<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Indonesia vs Filipina (19/12/2010): Malam Terang di GBK</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2010/12/22/indonesia-vs-filipina-19122010-malam-terang-di-gbk/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2010/12/22/indonesia-vs-filipina-19122010-malam-terang-di-gbk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 09:59:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Kopi paste adalah pekerjaan memalukan. Tetapi untuk menyebarkan cerita ini, saya tidak merasa malu sama sekali. Karena memang layak dibaca oleh semua pecinta sepakbola Tanah Air. Dengan ini sekaligus saya izin kepada http://indonesianfootballdiary.wordpress.com dan http://pejalanjauh.com. Pengantar: Indonesian Football Diary dengan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2010/12/22/indonesia-vs-filipina-19122010-malam-terang-di-gbk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kopi paste adalah pekerjaan memalukan. Tetapi untuk menyebarkan cerita ini, saya tidak merasa malu sama sekali. Karena memang layak dibaca oleh semua pecinta sepakbola Tanah Air. Dengan ini sekaligus saya izin kepada <a href="http://indonesianfootballdiary.wordpress.com/">http://indonesianfootballdiary.wordpress.com</a> dan <a title="Pejalan Jauh" href="http://pejalanjauh.com">http://pejalanjauh.com</a>. </em></strong></p>
<p><em>Pengantar: Indonesian Football Diary dengan bangga mengumumkan bahwa entri artikel kali ini akan diisi oleh penulis tamu, <a href="http://twitter.com/zenrs">Zen Rahmat Sugito</a>, yang akan menceritakan kisahnya menyusun dan mengedarkan zine PLAK! hingga ia akhirnya gagal masuk ke dalam stadion saat semifinal leg 2 kemarin</em></p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Propagandis PLAK!" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs023.snc6/165334_482840931683_552251683_5790886_7974452_n.jpg" alt="Propagandis PLAK!" width="271" height="196" /></div>
<p>Setelah pontang panting menyebarkan zine PLAK!, disusul usaha sekuatnya untuk mendapatkan tiket tambahan, saya pun gagal masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan langsung semifinal kedua Indonesia vs Filipina. Saya berdiri di depan gerbang besi berjeruji  berwarna biru. Di depan saya, seorang bocah  yang sedang dipanggul di pundak ayahnya terlihat mengenakan jersey timnas bernomor punggung 10. Ia, anak kecil itu, berteriak-teriak penuh semangat, sementara saya berdiri dengan pasrah. Badan terasa lemas, terasa letih.</p>
<p>Lalu gemuruh suara dahsyat itu pun terdengar dari dalam GBK:</p>
<p>“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku….”</p>
<p>Sungguh, mendengar gemuruh suara nyanyian itu perasaan saya campur aduk. Sudah banyak yang bilang bahwa menyanyikan Indonesia Raya di dalam stadion bersama puluhan ribu orang akan selalu terasa menggetarkan. Saya sering mengalaminya, sangat sering, berkali-kali. Menggetarkan, memang. Tapi, sungguh, kecamuk perasaan yang menjalar saat mendengar gemuruh nyanyian itu sangat berbeda dalam posisi saya saat itu. Tak sekadar merasa tergetar, tapi juga sedih dan kecewa, juga marah.</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Indonesia Raya di luar GBK" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs355.ash2/63546_482840426683_552251683_5790873_6569095_n.jpg" alt="Indonesia Raya di luar GBK" width="315" height="229" /></p>
</div>
<p>Saya diam beberapa detik. Orang-orang masih hilir mudik mencoba mencari sisa tiket. Petugas keamanan berjejer di pintu masuk. Iqbal Prakara, kawan saya yang paling keras kepala, sama-sama terlihat muram wajahnya. Lalu, dengan spontan, saya angkat syal merah putih ke atas kepala dan lalu dengan lantang bergabung bersama gemuruh nyanyian dari dalam itu, bedanya saya dari luar stadion, di depan sebuah gerbang berjeruji yang membuat sejumput kecil pemandangan di dalam GBK terlihat lamat-lamat.</p>
<p>“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya….”</p>
<p>Iqbal mengepalkan tangannya dan mengangkatanya tinggi-tinggi ke udara dan bergabung dengan saya menyanyikan Indonesia Raya. Orang-orang di sekeliling yang tadinya diam mulai ikut angkat suara.</p>
<p>Saya tak ingin mengalami momen dan suasana macam itu. Saya ingin ada di dalam stadion, sangat ingin. Tapi nasib memang kesunyian masing-masing. Dan saya, bersama Iqbal juga beberapa yang lain, menyanyikan Indonesia Raya dalam kesunyiannya yang justru terasa lebih mengharukan, sejenis keharuan yang tak biasa, terasa lebih khas ketimbang yang pernah saya rasakan saat menyanyikan Indonesia Raya dari tribun selatan GBK.</p>
<p>“Asu, aku mbrebes mili (anjing, aku berkaca-kaca),” kata Iqbal kemudian.</p>
<p>Orang harus mengalami apa yang kami rasakan untuk sepenuhnya paham umpatan Iqbal.</p>
<p>***<span id="more-565"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs007.snc6/165761_482840811683_552251683_5790883_1314173_n.jpg" alt="" width="315" height="233" /></p>
<p>Saya tahu, sangat tahu bahkan, kalau laga semifinal kedua akan jauh lebih ramai dan riuh ketimbang laga semifinal pertama. Kepada Baihaqi, saat dalam perjalanan menuju GBK pada pukul setengah 3 sore, saya bilang: “Kamu akan lihat sebuah festival.”</p>
<p>Baihaqi seorang suporter Barito Putra yang lama kuliah di Bandung. Dua bulan terakhir dia melakukan riset tentang sebuah masyarakat terpencil di Sulawesi, sembari traveling sampai ke daerah Luwu, hulu dari folklore agung La Galligo. Ia jadi saksi mata kisruh yang terjadi di Stadion Mattoangin saat PSM dikalahkankan tamunya, Semen Padang, pada awal 28 November kemarin. Sempat ia injakkan kakinya di kompleks lapangan Karebosi, salah satu lapangan paling legendaris dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia, lapangan yang melahirkan pemain seperti Ramang dan Ronny Pattinasarani. Dia tiba di Jakarta Minggu pagi dan kami bertemu di daerah Langsat, Kebayoran Baru.</p>
<p>Sebelum kedatangan Bai – begitu saya biasa memanggilnya—saya lebih dulu menjemput kedatangan Islah, orang Sumbawa yang kuliah di Jogja, di Stasiun Jatinegara, pada pukul 6 pagi. Ia datang ke Jakarta bukan hanya untuk menonton laga timnas, tapi terutama untuk mengantarkan 1700 eksemplar zine PLAK! yang akan diedarkan di GBK menjelang pertandingan. Islah berangkat dari Jogja dengan kereta ekonomi Gaya Baru Malam, duduk di bordes kereta selama 12 jam, bersama suporter-suporter lain yang berangkat dari kota-kota di timur Jawa.</p>
<p>Sesampainya di Langsat, Islah tak sempat mandi dan sarapan. Bersamanya, saya, Ipung dan Ndaru langsung sibuk melipat-lipat zine PLAK! Butuh waktu sekitar 3 jam untuk melakukannya. Setelah kerjaan itu selesai, tepat pada tengah hari, sebuah pekerjaan lain sudah menunggu: menyelesaikan spanduk besar bertuliskan “PSSI SARANG KORUPSI” yang rencananya akan saya selundupkan dan bentangkan di dalam GBK saat pertandingan berlangsung.</p>
<p>Lalu, ke mana Iqbal? Dia yang bertanggungjawab mencarikan kami tiket. Sudah dua hari dia sekuatnya dan kelimpungan mencari belasan tiket. Ia sampai harus antri di sebuah gang sempit di kawasan Cempaka Putih, untuk antri mendapatkan tiket, dari orang dalam (entah orang dalam PSSI atau orang dalam Panpel lokal Piala AFF). Bayangkan, tiket bisa dijual di sebuah gang di kawasan Cempaka Putih!</p>
<p>Pukul setengah tiga sore, kami (saya, Islah dan Bai) bergerak menuju GBK. Iqbal masih pontang-pontang mencari tiket. Entah di mana posisinya. Jalanan sudah macet sedari Bundaran Senayan. Jalan dari arah Sudirman menuju GBK via Hotel Atlet Century sudah penuh dengan orang-orang berwarna merah.</p>
<p>Merah di mana-mana, di mana-mana merah.</p>
<p>“Penaka sebuah festival, bukan?” kata saya pada Bai. Dia mengangguk.</p>
<p>Spanduk hitam sudah terlipat rapi di dalam tas, di bungkus sebuah jaket yang juga berwarna hitam. 1700 eksemplar zine PLAK! sudah dibagi ke tas kami masing-masing, dengan porsi terbanyak tersimpan di tas ransel Islah. Sepanjang trotoar menuju Mesjid Albina, distribusi zine PLAK! langsung dilakukan. Kami bertiga menyebar ke titik-titik di seputaran Mesjid Albina. Islah bergerak di sisi selatan Albina, saya di depan tangga Albina dan Bai bergerak menuju pintu masuk GBK.</p>
<p>Pertarungan urat-syarat pun dimulai!</p>
<p>20 menit kemudian Islah memberitahu saya bahwa ada dua orang yang memaksanya menyerahkan zine PLAK! Sekitar 50 eksemplar pun melayang. “Seorang memegang bahu saya, satunya dengan cepat merampas segepok PLAK! yang sedang saya pegang. Kalau mereka nekat memaksa ngambil sisa PLAK! lainnya yang ada di tas, saya nekat akan melawannya,” kata Islah. Saya memintanya untuk lebih berhati-hati.</p>
<p>Saya juga menyerahkan segepok zine PLAK! pada Beni Maryanto, kawan Pasoepati. Belum lagi diedarkan, tiga sampai empat orang tiba-tiba langsung menyerobot PLAK! yang dipegang Beni. Suasana makin panas. Saya minta Beni menepi dan dari sudut yang agak sepi saya masukkan beberapa bundel PLAK! ke tasnya dengan gerak cepat.</p>
<p>Waktu terus bergerak. Orang-orang kian banyak yang datang. Saya pindah posisi ke arah luar Albina menjauhi GBK. Sepanjang trotoar itu saya membagikan PLAK! dengan gerak yang ringkas dan cepat. Tapi orang-orang itu memang sudah tersebar di mana-mana. Di depan Gedung Diknas, dua orang mendekati saya dan menarik tas yang berisi kamera (di dalamnya memang ada sekitar 400 eksemplar PLAK!).</p>
<p>“Kamu orang suruhan siapa?” bentak salah satu dari mereka. “Kau suruhan Nurdin!” balasku. PLAK! yang ada di tanganku, sekitar 10 eksemplar, saya lempar ke arah mereka. Mereka berlalu tanpa memunguti PLAK! yang berserak di trotoar. Saya memungutinya lagi. Diam-diam ternyata seorang polisi melihat adegan di atas. Saat saya lewat di depannya, ia berbisik: “Hati-hati, Bang!”</p>
