Hari ke-4,… Gue Nyogok Supaya Bisa Diterima??

Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut.

Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah bolak balik diantara 2 otoritas berbeda di kampus ini untuk membicarakan perihal proses transfer ini.

Dan seperti di post sebelumnya, nihil. Gue diminta test dengan kualifikasi seperti anak baru, bukan mahasiswa mengulang atau transfer yang direkomendasikan. Kenapa? Karena kursi udah full untuk jurusan tambang.

Dan tadi pagi gue test denganpersiapan minimal baca2 rumus malam sebelumnya. Bayar di loket, terus input data, terus validasi ke ruang test, dan langsung duduk depan komputer yang menyediakan 30 soal dalam 45 menit. Jreng..!!

Gue ingin nyelesein semuanya dengan benar, tetapi jujur aja, ga ngerti gue ama kimia SMU, dah lama banget gitu loch…

Dan karena kebetulan udah kenal ama mas2 ditempat test, saya minta diintipin hasilnya. Point gue kurang 7 sodara2..Sedikit lagi dari ambang batas passing grade terbaru yang terus naik, karena makin banyak nya peminat ini.

Dan.. dengan hati luka gue tercenung aja. Apakah selesai sampai disini? Terus mau gimana? Nunggu setahun? Atau ada opsi2 lain…??

Pas dalam kondisi bingung begitu, gue bertemu seorang ibu. Ibu tersebut adalah istri pensiunan tentara, yang mana putranya pengen banget masuk kampus ini. Namun beliau sendiri kesusahan dari segi dana. Dan beliau sekarang sedang mengusahakan bertemu dengan otoritas biro akademik yang juga mau gue temui lagi. Curhat lah si ibu panjang lebar dengan gue, cerita macem2 tentang susahnya mencari sekolah yang bagus bagi anaknya, selama kurang lebih 1 jam kita ngobrol menunggu si bapak selesai rapat. Gue melihat, begitu besar pengorbanan seorang ibu yang demi anaknya mau jauh2 datang dari jakarta untuk mengurus sekolah yang terbaik buat anaknya. Si ibu sempat cerita, jika di jakarta, dia tidak dapat lagi mensupport anaknya bersekolah, teramat sangat mahal untuk keluarganya. Ahh…jadi teringat ibunda gue nun jauh disana, walao dia ga pernah ngedampingin gue mengurus sekolah-sekolah gue sejak SMU, tetapi gue percaya seorang ibu sama di mana2, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Setelah si Ibu menghadap, kemudian gue masuk keruang si bapak untuk kesekian kalinya, meminta beliau untuk bisa memberikan pertimbangan dari hasil test yang point-nya mepet begitu. Ohya, pas mau masuk gue ketemu si ibu dengan wajah yang ceria, gue harap dia dapat solusi terbaik buat putranya.

Obrolan gue dengan si bapak tetep seperti biasa, namun si bapak menawarkan option lain lagi yang baru gue tahu bisa dicoba. Gue kembali ke ruang PMB, ngobrol2 ama mas2 yang kerja disana hasil pembicaraan dari si bapak di Biro Akademik. Salah seorangnya itu ngasih petunjuk ke gue, kalo gue bisa diluluskan dengan saran tersebut. Jadi antara bobot test, besarnya sumbangan dan pilihan jurusan itu memiliki point2 berbeda. Dengan kata lain kalo gue test dengan sumbangan diatas minimal seharusnya, perhitungan dan pertimbangan untuk itu juga akan berbeda di dalam sistem. Karena sistemnya emang dirancang seperti itu – Input – test – result, begitu prosedurnya. Gue kira gue harus daftar lagi untuk test ulang. Tapi si Mas di PMB bilang ngga usah. Gw bisa dibantu (karena kasian liat gue bolak-balik heheh..) dengan langsung merubah validasi input. Kalo gw udah sepakat untuk bayar diatas minimal sumbangan, diitung2in ama beliau berapa minimal sumbangan tambahan yang harus gue capai agar ambang batas lulus seleksi tercapai. Dan alakazam keluarlah jumlah sumbangan yang baru… Dan kalo gue setuju maka akan segera dikeluarkan surat keterangan lulus seleksi. Dan selanjutnya menandatangani blanko perjanjian untuk kesediaan membayar.

