Baru-baru ini, seseorang bertanya kepada saya,
Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda
Revolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah “darah”.
Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh “ihh…emang masih jaman ya?”
Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama Jimmy Carter dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya dukungan Jimmy Carter terhadap Obama. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan “berandai-andai” bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adalah karena kemiripan mereka berdua dalam berpolitik. Isu versi lain yang lebih keras malah lebih buruk, “Obama akan sama buruknya dengan Carter”.
Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita?
“Saya sendiri yakin sepenuhnya 1000 wakil rakyat yang bakal hilir mudik di gedung UFO itu adalah orang-orang yang sangat capable: membaca buku-buku berat, mengenal pemikiran para negarawan, ahli sejarah, dan ahli filsafat tentang negara. Yang paling penting: memahami penderitaan rakyat, meski berangkali memang belum pernah ke Natuna, Talaud dan Sangihe. Saya percaya sepenuh-penuhnya kepada mereka. Masalahnya, anda percaya atau tidak kepada saya? Hahahaha…”
Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float