<p>Lalu saya kembali ke Mesjid Albina. Sekitar 30an eksemplar PLAK! saya titipkan pada Resa untuk dibagi pada teman-teman wartawan di press area. Seratusan eksemplar lagi saya titipkan pada Arista Budiyono yang masih kelimpungan mencarikan 300an tiket  untuk kawan-kawan Pasoepati yang datang langsung dari Solo.</p>
<p>Saya khawatir dengan Bai dan berharap dia tak mengalami hal buruk. Dia tak banyak membawa PLAK!, tapi spanduk hitam itu ada di tasnya. Tugas dia untuk menjaganya sebisa-bisanya. Saya bersyukur Bai ternyata tak mengalami apa yang saya dan Islah alami.</p>
<p>Lalu Islah datang dengan muka kusut. “Saya demam, mas,” katanya. Saya paham. Sejak kemarin dia menunggu PLAK! di sebuah percetakan milik seorang kawan saya yang lain di Jogja sana. Sore kemarin sampai subuh Islah berjuang di atas kereta ekonomi, paginya langsung melipat PLAK!, siangnya membantu bikin spanduk, dan sorenya lagi bergerak menyebar PLAK! dan harus berkonfrontasi dengan preman-preman. Dua hari satu malam dia tak tidur. Saya memintanya istirahat di samping barat Albina.</p>
<p>Saat saya menengoknya setengah jam kemudian, dia terlihat tertidur dengan tas berisi zine PLAK! terpegang rapat dalam pelukannya. Dia menjaga tas berisi penuh PLAK! itu bahkan saat ia sedang tertidur.</p>
<p>Saya kembali menengok Islah sekitar pukul 5 setelah bertemu Agiel, anak Jakarta yang kuliah di Bandung. Dia yang mencetak massal kaos bertuliskan “Aku Berlindung dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”. Saya memintanya membantu menyebarkan PLAK! Dengan gerak yang cepat, 300an eksemplar PLAK! berpindah dari tas Islah ke tas Agiel. Kami berpisah sambil saling berjabatan tangan.</p>
<p>“Hati-hati. Gak usah ladeni kalau ada preman-preman yang memaksa minta PLAK. Kasihkan  saja!” kata saya pada Agiel. Saya tak enak jika harus melibatkan Agiel dengan urusan konfrontasi fisik dengan preman-preman itu.</p>
<p>Tapi Agiel tidak menuruti permintaan saya. Malamnya saya baru tahu ia berkejar-kejaran dengan preman-preman Nurdin itu.</p>
<p>“Saya bagikan PLAK! sepanjang jalan dari Albina menuju Gate 2 tempat saya masuk. Ada dua orang yang <em>ngeliatin</em> dan <em>ngikutin</em> saya terus. Saya menyelinap di balik kerumunan orang. Saat kejar-kejaran itulah tiket saya jatuh. Jadinya saya <em>gak</em> nonton di dalam stadion, Mas,” ujar Agiel pada malam harinya.</p>
<p>Saya minta maaf padanya karena secara tak langsung ikut membuatnya gagal masuk ke GBK. Dengan halus dia menampik permintaan maaf saya. Melalui sebuah pesan pendek, Agiel berkata: “Sama sekali saya <em>gak</em> nyesal masuk GBK. Saya ikhlas.”</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Propagandis PLAK!" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs354.ash2/63392_482840861683_552251683_5790884_1899654_n.jpg" alt="Propagandis PLAK!" width="280" height="187" />***</p>
</div>
<p>Lalu di mana Iqbal? Lalu di mana tiket?</p>
<p>Jawabannya baru saya ketahui  sekitar pukul lima atau setengah enam. Iqbal datang dengan muka murung, juga terlihat letih dengan sangat. Tubuhnya yang tambun basah oleh keringat. Misinya tak mulus. Tiket masih kurang empat buah. Dengan agak berat dua tiket terakhir untuk tribun selatan yang sedianya akan saya dan Iqbal gunakan “terpakda” diserahkan pada Islah dan Bai. Saya dan Iqbal tak mungkin masuk ke GBK dengan meninggalkan Isla dan Bai di luar. Apa boleh bikin, tapi pilihan memang harus diambil.</p>
<p>Pukul enam tepat rombongan kami bergerak. Sebelum berpisah, saya berbisik pada Bai: “Hati-hati!” Ya, hati-hati. Tanggungjawab meloloskan spanduk dan membentangkannya di dalam GBK kini berpindah ke pundak keduanya.</p>
<p>Setengah tujuh saya dan Iqbal bergerak ke arah GBK dan berharap bisa mendapatkan tiket tambahan. 15 menit jelang kick off seorang calo menawarkan sebuah tiket, hanya sebuah tiket. Saya memintanya mencari satu tiket lagi. Nihil. Kami putuskan tidak membelinya. Kami harus masuk bersama atau tidak sama sekali.</p>
<p>Kami panik bukan main. Menit berlalu dengan cepat. Sorak sorai membahana terdengar dari dalam GBK. Dengan langkah cepat kami menyisir kemungkinan terakhir mendapatkan tiket tambahan. Lagi-lagi nihil. Lalu, di depan gerbang berjeruji yang menyisakan sejumput pemandangan di dalam GBK kami berhenti dan pasrah. Lalu, terdengarlah gemuruh Indonesia Raya yang membikin kami berdua terpaku selama beberapa detik, untuk kemudian dengan sisa-sisa tenaga kami berdua ikut sama-sama menyanyikannya dari arah luar GBK yang sudah mulai gelap.</p>
<p>Semua sudah dicoba, tapi barangkali kami berdua memang harus menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK. Lalu kami bergerak mencari layar lebar yang disediakan untuk para suporter yang tak bisa masuk ke GBK.</p>
<p>Saya akan selalu ingat umpatan Iqbal saat itu, ketika kami baru saja kelar menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK: “Asu, aku mbrebes mili!”</p>
<p>****</p>
<p>Dari paper John Bale berjudul “In the Shadow of the Stadium: Football Grounds as Urban Nuisance”, saya menemukan bagaimana istilah topophilia (“topos” = tempat, “philia” = cinta) digunakan untuk menjelaskan afeksi yang mendalam seorang suporter pada sebuah stadion.</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Kuil dan Jamaahnya" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs766.ash1/165714_482840486683_552251683_5790875_6356116_n.jpg" alt="" width="350" height="233" /></div>
<div>
<p>Istilah itu menjelaskan bagaimana hubungan intim antara seorang suporter dengan stadion yang barangkali tak punya aspek estetik dan fungsional yang bagus. Keindahan stadion memang khas, khusus, sebentuk keakraban yang hanya berharga bagi mereka yang mampu menghubungkan dirinya dengan lapangan: atapnya yang mungkin terlihat tua dan rapuh, catnya yang kusam dan sudah mulai mengelupas, hingga lengkung luarnya yang doyong seakan hendak rubuh.</p>
</div>
<p>Saya merasakan topophilia itu pada GBK. Saya masih ingat satu sore di tahun 1996, menjelang laga antara tim pra Olimpiade Indonesia (masyhur disebut tim Primavera) melawan Korea Selatan. Sorenya cerah. Saya berdiri di sisi luar sebelah timur laut GBK. Semburat senja terlihat jelas, terpercik di tembok tua GBK yang catnya sudah mulai mengelupas. Lengkung luarnya dan pilar-pilarnya yang condong ke luar membuat GBK seperti sebuah mangkuk raksasa yang sedang kepayahan mencoba menampung senja.</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Mendadak timnas..." src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs122.ash2/39451_482840616683_552251683_5790878_4955508_n.jpg" alt="Mendadak timnas..." width="280" height="421" />Saya masih ingat momen itu. Setelah tinggal di Jakarta, saya selalu datang ke GBK tiap kali tim nasional berlaga. Saya selalu berusaha menemukan momen yang sama nikmatnya dengan pengalaman saya di tahun 1996 itu.Juga pada hari itu, dan semua laga Indonesia di Piala AFF 2010.</p>
</div>
<p>Saya dan Iqbal sama sekali tidak tenang duduk menatap layar besar di sisi timur GBK bersama 10 ribuan orang yang sama-sama gagal masuk. Di tengah babak pertama, kami tak tahan lagi. Kami beranjak menyisiri pintu-pintu masuk. Petugas keamanan memberitahu di dalam sudah sesak. Bahkan kendati sudah di dalam pun mustahil bisa nonton. Saya tahu. Tahu sekali. Saya bisa melihat dari atas stadion orang-orang yang sudah di dalam pun berderet-deret di sisi luar memilih menyaksikan pertandingan dari layar besar. Tapi gemuruh suara dari arah dalam GBK tak henti-hentinya memanggil, terus-terusan menggedor gendang pendengaran saya.</p>
<p>Saat menyisir kemungkinan mendapatkan tiket sisa, Gonzales mencetak gol. Suasana meledak dalam keriuhan. Saya dan Iqbal melompat kegirangan. Segera kami berlari mencari posisi untuk bisa melihat layar lebar. Gagal! Tempat kami berdiri dihalangi sebatang pohon palem. Kami makin semangat mencari tiket. Akhirnya dapat juga!</p>
<p>Beberapa menit setelah babak kedua dimulai, segera kami berlari dan masuk melalui salah satu pintu di sisi utara GBK. Iqbal berlari lebih dulu. Badannya yang bongsor tak menghalanginya melewati anak tangga demi anak tangga. Di lorong menuju tribun, Iqbal tiba-tiba menjerit. Ia terjungkal sambil berteriak: Kram, kram! Saya terbahak. Kubilang padanya, “Yang main bola itu Gonzales, dkk., kok malah kowe yang kram!”</p>
<p>Setelah otot di kaki kirinya mengendur, kami merengsek lorong tribun utara. Tak bisa. Sama sekali tak bisa. Di depan kami hanya ada punggung-punggung orang yang juga berdesak-desakan. Lalu Iqbal tiba-tiba berteriak: “Itu spanduknya!” Saya dipanggul oleh Iqbal untuk bisa melihat spanduk hitam “PSSI Sarang Korupsi” yang terpasang di sektor 5 tribun atas. Kami bersorak-sorak sendirian. Orang-orang memperhatikan kami dengan muka yang aneh. Kami tak peduli.</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Mentok di pintu tribun" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1236.snc4/156854_482840646683_552251683_5790879_7851761_n.jpg" alt="Mentok di pintu tribun" width="280" height="193" />Pertandingan tersisa 20 menit lagi. Kami mencoba lorong yang lain dan hasilnya sama. Tak bisa merengsek masuk. Hanya ada punggung-punggung orang lain yang berdesakan di mulut lorong. Saya menepuk bahu Iqbal dan mengajaknya ke pinggiran tembok luar GBK untuk menonton pertandingan di layar besar dari atas GBK.</p>