Gue kontak dulu keluarga dirumah, .. pertimbangannya gue bisa aja nunggu setahun kerja lagi seperti biasa, sambil ngumpulin duit. Dan kemudian daftar di gelombang pertama untuk tahun ajaran depan. Tetapi si emak ku tercinta ga mau ditunda2 lagi, lagian dengan pertimbangan jurusan ini makin banyak peminatnya dari tahun ke tahun, bisa jadi tahun depan sumbangan minimalnya akan deket-deket juga ama jumlah sumbangan yang sekarang harus gue bayar.

Ya sudah, izin didapat, dan gue juga bulat ini bisa gue lunaskan. Gue kembali ke ruang Panitia PMB dan menyetujui untuk dikenakan sumbangan minimal sekian tersebut.

Yaaa… Begitulah sodara2…

Jadi bukan gue nyumbang lebih karena gue nyogok si panitia atau biro akademiknya. Gue cuman mengikuti sistem yang mereka miliki. Karena sebuah Institusi Swasta yang mandiri seperti ini kan harus membayar sendiri kegiatannya, dan subsidi silang adalah jalan keluar bagi mereka disini.

Layaknya seperti USM ITB lah, yang bayar 45 juta (atau lebih..) itu. Kalo mereka diperlakukan sama, ya buat apa bayar 45 juta. Mending test SPMB aja. Tetapi justru mereka diuntungkan dengan test tersendiri, yang pada intinya berkurangnya persaingan, membesarnya peluang untuk diterima. Plus mendapat antrian kursi terdepan untuk menentukan pilihan jurusan nantinya dibanding yang SPMB.

Sangat kapitalis memang sistem pendidikan seperti ini. Tetapi gue percaya ada ruang-ruang khusus yang disediakan untuk berlaku adil dan membuka kesempatan berpendidikan bagi semua kok. Karena mereka masih harus memberikan keringanan untuk beberapa pihak tertentu. Seperti misalnya bagi anak Pensiunan TNI atau aktif di kedinasan, kampus ini ngasih keringanan. Dan terlebih lagi bagi gue, jumlah biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa disini masih jauh dibawah dari kampus2 swasta lainnya. Dan juga banyak beasiswa yang bisa diurus untuk meringankan beban bagi golongan2 tertentu yang tidak mampu (gue berencana mengurus ini juga ke depan).

Namun kampus swasta tetap swasta. Biaya mandiri dan subsidi silang menjadi kebutuhan pokok untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sebesar ini.

Pengalaman baru tentang semua yang gue jalanin selama beberapa hari ini. Dari ngobrol-ngobrol dengan berbagai orang disini. Sedikit pemahaman baru tentang pendidikan yang adil dan merata. Membongkar cara pandang gue tentang apa itu membiayai pendidikan yang memang mahal. Muncul pertanyaan, jadi kapan nih kita bisa gratis bersekolah di negeri ini? Dikampus swasta aja masih mungkin hal itu terjadi, apalagi di kampus negeri gue rasa. Tul ngga?

Hari Ke-2,.. Dan Gue Cukup Senang Hari Ini…

Walau gue sempat agak frustasi kemarin, tetapi hari ini ada sedikit angin segar.

Pagi-pagi, seperti biasa gue bareng temen alumni SMU yang kebetulan di kampus ini kuliahnya, nongkrong2 bentar. Sambil coba mendiskusikan cara2 alternatif dalam urusan transfer kuliah gue. Selain itu kita juga ngobrol2 ringan tentang SMU dan alumni2 lainnya.

