadi persiapkan diri anda untuk berlatih seperti yang saya ungkapkan diatas. Menjadi objektif bukanlah tuntutan, toh ini cuma hiburan bagi penonton, duit bagi produser dan idealisme bagi sang Sutradara.

 

*sedikit hadiah yang keren dari Blog Mas Hanung :

 

Rianti's Eye

 

Detail Dagelan disingkat DD

Tuesday, December 18th, 2007

Saya pernah diminta seorang client untuk Dumping (menumpahkan) data ke dalam sebuah account hosting. Accountnya sendiri cuman shared hosting (akun bagi-bagi dalam satu server). Dan begitu tahu task nya harus men-dumping 7GB data dalam bentuk CSV (data dalam bentuk text berasal dari excel), mata saya pun muter2 seperti ikon smiley YM. Bayangkan, satu file notepad 100 baris itu cuma berapa KB? Lha ini, Tujuh Giga bok! Mana server abal-abal pula. Saya jelaskan kalau dia butuh resources yang lebih untuk kebutuhan ini. Malah keras kepala, dan dia minta saya tidak usah ikut campur dalam aplikasi web atau apapun yang direncanakan. Akhirnya saya tegaskan kerjaan saya cuma dumping saja - ngga lebih. Dan dia sepakat, masalah aplikasi gampang bisa dia buat sendiri, katanya.

Untungnya si admin server memberikan koneksi SSH, akses khusus server yang memberi hak akses lebih ke dalam server. Mulailah kerjaan saya membuat file eksekusi untuk men-dumping data tersebut. Eksekusi file dijalankan di malam hari, sambil berharap si server di US itu ngga matek karena kerjaan aneh ini.

Kalau bicara masalah detail sebuah kontrak pekerjaan, sepertinya memang sering berada dalam ranah diam-diam. Kalau menerima pekerjaan yang saya sendiri sebagai Bos di dalamnya, saya tidak lupa selalu meminta detail dari client hingga sekecil-kecilnya. Sampai termasuk bagian-bagian yang butuh improvisasi dari saya sendiri. Karena tidak mau dibelakang hari malah menerima komplain karena kurang ini itu.

Itu baru posisi subcon atau outsource. Belum lagi kalau sebuah detail project yang ditangani secara kasak kusuk oleh tangan pertama dan pemerintah. Sering tidak jelas detailnya apa, tidak jarang salah asuhan terjadi disini. Si pembeli mintanya apa, si broker persepsi nya entah gimana. Walhasil, jika ada masalah, sering yang menjadi korban adalah si eksekutor project sendiri. Mungkin karena itu muncul namanya jasa konsultan, supaya ada pihak yang selalu memonitoring dan memberi masukan terhadap kelangsungan pekerjaan.

Kasus serupa tapi tak sama mungkin terjadi dalam sepekan ini. Sebagai developer yang dikontrak, mereka itu cuma mengerjakan sesuai dengan pesanan. Mengenai diskusi-diskusi si broker dan pembeli a.k.a pemerintah, itu bukan urusan mereka. Tetapi kondisinya jadi berbeda ketika muncul sorotan publik, si developer-lah yang menjadi kambing hitam pertama karena mereka langsung yang terlibat dengan product yang dipermasalahkan.

Tidak ada yang tahu sebenarnya dana gemuk itu benar-benar sebuah kegemukan yang sehat, atau malah kegemukan dengan cacing dan angin. Hanya si pembuat anggaran yang tahu, dan tentunya Yang Maha Kuasa. Rakyat sendiri akhirnya hanya menjadi penonton yang menikmati dagelan (lagi dan lagi) dari pemerintah.

Akhirnya saya mengucapkan selamat bekerja buat Mas Ardi dan rekan-rekan. Semoga semangat anda-anda tetap ada untuk hasil terbaik bagi kemajuan pariwisata Indonesia.

 

Oh ya lanjutan kisah saya diatas. Setelah data selesai didumping semua, gantian yang mumet adalah si empunya web geblek itu. Karena kelihatannya dia mau membuat semacam business directory list kalau melihat data-datanya. Istilah awamnya menuliskan sekian ribu juta data dalam kategori-kategori dalam selembar halaman web. Ya ngga masalah sih - mungkin saja dibuat. Tetapi ini dalam kelas shared hosting abal-abal dengan memori limited edition.

Pokoknya tugas saya selesai, tak tinggal tidur nyenyak ngebayangin si empunya maki-maki sendiri…