</div>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Tidak bisa masuk, di luar pun jadi" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs600.snc4/58014_482841181683_552251683_5790893_1804760_n.jpg" alt="Tidak bisa masuk, di luar pun jadi" width="280" height="194" />Dari situ saya tahu ternyata tadi menonton layar besar itu dari arah belakang. Pantas saja nama di punggung pemain terlihat terbalik. Dari atas GBK, saya juga sadar bahwa penonton yang menyaksikan layar besar itu sama banyaknya dari arah depan layar maupun belakang layar. Sejauh mata memandang hanya ada orang-orang yang menyemut menyaksikan pertandingan dari layar lebar.</p>
</div>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Bahkan yang di dalam stadion pun menonton ke luar..." src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs009.snc4/33820_482840666683_552251683_5790880_6740641_n.jpg" alt="Bahkan yang di dalam stadion pun menonton ke luar..." width="280" height="183" />Saya menyandar di palang besi mencoba menikmati sisa-sisa pertandingan sebisanya. Tapi fisik sudah terasa sangat lelah. Iqbal tetap antusias dan beberapa kali terdengar memaki-maki, termasuk saat Markus Harison diterjang seorang pemain Filipina. Iqbal berteriak saat pluit panjang dibunyikan. Orang-orang di bawah sana yang menyaksikan pertandingan dari layar lebar terlihat bersorak, banyak yang melompat-lompat dan mengibar-ngibarkan bendera merah putih.</p>
</div>
<p>Iqbal mengajak saya masuk ke tribun karena lorong sudah mulai kosong. Kami masuk begitu saja dan berdiri di anak tangga di sesela 85-90 ribu suporter yang masih bertahan di dalam stadion, bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorai. Saya melihat merah di mana-mana, di mana-mana saya melihat merah. Tapi ini bukan merah yang muram dan marah, tapi merah yang bercahaya, merah yang terang benderang.</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Terang bulan di dalam GBK" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1366.snc4/163808_482841146683_552251683_5790892_5034000_n.jpg" alt="Terang bulan di dalam GBK" width="400" height="244" />Dalam hati saya berkata: Saya memang tidak masuk ke stadion, tapi saya sudah terlibat dan melibatkan diri dalam festival sepakbola ini. Saya sangat menikmatinya. Jouissance (kenikmatan), kata Mikhail Bakhtin, adalah sensasi yang lumrah muncul dalam semangat karnaval.</p>
</div>
<p>Saya ingat deskripsi Giulianotti tentang aura Stadion Maracana yang agung itu. Saya kutipkan utuh: “Permainan dimulai saat Maracana berada pada posisi setengah gerhana, melengkung agung terbagi antara siang dan malam, terterangi matahari dan bayangan. Permainan itu sendiri merupakan nyanyian pujian illahiah dan perdamaian, melantun secara ritmis antara lambat dan cepat, berjalan dan melangkah mengikuti pukulan drum para suporter. …(lalu) pluit final menyeret akhir upacara ini; tepuk sorak-sorai …memburu sang pemenang yang segera lenyap ditelan perut Maracana, diburu para fotografer yang sedang mengejar berhala. Kumpulan manusia lalu mencair ke dalam malam Rio de Jeneiro yang sejuk…”</p>
<p>Mungkin berlebihan, tapi untuk saya yang sudah memulai upacara dan karnaval itu sejak pagi hari sebelumnya: semua kata “Maracana” dalam paragraf di atas <em>kok</em> rasanya bisa diganti dengan “GBK”, dan kata “Rio de Jeneiro” di situ terasa bisa juga diganti dengan “Jakarta”.</p>
<p>Saya berlari ke luar dan memburu kembali kerumunan orang di bawah sana yang tadi menyemut di depan layar raksasa. Mata saya nanar memandang kerumunan itu, orang-orang yang menyemut sampai jauh. Gedung-gedung tinggi terlihat di kejauhan. Sesekali ada kilatan cahaya berpijaran di langit Jakarta.  Beberapa lampu menyala terang di kedua sisi kerumunan orang di bawah sana. Suasana cerah, sangat terang, benderang, bercahaya….</p>
<div><img class="alignleft" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="Malam yang terang di GBK" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs005.snc6/165504_482840566683_552251683_5790877_5165064_n.jpg" alt="Malam yang terang di GBK" width="315" height="216" />Untuk sejenak saya sangat ingin melupakan koruptor yang terkutuk satu itu. Setidaknya malam itu saja: sebuah malam terang di GBK.</p>
</div>
<p>***</p>
<p><strong><em>Simak juga cerita Iqbal di <a title="Colonelseven" href="http://colonelseven.com" target="_blank">http://colonelseven.com</a></em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2010/12/22/indonesia-vs-filipina-19122010-malam-terang-di-gbk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelamin Sosial Media</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2010/04/07/kelamin-sosial-media/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2010/04/07/kelamin-sosial-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2010/04/07/kelamin-sosial-media/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Social media. <em>Wah</em>, saya <em>capek </em>juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? <em>Ah</em>, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. <em>Toh</em>, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter.<span id="more-461"></span></p>
<p>Social media dunia yang tidak adil? Juga bukan demikian. Ini soal berbagi peran. Misal, tidak mungkin anda meminta ibu anda yang biasa menonton sinetron untuk menggantikan kerja kantoran bapak anda. Dan begitu pun sebaliknya. <em>Eh, kok</em> contohnya bias gender? Sayang sekali kalau ada melihat pernyataan &#8220;misal&#8221; saya sesederhana membedakan vagina dan penis.</p>
<p>Kita tidak bicara fungsi penis atau vagina disini. Walaupun kedua benda ini sangat cocok untuk menjadi metafora penggunaan social media yang banyak hadir di layar komputer anda.</p>
<p>Kembali misal, karena kelaki-lakian saya, saya melihat penis itu menggunakan vagina sebagai alat pemuasnya. Seperti pengguna internet yang menggunakan social media. Tetapi kemudian teman-teman perempuan saya banyak yang protes,<br />
&#8220;Siapa bilang kamu yang menjadikan vagina kami alat pemuas penis mu? Justru kami-kami ini yang membutuhkan penis mu itu sebagai mainan kami!&#8221;<br />
Begitupun dengan social media, apakah anda pernah berpikir justru anda yang digunakan oleh social media dengan segala kekuatannya?</p>
<p>Urusan siapa menggunakan alat siapa memang bisa menjadi perdebatan panjang. Kita cukupkan disini saja.</p>
<p>Saya cuma bisa berpesan, tidak perlu meributkan hal sederhana di atas. Gunakan saja semaksimal mungkin layanan social media untuk kebutuhan-kebutuhan anda. Luaskan manfaatnya untuk orang-orang sekitar anda. Berpikir besar membangun atau menghancurkan negara dari sebuah aplikasi social media? Itu boleh-boleh saja. Tetapi pikirkan dulu dapur anda dan iuran lingkungan RT anda. Saya yakin di RT anda pun tidak semua orang tahu apa itu IP atau WiFi.</p>
<p><em>Ohya,</em> satu lagi. Social media juga memiliki resiko. Bersiaplah dengan resiko-resiko kecil dulu. Seperti saya, sekarang harus mengambil resiko  karena penggunaan kata vagina dan penis yang terlalu masif disini. Maksud saya resiko dari spam, bukan resiko yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2010/04/07/kelamin-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Guru Cantik</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2010/03/18/ibu-guru-cantik/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2010/03/18/ibu-guru-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 22:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[politikana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Entah sejak kapan saya percaya bahwa ilmu itu cuma ada 3. Berbeda dari om Wonggantenk dengan artikel beliau Politik Pendidikan: &#8220;Kemampuan bahasa&#8221; first, the rest are commentary, yang memilih 3 juga, -Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, maka bagi saya &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2010/03/18/ibu-guru-cantik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="http://photos-f.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_508157_6751.jpg" alt="Pendidikan Indonesia Bangkrut" width="290" height="353" /></p>
<p>Entah sejak kapan saya percaya bahwa ilmu itu cuma ada 3. Berbeda dari om <a href="../profil/Fauzan.html">Wonggantenk</a> dengan artikel beliau <a href="../baca/2010/03/14/politik-pendidikan-kemampuan-bahasa-first-the-rest-are-commentary.html">Politik  Pendidikan: &#8220;Kemampuan bahasa&#8221; first, the rest are commentary</a>, yang memilih 3 juga, -Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, maka bagi saya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masuk di dalam Ilmu bahasa, dan cukup ditambahkan satu lagi yaitu Sejarah. Alasannya karena dengan Bahasa seorang manusia bisa belajar menyampaikan maksud dan mengerti sebuah maksud. Dengan Matematika seorang manusia bisa mempertanggungjawabkan maksud-maksud mereka. Dan dengan sejarah, seseorang bisa belajar menghargai maksud orang lain, pendahulu mereka juga sekaligus diri mereka sendiri dengan mewariskan maksud-maksud mereka pada generasi berikutnya.</p>
<p>Paragraph diatas adalah sebuah pengantar saja. Namun rekan-rekan disini tentu sudah mengerti maksud saya pastinya. Tiga ilmu besar diatas adalah arti kata lain dari nilai pendidikan bagi manusia. Itu berarti bagi adik-adik saya, bagi anak-anak kita, anak-anak Indonesia. Jadi sangatlah heran apabila pemerintah ini masih berkeras dengan pelaksanaan Ujian Nasional yang tidak memenuhi &#8220;prinsip 3&#8243; diatas.</p>
<p>Bagaimana pendapat para pelaku pendidikan sendiri, para guru? Mungkin sebagian memilih manut, karena mengajar bagi mereka adalah satu-satunya cara mendapat tunjangan kesehatan, biaya untuk dapur, atau mempermudah urusan kredit rumah sangat sederhana mereka. Tapi saya percaya mereka lebih mengerti persoalan mendasarnya tentang UN ini <em>ketimbang </em>saya sendiri.</p>