Dan rencana hari ini untuk force ke TU jurusan agar dapat bertemu otoritas selain Pak Kajur yang keluar kota (ternyata ada janjian di Pongkor..Hello ITB,..), gue berencana mau ke SekJur. Tetapi rencana batal, dan feeling gue bilang, gue harus ketemu seseorang yang gue kenal di kampus ini terlebih dahulu. Dia seorang yang biasa, lulusan kampus ini yang kebetulan lulus sebagai mahasiswa abadi, dan bekerja sebagai pegawai di kampus ini. Si Mas ini bukan panitia PMB, tetapi paling ngga beliau kenal dengan keluarga besar kampus ini – dan semoga bisa dibawa ke otoritas lainnya di kampus ini dalam rangka urusan gue. Kenapa gue berpikir demikian? Gue melihat kampus ini punya style kekeluargaan yang akrab, kampus kecil tapi dengan totokromo Yogya-nya ini sepertinya sampai pegawai warnet kampus pun bisa bercanda bersama seorang dosen senior atau bos-nya.

Ya sudah, gue maen ke si Mas. Obrolan ringan, dan memang beliau tahu urusan gue di sini adalah untuk apa, karena kita udah kontak2 sebelumnya. Seharusnya ketemu senin, tetapi karena kebetulan beliau sedang terkena musibah hari Minggu lalu, sang istri tercinta keguguran kandungannya. Pasangan muda yang resmi Maret 2007 lalu ini masih kondisi berduka, dan gue sendiri sebenarnya jadi ga enak untuk merepotkan beliau. Tetapi beliau sendiri yang sangat bersemangat membantu, jadinya gue ikut aja.

Dia berusaha menghubungkan gue dengan pejabat rektorat bagian akademik. Sepanjang perjalanan sampai ke ruang-ruang kantor rektor, tegur sapa dan prolog2 ringan keluar dari si Mas dan pegawai2 disini, begitu juga dengan mahasiswa yang berseliweran. Sepertinya kok jadi budaya tersendiri untuk saling bertegur sapa walo sekedar bertanya apa kabar hari ini.

Sayangnya kita ga bertemu dengan orang yang dimaksud, karena berhubung sedang rapat. Ya sudah, kita kembali ke tempat si Mas, bersebelahan dengan ruang PMB. Dan dari hasil obrolan2 kita berencana untuk malamnya tembak langsung ke salah seorang dosen senior di sini, mantan Kajur dan juga lulusan pertama Pertambangan kampus ini. Kebetulan si Mas kenal dengan anak beliau dan juga kenal dengan si Bapak Dosen.

Malamnya..Lebih tepat setelah Maghrib…

Sambil menikmati bulan purnama yang indah di Jogja, gue nugguin si Mas yang janji jemput. Walau berada di kota, di jalan Kaliurang, tetep aja Bulan Purnama di sini terlihat bulat jelas dan terang benderang. Proyeksi ke mata gue hingga berukuran 2 cm. Sehingga pas gerhana INDAAAH BANGEETT… Orang2 yang jalan kaki dan dipinggir jalan juga banyak yang terkesima, takbir begema di seluruh pelosok mesjid. Momen yang paling bagus adalah ketika Bulan tertutup penuh dengan hanya sedikit cahaya di bagian bawah, seperti sebuah cincin permata (Gue bakal post gambarnya disini nanti..) . Entah kenapa kok ada perasaan beda yang muncul saat itu, seperti merasa ada momen baik yang datang, sekaligus tiba2 teringat seseorang yang cocok dideskripsikan dengan visual gerhana bulan cincin ini. Haha.. melow deehh… Biar lah ga papa… Ga selamanya yang indah itu harus di miliki, terkadang memang sesuatu yang sangat indah itu hanya sekedar untuk dinikmati keindahannya.

Dan gue dijemput juga. Dengan motor kita menuju rumah dosen yang dituju. Agak jauh kalo dalam perkiraan gue. Ohya, gue sampai harus nyari pinjeman helm dulu ke tetangga kost temen gue.. hehehe.. bener2 gue adalah orang yang merepotkan orang lain..huks..

Sesampai di rumah dosen tersebut, si Bapak Dosen ternyata sedang bareng 3 mahasiswa pertambangannya. Awalnya gue pikir mereka adalah mahasiswa yang sedang bimbingan TA. Rupanya bukan. Mereka sedang mendiskusikan kerjaan mereka dengan si Bapak Dosen, proyekan-lah istilah umumnya. Heuhheu…

Ternyata si Bapak Dosen cukup ramah. Dan diluar dugaan, si Mas rupanya kenal dekat dengan beliau.. Ya mungkin karena anaknya temen main dan kerja si Mas. Saat itu gue dapat membayangkan hubungan pertemanan yang bagaimana antara si Mas dan anaknya si bapak. First impression sih,.. tapi ya gue ga pernah menjatuhkan penilaian pada pandangan pertama terhadap seseorang yang gue kenal. Umur beliau cukup tua, malah mungkin seumuran dengan seorang mantan guru besar pertambangan ITB yang gue kenal.

Karena situasi yang sedang tidak nyaman karena mereka sedang bekerja, terpaksa Si Mas dan saya tidak bisa lama2 berbasa-basi. Dengan ijin, “Pak, karena sepertinya bapak sedang sibuk, langsung aja pada tujuan kami kesini ya, Pak” obrolan rencana transfer kita paparkan. Di luar perkiraan, si Bapak seperti sudah tahu gue bakal dateng, dengan sigap dan senyum ramah menjawab apa2 saja langkah yang harus gue tempuh. Lalu beliau mengambil HP dan langsung mengambil keputusan untuk meng-sms SekJur, dan meminta-kan izin agar gue bisa bertemu besok pagi. What’s the healing story today for me…!! Alhamdulillaahh…

Y ahh… setelah obrolan basa basi tentang yang sedang beliau kerjakan saat ini, akhirnya kita pamit. Malam di jogja masih ramai, walau kita melewati Ring Road Utara. Udaranya terasa nyaman seperti hati gue saat ini.

Dan tantangan selanjutnya adalah bagaimana esok? Apakah sama lancarnya dengan hari ini?

Time is countdown…

..

Semoga pertolongan bebagai energi positif sang Gerhana masih tersisa esok pagi…

Hari Pertama di Yogya

Ga ada yang penting. Malah rencana mengurus / menghadap ke KaJur calon kampus yang baru  jadi tertunda, berhubung si Bapak keluar kota. Ah.. makin kritis aja semuanya. Besok mau coba dengan cara lain. Tapi paling tidak bersyukur, karena sekarang surat2 di bandung beres diurus ama Mas Wira bahkan Plus2 dengan rekomendasi (gilaa… salut buat si Mas..)

Hmmff.. alternatif lain dengan cara normal, mengikuti test Penerimaan Mahasiswa Baru. Dan memproses konversi SKS dari kampus lama ke kampus baru di hari2 berikutnya…

Tetapi semua bisa jadi blunder, karena KRS disini di verified tanggal 3 September!! Dan bisa jadi masalah lanjutan, karena urusan “duit” bisa membengkak diluar perkiraan akibat waktu mepet ini. Hmmfff…. memang waktu yang mepet tidak menyenangkan…

..

….

Atau gue harus menunggu setahun dulu???

Ah Ga Muncul-Muncul si Meteor

Gue nungguin meteor Perseid, tapi ga muncul-muncul. Kemungkinan karena kondisi lembah Siliwangi yang terlalu berkabut, atau karena pengaruh Bandung yang makin terpolusi oleh asap dan cahaya.