<p>Dulu, saya sempat bercerita pertemuan saya dengan<a href="http://www.kapucino.org/?p=429"> Ibu Guru Cantik</a> ketika mewakili teman-teman saya mengurus perwalian adik asuh kami. Dan kebetulan, beberapa hari lalu, teman saya yang lain, kembali menjadi wali untuk urusan yang cukup pelik sebenarnya. Urusan biaya UN. Berikut saya <em>copas</em> tulisan dari rekan saya itu.</p>
<p><em>Catatan : Teman saya, dan saya berhak untuk merahasiakan nama dan dari sekolah mana si Ibu Guru Cantik ini. Sebelum teman saya menulis cerita ini di Facebooknya, dia sudah terlebih dahulu curhat soal ini. Bukan barang baru memang, tapi bagi dia, cukup membuat shock dan memaki-maki seharian.</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<blockquote><p><strong>Balada Ujian Nasional Kitaa&#8230;</strong></p>
<p>04 Maret 2010 jam 13:07</p>
<p>Pertengahan Februari lalu, saya dikejutkan oleh sebuah surat pemberitahuan dari SMA adik-adik asuh saya. Surat pemberitahuan tersebut mengumumkan jadwal Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Praktek mereka mulai 22 Maret-14 April 2010. Pihak sekolah mecantumkan biaya keseluruhan ujian sebesar Rp 300.000/siswa. Wew!Mahal juga, pikir saya saat itu.</p>
<p>Seingat saya, dulu saya tidak pernah mengeluarkan biaya begitu besar untuk mengikuti Ujian Nasional. Lagipula, polemik Ujian Nasional kan sudah sampai tingkat kasasi. Kok masih terus dilangsungkan ya? Sekolah ketiga adik asuh saya tersebut juga termasuk salah satu sekolah swasta di Bandung yang mendapatkan subsidi Sekolah Gratis sejak tahun 2009 lalu. Lantas, kenapa masih dikenai biaya ujian segala?</p>
<p>Berbekal uang 900.000 dan pikiran macam-macam di kepala, saya mendatangi sekolah tersebut tanggal 1 maret lalu. Saya bertemu dengan Ibu wakil sekolah bidang kesiswaan. Beliau ini sebenarnya anak dari kepala sekolah, yang dipercaya untuk mengurus sekolah tersebut sejak awal tahun 2009. Sang kepala sekolah memiliki beberapa sekolah di kota dan kabupaten Bandung, ceritanya. Well, semacam bisnis keluarga mungkin. Karena anak dan kerabatnya diserahi peran penting pada beberapa sekolahnya. Setahu saya sekolah-sekolahnya tergolong kecil dan dibangun di daerah kecil, seperti Majalaya sampai Garut. Tapi dengan banyaknya subsidi pendidikan untuk sekolah-sekolah di masa kini mungkin ini jadi bisnis yang bagus =D</p>
<p>Nah, Ibu muda cantik yang ramah itu menerima saya dengan sangat baik. Saya bayar biaya ujian ketiga adik asuh saya tanpa banyak bicara. Tiba-tiba beliau nyeletuk bilang, &#8220;Seharusnya Ujian<br />
Nasional tuh ga usah ada, itu kan cuma proyekan dinas saja.&#8221; Senyum saya kulum, mengangguk tanda setuju. Wah, si ibu idealis juga niy. Kelihatannya beliau masih berusia 30-an awal, karena<br />
kalo murni idealis kan biasanya mahasiswa yang berusia 20-an.&#8221;Ujian Nasional itu cuma kedok.&#8221; Si ibu cantik lantas menjelaskan alasan kenapa biaya ujian bisa semahal 300 ribu rupiah.</p>
<p>Dalam UN, para pengawas ujian adalah guru-guru dari luar sekolah dan ada pengawas dari dinas. &#8220;Saya bulan lalu habis rapat koordinasi SMA negeri dan swasta se-Bandung Utara. Dalam Materi Rapat disebutkan bahwa sekolah harus memberi uang transpor dan makan bagi para pengawas UN.&#8221; Lalu, ia menunjukkan lembar Materi Rapat UN yang ia hadiri di Dinas Pendidikan Kota. Di lembaran itu tertulis kurang lebihnya seperti ini:</p>
<p>1. Uang transpor pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 15.000 per orang per hari.<br />
(&#8220;ada 3 orang pengawas dalam 1 ruang dan ada 5 hari ujian untuk 6 mata pelajaran yang diujikan,&#8221;terang si ibu)</p>
<p>2. Uang makan pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 10.000 per orang per hari.</p>
<p>3. Pengawas soal diberikan uang transpor oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 100.000 per orang per hari.<br />
(pengawas soal ini mungkin maksudnya pengawas/pembawa soal dari Dinas, ada 1-2 orang dan Rp 100.000 dalam rapat diganti oleh Pimpinan Rapat menjadi Rp 150.000 -pimpinan rapat adalah ketua rayon, kalo ga salah-)</p>
<p>4. Tiap sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional wajib menyerahkan Iuran gotong royong yang dikenakan pada tiap siswa sebesar Rp 7.500.<br />
(Si ibu cantik juga tak tahu apa gunanya iuran gotong royong ini)</p>
<p>&#8220;Mbak lihat sendiri kan, kalo kami hanya memungut uang ujian berdasarkan aturan itu saja. Sisanya untuk operasional UAS dan ujian praktek. Kalo di sekolah lain (uang ujian-red) bisa sampai 500 ribu bahkan 2 juta per siswanya,&#8221; terang ibu cantik.Apa?</p>
<p>&#8220;Lebih kasihan lagi kalo anaknya ga lulus, mbak. Tahun lalu saja tiap siswa dikenakan biaya 1,5 juta per mata pelajaran yang tidak lulus,&#8221; lanjutnya. Waduh, kalo ga lulus 6 pelajaran berarti habis duit 9 juta dong..aih, aih. Satu setengah juta itu aturan dari sekolahnya ato bagaimana, tanya saya. &#8220;Aturan dari atas, alasannya soalnya beda dan biaya operasional para pengawasnya kan beda lagi,&#8221;jawab si ibu dengan nada makin tinggi.</p>
<p>&#8220;Padahal kalo banyak siswa yang tidak lulus, kepala dinas prov-nya juga ditegur sama menteri. Lalu, kepala dinasnya akan meminta bagian pengumpul soal untuk membenarkan semua jawabannya anak-anak. Berarti sama aja kan? Apa artinya ujian nasional kalo begitu?&#8221; kata ibu makin berapi-api. Berarti uang 1,5 juta itu bonus ekstra untuk para pegawai dinas sekaligus biaya untuk menghapus jawaban anak-anak dan menggantinya sesuai kunci jawaban, pikir saya.</p>
<p>&#8220;Kami, guru-guru,merasa kasihan sama anak-anak. Masa capek-capek mereka sekolah tiga tahun, berhasil tidaknya cuma ditentukan oleh 5 hari ujian. Ga adil kan? Standarnya juga dinaikkan tahun ini, jadi 5,50 untuk 6 pelajaran. Terlalu berat untuk sekolah kecil seperti di sini.&#8221; Betul, jawab saya, dengan standar ujian yang sama maka tingkat kelulusan di daerah kota dan desa pasti berbeda. Kualitas pendidikan di negara ini belum terstandarisasi dengan baik sampai saat ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, kualitasnya pasti tak sama. Agh, gitu kok berani-beraninya bikin Sekolah Standar Internasional? imbuh saya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Kalaupun memang tetap ada UN, mungkin ada baiknya bila anak-anak yang tidak lulus tetap mendapat ijazah. jadi mereka tetap bisa melamar kerja. itu menurut saya lho ya,&#8221; ujar si ibu lagi. Aturan sekarang, bagi siswa-siswa yang lulus akan mendapatkan ijazah dan surat tanda lulus. Jika tidak lulus, mereka tidak akan mendapatkan keduanya. Jadi harapan siswa untuk melanjutkan studi atau bekerja tidak terputus begitu saja.</p>
<p>Lalu, kenapa Ujian Nasional tetap diadakan juga Bu? BUkannya kasus UN sudah sampai tingkat kasasi? tanya saya. &#8220;Nah, itulah. Bambang Sudibyo, menteri pendidikan tahun lalu sudah keburu bikin Permen. Peraturan Menteri bahwa UN tetap akan dilaksanakan. Menteri Pendidikan yang sekarang ini, M.Nuh, tidak bisa mengubah Permen ini. Bisa sebenarnya, tapi jarang sekali ada Menteri yang mengubah</p>
<p>Permen. Jadilah, Permen manis buat kita semua,&#8221;jawab beliau diakhiri senyum simpul yang membuatnya makin cantik. Kalo menurut laki saya, Permen tersebut tidak diubah karena banyaknya protes dari pejabat Dinas Pendidikan. Beban biaya untuk membatalkan UN dianggap terlalu besar karena proses pengadaan UN sudah dimulai sejak tahun lalu! Terlalu besar yang akan hilang dari kantong mereka mungkin, pikir saya.</p>
<p>&#8220;Seluruh jajaran Dinas Kota maupun Prov pasti tahu soal ini. UN itu proyek besar. Orang-orang atas pasti dapat bagiannya,&#8221; asumsi si ibu cantik sambil tersenyum sinis. Mengingat proyek UN adalah &#8220;proyek bersama pejabat pendidikan&#8221; maka kepala-kepala sekolah mungkin tidak dapat berontak atau protes. Masalahnya, cap kelulusan anak-anak didik mereka yang pegang. Legalitas sekolah juga ada di tangan mereka. Kalau si ibu cantik ini bersuara sekeras ini pada pejabat di atasnya, bisa-bisa sekolahnya dibubarkan tanpa alasan jelas. Lantas, bagaimana tanggung jawabnya pada orang tua siswa?</p>
<p>Mungkin itulah sebabnya, si ibu cantik ini bertutur begitu semangatnya pada saya. Saya mengaku sebagai mahasiswa. Mungkin beliau ingin melepaskan uneg-unegnya pada saya dan sedikit berharap suara saya bisa berbunyi lebih keras darinya. Bagaimanapun, beliau tahu semua kecurangan dan kebusukan para mafia pendidikan itu tapi tak mampu berbuat banyak, selain bertahan dan pintar-pintar menahan diri. Karena beliau masih berada dalam sistem pendidikan itu sendiri.</p>
<p>Gambaran tentang UN ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya masih kaget melihat betapa riilnya kecurangan-kecurangan tersebut terjadi. Lebih kaget lagi, para guru sudah banyak yang tahu soal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak. Tapi setidaknya mereka tetap berusaha bertahan dan mendidik murid-muridnya. Lebih mulia jasanya daripada pejabat dinas ataupun anggota dewan terhormat yang masih saja ribut soal duit hilang Century.</p></blockquote>
<p>&#8212;-</p>
<p>Bukan barang baru. Justru barang yang terus diulang-ulang untuk mengingatkan. Bukan juga sebuah klise untuk menolak UN, itu bukan juga jawaban yang diharapkan rasa kesal ini.</p>
<p>Tetapi persoalannya ada pada pengelolaan sistem pendidikan itu sendiri. Entah dari dulu (karena saya masih muda), entah sekarang. Jikalau nanti pun UN menghilang dari tanah republik ini, apakah sistem pendidikan yang rusak begini masih terus bertahan?</p>
<p>Saya cuma berpikir, apalah artinya Sekolah Berstandar Internasional kalau justru memiskinkan yang semakin miskin? Apalah artinya universitas ternama kalau justru mencetak koruptor baru setiap tahun kelulusannya? Apa pula artinya Institut terkemuka jika hanya melahirkan politisi yang pintar berkelit lidah dan egois dengan urusan politik dalam selangkangannya?</p>
<p>Apa pula artinya saya bicara panjang lebar soal ini, sementara kita sendiri sibuk berbasa-basi soal berhak tidaknya seseorang jadi presiden atau pe-dangdut? Sementara berurusan dengan seorang tamu pun, kita sendiri harus sibuk bebersih rumah yang terus menumpahkan darah.</p>
<p>Saya tahu tulisan ini kepanjangan, padahal cuma pengantar sebuah <em>copas</em>. Tapi paling tidak gara-gara cerita ini saya jadi menulis lagi setelah sekian lama. Jadi mengingatkan diri sendiri untuk belajar ber&#8221;Bahasa&#8221; dan sekaligus menulis &#8220;Sejarah&#8221; lagi. Kalau Matematika, saya melakukanya hampir setiap bulan dari billing pribadi saya yang angkanya terus naik.</p>
<p><em>Gambar diambil dari Cover majalah sebuah Unit Pers Mahasiswa. Di Edisi tersebut saya menulis laporan utamanya</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2010/03/18/ibu-guru-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokrasi 2.0</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 11:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[goenawan mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[politikana]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Saya membaca catatan pinggir &#8220;Caping&#8221; dari tempointeraktif hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="Goenawan Mohamad Quote" src="http://politikana.com/images/medium/illustrasigm.jpg" alt="" width="384" height="415" />Saya membaca catatan pinggir &#8220;Caping&#8221; dari <a title="Herman - Catatan Pinggir" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/04/06/mbm.20090406.CTP129987.id.html" target="_blank">tempointeraktif</a> hari ini. Sebuah cerita kilas balik dari Goenawan Mohamad (GM). Bercerita sebuah masa dimana mungkin sudah banyak dilupakan oleh para caleg, partai, dan capres. Saya tidak ingat masa itu dengan baik, karena saat itu saya masih terlalu muda aka &#8220;imut&#8221; dan berada di dalam &#8220;tempurung&#8221; yang aman.</p>
<p style="text-align: justify;">GM bercerita di catatan pinggir hari ini seperti kisah seorang bohemian. Bersembunyi, balik memata-matai setiap aksi aneh di Jalan Utan Kayu 68-H bersama rekan-rekannya. Ini benar-benar &#8220;catatan pinggir&#8221;. Catatan yang terpinggirkan dari sekian banyak diskusi dan ulasan mimpi-mimpi partai, caleg, capres di berbagai media akhir-akhir ini. Sebuah kilasan untuk sekedar menjadi pengingat, dan bahkan GM sendiri menuliskan di akhir artikel,</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Saya memandang potret-Motret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lalu saya teringat sebuah bacaan di kolom &#8220;<em>Surat dari Palmerah</em>&#8220;, ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah &#8220;Jakarta Jakarta&#8221;, Senin 8 April 1996 yang berjudul <strong>&#8220;GM &amp; KA-I-PE-PE&#8221;</strong>. Disana SGA menyitir soal naiknya GM sebagai ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tidak sembarang menyitir, SGA yang tidak pernah percaya soal politik Orba, malah menuliskan :</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Saya masih sering merasa, periode kampanye di jalanan itu adalah periode yang membuang energi. Tapi apa boleh buat, politik juga perlu ritus, toh?&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;..Muncullah itu makhluk yang bernama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), diketuai-presidiumi oleh Goenawan Mohamad. Busyet. Sekarang saya setuju, Pemilu 1997 nanti akan berlangsung seru.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan benar, sejarah berjalan seru dimulai saat itu. Tempo memenangkan Bredel Cup (dalam istilah Seno), pergerakan anti Soeharto mulai menggeliat di &#8220;lorong-lorong&#8221;, Mega muncul sebagai calon Presiden, dan Juli &#8217;97 menjadi awal pergolakan reformasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali membaca memoar -entah dari siapa saja tentang era 97-98 itu, saya selalu merasa sedikit informasi yang bisa didapat. Anehnya, dari sekian banyak informasi, yang <em>booming</em> itu justru hadir dari para politisi masa kini. Lihat saja buku-buku yang bercerita soal reformasi 1998 di Gramedia, buku bersampul tebal eksklusif yang editorialnya juga tidak oleh sembarangan penulis. Namun di sisi lain, dari cerita-cerita lewat, dari bisik-bisik, sepertinya masih banyak ganjalan atas apa yang terjadi di masa itu. Kalau saya boleh bilang &#8220;manuskrip-manuskrip tua&#8221; yang orisinil yang bercerita masa itu hanya sedikit yang bisa diperoleh. Padahal sejarah 97-98 itu bagian yang penting dari perjalanan reformasi yang diusung-usung oleh semua partai masa kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pertanyaannya adalah, siapa yang harus dipercaya dari segala sumber itu? Merujuk pada kenyataan kita akan menuju sebuah hajatan yang menentukan bangsa ini 9 April nanti. Sebelumnya, ketika perjalanan Pemilu 2004 lalu, yang digadang sebagai PEMILU reformis pertama Indonesia, ternyata kita tidak cukup mampu meluruskan semua hal ini. Apa sekarang mampu?  Saya tidak menunjuk kepala caleg/capres yang terpajang disetiap lintasan jalan,monitor, tv, majalah, atau koran-koran kita sebagai penanggung jawab kisah-kisah itu. Saya juga tidak berasumsi bahwa militer berada dibalik semua kisah hitam itu. Karena hanya meninggalkan tuduhan tak berdasar, karena (lagi-lagi) saya tidak bisa menemukan tulisan otontik perkara masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ruang-ruang bercerita di masa 97-98 tidak &#8220;seindah&#8221; sekarang. Blog, facebook, <a title="Situs Politik 2.0" href="http://politikana.com" target="_blank">POLITIKANA</a>? Dulu tidak ada ruang seperti ini untuk sekedar me-reportase apa yang terjadi. Bayangkan saja jika dulu ada Politikana, mungkin dari ujung Medan sana, tiba-tiba ada yang mengupload foto, youtube, dan reportase amatir seputar serangan Juli 97. Atau ada yang sekonyong-konyong sekedar mengabarkan dirinya &#8220;sebentar&#8221; lagi diculik karena ulasan-ulasannya yang tajam terhadap seorang tokoh politik. Mungkin, jika dari dulu sudah ada media kontrol sosial begini, kita tidak akan kehilangan Wiji Tukul dan teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah anekdot menjelang pemilu era 2004 lalu. Ketakutan yang disebar, &#8220;Jangan pilih Capres Militer&#8221;. Tetapi toh akhirnya kita memiliki Presiden mantan militer dalam 5 tahun ini. Banyak kemajuan dalam tatanan demokrasi,walau banyak juga lubangnya. Dan menilik sekarang ada 3 capres mantan militer yang sudah memberanikan diri maju, lalu apa kita perlu membawa jokes yang sama, &#8220;Jangan pilih capres militer&#8221; ? Wah, ini soal lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Demokrasi bukan musuh militer. Tetapi stabilitas nasional memang selalu berada diatas segalanya dalam wacana NKRI. Dan ketakutan saya selalu sama seperti 2004 lalu, jika stabilitas nasional diatasnamakan sebagai &#8220;nama baik&#8221; dan &#8220;perlindungan tokoh-tokoh sentral&#8221; politik masa kini, maka ini baru jadi masalah!  Bukan menakuti, dan saya tidak akan heran, kalau dulu Galeri Lontar selalu dimata-matai karena alasan stabilitas nasional, maka mungkin nantinya Langsat I/3A yang ketiban jatah &#8220;dimata-matai&#8221; di masa mendatang. Tetapi, siapa yang bisa menduga arah peluru terbang kalau sudah berlangsungnya perang?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam cerita lainnya di kolom <em>Surat dari Palmerah</em> (&#8220;<strong>Percakapan Dengan Goenawan</strong>&#8220;, Jakarta Jakarta &#8211; 15 Juni 1996), SGA sempat bertanya kepada GM setelah Mahkamah Agung mengubah keputusan dua tingkat pengadilan dibawahnya -Tempo sah untuk dibredel.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><em>&#8220;Apa rencana Anda sekarang?&#8221; &#8220;Yah, saya akan meneruskan apa yang telah saya teruskan selama ini&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Terbukti, sampai sekarang GM belum berhenti menulis untuk berjuang, atau sekedar mengingatkan anak muda seperti Gunawan Rudy. Seharusnya, kita semua pun tidak berhenti, apalagi dengan semua media yang kita punya saat ini. Minimal, anak cucu kita pun tidak akan &#8220;bingung sejarah&#8221; seperti saya sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ilustrasi dan quote diambil dari goenawanmohamad.com.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/04/06/demokrasi-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama Berjanji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2009/01/28/obama-berjanji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2009/01/28/obama-berjanji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 13:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Barack Obama telah menjadi presiden United States. Dan banyak orang menaruh harap kepada lelaki ini. Entah itu dari warga Amerika (pendukung, simpatisan hingga warga bukan pendukungnya), atau dari luar Amerika. Bukan tanpa alasan. Banyak orang berdebat soal latar belakangnya yang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2009/01/28/obama-berjanji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barack Obama telah menjadi presiden United States. Dan banyak orang menaruh harap kepada lelaki ini. Entah itu dari warga Amerika (pendukung, simpatisan hingga warga bukan pendukungnya), atau dari luar Amerika. Bukan tanpa alasan. Banyak orang berdebat soal latar belakangnya yang diharapkan mampu memahami dampak politik global di dunia ketiga. Ditambah lagi janji-janji kampanyenya, menyuarakan sebuah nilai-nilai persamaan hak untuk semua bangsa dan juga manusia.</p>