Ceritanya gue nungguin sambil beresin kerjaaan. Jam 1-an gue keluar, ketemu Sawung yang juga sedang liat-liat, mana tahu ada. Tapi ampe lebih setengah 3 pagi, ga ada satu pun yang bisa diindikasikan sebagai meteor. Padahal Sawung kan anak Astro.

Ya sudah jadinya gue cari di Google mana tahu ada yang ngeliat dan majang hasil penampakannya.

Dan ternyata Kaskus juga tempat mendapatkan resources terbaik untuk sharing segala macam.

Ini photo2nya :

Perseid-1

Perseid-2

Sumber : http://www.spaceweather.com/meteors/gallery_12aug07_page2.htm

Gara-gara Luna Maya..

Ini cuman post singkat..

Gara-gara di post sebelumnya, gue menceritakan hubungan artis favorit dan pantat, traffic blog gue meningkat drastis. Pengalaman yang sama gue dapat waktu masih memakai blog lama, waktu itu gue mem-posting tentang 3GP pejabat DPR.

Blog ini sebenarnya bercerita macem-macem. Dari curhat hingga biang kentut. Tetapi lumayan juga, gue bisa memantau seberapa besar ketertarikan orang-orang dalam mensearching Google dan buat apa Search Engine itu digunakan.

Alhasil, seminggu ini terbukti, bahwa keyword atas nama Artis dan Gambar Artis masih jadi favorit. Ya minimal dalam lingkungan web blog Kapucino ini, dari sekian banyak cerita dan berita serta opini, ternyata begitu SEKALI SAJA gue mempost tentang artis, langsung kunjungan nya meningkat.

Ini buktinya (klik aja kalo mau lihat..).

Gue menggunakan script Mint untuk blog gue sebagai analytic record .

Data traffick dan rangking lainnya :

Alexa for Kapucino

SEO Stat

Baru Turun..

Photo Bareng Dulu...

PENGUMUMAN

Baru jalan-jalan dari dataran tinggi Papandayan, masih males ngapa2in…

Tapi banyak hal dan kerjaan yang harus di kejar ..

Nanti gue post cerita selama di Papandayan..

Sekarang musti fokus dulu..

Masa Depan gue ditentukan 3 minggu ini…

T.T.D.

Leksanadra

Saya Nge-fans Situ Sebab Situ Kenapa Yaaa??

AsmiSapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si Rendy membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana. Semua lelaki mendiskusikan dia. Padahal dia kan cuman wanita biasa. Bukan presiden, bukan dewi dari surga apalagi Tuhan Sang Pencipta. Cuma seorang gadis muda yang dapat kesempatan untuk tampil di televisi.

Continue reading

Antara Vodka, Nasionalisme dan Cinta

Apa yang unik malam ini?

Tidak ada! Gue cuman berteman sekelompok “tua-tua”, kaum tua yang akan berangkat menuju medan pertempuran masing-masing nantinya. Ada yang akan studi lanjutan keluar negeri, ada yang mau bekerja di perusahaan asing, dan bahkan ada yang mau DO melanjutkan Tugas Akhirnya di kampus lain.

Unik memang… Tapi itulah hidup. Semua ada umur dan batasnya. Kuliah dengan ospek bersama diawal-awal juga akan dipisahkan oleh pekerjaan atau profesi di masa depan. Bahkan sepasang saling mencinta pun akan terpisah jika waktunya Sang Maha Kuasa menarik nyawa dari badan yang lemah ini. Yah,. itulah hidup teman.

Dan malam ini, setelah Vodka bersanding dengan oplosan Pepsi, atau VSOP dengan Coca Cola, hidup terasa ringan, sedih bercampur nostalgia. Dan anak-anak muda hanya tertawa menyaksikan kebodohan sang tua yang ego dan sentris akan dunia silam yang gemerlap. Memang tidak terlalu gemerlap. Nostalgia gue dan teman2 gue di masa silam tidak jauh-jauh dari banting tulang, menghidupi hari2 bertahan di Kampus megah ini. Ada yang tertawa mengingat kebodohannya menyeruak dengan gahar di kerumunan mahasiswa baru ketika ospek, atau sekedar jualan Pop Ice di kaki lima, ada juga yang menjadi bandar dari kupu-kupu indah malam hari, dan ada juga yang tertawa mengingat nostalgianya mengurusi “grasroot” yang peta saja tidak tahu utara-selatan.