<p>Itu adalah sebuah kesimpulan singkat di awal. Awal sekali bahkan, karena Obama saja baru dilantik beberapa saat lalu &#8211; grogi mengucapkan sumpah presidennya.</p>
<p>Janji terucap. Janji itu seperti sebuah rencana. Janji adalah sebuah ide yang ditawarkan. Dan ide serta rencana membutuhkan sebuah pelaksanaan. Tanpa pelaksanaan, sebuah janji bagaikan aplikasi yang gagal diwujudkan.</p>
<p>Bagaimana dengan Obama? Paling tidak saya melihat ada janji yang sudah dia coba untuk bangun aplikasinya.</p>
<p>“Participation — President Obama started his career as a community organizer on the South Side of Chicago, where he saw firsthand what people can do when they come together for a common cause. Citizen participation will be a priority for the Administration, and the internet will play an important role in that. One significant addition to WhiteHouse.gov reflects a campaign promise from the President: we will publish all non-emergency legislation to the website for five days, and allow the public to review and comment before the President signs it.”  &#8211; Change has come to WhiteHouse.gov &#8211; whitehouse.gov</p>
<p>Sebuah penggalan dari tulisan blog pertama di situs gedung putih yang baru. Saya tidak tahu, apakah ini bisa disamakan dengan situs serupa di tanah air ini. Tapi yang pasti statement itu adalah lompatan selangkah dari janji yang ditawarkan Obama ketika kampanye. Dia mencoba meng-aplikasi-kan janjinya dengan caranya.</p>
<p>Ke depannya akan banyak janji-janji serupa hadir di Indonesia, dalam beberapa hari lagi. Mungkin sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Mungkin para pembuat janji negeri ini meniru Obama untuk membuat janji-janji. Tapi yang jadi masalah, seberapa sanggup mereka meniru Obama untuk menerapkan janji-janjinya.</p>
<p>Berjanji itu mudah, namun melaksanakan janji itu tidak gampang. Saya paham bahwa menjadi ingkar itu bukanlah hal yang sulit. Dan rasanya tidak menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2009/01/28/obama-berjanji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selotip</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/08/17/selotip/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/08/17/selotip/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 10:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[agustus 17]]></category>
		<category><![CDATA[label]]></category>
		<category><![CDATA[lubang]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Merdeka itu seperti selotip. Bisa menjadi perekat sekaligus memperbaiki yang terkoyak-koyak. Dan juga bisa menutupi yang berlubang, bahkan dapat dipakai untuk melabeli apa saja, dimana saja dan kapan saja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/08/merdeka.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-371" title="merdeka" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/08/merdeka.jpg" alt="" width="500" height="277" /></a></p>
<p style="clear:both">&nbsp;</p>
<p>Merdeka itu seperti selotip.<br />
Bisa menjadi perekat sekaligus memperbaiki yang terkoyak-koyak.</p>
<p>Dan juga bisa menutupi yang berlubang,<br />
bahkan dapat dipakai untuk melabeli apa saja, dimana saja dan kapan saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/08/17/selotip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eubermensch Joker</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/07/22/eubermensch-joker/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/07/22/eubermensch-joker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 22:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ShOrTOY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Jagoan super bukan hanya milik seorang superhero. Terhipnotis dengan sosok super seorang Joker dalam sekuel Batman : The Dark Knight, memberikan kepada saya kesan lain dari seorang Heath Ledger yang dulu dicap sebagai homoseksual karena film Brokeback Mountain. Tidak kalah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/07/22/eubermensch-joker/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/07/dk-serious-poster.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-367" title="dk-serious-poster" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/07/dk-serious-poster.jpg" alt="Joker" width="202" height="300" /></a>Jagoan super bukan hanya milik seorang superhero. Terhipnotis dengan sosok super seorang <a title="Joker in Batman Comics" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Joker_(comics)" target="_blank">Joker</a> dalam sekuel <a title="The Dark Knight - Batman 2008" href="http://www.imdb.com/title/tt0468569/" target="_blank">Batman : The Dark Knight</a>, memberikan kepada saya kesan lain dari seorang <a title="Heath Ledger" href="http://www.imdb.com/name/nm0005132/" target="_blank">Heath Ledger</a> yang dulu dicap sebagai homoseksual karena film <a title="Brokeback Mountain" href="http://www.imdb.com/title/tt0388795/" target="_blank">Brokeback Mountain</a>. Tidak kalah dari sosok super seorang Batman, justru Joker menjadi fokus perhatian banyak penonton film ini, karena berbagai  kegilaan dan ide simpatiknya yang menggambarkan rumitnya sebuah sistem sosial politik  dan kekuasaan di kota Gotham.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-368"></span>Film itu memang cocok dengan<em> tag</em>nya yang &#8220;Untuk Dewasa&#8221;. Jangan harap menemukan adegan panas selain ciuman hangat antara Rachel Dawes (<a href="http://www.imdb.com/name/nm0350454/">Maggie Gyllenhaal</a>) dan Bruce Wayne (<a href="http://www.imdb.com/name/nm0000288/">Christian Bale</a>). Tetapi akan banyak adegan panas dengan ledakan dan api yang diciptakan tokoh super Joker. Selain ledakan super, juga rencana-rencana super yang dieksekusi dengan cara super, menunjukkan kecerdasan super sang tokoh badut super psiko tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata &#8220;super&#8221;, demikian terngiang-ngiang kata ini hingga saya melacak sekali lagi dimana pernah menemukan tautan terbaik soal &#8220;super&#8221;. Super  yang bermakna sama dengan yang saya tangkap dalam film tersebut, berada di atas batas subjek dari sosok super itu sendiri, dalam film tersebut subjeknya adalah si Joker.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling dekat yang saya ingat adalah istilah yang diusung <a title="Friedrich Wilhelm Nietzsche" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche" target="_blank">Nietzsche</a>,<em> Eubersmensch</em>. Dalam bahasa inggris diartikan sebagai <em>&#8220;overman&#8221; </em>maupun <em>&#8220;superman&#8221;</em>. Tapi itupun tidak mewakili maksud dari Nietzsche sendiri. <em>Superman</em>, selain sudah terpatok dengan image tokoh super dalam komik, juga berarti mempunyai konotasi kesempurnaan dan batas. Padahal Nietzsche selalu menentang hal ini. Sementara itu <em>overman </em>mempunyai konotasi <em>beyondness</em>, yang bisa diartikan &#8220;di seberang&#8221; atau &#8220;zona berbeda&#8221;. Ini pun juga dikecam Nietzsche. Bahasa Indonesia mengartikan secara lebih sederhana, <em>Euber</em> berarti &#8220;di atas&#8221;, dan <em>Mensch</em> adalah &#8220;manusia&#8221;. Terjemahan yang menurut saya lebih luas maknanya, &#8220;Di atas Manusia&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah Eubermensch muncul pertama kali dalam <em>Also Sprach Zarathustra</em>, sebuah karya puitis Nietzsche yang terbit 1885. Bercerita tentang seorang guru di Persia lebih dari 2500 tahun lalu. Tentunya tokoh ini menjadi tempat Nietzsche untuk membeberkan gagasannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu terjemahan yang tercatat dalam esai Seno tentang Eubermensch, adalah dari St. Sunardi :</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">&#8220;Lihatlah, aku mengajarkan Eubermensch kepada mu. Eubermensch adalah makna dunia ini. Biarlah kehendakmu berseru : Hendaknya Eubermensch menjadi makna dunia ini. Aku mengingatkan ini kepadamu, saudara-saudaraku, tetaplah percaya pada dunia dan jangan percaya pada mereka yang berbicara kepadamu tentang harapan-harapan di balik dunia ini. Mereka ini adalah para pengracun, entah mereka tahu atau tidak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas saja Nietzsche menjadi musuh gereja kala itu. Pernyataannya tentang Eubermensch  adalah bentuk penolakan peran agama, dan dengan sendirinya juga Tuhan, dalam eksistensi manusia di muka bumi. Manusia tidak bisa memangku tangan dalam doa dan berpaling pada bintang-bintang di langit karena itu adalah bentuk ketidakberdayaan. Untuk menjadi Eubermensch, seseorang harus melampaui sebuah proses &#8220;menjadi di atas&#8221;, yang berarti mencipta, berkreasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manifestasi dari pemikiran Eubermensch adalah kekuatan. Nietzsche menyebutkan manusia harus terus menerus menggapai limit penderitaan dan konflik dalam dirinya sebagai bentuk aktualisasi kekuatan. Dan kekuatan disini banyak yang mengartikan sebagai &#8220;kekuasaan&#8221;, walau Nietzsche sendiri tidak menekankan pada konsep kekuasaan, tetapi lebih kepada &#8220;kehendak untuk berkuasa&#8221; (<em>der Wille zur Macht</em>). Yang jika boleh saya perpendek, bahwa Eubermensch sendiri adalah sebuah konsep yang lahir karena pemikiran bagaimana manusia selalu memiliki kehendak untuk berada pada kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adolf Hitler, keliru menerapkan konsep Eubermensch pada kekuasaannya. Karena ternyata dia sendiri malah terjebak pada konsep Eubermensch yang mencari superioritas, dominasi dan keunggulan manusia (yang kemudian dia terjemahkan dalam ras-ras unggul). Hasilnya? sebuah tragedi kemanusiaan yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika menilik kepada pelajaran dasar sosiologi, mungkin anda masih ingat bagaimana manusia diberikan istilah &#8220;ego&#8221;, yang berarti &#8220;saya&#8221;. Saya dengan interprestasi tidak ada &#8220;anda&#8221;, &#8220;dia&#8221;, &#8220;kita&#8221; atau &#8220;mereka&#8221;. Ego lahir karena suatu upaya melahirkan kesempurnaan individu, yang tidak memiliki relasi terhadap apapun. Konsekuensinya adalah ego harus hadir sebagai sosok sempurna tanpa tanding. Padahal kenyataannya, sejauh apapun kesempurnaan dikejar, ternyata justru kita merasa semakin sadar kesempurnaan masih terlalu jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Joker mencoba memanfaatkan pemahaman ego dalam manusia dan Eubermensch. Dia menciptakan berbagai laboratorium sosial untuk membuktikan bahwa kondisi ini ada dalam setiap manusia. Bukan hanya manusia, tetapi juga sistem yang dibangun manusia. Bagaimana kehendak berkuasa para elit kota Gotham yang bekerjasama dengan mafia-mafia dan media telah menciptakan Eubermensch versi mereka sendiri. Joker hanya datang untuk mengajarkan Eubermensch  dagelan ciptaan tersebut ternyata sangat rapuh, dan memiliki batas. Sebuah Eubermensch yang bisa dipatahkan dengan sebuah rencana dari <em>agent of chaos</em> yang tanpa afiliasi apapun, murni kriminal dan ahli dalam mengotak-atik ranah sosial politik. Karakter serupa yang mengingatkan saya pada agent of chaos lainnya, yaitu &#8220;V&#8221; dalam <em><a title="V for Vendeta (2005)" href="http://www.imdb.com/title/tt0434409/" target="_blank">V for Vendeta</a>.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nasib baik kota Gotham yang menghadirkan seorang ksatria malam ala Batman. Membuka kedok-kedok kejahatan kekuasaan tersebut dengan sendirinya, karena tugas-tugas kecilnya dari awal cerita adalah memberantas kriminal kecil yang sebenarnya merupakan sebuah sebab akibat dari sistem kekuasaan yang rusak di kota Gotham. Semakin indah ketika akhirnya Joker hadir melengkapi pertempuran Batman untuk mendidik kota Gotham, dari sekedar perampok dalam gang-gang gelap hingga membuat petinggi-petinggi kota gerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan Indonesia juga tidak jauh berbeda dengan kondisi kota Gotham. Dari pelaku hukum sampai pemerintahnya berada dalam jaringan kekuasaan yang keliru. Mungkin bukan keliru dalam arti salah membaca Zarathustra, tetapi memang dikelirukan untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompok. Saya mendadak membayangkan seandainya Joker adalah sebuah ideologi tersendiri, yang dipahami dengan baik oleh sekumpulan manusia Indonesia. Eubermensch yang murni ala Nietzsche tanpa batas.</p>
<p style="text-align: justify;">Peran Joker di negeri ini mungkin tidak bisa diambil begitu saja. Karena memang cerita Batman dan Joker cuma imajinasi penulisnya dalam komik, susah untuk ditiru dan di terapkan. Tetapi jujur, saya khawatir jika seorang dalang kriminal seperti Joker malah hadir menjelang pemilu di Indonesia. Lebih sial lagi jika si Joker Pemilu ini hadir sebagai afiliasi kekuasaan tertentu.  Entah berapa banyak setingan chaos yang bisa diciptakannya untuk yang keuntungan afiliasi-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekuasaan memang sesuatu yang harus diurus dengan serius. Wajar kalau banyak partai politik mendadak jadi serius mengurusi negara setiap menjelang pemilu. Karena mempertahankan Eubermensch dagelan adalah hal yang serius bagi mereka. Dan seperti dalam film, Joker hadir karena tidak suka dengan hal-hal berbau serius tetapi berkedok badut eubermensch. Saya yakin dia bakal datang dengan kulit putih dan pisau lipatnya kalau partai-partai politik itu mendadak menjadi sok serius. <em>&#8220;Why so serious?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: center;">&#8211;o0o&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Sangat idealis memang jika membahas sebuah film fiksi penuh aksi &#8220;tidak mungkin&#8221; sebagai cerminan kehidupan. Tetapi seperti juga buku, esai, cerpen dan puisi, film juga sebuah bentuk karya seni visualisasi dari sastra yang ditelurkan oleh pemikiran seorang tokoh sentral, entah penulis naskah, atau seorang penulis skenario. Kolaborasi itu akan lengkap dengan arahan sutradara yang memahami maksud cerita atau sastra tersebut. Dan film yang bagus adalah sebuah film dengan pesan yang akurat dan mampu ditangkap penonton apa maksudnya, dan lebih baik jika mampu menggerakkan. Paling tidak itu pandangan saya tentang sebuah karya seni seperti film, membuat saya tergerak melacak lebih dalam istilah eubermensch.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saya kelewatan &#8220;sok tahu&#8221; membicarakan film sejauh ini. Lebih atau kurangnya pandangan saya soal film, anda mungkin bisa tanyakan langsung kepada <a title="Mas Iman" href="http://blog.imanbrotoseno.com" target="_blank">Mas Iman</a> yang baru saja riset sampai ke pinggiran Yogyakarta untuk filmnya yang berdurasi 90 detik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/07/22/eubermensch-joker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leak dan Framing Media</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 07:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[media framming]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal &#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. Dan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654022_8498.jpg" alt="" width="290" height="211" />Dalam bukunya Real Peace (1983), <a title="Richard Nixon - 37th USA President" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nixon" target="_blank">Nixon</a> menuliskan sebuah quote terkenal <em>&#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. </em>Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-358"></span>Sayangnya arti dari potongan quote itu memiliki makna lain bagi Nixon. <em>&#8220;&#8230;livable peace in a world of competing nations is to <strong>take the profit out of war&#8221; </strong></em>ternyata tidak hanya berarti keluar dari perang secara langsung. Namun tetap berada di belakang negara-negara boneka untuk mempertahankan eksistensi dan impian sebagai adikuasa dunia. Dan mulailah penderitaan perang berpindah ke negara-negara seperti Vietnam dan Pakistan. Konflik dunia terus disuburkan untuk memarkir ambisi-ambisi Uncle Sam. Sebuah ego adikuasa yang terus bertahan sampai sekarang dengan segala upaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah catatan buruk dari seorang Nixon. Apalagi setelah kasus <a title="Watergate Scandal" href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=watergate&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=" target="_blank">Watergate</a> terbuka ke publik dan membuka segala konspirasinya berkenaan dengan upaya-upaya ego Uncle Sam tersebut. Kisah Watergate adalah kesalahan terbesar dari sebuah upaya untuk memata-matai pihak lawan partai politik. Usaha spionase politik terhadap Partai Demokrat tersebut terbuka ke publik setelah 5 orang perampok berhasil ditangkap ketika sedang berusaha merampok di <a title="Komplek gedung Watergate" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_complex" target="_blank">komplek gedung Watergate</a>. Perampokan ini disinyalir lebih dari sekedar perampokan biasa karena ketahuan adanya usaha penyadapan terhadap gedung tersebut. Diduga kegiatan penyadapan ini juga dilakukan Nixon terhadap semua lawan politik dan juga di area gedung putih. Rekaman hasil penyadapan itu digunakannya sebagai alat <em>&#8220;kekuatan lobi&#8221;</em>-nya terhadap lawan-lawan politik. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk meraih kursi presiden lagi dalam sebuah proyek kampanye dinamakan <a title="CREEP - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Committee_to_Re-elect_the_President" target="_blank">CREEP (<em>Committee to Re-elect the President</em>).