Hidup adalah hidup. Semua ada umurnya. Ketika nostalgia disandingkan dengan kebanggan atas hidup lama yang indah dan “katanya” ala pahlawan, ternyata diakhir kata penghujung jalan, kita hanya menyadari bahwa kita hanya makhluk lemah.. Sangat lemah malah.. Tidak ada itu baju kebanggan bersanding dalam mimpi2 kita. Tidak ada itu rasa puas dalam setiap darah keringat untuk bangsa ini. Terlalu kecil, teman. Sangat kecil. Yang ada hanya pertanyaan dan pertanyaan kembali terlontar. Apa dan mau apa setelah ini? Perjuanganku selesaikah? atau aku harus lari kehutan lalu ke pantai? dan bertapa menunggu moksa? ..Ahh…. hidup cuman sebentar kawan. Segelas vodka juga tidak cukup membawa semua baju kebanggan akan menjadi dinasti kepuasan.

Dan malam ini, ditengah kepala yang limbung, dan diskusi berat seputar wacana-wacana kebangsaan, aku berkilas balik, membuka untaian kata2 lama yang kukumpulkan. Dan menemukan seberkas buku tua yang aku beli dari kota lama. Sebuah “tembang” Jawa, sebuah Langgem dari negeri Sunan, tapi bukan doktrin tua untuk menyembah Tuhan Pencipta. Hanya sebuah lembar tua tentang kesederhanaan layaknya lembar-lembar tua ini. Sangat sederhana….

Aku kembali ke meja diskusi, membawa lembar ini tapi tidak untuk dipamerkan isinya. Namun, limbungnya kepala ini membuat aku berkoar sendiri dan berucap ditengah gelak tawa romantisme tua. “Wahai kawan, sesederhana apa kita melihat hidup kita, diri kita dan pribadi kita? Tidaklah hebat secuil pun dari kita untuk bercinta dengan sang roman. Tidaklah pantas berkoar dengan bangga akan semua bakti keringat dan darah untuk rakyat selama kita darah kita masih basah..

Perjuangan belum selesai, tidak ada waktu berpuas diri,.. tidak ada waktu menghela napas yang masih berbau alkohol ini…

Kita hanya manusia, kita berdaging, berdarah dan berkeringat, dan hanya Pemilik Alam yang berhak menentukan, siapa sang juara…

Tetapi tidak ada yang tahu apakah itu saya, kamu atau mereka…

*Dalam kelimbungan pikiran dan air mata, serta rasa jatuh cinta yang lama telah hilang, namun muncul lagi. Semoga rasa cinta ini segera pergi dan aku meraih hidup dalam bahagia umpama kumbang tanpa bunga.. Dan kata teman-ku,..” tidak semua kumbang membutuhkan bunga, kau harus sadar itu”..

Dan aku harus bisa tanpa sesosok bunga… Waktunya berikrar…

“Selamat tinggal cinta dan segala atributnya…..”

Choosing a Good Merchant Accounts for Your Ecommerce

Illustration of Merchant AccountIn the ecommerce world was known the name “Merchant Account” or often also called Merchant Services. A perpetrator online business must know the requirement of this service so their online business would service the customer well. Because the customer’s belief depended in their process order satisfaction, from the order step until the product or service being delivered for them.
And the most payment implement is Credit Card, so as the existence credit card in business online and offline became a important fitur obligatory.
The key for this is strategy that was competent in choosing the service provider credit card processing.
Continue reading