</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu 2 tahun, penyelidikan pihak hukum membuka borok spionase Nixon, aksi penyuapan dalam berpolitik dan juga proyek rahasia militer yang berbau korupsi. Watergate sendiri membawa banyak cerita indah seputar hebatnya dunia informan, dan bukti kekuatan media dalam membongkar konspirasi politik kelas tinggi. Salah satu dongeng yang terkenal adalah <a title="Watergate's Tape" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes" target="_blank"><em>Watergate&#8217;s Tape</em></a> and <a title="Smoking Gun - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes#The_.22Smoking_Gun.22_tape" target="_blank"><em>Smoking Gun</em></a>, yaitu berupa bukti-bukti rekaman Nixon sendiri dalam pita audio 9 kaset Sony TC-800B. Salah satunya adalah cerita tentang usaha Nixon yang meminta Direktur FBI untuk menghentikan penyelidikan kasus perampokan di komplek Watergate (dikenal dengan sandi Smoking Gun). Mungkin bisa dibilang juga sebagai senjata makan tuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rekaman-rekaman tersebut membuat Nixon tidak bisa berkelit. Tiga bawahannya pun mengundurkan diri tidak bisa membelanya. Memaksa Nixon mengganti secara mendadak posisi-posisi ajudannya. Kejadian ini dikenal dengan sebutan <em>&#8220;<a title="Saturday Night Massacre - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saturday_Night_Massacre" target="_blank">Saturday Night Massacre</a>&#8220;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu ada usaha dari pihak Nixon untuk menghapus 18,5 menit dari tape tersebut. Sayangnya publik dan pihak hukum sudah terlanjur meruncing untuk menyudutkannya dengan keterlibatan kejahatan politik tersebut. Alhasil tiga orang lingkaran dalam Nixon, yang juga tokoh politik besar di masa itu, mantan jaksa agung John Mitchell dan kepala penasehat Gedung Putih John Ehrlichman serta Penanggung Jawab CREEP HR Haldeman, diangkut ke dalam sel. Nixon sendiri memilih mengundurkan diri, dan kemudian mendapat pengampunan dari presiden Gerrard Ford, penggantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengungkapan skandal terbesar di USA tersebut berkat usaha-usaha pihak lawan politik Nixon sendiri, termasuk dari pihak hukum dipimpin Hakim John Sirica, ditambah 2 wartawan <a title="The Post Investigates" href="http://www.washingtonpost.com/wp-srv/politics/special/watergate/part1.html" target="_blank">Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein</a>. Tidak terlupakan seorang informan rahasia yang dikenal dengan panggilan &#8220;<a title="Deep Throat - Watergate Scandal Informan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Deep_Throat" target="_blank">Deep Throat</a>&#8220;, yang akhirnya setelah 30 tahun, dibuka identitasnya oleh <a title="I'm the Guy They Called Deep Throat" href="http://www.vanityfair.com/politics/features/2005/07/deepthroat200507" target="_blank">Vanity Fair</a> dan Washington Post sebagai orang nomor dua di FBI pada masa itu, Mark Felt.</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654023_8711.jpg" alt="" width="290" height="436" />Cerita ini sengaja saya detailkan. Karena ada kesamaan dengan sebuah dongeng yang sedang berlangsung di negeri Indonesia, si negeri krisis APBN -<em>bukan BBM-</em>. Ternyata sebuah pita rekaman bisa bercerita banyak dan bahkan mengancam <em>impeachment</em> seorang penguasa negara. Saya mendadak terbayang seandainya saja sadapan rekaman telpon yang hanya terpublikasi 3 sesi itu, masih bisa ditambah rekaman-rekaman sadapan lainnya. Bukan tidak mungkin ada sebuah &#8220;Smoking Gun&#8221; atau mungkin lebih buruk dari itu pernah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Disini, peran jurnalis yang berkarakter, pihak hukum yang kuat, dan lawan politik yang cerdas plus integritas kejujuran dibutuhkan. Media mana yang berani mengambil posisi itu sekarang? Kompas? Tempo? MNC? Metro TV? koran lokal? atau malah freemagz-freemagz di cafe-cafe?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk hukum dan lawan politik, saya tidak tahu apakah karakter Hakim John Sirica masih ada di Indonesia? Apakah masih ada partai politik yang berintegritas dengan kejujuran?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memutar lagi film &#8220;<a title="All the President's Men" href="http://www.imdb.com/title/tt0074119/" target="_blank">All The President&#8217;s Men</a>&#8220;. Dan teringat potongan scene terkenal, ketika Deep Throat menjawab pertanyaan Woodward di remang-remang garasi gelap parkiran umum di kota Washington,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Forget the myths the media&#8217;s created about the White House. The truth is, these are not very bright guys, and things got out of hand. Follow the money</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">&#8212;0o0&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah catatan pendek lain dari cerita negeri ini, seorang Mantan Danjen baret merah ditangkap sudah. Walaupun kisah ini harusnya berakhir sederhana sejak dulu. Tetapi sekarang menjadi sangat dramatis lewat semua berita media dan mendadak banyak &#8220;pahlawan&#8221; HAM kesiangan bermunculan. Padahal kerja mereka loyo selama ini bertameng antek-antek asing. Apa karena pemilu sebentar lagi? Dan media hanya menjadi ajang bersuara mencuri posisi?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah,</em> kebenaran itu rumit untuk menjadi <a title="Absolut" href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=245#comment-16728" target="_blank">Absolut</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepakbola Londo</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 20:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Siapa jago anda di Piala EURO 2008? Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/06/hollan-tits1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-355" title="holland" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/06/hollan-tits1.jpg" alt="" width="290" height="140" /></a>Siapa jago anda di Piala EURO 2008?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah tidak menarik lagi (bagi saya), beralih ke EPL yang semakin susah ditonton. Saya mengidolakan salah satu tim hebat yang bisa mengalahkan AC Milan dengan mental Juara di Champion 2005, Liverpool.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang Inggris gagal total lolos ke babak utama Euro tahun ini. Tetapi tidak mengapa. Masih ada Belanda. <em>Yap</em>, negeri &#8220;Londo&#8221; yang pernah menjajah Indonesia. Bukan karena saya anti <a title="Soal Tim Nas Indonesia" href="http://www.kapucino.org/2007/07/18/ngegosip-sepak-bola-indonesia-setelah-kalah/" target="_blank">Timnas Indonesia</a> dan PSSI-nya. Tetapi memang permainan generasi muda Belanda memberikan tontonan yang luar biasa buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun harapan penampilan <em>apik</em> di Piala Dunia 2006 tidak tercapai, namun saya percaya Belanda punya banyak kesempatan menjadi juara dunia nantinya, dimana saat-saat ini negara <em>kampiun </em>sepakbola lainnya di dunia sedang berbenah dalam regenerasi tim. Belanda satu langkah lebih maju dalam hal regenerasi tim nasionalnya. Dua pertandingan lewat di EURO 2008 menjadi jawaban. Mempercundangi Italia di bawah asuhan Donadoni dengan skor 3-0, dan 4-1 membantai <em>Les Bleus</em>. Keduanya adalah finalis piala dunia lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan aneh yang menghinggapi saya ketika mengidolakan Belanda sejak Piala Dunia 2006 lalu. Jika dan hanya jika negara-negara jajahan Inggris bisa besar dengan sepakbola-nya, lalu mengapa Indonesia yang juga bekas jajahan Belanda tidak bisa seperti mereka?</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu teman saya berteriak lewat YM<br />
<em>&#8220;Ya mo gimana, ketua PSSI nya saja koruptor. Ada yang salah dengan manajemen PSSI kita!!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah,</em> selalu. Lari-larinya pembenaran selalu ke level itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kapan kita bisa bikin liputan Sepakbola Indonesia <a title="Video Holland - France" href="http://www.box.net/shared/g47y2apkw4" target="_blank">sekelas ini</a>, <a title="Arya Detik" href="http://aryaperdhana.wordpress.com" target="_blank">Ar</a>?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Catatan :</em></p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Robben, Van Persie dan Sneider seperti menyaksikan Trio Belanda masa lalu. Salah satunya menjadi arsitek Belanda yang botak dan dingin itu, Marco Van Basten.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>UPDATE:</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maaf, ternyata kolom komentar lupa saya buka. <em>Ah,</em> padahal saya ingin bertemu para fans tim-tim negara lain. Momen seperti EURO begini paling seru untuk saling &#8220;<em>manghujat</em>&#8221; lewat dreamteam masing-masing.. hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang Mengaji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 20:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_628431_8270.jpg" alt="" width="290" height="193" />Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa <em>rajah</em>, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span>Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 <em>-kalau tidak salah. </em>Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah <em>&#8220;dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang&#8221; </em>atau<em>&#8220;mematikan televisi&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em> Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada <em>&#8220;mengecilkan volume suara TV&#8221;</em>, maka yang paling dekat dengan itu ya <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. <em>Toh</em>, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?&#8221;, ujar beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abah cuma nanya, &#8216;ga nyuruh kamu matikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya <em>(guru mengaji saya di Langgar dekat rumah)</em> juga ngajar ngaji ke adek. Adek &#8216;ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <strong>&#8220;penghormatan perbedaan&#8221;</strong> keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan <em>&#8220;kitab kuning&#8221;</em> nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN <em>-bukan BBM</em>- soal pelarangan &#8220;mengaji&#8221;. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh  orang-orang yang melarang-larang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><em>Illustrasi diambil dari <a title="Illustrasi Gambar" href="http://saifulislam.com/?p=243" target="_blank">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

